
"Tapi, Pa?" balas Emilia menatap ke arah Maya, Hana, Delia, dan Farel.
"Sudahlah, ayo, pulang!" ajak Deffri menggenggam tangan Emilia.
"Mas! Aku minta maaf, Mas!" teriak Maya menyentuh kaki Rahman.
"Sudahlah Maya! Semua telah terjadi sesuai dengan kemauanmu, bukan? Kau selama ini selalu berpikir jika semua keinginan kamu harus terpenuhi, semua itu tidak akan diridhoi Allah jika niatmu jahat, walau hanya sebutir biji padi," ucap Rahman.
"Aku minta maaf, Mas! Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Maya terisak.
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak apa-apa kamu sakiti dan dibohongi. Tapi aku sakit hati, karena mulai detik ini aku tidak pernah akan percaya lagi padamu. Tapi, kamu tidak pernah sadar, Maya. Sudahlah, minggir!" tukas Rahman, meninggalkan Maya yang masih berteriak histeris ingin mengejar Rahman.
Akan tetapi, Rahman dan yang lainnya sudah meninggalkan Maya, "Pa, alangkah baiknya jika mama Maya diberi kesempatan sekali lagi. Siapa tahu dia akan berubah!" balas Emilia.
"Sudahlah, Nak. Sudah berulang kali aku memberinya maaf dan kesempatan. Biarlah Maya menyadari dan belajar akan semua kesalahannya," balas Rahman dingin.
Emilia ingin membuka mulutnya lagi tetapi Deffri menyenggol lengannya dan menggelengkan kepala membuat Emilia terdiam, "Deffri, antarkanlah Emilia ke rumah. Besok kita akan ke rumah keluarganya untuk melamarnya," ucap Rahman.
"Baiklah, Pa!" balas Deffri mengantar Keano dan Emilia sedangkan Rahman pulang bersama Broto, dan Surti juga Amara.
***
Sementara Farel dan yang lain masih di kamar hotel digiring Azmi malam itu juga untuk menikahi Delia ke penghulu.
Setelah pernikahan yang seadanya, Farel membawa kedua istri dan ibu mertuanya ke rumah. Hana hanya diam di sepanjang perjalanan dan tiba di rumah. Ia tidak lagi berbicara apa pun, "Aku tidak menyangka jika aku harus memiliki madu yang tidak lain adalah sepupuku," batin Hana.
Hana melirik ke arah Delia yang duduk di jok belakang bersama dengan Maya yang hanya diam saja seperti mayat hidup. Hana memasuki rumah dengan diam ia tidak memperdulikan ketiga orang di dalam mobil, "Kak Farel, aku tidur di mana?" tanya Delia manja.
"Terserah! Kamu bisa tidur di mana saja yang kamu mau! Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menceraikanmu!" balas Farel meninggalkan Delia dan Maya.
"Ma, apa yang harus kita lakukan?" tanya Delia terdiam, "semua ini karena kalian! Aku jadi berantakan begini," ketus Delia menyalahkan segalanya kepada Maya dan Farel.
"Apa kau bilang? Bukankah kalian diam-diam selingkuh di belakang kami? Dasar kalian, biadab! Apa kau pikir aku akan senang dengan semua ini? Aku yang rugi tahu! Kamu pikir segala kehidupan mewah kamu dari kecil itu dari mana? Kalau bukan dari Rahman," ujar Maya langsung ke luar dari dalam mobil memasuki rumah dan menuju ke kamar yang ia pilih begitu juga dengan Delia.
***
Sementara Hana telah masuk ke dalam selimut mematikan lampu kamar, Farel memasuki ruangan kamar, "Hana … aku … aku minta maaf! Jika kamu keberatan, aku tidak bisa mengatakan apa pun. Kamu bisa meminta cerai," balas Farel.
Hana di balik selimut hanya mampu berderai air mata, ia tidak menyangka jika hukuman Tuhan lebih menyakitkan daripada kemarahan Emilia, "Tidak! Emilia tidak pernah marah atas semua perselingkuhan kami," batin Hana, "sial! Mengapa harus Delia, Mas? Mengapa bukan wanita lain?" tanya Hana dari balik selimut.
"Sepupumu yang menggodaku, sepertimu yang menggodaku!" balas Farel menyalahkan segalanya kepada kedua wanita di rumahnya.
