
Emilia mulai merasakan tubuhnya serasa sedikit sakit dan lelah, kepalanya masih pusing. Namun, ia berusaha untuk melihat ke sekelilingnya, "Ya, Allah! Aku di mana?" batinnya ia mulai membuka selimut memeriksa tubuhnya, "siapa yang telah mengganti pakaianku?" batin Emilia.
Ia mulai mengingat sedikit demi sedikit, "Deffri?!" pekiknya ia melompat mencari Deffri. Ia melihat Deffri telentang di sofa yang sedikit kekecilan akibat tubuhnya yang besar tinggi.
"Apakah ada yang telah terjadi di antara kami?" batin Emilia. Ia berusaha mengingat banyak hal, "sepertinya tidak ada? Tapi … aku tidak tahu," batinnya mulai cemas, Emilia menggigit bibir.
Emilia mulai takut jika sudah ada yang terjadi di antara mereka berdua, ia tidak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena kesenangan sesaat saja. Apalagi, karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab yang berniat ingin menghancurkan dirinya.
Kriuk!
Perutnya mulai terasa lapar, ia langsung membuka kulkas dan membuat nasi goreng seafood, membuat dua cangkir teh hangat. Emilia ingin membangunkan Deffri tapi ia merasa tidak enak, "Apa yang harus aku lakukan?" batin Emilia.
Ia menyadari jika ia tidak memakai dalaman, "Sial banget sih, aku? Hana … wanita sialan itu, Harus membayarnya. Lihat saja! Untung Allah masih sayang padaku, jika tidak? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi? Menghadapi dunia ini," batin Emilia.
Air mata mulai berenang di pelupuk mata, "Deffri, terima kasih!" lirih Emilia ia berlutut di sisi sofa di mana Deffri tertidur.
"Emilia!" teriak Deffri sedikit beringsut melompat dari sofa menjauhi Emilia menutup tubuh bagian bawahnya dengan bantal sofa.
"Kamu kenapa, sih?" ketus Emilia ngeri, "apakah aku mengerikan tadi malam? Sehingga Deffri ketakutan?" batin Emilia sedikit malu.
"Em, kamu udah sadar belum, sih?" tanya Deffri sedikit beringsut mendekati Emilia
"Sudah! Yee, siapa juga yang mau menerkam kamu? Gila kamu, ya?" ketus Emilia wajahnya memerah sedikit bayangan aneh apa yang telah dilakukannya tadi malam membuat sebagian jiwanya merasa hina dan mengerikan, "aku bagaikan wanita panggilan yang mengerikan," batin Emilia sedih.
Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika nasibnya begitu tragis, "Apa yang kamu lakukan? Lihat, nih!" ujar Deffri memperlihatkan sisi leher sebelah kiri ada stempel cinta di sana.
"Hah!" pekik Emilia ngeri sejak 10 tahun dia menikah dengan Farel ia tidak pernah segila itu, "itu, apa?" tanya Emilia bingung.
"Ya, ini ulah kamu? Memang ulah siapa lagi?" balas Deffri.
"Masa aku sesadis itu, sih? Sejak kapan aku jadi vampir?" ujar Emilia tidak terima.
"Tau ah, gelap!" balas Deffri.
"Um, aku tidak tahu bagaimana cara ngilangin ini! Hadeh, apa kata orang-orang nantinya, ya?" balas Deffri sedikit bingung, "masalahnya … nanggung, cuma gigitan vampir kamu saja," keluh Deffri.
"Apa kamu bilang?" teriak Emilia dengan suara 2 oktaf.
"Hahaha, yee. Kamu nyiksa aku selama 8 jam tahu!" ketus Deffri tersenyum.
"Maafkan aku, Deff. Aku …," Emilia bingung ingin mengatakan apalagi, "terima kasih, Deff! Sudah nolongin dan nyelamatin harga diriku," lanjut Emilia.
"Sudahlah, mungkin aku akan memplasternya saja, anggaplah luka kecil. Tapi, aku nggak nyangka kamu seganas itu? Hahaha, ckckck. Buat aku pingin nikah lagi, tahu!" umpat Deffri.
"Yee, ya nikah saja lagi, sana! Nggak ada yang larang tuh!" balas Emilia.
