
Emilia masih mendengarkan pembicaraan dua pria di belakang punggungnya, "Aku tidak menyangka, jika Keano dan Deffri bisa berteman seperti aku yang berteman dengan Amara," batin Emilia mengingat wajah cantik Amara.
Ia masih terus mendengarkan keduanya berbicara hingga keduanya tertidur dengan bergandengan tangan, "Kasihan sekali, Deffri!" batin Emilia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Deffri menggenggam tangan kecil Keano.
"Maafkan, Papa dan Mama, Sayang! Mama tidak menyangka kamu akan begitu menderitanya," bisik Emilia, "andaikan Farel sedikit saja melunak mengasihi Keano tanpa rasa ego yang tinggi, mungkin keluarga kami akan bahagia. Walaupun mungkin, aku dan Farel tidak bersatu kembali. Tapi, demi anak. Apa salahnya? Aku tidak iri jika Farel dan Hana bahagia," batin Emilia.
Malam semakin larut pagi menjelang tak sedikit pun mata Emilia terpejam ia masih membayangkan banyak hal di kehidupannya, "entah apalagi yang akan dilakukan oleh Farel untuk menghukumku," batinnya, "semoga Allah masih selalu bersamaku dan Keano," papar batinnya.
Keesokan pagi Keano benar-benar membaik, Emilia selalu saja menyentuh kening Keano,
"Pagi, Ma!" sapa Keano ringan.
"Pagi, Sayang! Bagaimana tidurmu?" balas Emilia mengecup kening putranya.
"Tidurku nyenyak sekali! Ssst, jangan berisik Ma, kasihan Om Deffri. Tadi malam saat Mama tidur, Om Deffri menemaniku." Keano tersenyum menatap ke arah Deffri dan tangan yang bebas diletakkan di bibir mungilnya.
"Benarkah?" Emilia pura-pura tidak tahu.
"Iya, Ma! Mama, hari ini kita pulang ya? Aku sudah rindu sekolahku, dan kak Amara," balas Keano.
"Baiklah, Sayang!" balas Emilia tersenyum.
"Um, kalian sudah bangun?" tanya Deffri menatap keduanya dan menyentuh kening Keano.
"Aku sudah sembuh, Om. Ayo, kita pulang!" ajak Keano.
"Baiklah, Om temui dokter dulu, agar mencari tahu. Apakah kamu sudah boleh ke luar dari RS sekarang juga," ujar Deffri tersenyum menyentuh kepala Keano dan sekilas bahu Emilia dengan tersenyum.
"Sebaiknya, aku saja yang menemui dokter Deff, kamu mandilah dulu!" usul Emilia tersenyum.
"Baiklah," balas Deffri tersenyum.
Emilia beranjak meninggalkan keduanya dan pergi menuju ke ruangan dokter.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
"Terima kasih, Dok! Saya hanya ingin bertanya, apakah putraku sudah bisa kami bawa pulang, Dok? Keano sudah ingin pulang secepatnya," balas Emilia.
"Tunggu sehentar, saya akan memeriksanya terlebih dahulu, Nyonya," balas Dokter Anwar.
Keduanya langsung menuju ke ruangan Keano dan Dokter Anwar memeriksanya, "Wah, kamu cepat sekali sembuh, Jagoan!" puji sang dokter dengan tersenyum manis.
"Tentu, Dok! Saya mau ketemu dengan Kak Amara dan teman-teman sekolahku," balas Keano tersenyum.
"Sepertinya, hari ini Keano boleh pulang, ingat, Keano! Harus makan yang banyak dan makanan yang bergizi, biar makin jago dan cepat besar!" pesan Anwar mengelus kepala Keano.
"Terima kasih, Dok!" balas ketiganya serempak.
Ketiganya langsung pulang dengan mengendarai mobil menuju Karangsari.
Sepanjang jalan ia tak puas-puas mengecup puncak kepala Keano di pangkuannya dan bernyanyi bersama menembangkan lagu kanak-kanak.
***
Sementara Farel dan Hana sudah kembali ke Karangsari, Farel menemui pengacaranya Alex, "Kamu yakin, ingin menuntut hak asuh, putramu, Keano, Farel?" tanya Alex menayap ke arahnya dengan tajam, "aku rasa, lebih baik Keano bersama dengan Emilia.
"Kau, tahu. Putramu lebih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, apalagi kamu dan Hana masih hangat-hangatnya menikah, selain itu aku tidak yakin jika Emilia tidak melawanmu kali, ini. Kau ingat, dia juga mengajukan tuntutan terhadap Hana. Kalian beruntung katena kedua saksi itu tiba-tiba tewas.
"Aku sangat yakin jika semua itu adalah kebetulan yang direncanakan bukan?" ujar Alex menatap ke arah Farel.
