
"Jadi Emilia sampai di sini juga? Apa yang dilakukannya?" tanya Janti penasaran, "jangan bilang, dia masih mengejar kamu? Atau dia masih menyelidiki kematian suaminya Deffri?" balas Janti penasaran.
"Dia ada urusan bisnis! Aku tidak tahu bisnis apa, tapi sepertinya dia memang sangat akrab dengan Dino pengusaha muda yang entah dari mana asalnya bisa maju dengan begitu cepat!" balas Farel masih menatap ke arah Emilia dan Dino di depan mereka yang sedang memesan makanan dengan penuh kebahagiaan.
Sekelumit rasa cemburu dan amarah menguasai Farel, "selalu saja ada pria lain yang mengejar Emilia. Mengapa sih, dia tak ingin kembali padaku? Padahal Deffri sudah meninggal!" umpat batin Farel. Sejatinya Farel masih cinta dan sayang pada Emilia hanya saja ia terlalu bodoh di dalam menyikapi rasanya.
"Wanita murahan itu pasti dengan mudah menjerat semua pria sesuka hatinya," tukas Janti, "jangan bilang kami masih mencintainya Farel! Ingat kedua istrimu!" teriak Janti dengan bisikan dan tekanan di setiap intonasi kalimatnya.
Farel hanya diam saja tak peduli, ia merasa tak lagi menghormati mamanya yang sama kelakuannya sama dengan Hana, "Yang merasakan kedamaian adalah aku, bukan Mama atau siapa pun," batin Farel.
Tina menghampiri meja papanya dan Janti juga Farel, "Hai, Pa! Mas Farel di sini juga?" tanya Tina. Ia menatap ke arah Janti, "siapa Tante ini Pa?" tanya Tina penasaran menatap ke arah Janti.
"Oh, ini adalah Mamanya dari Farel. Kebetulan Papa dan Tante Janti ada urusan bisnis," ujar Sudibyo, "aku tidak ingin Tina curiga jika antara aku dan Janti ada hubungan. Bisa kacau ntar, ia pasti melapor pada Mamanya Salina," batin Sudibyo.
"Oh, begitu! Saya Tina, Tan!" ujarnya mengulurkan tangan dan disambut oleh Janti dengan tersenyum.
Tina menoleh ke arah Deffri dan Emilia ia mengerutkan keningnya, "Ngapain mereka kembali ke hotel ini? Apakah mereka berdua menginap di sini tadi malam?" batin Tina menatap ke arah keduanya, rasa cemburu semakin memuncak.
Ia langsung berjalan ke arah Deffri dan Emilia, "Wah, hebat banget kalian ya? Kamu nggak pernah ngajak aku sarapan berdua pagi-pagi buta begini, Mas? Tapi, dengannya kamu malah betah banget!" cecar Tina marah.
"Kalau kamu mau makan ya, udah sini," ajak Deffri berusaha untuk menjalankan rencana mereka.
"Tapi aku malas semeja dengannya!" teriak Tina menuding ke arah Emilia.
"Ya, sudah aku pindah saja!" balas Emilia mengalah dan pindah ke meja lain.
"Em, kamu ngapain sih, pindah?" tanya Deffri sedikit tidak suka jika dirinya harus makan dengan Tina.
"Sudahlah, Pak Dino! Aku tidak mau jika Nona Tina selalu saja menuduhku yang nggak-nggak! Lagian kalian butuh waktu untuk mengklarifikasi ada apa di antara kalian berdua! Aku tidak mau hubungan kita terganjal oleh orang lain," tukas Emilia.
"Tapi Em …." ujar Deffri.
"Sudahlah! Banyak yang akan aku bicarakan dengan kamu," ucap Tina langsung duduk di sebelah Deffri yang disangkanya adalah Dino.
Emilia memakan sarapannya dengan diam, "Hai, Emilia! Boleh aku duduk di sini?" tanya Farel sang mantan suami langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Silakan!" ujar Emilia malas mencari keributan dan pertengkaran. Farel langsung duduk di depan Emilia memesan makanannya.
Janti di samping Sudibyo benar-benar kesal, "Anak ini selalu saja mencintai wanita murahan ini!" kesal Janti ingin melabrak Emilia akan tetapi dicegah oleh Sudibyo.