"Ngaco, kamu!" balas Emilia ketus di dalam hatinya ia tersenyum bahagia. Ia merasa jika ia masih berharga sebagai wanita, ia merasa masih diinginkan oleh seorang pria. Namun, secuil hatinya ia ketakutan setengah mati jika apa yang dialami saat pernikahan bersama dengan Farel akan lebih mengerikan lagi.
Emilia termenung, ia melihat baju daster kedodoran yang dipakainya, "Deff, ini rumah siapa? Dan baju ini … milik siapa?" tanya Emilia.
"Ini rumah Azmi Rahardika teman sekolah kita dulu!" balas Deffri masih mengawasi Emilia yang memeluk kedua lututnya bersandar di sofa.
Defri merasakan iba dan kasihan juga rasa cinta, ia ingin melindungi dan merengkuh wanita yang pernah berhari-hari, menyiksanya. Siang-malam dengan rasa sebuah cinta monyet, Deffri duduk di sisi Emilia membelai rambutnya, "baju itu milik Surti, pengasuh Amara putriku. Kebetulan ada di dalam mobil, aku baru membelinya untuk ulang tahunnya yang ke-55 tahun.
"Kamu kenapa sih, bisa mengalami hal gila ini? Memang apa yang terjadi?" tanya Deffri ingin tahu. Ia bicara selembut mungkin, Deffri tidak ingin membuat luka di hati Emilia semakin menganga dan mengingat kepahitan yang dilakukan dua pria yang mencoba untuk menghancurkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Aku …." Emilia menceritakan segalanya. Apa yang telah terjadi dan dialaminya, "Dasar, bajingan! Suami dan istri sama saja sifatnya," amuk Deffri.
"Ayo, kita makan. Kamu harus kerja, bukan?" ajak Emilia. Ia ingin membuang rasa benci dan dukanya mengingat Hana dan Farel.
"Tidak apa-apa, aku bisa libur!" ujar Deffri mengambil ponsel dan memesan baju lewat delivery.
Mereka makan dengan diam, Emilia sedikit risih ia tahu jika Deffri mengetahui apa yang tersembunyi di balik daster kedodoran miliknya, "Apatah kau yang mengganti bajuku, Deff?" tanya Emilia ragu, walaupun dia tahu jawabnya. Ia tidak melihat siapa pun di sana, selain mereka berdua.
"Ya," suara Deffri sedikit parau menjawab pertanyaan Emilia.
"Oh …," balas Emilia, "sudah kuduga," batin Emilia. Dia tidak menyangka akan begitu mudahnya digerayangi seorang pria, "sialnya, semalam ini sudah 3 pria yang menyentuh tubuhku," batin Emilia merasa jijik pada dirinya.
"Jangan khawatir, aku tidak melihat apa pun kok. Aku menutupi tubuhmu dengan selimut, jika itu yang kamu maksud," balas Deffri.
Ia takut jika Emilia merasa malu dan akan marah kepadanya, "Sudahlah, terima kasih Deff!" balas Emilia. Ia melihat kotak P3K ia membukanya dan mebgambik plaster, "coba aku lihat luka di leher kamu, Deff?" ujar Emilia.
Ia menutupnya dengan Plaster.
Emilia sedikit tercekat ia tidak menyangka jika ia benar-benar nenjadi vampir kelaparan tadi malam, "Ya, ampun, Deff! Apakah ini sakit?" tanya Emilia bingung. Ia melihat beberapa gigitan cinta berada di bahu dan tengkuk Deffri.
"Um, apa?!" Deffri memandang ke arah wajah Emilia yang berdiri di sisinya. Keduanya saling pandang dan diam, Emilia sedikit ngeri membayangkan banyak hal, "apakah kamu tidak pernah merasakan hal, itu?" tanya Deffri bingung.
"Maksudnya, apa?" balas Emilia bingung.
"Apakah kau dan mantanmu itu, saat menikah tidak pernah melakukan hal ini?" tunjuk Defri ke lehernya.
"Nggak!" balas Emilia cepat, karena itu memang fakta dan apa adanya.
"Hah! masa sih?" tanya Deffri tidak percaya.
"Ya, sudah! Kalau nggak percaya, percuma mau sebanyak apa pun alasanku, semua itu tak akan ada gunanya," balas Emilia.