I Can Live Without You

I Can Live Without You
Siasat di balik siasat



Maya meninggalkan rumah Farel dengan tersenyum riang, "Aduh, perutku! sial apa yang terjadi? Jangan-jangan babu itu meracuniku!" batin Maya memegang perutnya, "Broto kalau ada SPBU mampir dulu, aduh … perutku!" lirih Maya, ia merasakan jika perutnya melilit tidak karuan.


iya apa


"Baik, Nyonya!" Broto langsung menepikan mobil ke salah satu SPBU, "Kamu tunggu di sini saja!" ujar Maya berlari dengan terseok-seok ke kamar mandi.


"Siapa juga yang mau ngikutin Nenek Peot begitu?" batin Broto geleng-geleng kepala, "aku tidak habis pikir mengolah Tuan Rahman yang baik bisa punya istri kayak gitu?" batinnya.


Maya sudah melepaskan hajatnya dan ke luar dari kamar mandi  akan tetapi ia merasakan mules kembali, "Sial banget nih, perut!" batinnya kembali masuk tetapi di dalam sudah antri kembali, "hei, minggir! Aku ingin segera ke dalam!" teriak Maya.


"Enak aja! Antri dong, Nek! Memang ini WC Mbahmu?" ujar seorang wanita gemuk dengan jutek.


"Hei, aku benar-benar butuh tahu! Aku akan membayar berapa pun untuk itu!" teriak Maya kesal.


"Tidak perlu! Makan saja duitmu! Bila perlu gunakan duitmu untuk menampung kotoranmu," balas wanita tersebut.


"Dasar udah kayak tong aja betingkah!" ujar Maya.


"Apa kau bilang? Dasar Nenek Peot! Keduanya saling jambak di dalam toilet umum sehingga keduanya keluar dari barisan antrian membuat yang lain tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Preet!


Maya terperanjat kala kotorannya sudah ke luar tanpa bisa dibendung lagi, "Dasar, menjijikkan! Huek! Baumu persis kayak itu, apakah kamu makan kain lap?" ujar salah seorang wanita mau muntah.


Maya kesal bukan main, "Aku akan menuntut kalian!" teriaknya marah dan malu.


"Tuntut saja! Memang aku takut!" balas wanita gemuk tersebut langsung ngacir masuk ke salah satu toilet. Maya menyusul masuk ke toilet lain, "Dasar kurang ajar!" umpat Maya kesal membersihkan semua kotoran yang menempel.


Ia kembali menuju mobilnya, "Ada apa Nyonya?" tanya Broto bingung melihat majikannya sudah basah kuyup di bagian roknya.


"Jangan banyak bacot! Ayo, pulang!" ajak Maya.


"Bau apa ini?" tanya Broto mengendus-endus bau tidak sedap.


"Sudah cepat jalan!" teriak Maya.


Broto langsung memakai masker dan membuka jendela mobil dan mengendarai mobil secepat kilat karena ia sudah mau muntah  mencium aroma yang tidak sedap tersebut.


Sesampainya di rumah Maya langsung membersihkan diri, "Awas, jika aku bertemu dengannya lagi! Aku akan membalasnya," sungut Maya kesal.


Ia mencari ke sana kemari tidak mendapati Delia maupun Rahman, Deffri dan Amara, "Surti!" teriak Maya.


"Ada apa Nyonya?" balas Surti.


"Ke mana semua orang?"


"Pak Rahman dan Amara memancing  Pak Deffri pergi ke kantor, dan Non Delia tidak tahu ke mana, dia nggak ada pamit!" balas Surti.


"Hah! Sudah sana, eneg aku lihat wajahmu!" balas Maya kesal.


Surti hanya menggeleng-gelengkan kepala, "Dari dulu kenapalah nggak berubah sedikit pun! Malah semakin parah," batin Surti.


"Aduh perutku!" lirih Maya bolak-balik ke kamar mandi.


*** 


Sementara Hana dan Farel sudah tiba di kantor, "Sayang, aku akan ke luar sejenak. Aku ingin meninjau usaha kita di jalan Merak!" pamit Farel.


"Tentu saja Cinta!" balas Farel tersenyum. Ia meninggalkan Hana yang bekerja di depan laptopnya, "aku akan menemui Delia," batin Farel bahagia.


Ia langsung mengendarai mobil ke tempat yang sudah dijanjikan, Farel melihat Delia begitu cantik dan menggoda, "Delia benar-benar cantik dan sangat menggairahkan!" batin Farel bahagia.


"Sayang, apa alasanmu yang kamu berikan pada kak Hana?" tanya Delia.


