I Can Live Without You

I Can Live Without You
Pembawa sial



Keduanya pulang dengan cepat dan langsung melakukan  kewajiban mereka di rumah dengan penuh kasih sayang.


Emilia merasa pernikahannya bersama Deffri begitu mudah dan penuh dengan banyaknya teka-teki yang membingungkan.


Namun, Emilia tak peduli ia hanya menjalani pemberian Allah dengan sebaik-baiknya. Pagi telah menjelang setelah Sholat Subuh dan sarapan Deffri benar-benar diantar oleh Broto ke Bandara.


Emilia melepas kepergian Deffri dengan penuh kasih dan cinta ia merasa Deffri tidak akan kembali tetapi ia menepis perasaan buruk itu, berulang kali Deffri memeluk dan mengusap wajah dan bibir istrinya seakan ia tak lagi ingin pergi dan meninggalkan Emilia sendiri.


"Berhati-hatilah sayang! Apa pun yang terjadi tetaplah bersinar, jaga anak-anak!" pesan Deffri.


"Hati-hatilah, Mas!" balas Emilia sedikit takut dari dalam jiwanya tapi berusaha ditepisnya.


Emilia melepaskan kepergian suaminya, ia pergi ke toko pakaian melakukan semua pekerjaan, televisi di ruangan toko menyiarkan sekilas info, "Kecelakaan Pesawat Garuda boeing 7xx jurusan Karangsari - Bandung telah mengalami kecelakaan belum diketahui apakah ada korban saat ini? Pesawat sedang terbakar dan mendarat darurat di perairan selat sunda!" 


Emilia terperanjat  "Apa? Pesawat garuda?" pakaian yang ada di tangannya melayang jatuh.


Emilia terduduk lemas, "Deffr! Deffriku!" hatinya terenyuh ia tak menyangka jika semua hal kebahagiaan dan romantisme yang mereka lakukan  semalam bahkan cinta yang mulai tumbuh membuat segalanya menjadi kabur, air mata berderai Emilia langsung jatuh di lantai.


Rahman diantar Broto langsung menjemput Emilia dengan kedua anaknya, "Anakku! Ayo, kita pergi ke Bandara untuk mengetahui kebenarannya?" ujar Rahman yang menuntun Emilia masuk ke mobil bersama Mira. 


"Toko tutup saja, Mir!" ujar Emilia. Mereka menuju bandara, Emilia hanya terdiam dengan derai air mata. Kedua anak mereka memeluk tubuh Emilia.


"Ma, ada apa dengan Papa?" tanya Amara dan Keano menangis.


"Kita berdoa Sayang, semoga tidak ada apa-apa dengan Papa!" balas Emilia walaupun hatinya sendiri tak yakin untuk hal itu.


Sesampainya di bandara Emilia dan semua keluarga penumpang yang menjadi korban langsung mengantri untuk menanyakan kebenaran, "Bagaimana kabar suami saya Pak?" tanya Emilia di sela kerumunan semua orang.


"Maaf, untuk sekarang kita masih mengidentifikasi siapa saja yang menjadi korban, Bu!" balas si kepala bandara.


Emilia terduduk lemas ia tidak menyangka, "Ya, Allah lindungilah Deffriku!" batinnya.


Seharian mereka mengantri dan menanyakan kabar masing-masing keluarga mereka, sebagian telah mendapatkan kabar jika tak ada yang selamat dari penumpang pesawat begitu juga dengan pilot dan pramugari.


"Papa! Bagaimana dengan anak-anakku! Dan hidupku kedepannya," teriak Emilia di dalam pelukan Rahman.


"Sabarlah, Nak! Siapa tahu ada keajaiban nantinya," balas Rahman berusaha tegar ia tak menyangka kali ini ia mendapatkan putri tetapi kehilangan menantunya.


Seminggu kemudian mereka masih hilir-mudik ke bandara dan pergi ke Bandung untuk melihat bangkai pesawat dan jasad dari Deffri yang tak ditemui.


Rahman dan Emilia kembali ke Karangsari, "Kita harus melakukan prosesi pemakaman Deffri!" ujar Budi menemui mereka di rumah Rahman yang hanya diam saja duduk di sofa.


"Pa, suamiku belum  meninggal! Aku yakin itu!" ucap Emilia.


"Hasil laporan sudah jelas tidak ada yang selamat! Bagaimana mungkin Deffri masih hidup!" ujar Budi, "kamu memang istri pembawa sial! Jika Deffri tidak menikah dengan kamu maka dia tak akan mati!" teriakan dan hinaan Budi kepada menantunya sendiri.


"Budi! Aku tidak suka kamu menjelek-jelekkan putriku!" teriak Rahman.


Keano dan Amara terperanjat melihat kedua kakek mereka bertengkar keduanya hanya memeluk Emilia yang masih menangis di sofa dengan hijabnya.


