I Can Live Without You

I Can Live Without You
Rasa yang membingungkan



"Papa selalu saja membeda-bedakan antara Delia dan Afiqah, kamu tidak pernah mendukung Delia demi kebahagiaannya," balas Maya marah, "kami hanya memiliki Afiqah saja! Tidak pernah anggap Delia putrimu," rajuk Maya.


"Bukan begitu, Ma! Ya, sudahlah! Aku malas bertengkar. Aku tidak ingin memojokkan Deffri, kita kemari ingin melihat Amara, bukan bertengkar. Ayo, Nak! Kita pergi ke ruang belajar saja. Kamu sudah pintar belajar apa saja?" tanya Rahman pada Amara.


"Aku sudah pintar membuat kue dan belajar menghitung juga membaca, bunda Emilia mengajariku," ucap Amara tersenyum menggandeng tangan Rahman menuju ruang belajar.


"Kamu senang dengan bunda Emilia itu, Ndok?" selidik Rahman. Ia melihat binar bahagia di mata cucunya, "Senang banget Kek. Bunda itu baik banget," balas Amara.


"Oh, syukurlah, Nak! Terus bunda Emilia tidak punya seorang pria di rumahnya begitu?" selidik Rahman.


"Maksudnya pria itu seperti apa? Bunda hanya punya anak namanya Keano, Kek!" balas Amara menatap ke arah wajah Kakeknya yang sudah mulai renta.


"Maksudnya seperti papa kamu, ada nggak di rumahnya?" tanya Rahman.


"Tidak, om Farel sudah menikah lagi begitu, kayaknya. Tapi, Amara tidak tahu kenapa, padahal bunda baik banget, loh Kek," balas Amara. 


"Baiklah, Nak!" balas Rahman mengelus puncak kepala Amara, "semoga Allah menjaga-Mu, Nak!" batin Rahman, "kamu persis Afiqah, baik dan lembut," batinnya, ia mengenang putri semata wayangnya yang telah meninggal menyusul mendiang Amirah.


"Kakek, lihat! Benar nggak sih, hitungannya?" ucap Amara membuyarkan lamunan Rahman.


"Coba, Kakek lihat!" balas Rahman antusias, "wah, kamu benar-benar sepintar papa kamu!" balas Rahman memuji Amara yang tersenyum.


"Papa benar-benar pintar, ya Kek?" tanya Amara.


"Iya, papa kamu sangat pintar, Nak. Mama kamu juga sangat pintar. Um, rumah bunda Emilia itu di mana?" tanya Rahman.


"Um, di jalan Kasuari nomor 53, Kek. Dia julan Toko Pakaian Jaya Tex, namanya. Memang Kakek mau ke sana, begitu?" tanya Amara penasaran.


"Um, bukan! Kakek hanya ingin tahu saja," balas Rahman. Jauh di relung hatinya ia menyimpan alamat Emilia, "besok aku akan ke sana, aku ingin melihat wanita itu, wanita yang bisa menjadi ibu dari cucuku. Paling tidak aku ingin melihat kebahagiaan cucuku selama-selamanya," batin Rahman.


***


Sementara Deffri baru saja kembali dari lapangan menuju kantornya, "Ampun, aku benar-benar sudah tua. Ponsel pun ketinggalan," lirihnya meraih ponsel ia melihat panggilan dari nomor Emilia ketika hatinya girang dan takut.


"Apakah ada sesuatu?" batinnya ia langsung membaca pesan yang tertera di sana, "kalau papa Rahman ikut aku tidak khawatir tapi … jika mama Maya dan Delia, aku akan segera pulang," batin Deffri ia langsung melirik jam di pergelangan tangannya.


"Malik, siapkan tiket untukku! Aku ingin pulang malam ini juga," balasnya.


"Tapi, ini sudah malam!"


"Aku ingin pulang! Aku rindu Amara!" balas Deffri menatap tajam asistennya di Riau.


"Baiklah," balas Malik tidak berani membantah lagi jika berhubungan dengan Amara.


Tut! Tut! Tut!


Surti : " Halo, Assalamualaikum Pak!"


Surti : "Iya, lagi di ruang belajar bersama Non Amara ngerjain PR, Pak!"


Deffri : "Ya, sudah! Malam ini saya pulang, Mbok!"


Surti : "Baik, Pak!"


