
"Ya, begitulah!" balas Farel acuh. Jauh di relung jiwanya ia menyangkal akan hal itu, "aku harus memengaruhi kedua orang tua ini agar mengurangkan niat mereka untuk merestui oernikahan Deffri dengan Emilia," batinnya.
"Oh, lalu kalian sendiri? Apakah kalian menikah setelah kamu bercerai dengan Emilia atau sebelumnya?" tanya Rahman.
"Kami …," ucap Farel bingung menjawab pertanyaan Rahman.
"Oh, tidak perlu dijawab, aku sudah tahu. Di mana kalian berkenalan?" tanya Rahman lagi.
"Maksud Om apa, sih?" tanya Hana kurang senang.
"Aku hanya ingin tahu, kalian berdua kenalan di mana?" balas Rahman tersenyum.
"Oh, aku bekerja di perusahaan Mas Farel. Selain itu rekomendasi dari mama Janti, mama Mas Farel," balas Hana bangga.
"Oh, begitu!" balas Rahman memahami satu hal di sana.
Ia tak lagi memperpanjang pertanyaannya ia sudah tahu semua arah pembicaraan dan apa yang terjadi.
Rahman memakan nasinya, dengan diam, "Aku dengar Delia akan menikah, Tan?" tanya Hana mengambil nasi dan lauk-pauk ke piringnya tanpa memberikan kepada Farel.
"Ya, kami ingin menjodohkannya dengan Deffri. Daripada ia akan menikahi wanita yang tak tahu asal-usulnya. Apalagi, kalian bilang, 'Jika wanita itu adalah wanita murahan!' bayangkan bagajmana nasib Amara," ujar Maya, "benarkan, Pa?" Maya meminta persetujuan dari suaminya yang masih makan dengan diam.
"Aku lebih senang membiarkan Deffri memilih siapa yang akan dinikahinya. Dia pintar dan lebih tahu siapa yang terbaik buatnya," balas Rahman menyudahi makannya, "kalian makanlah! Aku ingin Sholat Zhuhur, dulu!" lanjut Rahman naik ke lantai atas.
"Sial, sepertinya pria tua ini, setuju jika Deffri menikahi Emilia," batin Farel, "aku akan membuat Emilia gagal menikah. Aku tidak suka jika ia menikahi Deffri, bajingan! Siapa sangka Emilia malah melepaskan ikan kakap malah dapat ikan paus!" sungut Farel kesal.
"Mas, kamu mau tambah lagi?" tanya Hana.
"Nggak, terima kasih!" balas Farel. Di sampingnya Delia menatap Farel dan tersenyum genit, meraba paha Farel membuat Farel terkesiap. Ia hanya menatap ke arah Delia dengan tatapan bingung juga senang. Farel menatap ke arah Hana dan Maya yang masih berbicara banyak hal mengenai keluarga mereka.
"Kak Farel, besok boleh nggak aku main-main ke kantor Kakak?" ucap Delia manja.
"Oh, um, ya boleh saja!" balas Farel sebuncah rasa bahagia menyelimuti Delia.
"Aku rasa Farel sangat tampan dan berbeda dengan sikap kak Deffri, mengapa sih, Hana dan wanita bernama Emilia itu mendapatkan dua pria yang luar biasa ini?" batin Delia.
"Aku akan memanfaatkan Delia untuk menghancurkan Deffri dan Emilia," batin Farel langsung menangkap dan menggenggam jari Delia. Delia semakin berani dan tak memiliki rasa malu dan takut seakan dia terbiasa melakukan hal itu.
Tangan Delia mulai bergerilya tak tentu arah di bawah meja makan, Farel hanya menahan gejolak hasrat membaranya berusaha untuk menahan sesuatu yang bergemuruh di jiwa, "Kau akan bertekuk lutut padaku, Farel. Kasihan kau Hana," batin Delia berpura-pura memakan sesuap salad sayuran dengan tangan kirinya yang bebas.
"Tante jadi membeli baju dan perhiasan itu?" sayup-sayup terdengar suara Hana yang semakin jauh terdengar di telinga Farel di sebelahnya.
"Mas!"
"Ya," Farel hampir saja terjatuh merosot ke bawah meja kala Hana menyentuh bahunya.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Hana bingung.
"Kamu ngejutin, aku!" rutuk Farel, "sial, Delia benar-benar luar biasa," batin Farel, jiwa playboy-nya seketika bangkit.
