
Deffri memeluk tubuh Emilia yang ingin bangun, "Sayang, aku ingin mandi!" ujar Emilia.
"Ayo, mandi bersama!" ajak Deffri langsung membopong tubuh Emilia yang bingung dan menutup tubuhnya dengan kedua tangan yang disilangkan.
"Kamu kenapa, Em? Aku udah lihat semuanya juga! Aku suamimu bukan selingkuhan ataupun pacar gelapmu, Sayang!" balas Deffri.
"Aku … hehehe," tawa garing Emilia semakin bingung dan merona merah, "Deff, bagaimana kalau kita pulang aku tidak bisa berjauhan dengan anak-anak. Bagaimana nanti Amara dan Keano?" ucap Emilia.
"Baiklah, Sayang! Besok kita akan pulang," balas Deffri menyabuni tubuh Emilia.
Namun, acara berganti dengan kemesraan kembali, membuat Emilia geleng-gelengkan kepalanya, "Deff, kamu ini ya ampun!" balas Emilia tapi dia pun larut dalam kenikmatan yang diberikan oleh Deffri.
Keesokan paginya Keduanya benar-benar pulang ke Kota Karangsari. Keduanya melewatkan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Broto menjemput mereka berdua di bandara bertepatan dengan Farel yang sedang berada di bandara melihat kedatangan Emilia beserta Deffri.
"Mama!" ujar Amara dan Keano, langsung berhamburan memeluk kedua orang tua mereka. Keano berada di dalam gendongan Deffri dan Amara di dalam rangkulan bahu Emilia.
"Wah, keluarga yang sangat harmonis dan bahagia," sapa Delia.
"Eh, Tante De! Apa kabar?" tanya Amara tersenyum dengan manis Emilia di sisi Amara tersenyum dengan manis.
"Kalian dari mana?" tanya Delia ramah.
"Kami menjemput Mama dan Papa dari berbulan madu!" balas Amara.
"Sudah tua saja, harus berbulan madu. Pengantin basi," balas Farel ketus dari balik kacamata hitamnya ia memperhatikan Emilia yang terlihat bahagia, "Sial! Mengapa saat bersama denganku Emilia tidak tersenyum begitu manis dan tidak pernah berseri-seri?" batin Farel kesal.
"Namanya mereka benar-benar menikmati hidup dan bahagia," balas Delia tersenyum memegang Amara dan Keano. Pada dasarnya Delia lebih memiliki hati daripada Hana, "Kamu benar Delia, itu artinya aku mencintai istriku dan ingin membahagiakannya," balas Deffri.
"Siapa tahu bisa memiliki momongan lagi ya, Kak?" timpal Delia tersenyum pada dasarnya ia tidak pernah mencintai Deffri ia hanya ingin menuruti keinginan Maya. Selain itu dia hanya mencintai Almarhum Albert.
"Mau buat gaya bercinta seperti apa pun Emilia tidak akan mungkin bisa hamil lagi!" sindir Deffri, "paling bentar lagi, Dia juga bakal diceraikan oleh Deffri karena tidak bisa mengandung," balas Farel.
"Anak memang adalah ikatan antara hubungan suami-istri, sebagai penerus keluarga dan juga penyatu jika adanya pertengkaran. Namun, banyak juga yang memiliki anak berpisah," balas Deffri menatap ke arah Farel, ia sudah jengah jika Farel selalu saja mencoba untuk menjatuhkan marwah istrinya.
"Semoga saja kau bisa bertahan dengan wanita dingin itu," balas Farel kesal.
"Insya Allah, aku akan selaku bertahan dan mencintai Emilia hingga ajal yang memisahkan kami," balas Deffri.
"Halah, omong kosong! Di mana-mana yang namanya laki-laki selalu saja mengatakan hal itu. Buktinya dia juga tergelincir jika menemukan wanita yang bisa memuaskannya di tempat tidur," balas Farel menghina dirinya sendiri.
"Sudahlah, Mas! Tidak perlu meladeni orang aneh, Delia mari ... kami akan pulang dulu!" balas Emilia jengah melihat kedua pria di depannya seakan saling sindir dan saling mengangkat dan menjatuhkan martabatnya sebagai seorang wanita.