Deffri mematikan ponselnya lega sambil berjalan menuju mobil ingin ke Bandara Sultan Syarif Kasim II. Ia menelepon Emilia ia merasakan sebuah kerinduan seperti rasa yang pernah menghentak saat ia masih bersama almarhum Afiqah, "mengapa aku begitu merindukan Emilia?" batinnya.


Ia langsung mencari nama Emilia di layar ponselnya, ia ingin melepaskan rasa rindu yang terpendam di jiwa, ia sudah meninggalkan Karangsari selama seminggu. Ia tidak melihat wajah dan senyum Emilia, baginya Emilia, Amara, dan Keano adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun untuknya. 


"Segalanya tak akan lengkap, jika salah satu tidak ada bersamaku," batin Deffri merasa hampa.


Emilia : "Halo, Assalamualaikum, Deff. Maaf, Amara dibawa oleh neneknya Maya. Benarkah itu neneknya?"


Deffri : "Waalaikumsalam, iya itu nenek sambungnya dari pihak mama Afiqah. Aku akan pulang malam ini, bagaimana keadaanmu dan Keano?"


Emilia : "Aku baik-baik, saja! Um, kamu sudah makan?"


Deffri : "Sudah, um … Emilia ... aku, rindu padamu!" 


Kesunyian lama mencekam di antara mereka masing-masing, keduanya terdiam bingung harus berkata apalagi.


Deffri : "Maaf, Em. Aku … sudahlah, aku akan berangkat sekarang, Assalamualaikum, sampai besok!"


Emilia : "Waalaikumsalam,"


Deffri mematikan ponselnya, "Gila, mengapa aku keceplosan? Bisa-bisa Emilia kabur dariku," batinnya menatap lalu lalang orang-orang di jalanan, "tapi, aku tidak bisa berbohong, jika aku memang merindukan Emilia," batin Deffri terdiam.


Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia hanya diam menyandarkan punggung, bayangan kesedihan dan tawa Emilia benar-benar menghantui dirinya, "Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu, Emilia tidak akan mungkin percaya, begitu mudah akan nama cinta, ia pasti trauma akan perbuatan Farel yang mengerikan padanya," batin Deffri menarik napas, "salahkah aku, jika aku mencintainya?" batin Deffri bertanya.


Namun, cinta yang dirasakannya begitu membumbung tinggi, "andaikan Emilia, memberikan kesempatan kepadaku. Aku akan mencintainya dengan tulus dan sebaik-baiknya, melebihi apa pun yang ada di dunia ini," batin Deffri berjanji. 


Ia masih menatap temaram lampu di sepanjang jalan, seakan bayangan wajah Emilia masih menari di sana tersenyum dan menemani mimpi dan angan seorang Deffri.


***


Sementara Emilia masih terhenyak berdiri mematung dengan menggenggam ponselnya, "Apa yang harus aku lakukan?" batin Emilia bingung. Ia tidak pernah menyangka jika Deffri akan mengatakan kata, "Rindu". Bagi Emilia ia tidak pernah membayangkan akan menikah atau jatuh cinta lagi.


"Aku … ini mengerikan sekali! Bagaimana jika kedepannya Deffri akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Farel kepadaku?" batin Emilia. Ia terduduk di lantai, "bukankah persahabatan lebih indah dari apa pun?" lanjut batin Emilia.


Ia menangis lagi, "aku tidak ingin kehilangan sahabat yang baik seperti Deffri, hanya karena kata cinta. Tapi, jika untuk menikah, aku belum sanggup. Sakit kemarin masih terasa dan itu mengerikan sekali!" batinnya di sela tangisan, ia merasakan kepahitan yang diberikan oleh Farel selama 10 tahun, "suka dan duka yang diberikan Farel begitu membekas di jiwa dan ragaku, aku tidak ingin tersakiti lagi, hanya karena cinta. 


"Tak ada cinta yang abadi di dunia ini, semua hanyalah omong kosong yang sangat menyakitkan hati, aku tidak ingin terluka lagi," batin Emilia, "apa yang harus aku katakan, kepada Deffri?" batinnya.


Ingin rasanya Emilia menjauh dari semua kehidupan Deffri dan Amara, tapi ia merasa jika itu adalah sikap kekanak-kanakan, "aku sudah tua bukan anak-anak lagi, aku harus menghadapi semuanya dengan tenang dan mengatakan pada Deffri, jika aku belum cukup berani untuk menikah lagi, lagian … aku juga tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak?" batin Emilia.