I Can Live Without You

I Can Live Without You
Menutupi perlakuan Maya



"Aku hanya sakit perut! Aku sedang datang bulan!" balas Emilia memotong ucapan Mira.


Mira menatap ke arah Emilia yang menatap ke arah Mira yang memahami apa yang tersirat dari pandangan mata Emilia, "Hadeh, Mbak Emilia terlalu baik kadang! Coba kalau aku, langsung aku aduin tuh nenek sihir!" batin Mira.


"Ya Allah, Em! Ayo, kita ke dokter kandungan sekarang juga!" ajak Deffri ingin membopong tubuh Emilia.


"Deff, aku tidak apa-apa! Sebentar lagi juga sembuh aku sudah minum obat, percayalah!" balas Emilia panik kala Deffri sudah membopongnya, "Deff, aku mohon! Turunkanlah, aku! Aku malu," pinta Emilia kebingungan ia takut jika gosip semakin kacau, CCTV tanpa fakta selalu saja lebih mengerikan dari mulut seekor ular berbisa.


"Aku tidak akan tenang, jika kamu belum ke dokter sekarang juga!" ketus Deffri.


"Deff, percayalah! Aku tidak apa-apa! Deff! Please," pinta Emilia menatap ke arah Deffri membuat Deffri membeku di tempatnya berdiri hanya dengan tatapan ketegasan dari mata Emilia.


"Baiklah, tapi … jika nanti kamu merasakan sakit lagi. Aku tidak akan peduli jika aku harus menyeretmu ke dokter. Walaupun kamu akan memukulku," balas Deffri.


"Iya, aku janji. Jika sakitnya berulang aku akan mengajakmu, tak perlu menyeretku!" balas Emilia tersenyum, "ayo, turunkan aku!" pinta Emilia lagi.


"Baiklah," ujar Deffri menurunkan tubuh Emilia. Debaran jantung keduanya semakin kencang berpacu seakan-akan mereka baru saja naik rolling coaster.


Mira tersenyum memandang kedua sejoli yang sedang kasmaran tanpa mereka sadari. Mira beringsut perlahan menjauh menyusun kembali pakaian-pakaian ke rak-rak etalase.


"Kamu susah makan, Deff? Amara mana?" tanya Emilia mencari Amara dari balik punggung Deffri. 


"Amara pergi memancing dengan kakeknya ke kolam pancing," balas Deffri.


"Oh, mengapa kamu nggak ikut?" tanya Emilia.


"Aku ingin keduanya melewati kebahagiaan antara cucu dan kakek, aku tidak ingin menjadi penghalang bagi kakeknya untuk mencurahkan kasih sayang kepada cucunya. 


"Bagaimanapun keduanya jarang bertemu, kasihan keduanya," balas Deffri, "selain itu aku ingin melihatmu!" ujar Deffri menatap ke arah Emilia dengan tersenyum dengan lembut.


"Akh, masa? Makin tua makin pintar gombal kamu Deff!" balas Emilia.


"Yee, buat apa aku gombalin kamu, Em. Itu sih, fakta! Kamu ini selalu saja nggak percaya dengan apa yang aku rasakan dan katakan kepadamu!" ukar Deffri tersenyum.


"Kamu udah makan belum?" taua Emilia.


"Belum, kamu ada masak apa?" tanya Deffri.


"Ada panggang ikan gurame dan lalapan, kesukaan kamu! Ayo, makan!" ajak Emilia, "Mir, Mbak makan dulu ya sama Mas Deffri," ujar Emilia meninggalkan Mira.


"Iya, Mbak!" balas Mira tersenyum bahagia, "aku harap kebahagiaan akan menyapamu Mbak!" batin Mira.


Emilia dan Deffri naik lantai atas, "Hai Jagoan! Lagi apa?" sapa Deffri mengangsurkan tos pada Keano yang segera membalas tos tersebut.


"Ini, Om lagi mewarnai!" balas Keano tersenyum.


"Coba Om lihat!" tawar Deffri. Keano dengan semangat memberikan kanvasnya.


"Wah, indah sekali! Pintar kamu, Nak!" puji Deffri.


"Mau Om bantu nggak, mewarnai ini?" tawar Keano.


"Tentu saja!" balas Deffri semangat, ia langsung mengambil salah satu crayon dan cat minyak, "kamu kok bisa ya, aplikasikan semua warna ini? Padahal kamu masih TK? Kamu hebat banget?" tanya Deffri.


"Um, nggak tahu Om. Aku cuman merasa ini sangat bagus!" ujar Keano.