"Biarkan saja! Jika kamu melabraknya orang juga akan tahu siapa kamu dan rahasia kita akan terbongkar, bersikap manislah! Jika tidak segalanya akan bertambah rumit! Orang-orang akan memposting pertemuaan kita dan sampai ke tangan Salina.
"Jadi kamu masih takut dengan istri kamu? Jadi buat apa kita selama ini kucing-kucingan, Mas? Aku juga lelah! Kita susah semakin tua tahu!" balas Janti sedikit marah walaupun hanya dengan berbisik.
"Sabarlah Sayang, jangan bersikeras begitu! Bagaimanapun segalanya butuh pertimbangan yang matang. Lagian, kamu juga tahu bagaimana keadaanku selama ini? Dan kamu dengan rela dan ikhlas menjadi kekasih gelapku!
"Yang penting tiap bulan, rekening kamu selalu aku penuhi dengan uang yang kamu minta, bukankah begitu perjanjian kita dulu Janti?" papar Sudibyo membuat Janti tak lagi mampu bersuara dan berkutik. Ia hanya mampu melihat saja kedekatan Farel dan Emilia di depannya.
"Sial, bagaimana aku bisa menghancurkan Emilia? Jika putraku selalu saja mencintai wanita sialan ini," batin Janti kesal.
"Em, kami lagi apa di sini?" tanya Farel menatap wajah Emilia, "aku begitu rindu padanya," batin Farel menatap ke arah Emilia, "bagaimana keadaan Keano?" lanjut Farel menatap wajah cantik Emilia.
"Terus apa aku harus bilang, 'Wow, gitu?!' kayaknya udah basi! Lagian aku mau ke mana pun sudah tidak ada lagi urusannya denganmu," balas Emilia, "dia baik-baik saja! Dia merindukan Deffri lebih banyak daripada mengingatmu!" balas Emilia.
Ia masih melirik dengan ekor matanya melihat ke arah Tina yang bergelayut manja di bahu Deffri yang membeku.
"Sialan, mengapa aku jadi cemburu juga?" batin Emilia, "aku kira dengan wajah berbeda aku tidak akan cemburu kepada Deffri, tapi nyatanya aku masih cemburu. Cinta memang aneh!" batin Emilia termenung.
"Em! Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Farel penasaran.
"Hah! Aku rasa apa yang aku pikirkan tidak ada urusannya denganmu! Farel, menjauhlah. Aku tidak ingin mama kamu akan mengatakan yang tidak-tidak.
"Bagiku kamu sudah tidak penting lagi. Aku lebih mencintai Deffri," balas Emilia ketus.
"Hahaha, mencintai Deffri? Buktinya kamu selingkuh dengan Dino tuh! Aku nggak menyangka jika kamu serendah itu?" balas Farel kesal.
"Aku ingin bersama siapa dan melakukan apa bukan tanggung jawabmu, lagi! Selain itu aku pun seorang wanita dewasa dan kau tahu statusku. Sebaiknya kamu urus saja kedua istrimu jangan sibuk ngurusin istri orang.
"Pergilah Farel. Selera makanku jadi hilang karena kehadiranmu!" balas Emilia tegas.
"Emilia kau akan mengiba di kakiku untuk memintaku, kembali menikahimu! Aku sangat yakin akan hal itu," ucap Farel dengan penuh keyakinan.
"Kau tahu, walaupun dunia ini hancur lebur aku tidak akan melakukan hal itu, bagiku lebih baik aku mati saja! Daripada aku kembali menjadi istri seorang pria berhati batu," balas Emilia,
"aku benar-benar tidak menginginkanmu, Farel!" ujar Emilia.
Farel langsung mencengkram tangan Emilia ketika Emilia ingin meninggalkan Farel, "Lepaskan, aku Farel! Jangan membuat kerusuhan lagi. Aku muak!" hardik Emilia.
Perbuatan Farel membuat Deffri langsung berdiri dan menghentakkan tangan Tina yang ingin menahannya, "Mas!" teriak Tina memohon pada Deffri.
"Lepaskan, Emilia Farel! Kamu tidak ada hak untuk menahannya," balas Deffri dengan kilatan marah.