
"Seorang Deffri Hardiansyah, mendapatkan sisa dari Farel Setiawan, memalukan sekali!" balas Farel tak kalah sengitnya.
"Sudahlah! Jangan diperpanjang, siapa pun yang menjadi pilihan menantuku Deffri, aku sangat yakin jika wanita itu memiliki sesuatu yang sangat luar biasa dibandingkan wanita lainnya.
"Bagiku, yang penting dia menyayangi cucuku Amara bukan hanya Deffri dan hartanya saja," ucap Rahman menyudahi semua pertengkaran antara Deffri dan Farel dengan arif.
Semua orang terdiam, "Allah akan marah, jika di depan makanan kita bertengkar! Seharusnya kalian malu, karena diluar sana masih banyak orang yang kesulitan untuk mencari nafkah dan makan dengan mewah!
"Nak Farel, jika kamu mau makan bersama kami, mari silakan! Jika ingin pulan silakan, kamu … Maya dan Delia jika ingin makan, makanlah dengan tenang. Jika tidak biarkan kami menikmati makanan yang diberi Allah sebagai rezeki di rumah ini!" balas Rahman.
"Papa! Kamu ini, selalu saja berbuat demikian! Kamu selalu membeda-bedakan antara Afiqah dan Delia! Kamu tidak pernah mendukung dan menganggap Delia putri kamu!" balas Maya marah.
"Maya, jika aku tidak pernah menganggap Delia putriku, aku tidak akan mewariskan hartaku kepadanya juga menyekolahkan dan membesarkan dia dari kecil. Kamulah yang seharusnya intropeksi diri, apa yang telah kamu lakukan kepada Afiqah?" balas Rahman, "aku tidak akan mengulangi hal yang sama kepada cucu dan menantuku!
"Jika kamu tidak senang, kamu bisa tinggal di rumah mana pun yang sudah aku wariskan kepadamu dan Delia. Aku ingin ketenangan di akhir hidupku!" balas Rahman dengan tegas, "Mbok Surti tolong, tambahkan lagi sayur asem yang kamu masak. Aku sangat menyukai sayur asem ini," pinta Rahman.
Surti langsung mengambil dan menambahkan sayur asem ke meja makan dan piring Rahman, "terima kasih Mbok. Makanlah bersama kami. Jangan makan di dapur sendirian, orang-orang tua seperti kita hanya ingin berada di antara anak-anak dan cucu yang menyayangi kita dengan tulus," ucap Rahman.
"Ta-tapi Pak!" ucap Surti sedikit takut, ia tahu jika Maya dari dulu tidak pernah menyukainya karena ia selalu saja cemburu pada Surti, sehingga ke mana pun Afiqah pergi dan bersekolah Rahman selalu mempercayakan segala hal kepada Surti.
"Kau sudah banyak berjasa di dalam membesarkan putriku sejak dia berumur 5 tahun sampai dia meninggal. Bahkan, kamu pun telah mengurus cucuku sekarang. Aku rasa tak ada kata dan harta yang bisa aku ucapkan dan berikan kepadamu selain ribuan terima kasihku.
"Itu pun belum cukup Surti! Aku tidak bisa mengganti waktuku yang hilang bersama cucu dan putriku, sekarang waktuku membalas kebaikanmu. Carilah, pegawai lagi. Aku akan membayar biayanya sudah waktunya kamu istirahat dan hanya melihat perkembangan cucuku saja Surti," Ketus Rahman tegas.
"Ta-tapi Pak?" Surti menatap ke arah Rahman dan Deffri juga ke arah Maya dan Delia takut-takut. Surti menautkan kedua tangan meremas hijabnya dengan takut.
"Mbok, apa yang dibilang Papa ada benarnya Mbok. Aku juga baru memikirkan hal itu, besok kita cari ibu-ibu rumah tangga saja untuk mengerjakan pekerjaan Mbok selama ini. Jadi, Mbok cuman ngurus Amara saja," balas Deffri.
"Sejak kapan seorang babu setara dengan majikan?" sinis Maya.
"Walaupun dia pembantu dia juga manusia. Surti jangan dengankan ocehan Maya. Di rumah ini, Deffrilah yang berkuasa karena dialah kepala rumah tangga. Kami hanya menumpang kemari. Jangan pernah takut!" balas Rahman.
