
Hana benar-benar merasa jika Farel mulai uring-uringan dan mulai banyak berubah, ia sering termenung dan tak sehangat dulu terhadap Hana. Membuat Hana semakin risau dan takut jika Farel akan kembali kepada sang mantan, "Mas, kamu nggak sarapan?" tanya Hana.
"Mengapa sih, kamu tidak bisa membuat kue ini selembut bikinan Emilia?" tanya Farel. Padahal kue tersebut sudah sangat lembut, "Ini sudah sangat lembut Mas, mau selembut apalagi?" balas Hana masih berusaha sabar.
Farel hanya diam, kini ia menyadari jika apa yang dikatakan oleh Hana benar adanya. Farel berusaha membandingkan Emilia dan Hana, ia berusaha untuk menyuap setiap gigitan dari sobekan roti yang dibuat oleh Hana, bayangan Defri dan Emilia juga Keano bergelayut manja di pelupuk mata membuat jiwa raganya meradang seketika.
"Ngapain sih, Defri harus setiap hari datang ke toko Emilia?" batinnya cemburu, "dan ngapain juga Emilia pakai bermanis-manis kata," umpat Farel kesal.
"Apa Mas? Kamu ngomong apa soal Emilia?" tanya Hana menatap tajam ke arah Farel.
"Tidak ada, aku hanya sedikit kesal Emilia terlalu pelit untuk memberikan waktu sedikit lebih lama untukku bersama dengan Keano. Jika tahu, begini … aku tidak akan membiarkan Keano ikut dengannya," alasan Farel.
"Kamu saja yang aneh, Mas! Seharusnya kamu biarkan Emilia menikah dengan Defri jadi Keano bisa ikut kita," balas Hana memberi solusi, "jika Emilia menikah dengan Defri secara otomatis Farel tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Emilia, apalagi berniat untuk rujuk kembali," batin Hana.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan Emilia menikah dengan Defri atau siapa pun. Kau harus tahu itu!" ketus Farel sengit.
"Jadi, maksud kamu? Kamu senang melihat Emilia tidak menikah lagi begitu? Kamu egois sekali Mas?" teriak Hana.
"Aaa, sejak kapan sih, kamu jadi cerewet begini? Emilia tidak pernah cerewet denganku, berbeda dengan kamu," balas Farel sengit.
"Apa kamu ingat? Dulu kamu bilang, karena kecerewetanku inilah kamu jatuh cinta padaku. Berbeda dengan Emilia yang pendiam dan hanya menangis paling dia hanya mengomel seadanya. Apa kamu lupa Mas?" teriak Hana.
"Halah, sudah! Pagi-pagi kamu selalu saja mengajakku bertengkar, aku lelah tahu?" teriak Farel murka. Ia langsung meninggalkan Hana dan menaiki mobil pergi meninggalkan rumah.
"Sialan! Semua ini karena Emilia, jika Emilia tidak ada. Aku sangat yakin Farel tidak akan mengingatnya lagi," umpat Hana kesal, "Bik!" teriaknya memanggil Bik Ijah.
"Iya, Bu!" balas Ijah tergopoh dari dapur.
"Bereskan semua ini, buang saja! Aku ingin pergi ke kantor," perintah Hana, langsung pergi meninggalkan rumah mengendarai mobilnya.
"Bu Hana berbeda dengan Bu Emilia, jika Bu Emilia selalu membaginya dengan semua orang. Tapi, Bu Hana lebih senang membuangnya daripada memberikan kepada orang lain," lirih Ijah membungkus makanan dan memberikan kepada satpam dan membawa sebagian pulang.
***
Hana mengendarai mobil menuju ke toko Emilia, "Sialan, rame sekali toko Emilia!" batinnya. Ia masih mengawasi semua orang di sana, " bagaimana caranya agar aku bisa menghancurkan toko Emilia ini?" sungutnya. Ia melihat Farel ke luar dari mobil berjalan menuju ke arah toko Emilia.
"Bedebah, pria kurang asem ini! Berani-beraninya dia kemari? Awas, kau!" batin Hana. Ia langsung memakai seutas selendang dan masker juga kacamata hitam memasuki toko Emilia seakan-akan dirinya seorang pelanggan yang sedang membeli.