"Putrimu Afiqah sudah meninggal! Kau jangan gila! Sadarlah, Rahman! Karena wanita pembawa sial inilah putraku meninggal!" teriak Budi.


"Aku akan pergi dan mulai sekarang antara aku dan kamu tidak ada hubungan kekeluargaan lagi, begitu juga dengan Amara selama kamu masih menganggap wanita pembawa sial ini adalah putrimu," ujar Budi.


"Pa, jangan perlakukan Amara demikian! Baiklah, aku akan pergi tapi kembalikan hak putriku!" balas Emilia.


"Cuih, kapan pula kamu melahirkan Amara? Ngaca kamu! Paling kamu hanya menginginkan harta Deffri saja! Pakai air mata dan sandiwara buayamu!" ujar Budi.


"Aku tidak akan mengusir anak dan kedua cucuku hingga aku mati! Semua hartaku telah aku hibahkan kepada mereka bertiga! Kau ingatlah itu! Jika kau memang tidak tidak memberikan  hak Amara tidak masalah. Bagiku, pergilah dari sini. Aku muak melihatmu!" teriak Rahman mengusir Budi.


"Aku pun tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah ini. Ingat kata-katamu! Amara tidak akan memiliki hak apa pun lagj," ucap Budi langsung meninggalkan rumah Rahman.


"Papa!"


"Kakek!" teriak semua orang di sana Rahman terjatuh ke sofa memegang dada kirinya.


"Broto! Ayo ke RS!" teriak Emilia.


Broto dan Surti datang membantu Emilia untuk membawa Rahman ke rumah sakit bersama Emilia dan kedua anaknya. Sesampainya di rumah sakit Rahman langsung dirawat di UGD.


Emilia dan Surti saling berpelukan dan menangis, juga saling menguatkan. Broto memeluk kedua anak kecil yang sulit mencerna semua kebahagiaan yang berubah drastis menjadi kesedihan itu.


"Dok! Bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Emiko.


"Dia hanya syok ringan saja! Jangan khawatir! Mulai saat ini usahakan agar Pak Rahman jangan terlalu banyak berpikir," balas Dokter Gunarwan.


"Baik, Dok!" balas Emilia, "Ya Allah, aku harus kuat demi Papa dan anak-anak," batin Emilia mbok Surti memeluk Emilia.


"Alhamdulillah, Pak Rahman orang yang baik dan kuat!" balas Surti.


"Iya, Mbok! Ayo, kita lihat Papa!" ajak Emilia ke ruangan VIP.


Mereka melihat Rahman tertidur di sana, Emilia dan Surti juga kedua anaknya menyentuh tangan Rahman, "Papa, yang kuat kami membutuhkanmu!" bisik Emilia. Air mata bergulir dari kedua kelopak mata Rahman.


Seminggu kemudian Rahman sudah pulang ke rumah dengan keadaan segar-bugar, "Emilia, ayo ikut Papa! Surti kamu urus anak-anak!" ajak Rahman, "Broto, mari kita ke perusahaan!" perintah Rahman dengan  dingin.


Mereka pergi ke perusahaan Cahaya Group, semua orang menunduk dengan hormat, "Herman, aku ingin kita semua mengadakan rapat!" ujar Rahman pada pengacaranya.


Berselang dua puluh menit Emilia sudah digiring Rahman ke aula rapat, "Perkenalkan ini Emilia Tantri istri dari Deffri Hardiansyah, yang tidak lain adalah menantuku. Mulai sekarang Emilia adalah putriku, ibu dari kedua cucuku dan juga Direktur Utama dari Cahaya Grup di mana aku mewariskan perusahaan kepada kedua cucuku.


"Yaitu Amara Angelina Hardiansyah dan Keano Setiawan masing-masing mendapatkan setengah dari hasil perusahan yang dikelola oleh putriku Emilia Tantri hingga dia meninggal." Rahman memberikan tampuk kekuasaannya kepada Emilia yang berada disisinya yang mematung tak mengerti mengapa Rahman memberikan puncak kejayaan dan hasil pekerjaan sepanjang hidupnya kepada  kedua anak dan dirinya.


"Emilia,"ujar Rahman, terapi Emilia masih mematung hingga Rahman memanggilnya sekali lagi.


"I-iya, Pa!"


"Aku harap kamu menerimanya dan tidak membandingkan atau membedakan antara Amara dan Keano!" ujar Rahman.


"Ba-baik, Pa!" balas Emilia hampir pingsan ia tidak menyangka akan mendapatkan semua kekuasaan di luar batas dan kemampuannya.


"Aku harap kalian membantunya, jika tidak Herman dan Emilia memiliki hak untuk memecat kalian," ujar Rahman.