"Aku mau pergi dengan Tante Maya ke pusat perbelanjaan, Mas mau ikut?" tanya Hana.
"Tidak usahlah!" balas Farel sedikit malas.
"Mbak, aku ajak Kak Farel jalan-jalan boleh?" tanya Delia.
Akhirnya Maya dan Hana pergi diantar oleh Broto sedangkan Delia pergi bersama dengan Farel, keliling Kota Karangsari. Delia begitu manja dengan Farel seakan mereka telah berkenalan sangat lama, "Kamu mau ke mana, Del?" tanya Farel.
"Ke mana saja, Kak. Ke mana pun kamu bawa aku ngikut kok, yang penting jangan bawa aku ke lobang semut!" balas Delia dengan genit membelai pipi Farel.
"Kamu serius? Kamu jangan begitu, dong? Bagaimana jika Dedekku yang di bawah sana bangun?" pancing Farel.
"Ya, bagus dong! Tandanya normal," goda Delia.
"Rasain Kamu Deff, kamu akan mendapatkan sisaku!" batin Farel senang mengetahui jika ia berhasil membalas dendam kepada Deffri lewat
Delia, "Kamu memang benaran mau menikah dengan Deffri, gitu?" tanya Farel penasaran.
"Hahaha, ya siapa sih, yang nggak.mau dengan pria tajir dan tampan seperti dia? Tapi dia pria dingin tidak romantis, aku suka pria maskulin seperti Kakak," goda Delia.
"Aku juga tajir, tuh!" balas Farel tidak mau kalah.
"Masa sih? Kalau gitu beliin dong aku mobil, aku pengen banget sebuah mobil," ujar Delia merapatkan pelukan dan menyandarkan kepala ke bahu Farel.
"Tentu saja! Asal … Ya kamu tahulah! Kamu bisa nyenengin aku nggak?" balas Farel.
"Tentu saja! Um, kita mau ke mana?" tanya Delia tersenyum.
"Jangan sekarang, aku tidak ingin Hana tahu. Besok kita atur rencana saja," balas Farel mulai berkeinginan untuk mencumbu Delia yang luar biasa menggoda dan menggairahkan.
Bayangan Emilia terlintas di benaknya di mana Emilia sedang berpelukan dengan Deffri, seketika jiwanya marah ia menarik rambut Delia dan mendaratkan bibirnya ke bibir Delia dengan berani. Akan tetapi, Delia menyambutnya dengan senang dan penuh suka cita.
Farel merasa marah kepada Deffri dan Emilia sehingga ia ingin membalasnya, ia juga marah kepada Hana yang sudah berhasil merayu dan menghancurkan pernikahannya.
Farel menepikan mobilnya dan mulai merengkuh Delia, keduanya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang tanpa ada yang tahu, perselingkuhan keduanya dimulai, (bayangin sendirilah! Cape nulisnya)
***
Sementara Deffri dan Amara telah berada di rumah Emilia mereka memasak bersama dan tertawa, "Hahaha, Kamu benar-benar koki yang handal, Em." Deffri bangga dengan hasil kue dan masakan yang mereka buat.
"Bolehah aku membawanya untuk Kakek, Bunda?" tanya Amara.
"Tentu saja, Kak!" balas Emilia memasukkan ke dalam kotak makanan terbuat dari kertas.
"Kak, nih buat kamu!" ucap Keano membawa paper bag dan memberikannya kepada Amara.
"Wah, bagus banget! Aku suka, terima kasih, Keano!" balas Amara tersenyun dan memeluk Keano.
"Sama-sama, Kak!" balas Keano lembut. Emilia dan Deffri hanya memandang kedua buah hati mereka yang begitu akur dan baik.
"Em, aku minta maaf dengan ucapanku tadi malam, tapi aku serius! Apa yang aku katakan itu adalah sebuah kebenaran," ketus Deffri menatap ke arah Emilia.
"Ee," Emilia bingung harus berkata apa.
Keano dan Amara saling pandang terkikik geli melihat papa dan mama mereka sedang berhadapan dan saling pandang, "Apakah mereka pacaran?" tanya Keano.
"Sstt! Jangan keras-keras nanti mereka dengar dan malu. Ayo, kita ke ruang TV saja," ajak Amara menggamit lengan Keano.