"Mana Emilia dan Mas Farel? Jangan-jangan mereka sedang berduaan di kamar?" umpat Hana semakin marah dan cemburu, "dasar, kau Emilia! Aku akan mencincang dan mempermalukanmu!" sumpah serapah Hana di jiwanya. Ia berusaha menyelinap masuk ke lantai atas. Namun, ia tidak menemukan siapa pun di sana. Ia kembali turun, secepatnya dan kembali memilih pakaian.
Hama melihat Farel duduk di salah satu kursi memperhatikan Emilia yang sedang sibuk, "Kau lebih senang menunggui wanita gatel ini, daripada pergi ke kantor. Dasar, sialan kau Farel?" geram batin Hana.
"Em! Aku ingin teh susu hangat!" ucap Farel kepada Emilia yang sibuk.
"Farel aku sedang sibuk, pergilah pulang." Emilia masih terus melayani pelanggannya bersama Mira.
"Aku ingin buatanmu!" teriak Farek yang tidak pernah sabaran, arogan dan egois.
"Layani saja dulu suaminya Mbak!" ucap si pelanggan.
Ia berusaha secepatnya membuatkan teh susu hangat kepada Farel dan mengangsurkan di meja. Ia kembali melayani pembeli, Farel tersenyum ia merasa sedang di atas angin.
"Emilia, aku lapar!" ucap Farel kemudian.
"Dasar pria kurang ajar! Dikasih jantung malah minta rempelo," sungut Emilia.
"Farel, pulanglah! Aku tidak memasak," balas Emilia masih terus saja melayani pelanggan. Mira sudah kesal setengah mati atas perlakuan Farel kepada majikannya.
"Pak Farrel apakah istrimu Hana tidak memasak? Ini toko pakaian bukan warung nasi," ketus Mira sebal.
"Eh, diam kau! Aku bisa saja memecatmu!" teriak Farel.
"Kau bukan yang menggajiku, kau tak tahu malu. Cuman mantan suami saja belagu," umpat Mira membuat kehebohan lainnya.
"Kau!" teriak Farel ingin memukul Mira.
"Ayo, pukul! Jika kau mau aku tuntut," teriak Mira dengan beraninya.
"Sudahlah, Mir! Farel pulanglah, aku mohon jangan membuat keributan di sini, aku tidak suka," balas Emilia berusaha untuk selembut mungkin.
"Karyawan kamu itu yang kurang ajar! Memuakkan, tahu! Kau pecat saja dia!" ucap Farel.
"Kai tidak memiliki hak untuk itu, pergilah! Sebelum kemarahanku meledak," balas Emilia.
"Kau ingin marah kepadaku? Hahaha, kau mencintaiku melebihi apa pun Emilia aku sangat yakin jika kamu tidak akan pernah bisa marah," ejek Farek dengan percaya diri.
"Farel, pergilah! aku mohon," balas Emilia.
"Aku akan pergi jika kau pergi denganku!" teriak Farel marah.
"Dasar orang gila!" umpat Emilia meninggalkan Farel.
"Apa kau bilang Emilia?" tanya Farel mengejar dan menarik tangan Emilia.
"Aku bilang, kamu orang gila yang tidak tahu malu! Puas!" balas Emilia.
"Kau! Dasar sialan!" Farel ingin melayangkan tangannya, terapi langsung ditangkap oleh Defri.
"Sekali lagi kamu menggunakan kekerasan kepada Emilia aku bisa menuntutmu, Farel! Kau hanyalah mantan suaminya bukan suaminya lagi, selain itu jika seorang suami hanya mengambil anak gadis orang untuk dipukuli, itu artinya kau bukan terlahir dari seorang wanita. Ingatlah itu," balas Defri marah.
"Apa urusanmu?" tanya Farel.
"Urusanku adalah aku tidak suka jika kamu semena-mena kepada wanita yang aku cintai. Lagian, kamu sudah punya istri ngapain kamu mencari mantan istrimu, nanti kamu membalikkan fakta jika Emilia yang masih ngejar-ngejar kamu begitu? Memalukan!" balas Defri sengit.
Ucapan Defri bagaikan tamparan di wajah Farel, ia benar-benar marah.