"Apa? Kau pikir aku yang membunuh kedua saksi itu, begitu?" ketus Farel sedikit marah, "aku tidak sekejam dan sejahat itu," lanjutnya.
"Kau tahu, andaikan semua itu diusut kembali, akan semakin parah. Bisa-bisa Hana dan dirimu akan terseret," balas Alex mengingatkan.
"Kau sudah menjadi pengacara keluargaku, sejak Papamu kemudian kamu. Jika kau tidak mampu menutupi dan mengambil alih hak asuh putraku Keano, lebih baik kau berhenti saja jadi pengacara keluargaku, Alex!" ketus Farel tajam.
"Siapa bilang, aku tidak sanggup! Hanya saja, undang-undang mengatakan, 'Jika anak di bawah umur lebih baik bersama dengan ibunya. Selain itu, kau juga saat menggugat cerai Emilia mengatakan, 'Jika kalian tidak memiliki anak,' hanya karena kau tidak ingin membagi hartamu kepada Emilia.
"Andaikan, kemarin kau tidak bersikeras 'kan hal itu. Aku sangat yakin, kita akan mudah memenangkan kasus ini. Apalagi, kau sama sekali tidak memberi Keano nafkah, bukan?" tanya Alex menatap ke arah Farel yang duduk di seberang mejanya.
"Aku, tidak mau tahu! Aku tidak akan pernah memberikan sepeser pun uangku kepada Emilia. Aku mau memberikan hartaku kepada Keano, jika ia tinggal bersamaku," balas Farel sengit, "kau lakukan, keinginanku! Jika tidak, aku akan mencari pengacara hebat di Indonesia ini. Ingatlah, itu, Alex!" ancam Farel. Meninggalkan ruangan Alex dengan kesal, "padahal, keluargakulah yang membesarkan nama biro pengacara ini. Tapi, sekarang malah belagu!" umpat Farel kesal.
Ia mengendarai mobil meninggalkan kantor pengacara Alex dan berusaha untuk menemui Hardi salah satu orang kepercayaannya seorang gengster di Kota Karangsari.
"Hai, Bos! Silakan masuk," ujar Siena, asisten Hardi yang cantik bertangan dingin di dalam membunuh dan menyiksa, wajah cantiknya begitu menipu.
"Aku mau bertemu dengan, Hardi!" balas Farel dingin.
"Baiklah, Sayang!" ujar Siena menepuk pipi dan mengecup bibir Farel sekilas.
"Um, jika Hana tahu! Aku sangat yakin dia akan menjambakmu, Siena!" balas Farel tersenyum merengkuh pinggang langsing Siena.
"Hahaha, kau kira aku takut dengan simpananmu itu, begitu? Kau bodoh, sekali! Jika hanya seperti Hana, seharusnya kau tidak perlu bersusah payah menikahinya. Wanita seperti Hana banyak antri di klub malam," sindir Siena, melepaskan diri dari rangkulan Farel dan menggandeng lengan Farel menuju ke ruangan Hardi.
"Jangan menghina istriku Hana, Siena! Bagaimanapun dia lebih baik darimu," balas Farel.
"Semoga saja, tapi sayangnya kau tidak bisa melepaskan cinta yang kau sia-siakan terhadap Emilia bukan? Menyedihkan!" sengit Siena dengan jijik.
"Sekali lagi kau menghinaku, kau akan tahu akibatnya, Siena!"
"Well … memang apa yang akan kaulakukan kepadaku? Sayangnya, aku bukanlah Emilia yang terlalu bodoh dan terbawa perasaan. Jika aku jadi dia, aku tidak akan pernah melepaskanmu dengan Hana begitu mudahnya," balas Siena, "nah, silakan temui Tuan Hardi. Semoga apa yang kau dapatkan bisa memuaskanmu, Farel!" ujar Siena meninggalkan Farel di depan pintu Hardi.
"Apa maksudmu, Siena?" balas Farel menarik lengan Siena dan menyandarkannya di dinding.
"Hahaha, Farel Sayang! Ingat, apakah kau ingin mengulangi kejadian malam indah kita di bungalo itu?" tanya Siena merangkulkan kedua belah tangannya di leher Farel, "ingat Farel, aku bisa membuatmu melupakan Hana. Jika itu yang ingin kau lakukan," balas Siena dengan senyum nakalnya.
"Aku tidak peduli, dengan masa lalu kita yang tidak ada artinya itu, Siena. Aku hanya ingin tahu, apa yang kau maksud dengan perkataan, 'Semoga apa yang akan aku dengar bisa memuaskanku!' katakanlah," pinta Farel menjambak rambut Siena ke belakang punggung sehingga wajah Siena menengadah.
"Hahaha, kau tanya saja Hardi, bukan padaku! Aku tidak memiliki wewenang untuk itu Farel," balas Siena menatap Farel dengan kebencian.