"Apakah kalian ingin makan?" tanya Emilia kala ia sudah menyiapkan  semua menu di atas meja.


"Mau, Ma! Sulang kami saja!" pinta Keano dengan santainya.


"Sulang saja!" pinta Deffri mengikuti permintaan Keano.


"Ya ampun! Kedua pria ini!" batin Emilia geleng-geleng kepala, biasanya ia hanya menyulangi Keano dan Amara. Namun, kini ia harus menyulangi Keano dan Deffri secara bergantian.


Keduanya begitu bahagia mendapatkan jatah giliran disuapi oleh Emilia sambil menorehkan cat di atas kanvas milik Keano yang bergambar robot-robot, "Om rasa, karyamu ini adalah lukisan kontemporer," ujar Deffri.


"Apa itu?" tanya Keano tidak mengerti ia hanyalah seorang anak TK nol besar yang tidak memahami apa istilah di dalam lukisan ia hanya menggunakan insting dan nalurinya sebagai bakat alam yang diturunkan oleh Almarhum abah Emilia.


"Itu adalah kelompok dari istilah lukisan kamu. Nanti jika kami udah gede kamu akan tahu," balas Deffri tersenyum.


"Om, napa kak Amara nggak ikut sih?" tanya Keano menyadari jika Amara tidak ikut.


"Amara sedang bersama kakeknya," ujar Deffri yang masih mewarnai dan sekali-kali membuka mulut menerima suapan nasi dari Emilia setelah Keano.


"Oh, begitu!" balas Keano. Ketiganya saling berbagi tawa dan canda juga kebahagiaan saat mewarnai lukisan yang dibuat oleh Keano. Jauh di dalam hati Deffri, "Aku akan memasukkan karya ini untuk ikut lomba, siapa tahu Keano juara!" batin Deffri.


Deffri melihat Keano begitu serius di dalam melukis, "Keano, ntar kalau sudah jadi. Nih, lukisan untuk Om ya?" pinta Deffri 


"Oh, Om mau ya? Ya udah ambil saja! Ntar Keano mau buat lagi, ntar sampaikan lukisanku untuk kak Amara!" ucap Keano.


"Memang kamu lukis apa untuk kak Amara?" tanya Deffri penasaran.


"Ada deh!" balas Keano mengikuti salah satu iklan di televisi dan membuka mulut menerima suapan nasi dari mamanya.


Emilia dan Deffri saling pandang dan tersenyum melihat kepolosan Keano seakan-akan dia telah berhasil membuat kejutan untuk Amara.


Emilia langsung menunjukkan lewat kerlingan matanya tentang lukisan yang akan diberikan kepada Amara, Deffri terkejut ia melihat lukisan itu berisikan foto mereka berempat di sana di sebuah pantai kala mereka sedang berlibur tanpa sengaja bertemu.


Deffri melihat walaupun lukisan itu masih sedikit kasar, tetapi mengingat umur Keano itu adalah hal yang sangat luar biasa hebat.


***


Sementara Maya dengan kesal masih menggerutu di sepanjang perjalanan ia ingin melampiaskan semua amarah kepada Emilia, "Dasar, wanita tidak tahu diuntung! Udah bagus aku nawarin uang untuknya, ee ... dia malah menolaknya.


"Ia malah masih mau mengejar-ngejar Deffri. Nyebelin!" ujar Maya kesal, "Broto aku ingin ke rumah Farel," lanjutnya.


"Baik Nyonya!" balas Broto langsung memutar mobilnya ke arah Jalan Kasuari.


"Aku harus mencari cara agar Deffri memutuskan hubungan dengan Emilia bagaimanapun caranya. Aku harus meminta pertolongan kepada Hana," batin Maya.


Berselang beberapa menit Maya telah tiba di rumah Farel, "Eh, Tante! Ayo, masuk!" ajak Hana tersenyum bahagia.


"Kalian mau pergi, begitu?" tanya Maya melihat keduanya sudah bersiap-siap ingin pergi.


"Kami mau menjemput Tante dan Delia! Mumpung di sini, jadi ya ... ngajak jalan-jalan gitu," balas Farel dengan sikap manisnya.


"Wah, kalian baik banget! Tapi aku sudah di sini. Aku lagi kesal!" ucap Maya.


"Oh, memang ada apa Tan?" tanya Farel, "ini kesempatanku!" batinnya.


"Sebaiknya kita bicara di dalam saja, Tan!" ajak Hana merangkul Maya.


"Baiklah!" jawab Maya mengikut saja saat Hana menuntunnya ke salah satu kursi.


"Memang ada apa, Tan?" tanya Farel.