"Jadi kau merasa aku yang menggodamu dan bukankah kau juga tertarik denganku? Apa kurangnya aku Mas?" tanya Hana.
"Aku hanya tergoda padamu begitu juga dengan Delia! Aku tidak pernah mencintai kalian, hanya Emilialah Ratu di hatiku," ucap Farel tidak menimbang rasa Hana dan kesakitannya.
"Dasar lelaki egois! Kau akan menyesal telah melakukan semua ini, Farel!" batin Hana, "kau lihat! Aku akan membalasnya nanti!" lanjut batin Hana.
"Terserah padaku, aku mau tidur di mana! Mulai sekarang kalian berdua harus berbagi suami dengan adil jika tidak aku kan mencari wanita lain lagi!" ancam Farel.
Deg!
Jantung Hanya ingin copot mendengar semua ucapan suami yang sangat dicintainya, ia juga tidak menyangka jika Farel begitu kejam kepada dirinya dan Delia.
"Bajingan! Kau akan merasakan pembalasanku. Lihat, saja!" batin Hana.
Ia membenamkan diri ke dalam selimut sambil berderai air mata kembali.
Sementara Farel berjalan ke balkon ia mengingat setiap detail kebahagiaan Emilia dan Deffri, "Bajingan! Mengapa bisa Deffri selamat? Semua ini karena ulah Rahman, dasar tua bangka! Kau akan mendapatkan ganjaran hukuman yang mengerikan dariku," batin Farel mencengkram teralis balkon.
***
Emilia telah sampai di rumah membersihkan diri dan menidurkan Keano, "Apakah ini pilihan yang tepat? Jika aku harus menikah dengan Deffri? Apakah di depan sana kebahagiaan akan kembali menyapa kami?" lirih Emilia bingung.
"Aku tidak tahu, apakah aku mencintainya atau tidak! Semua begitu cepat rasanya, baru saja 4 bulan aku berkenalan dengan Deffri kembali. Begitu mudahnya cinta datang dan pergi," batin Emilia terdiam.
Ia duduk di pembaringan mengingat banyak hal, "aku takut jika cinta tak sekuat semestinya. Bagaimana jika Deffri pun akan sama seperti Farel?" batin Emilia semakin takut, "apakah mungkin Farel tidak semakin berani untuk melakukan banyak kejahatan kepada kami?" lanjut batinnya bertanya dan berkecamuk.
Emilia mengambil air wudhu dan melakukan Sholat Hajat, ia ingin menenangkan diri. Semalaman Emilia tidak dapat tidur ia merasakan banyak hal mulai menghantui dirinya, ia semakin takut jika segalanya tidak sesuai dengan harapan dan bayang-bayang keinginannya.
***
Pagi hari ….
Deffri dan semua keluarga telah menjemputnya beserta seluruh keluarga besarnya, "Ya Allah! Deffri benar-benar merencanakan segalanya dengan matang!" batin Emilia.
Sayang, apakah kamu sudah siap?" tanya Deffri penuh kasih sayang dan cinta.
"Oh, eh. Apakah kita beneran akan menikah, Deff? Bukankah ini terlalu cepat?" ucap Emilia. Ia ingin mengatakan jika ia belum siap.
Namun, ia sangat takut jika Deffri akan menjauh darinya dan Keano, sehingga segalanya menjadi kacau kembali, "Bagaimanapun aku membutuhkan bahu untuk bersandar," batin Emilia.
"Sayang, aku berjanji padamu! Apa pun yang terjadi hanya ajallah yang akan memisahkan kita," balas Deffri.
"Semua pria akan mengatakan hal itu, berjanji sehidup semati. Buktinya dia hidup hatiku yang mati," ujar Emilia.
"Em, percayalah padaku! Tidak semua pria akan begitu!" balas Deffri berusaha untuk menyakinkannya.
"Apakah ada jaminan tentang sebuah hati, Deff? Tidak ada bukan?" balas Emilia.
"Bunda, jadilah Mama untukku!" ucap Amara membawa buket bunga indah dan memberikannya kepada Emilia.
Hati Emilia luluh seketika, ia merasa cinta dari tatapan mata Amaralah yang membuatnya luluh bukan cinta Deffri, "aku sangat menginginkan seorang Mama, Bun! Maukah Bunda menjadi Mama Amara?" lanjut Amara dan Keano menggenggam jari tangan Deffri.