"Tentu saja dia mau kabur! Karena dia tidak becus menjadi seorang istri, dia pasti malu juga takut jika suatu saat Deffri akan menceraikannya," sindir Deffri.
"Farel, kamu menghinaku begitu kejam aku terima. Tapi, jangan lupa sejelek-jeleknya aku, sebagai mantanmu, aku pernah menjadi wanita yang paling kau rindukan dan kau cintai, dulu! Ingatlah itu, baik buruknya seorang istri bisa dan tidaknya dia bertahan itu tergantung didikan dari suami. Karena dia adalah kepala rumah tangga," balas Emilia telak menohok isi hari Farel.
Wajah Farel memerah ia tidak menyangka jika taring Emilia mulai terlihat, "Jika kau memang menginginkan kepada rumah tangga seharusnya kau ridho dimadu, bukan malah minta cerai!" balas Farel ketus.
"Maaf, agama memang memperbolehkan untuk hal itu, tapi agama juga tidak mengharamkan perceraian, bukan? Jika hatiku tidak ikhlas menjalani semua itu, lebih menjadi dosa besar untukku, padamu, dan Tuhanku. Aku tidak ingin dikatakan seorang wanita munafik.
"Dan satu hal lagi, dengan perceraian ini aku mulai sadar. Jika di luar rumah banyak pria lebih baik, lebih hangat, lebih kaya, dan lebih tampan darimu. Itu banyak! Kau harus tahu itu, kau juga masih mencintaiku diam-diam, jika kau tak lagi mencintaiku, kau tidak ambil pusing dengan semua hal yang terjadi di kehidupanku," papar Emilia.
"Wah, kamu hebat sekali!" balas Delia bertepuk tangan girang, "aku akan mencoba belajar darimu, Kak!" ucap Delia menggenggam tangan Emilia, "pantas saja, kamu mati-matian mencintai Kak Emilia, Kak Deffri," ujar Delia semangat.
"Kau! Kau bukannya membela suamimu malah menjatuhkannya! Istri macam apa kau!" hardik Farel kepada Delia.
"Aku adalah istri akhir zaman yang belajar dari kepala rumah tangganya. Ingat jangan main tangan denganku sampai di rumah, aku akan melaporkan dirimu kepada KOMNAS HAM," ucap Delia tersenyum.
Farel semangkin kacau dan berang, "Wanita yang sangat luar biasa! Aku senang kau mendapatkan istri yang benar-benar sesuai dengan keinginanmu!
"Jika dulu kamu selalu menganggapku bodoh, sekarang kamu mendapatkan istri yang sangat luar biasa pintar, bukan?" balas Emilia.
"Mama, ayo kita pulang!" ajak Keano malas melihat keributan kecil antara mama dan papanya. Deffri langsung membawa keluarga kecilnya menuju mobil.
"Sialan, mengapa Emilia sudah berani melawanku?" batin Farel kesal, "andaikan sekarang bukanlah zaman ketat undang-undang. Aku sudah memukul Deffri, apalagi, ia begitu bahagianya dengan mantan istriku," batin Farel kesal. Apalagi Deffri tidak sengaja melihat gigitan cinta di salah satu di leher Emilia yang sedikit tidak terlihat kecuali benar-benar diperhatikan.
"Ayo, kita pulang, Kak!" ajak Delia.
"Menjauhlah, dariku! Kau bukannya membelaku malah menghempaskanku ke jurang! Istri macam apa kau!" bentak Farel. Delia hanya diam saja tak peduli masuk ke dalam mobil, "mengapa kau masuk ke dalam mobil?" tanya Farel.
"Kak, aku istrimu! Jadi ke mana suamiku maka aku akan berada di sisinya," balas Delia tak peduli.
"Jika kau istriku, seharusnya berlakulah sebagai seorang istri!" hardik Farel.
"Apakah kamu sudah berlaku adil sebagai seorang suami?" tanya Delia menatap ke arah Farrel, "ingat, Kak. Aku bukan Emilia yang lembut dan pasrah juga pendiam, aku juga bukan Hana yang selalu menjilatmu dan menghalalkan berbagai cara untuk memilikimu," balas Delia.
"Kau!" teriak Farel ingin melayangkan tangannya.