"Aku bilang, 'Aku akan melihat usahaku di Jalan Merak!" ujar Farek ternang. 


"Apakah dia tidak curiga?" tanya Delia.


"Jangan khawatir, aku sudah menghubungi sekretaris dan manajer di sana. Sudah jangan pikirkan, urusan itu aku yang urus. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu!" ujar Farel menoel pipi Delia yang langsung menyelipkan tangan ke lengan Farel dan menyandarkan kepala ke bahunya.


"Kita akan ke mana, Kak?" tanya Delia manja.


"Ada deh!" ujar Farel ia membawa Delia ke sebuah apartemen di mana dulu sering digunakannya dan Hana kala mereka berselingkuh.


"Tutup matamu dong, Sayang!" pinta Farel.


"Memang ada apa, sih?" tanya Delia manja.


"Ayo, tutup saja!" balas Farel menutup kedua mata Delia dan menuntunnya memasuki apartemen, "tara!" ujar Farel.


"Wah, indah sekali!" ucap Delia bersorak girang. Ia melihat di meja makan penuh dengan hidangan romantis lengkap dengan bunga dan lilin juga taburan kelopak mawar di tempat tidur, "oh, Sayang! Kamu benar-benar memanjakanku!" lirih Delia memeluk Farel


"Tentu saja, Sayang! Apa sih yang enggak buat kamu?" lanjut Farel mengecup bibir Delia sekilas, "di mana-mana wanita selalu saja tersungkur dengan hal roman picisan seperti ini," batin Farel tersenyum girang, "aku akan menggiringmu masuk ke dalam perangkapku demi menghancurkan Deffri," batin Farel rasa dendamnya kepada Farel benar-benar memuncak.


"Apakah kita makan dulu atau bersenang-senang?" tanya Delia manja.


"Aku rindu padamu! Sebaiknya kita bersenang-senang dulu," balas Farel langsung menyelipkan jari telunjuk menurunkan tali tipis di bahunya keduanya saling bergumul dan memberikan kebahagian yang terlarang di apartemen mewah saksi bisu di mana ia pernah mengkhianati istri pertamanya Emilia, kini pun ia mengkhianati istri keduanya dengan sepupunya sendiri.


"Kau benar-benar memuaskanku, Delia!" ujar Farel senang, berguling di sisi Delia yang menarik selimut menutupi keindahan tubuhnya.


"Tapi, Kak! Mengapa Kakak membuang benihmu di dalam rahimku? Bagaimana jika aku hamil?" tanya Delia.


"Tenang saja! Bukankah kau akan menikahi Deffri? Kamu tahu, aku ingin anakku berada bersama kalian dan kita tetap bersama seperti ini. Kau tahukan, tidak mungkin aku menceraikan Hana? Sementara dia adalah sepupumu. Ya … untuk memenuhi rasa cintaku kepadamu kini akan tetap melakukan permainan ini, bukan?" ucap Farel.


"Jadi, kau hanya ingin bersenang-senang denganku, begitu?" tanya Delia bangkit menarik sisa baju yang berceceran di lantai ingin memakainya, "aku tidak menyangka kalau kau, begitu kejam!" lanjut Delia frustasi.


"Jangan khawatir, bukan begitu maksudku, Sayang. Untuk sementara ini kamu harus menikahi Deffri agar mudah bagi kita untuk bersama dan mereka tidak curiga! Apalagi, mama Maya menginginkan hal itu! 


"Apa kata dunia? Jika aku menceraikan Hana dan menikahimu? Kita lakukan perlahan-lahan saja, Sayang. Bukan karena aku nggak mencintaimu?


"Kelak jika kita sudah mengambil semua harta milik Deffri, kita kabur meninggalkan Hana dan Deffri, bagaimana?" tawar Delia.


"Kau serius?" taya Delia menatap lurus ke mata Farel.


"Tentu saja, Sayang!" balas Farel berusaha untuk meyakinkan Delia.


"Baiklah!" jawab Delia, "aku akan berusaha untuk menyingkirkan Hana, hahaha, aku yang telah menjebakmu Farel. Kau tidak tahu, jika aku telah hamil, dasar bodoh!" batin Delia senang.


Keduanya saling berangkulan dan menikmati keindahan hari itu dengan  segenap rasa yang jauh lebih indah dan berbeda, Farel benar-benar mabuk kepayang begitu juga dengan Delia. Keduanya memiliki tujuan dan keinginan masing-masing. Mereka tidak menyadari banyak hal, apa yang akan terjadi kedepannya.


***