"Ba-baik Pak!" balas Surti. Surti seorang janda ditinggal mati tanpa anak karena rasa cintanya kepada almarhum.suaminya ia tidak menikah selama hampir 30 tahun. Ia mengabdi kepada keluarga Rahman, ia melewati suka duka membesarkan dan menerima hinaan juga cacian dari Maya demi Afiqah yang disayangi seperti putrinya.
Sedikit pun Surti tidak pernah merasa ingin mencintai Rahman karena rasa cintanya kepada Almarhum Sutoyo yang sangat luar biasa. Rahman pernah ingin menikahinya tetapi Surti menolaknya.
Farel dan Hana duduk di meja makan makan dengan diam, "Aku ingin melihat bagaimana keluarga ini, agar aku dengan mudah menghancurkan Deffri! Lihat saja, hahaha. Kepintaranku akan memanipulasi segalanya," batin Farel.
Maya dan Delia masih kurang suka jika mereka semeja dengan Surti namun keduanya tidak berani untuk membantah, "Sialan, pria tua bangka ini. Jika bukan karena hartanya aku tidak akan sudi semeja dengan babu ini, mana sok alim lagi. Cuih!" batin Maya kesal.
"Ah, enak sekali Sayang!" balas Rahman dengan tulus memuji masakan Emilia yang benar-benar enak.
"Papa mau?" tanya Amara menyuapkan pada papanya.
"Tentu, Sayang!" balas Deffri.
"Sial, mengapa sih? Emilia sampai membuatkan kue juga untuk Deffri, seharusnya makanan Emilia hanya aku yang boleh memakannya," batin Farel kesal. Ia sangat tahu bagaimana rasa dan tekstur kue bikinan Emilia yang enak tersebut hanya karena harga dirinyalah yang menahannya agar tidak meminta sesuap kue itu.
"Apakah Nenek dan Aunty berdua juga mau?" tanya Amara.
"Tidak, terima kasih!" jawab ketiganya.
"Apakah Om Farel mau?" taya Amara.
"Tidak! Om sudah bosan memakan kue bikinan Emilia selama 10 tahun, rasanya hanya begitu-begitu saja!" balas Farel, "masih enakkan bikinan Tante Hana," puji Farel.
Delia menatap ke arah Farel kesal, "Sejak kapan Kak Hana pintar memasak?" tanya Delia penasaran.
"Sejak aku menikah bersama Mas Farel!" ujar Hana bangga, "Masmu ini memilih Kakakmu ini karena aku memiliki kelebihan daripada Emilia. Jika tidak! Mana mungkin dia memilihku dan meninggalkan wanita itu," sinis Hana menatap ke arah Deffri.
Deffri hanya diam saja," Enakkan Pa?" tanya Amara sedikit kecewa karena dirinya ikut membuat kue tersebut.
"Sangat, Sayang! Sesuatu yang dibuat dengan rasa kasih sayang dan ketulusan akan sangat nikmat!" balas Deffri.
"Hore! Aku ingin Papa segera menikah dengan bunda Emilia! Agar aku dan Keano bisa bermain bersama," ujar Amara girang.
Farel mengepalkan tangan di bawah meja, "Sialan, aku akan mencegah hal itu bagaimanapun caranya," batin Farel, "bila perlu aku akan menjebak Deffri dengan Delia agar mereka menikah. Aku bisa memanfaatkan Delia menjadi boneka dan harta Deffri akan menjadi milikku. Selain itu aku akan terus mengganggu kehidupan Emilia," batin Farel menyusun strategi perangnya.
"Tidak bisa! Papa kamu akan menikahi Tante Delia!" ucap Maya tegas.
"Apa?" balas Amara menatap Delia dan Deffri, "benar Pa?" tanya Amara menatap ke arah Deffri dengan tatapan kurang suka.
"Jangan khawatir, Papa hanya menikahi wanita pilihan kamu dan yang Papa cintai yaitu bunda Emilia!" balas Deffri.
"Tidak, Deff! Kamu harus menikahi Delia," ucap Maya keukeuh.
"Ma, ini kehidupanku. Bukan kehidupanmu! Tolong, jangan turut campur akan kehidupanku. Jika kau tidak senang kau bisa pergi dari kehidupanku, karena sejatinya Mama tidak ada hubungan darah denganku dan Amara selain pernikahan antara Papa Rahmanlah aku masih menghormatimu!" balas Deffri tegas.