
Deffri dan Emilia saling pandang dan tertegun keduanya tidak menyangka jika kedua buah hati mereka akan begitu mudahnya mengatakan hal itu, "Memang Amara dan Keano mau jika Mama dan Papa menikah begitu?" tanya Deffri menatap kedua wajah tanpa dosa di depan mereka.
"Tentu saja, selain itu aku tidak mau selalu dikatakan tidak memiliki seorang mama," lirih Amara.
"Dan aku tidak suka jika papa Farel selalu saja datang marah-marah kepada Mama. Jika Mama dan Om menikah kemungkinan papa Farel tidak akan marah-marah lagi," ujar Keano tersenyum.
"Apakah Keano masih sayang sama papa Farel?" tanya Deffri ia sedikit takut jika ia tidak bisa menyayangi Keano melebih Farel.
"Mama dan Ibu Guru bilang, 'Orang tua tidak akan bisa tergantikan oleh siapa pun,' Tapi, aku rasa aku akan menyayangi papa Farel dan Om secara sama, sama-sama segini!" balas Keano membentangkan kedua tangannya.
"Hahaha, apakah kamu punya cinta yang begitu banyak?" tanya Amara menatap ke arah Keano.
"Tentu saja, cintaku kepada Mama, papa Farel, Kak Amara, dan Om sama-sama segitu," balas Keano dengan polosnya.
"Aku akan mencintai kalian semua dua kali dari itu," balas Amara tak mau kalah.
"Dan kami akan mencintai kalian berdua lebih dari segalanya," balas Emilia dan Deffri serempak.
"Cie, cie! Mama dan Om udah kompakkan!" goda Keano tersenyum bahagia.
"Kamu ini," balas Deffri menoel ujung hidung Keano, "nah, sekarang Om dan Kak Amara pulang dulu. Besok kita akan main lagi setelah Om pulang kerja," janji Deffri tersenyum.
"Baik, Om!" balas Keano.
"Amara, jangan lupa kasih ini untuk kakek Rahman," ujar Emilia memberikan bungkusan roti kepada Amara.
"Terima kasih, Bunda! Kakek pasti senang," balas Amara tersenyum bahagia.
Matahari mulai tenggelam kala Deffri dan Amara tiba di rumahnya ia melihat Mbok Surti ingin mengerjakan Sholat Maghrib begitu juga dengan Rahman sementara Maya dan Delia tidak terlihat batang hidungnya, "Amara, ayo, kita sholat, Nak!" ajak Deffri.
" Iya, Pa!" keduanya pun sholat dengan khusuk.
Setelah selesai sholat Surti telah menyiapkan makan malam, " Mama Maya ke mana Pa?" tanya Deffri perlahan.
"Dia sedang ke luar bersama dengan Hana dan Delia bersama Farel," balas Rahman tidak begitu senang, "ingat Deff, andaikan aku mati aku telah menghibahkan warisan milik Afiqah kepada Amara melalui Herman," ucap Rahman membicarakan Herman sang pengacara keluarga Rahman,
"Aku berharap kamu, jangan pernah menikahi Delia. Papa tidak pernah, setuju! Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Aku tidak melarang kamu menikahi wanita mana pun yang penting dia benar-benar menyayangi Amara dan dirimu melebihi putriku Afiqah," balas Rahman.
"Iya, Pa!" baas Deffri senang mendapatkan restu dari Rahman.
"Kapan kamu akan menikahi Emilia, Nak? Mumpung aku masih sehat," balas Rahman.
"Secepatnya, Pa!" balas Deffri berusaha untuk meyakinkan Rahman, "aku masih berusaha untuk meyakinkan Emilia tentang perasaannya," balas Deffri.
"Baiklah, Nak! Aku berharap kamu cepat menikah, aku … sudahlah berhati-hatilah," lanjut Rahman.
"Iya, Pa!" balas Deffri cepat.
"Kakek, bunda Emilia ngasih roti ini buat Kakek, ini kami yang masak loh Kek," ucap Amara senang.
"Wah, kalian pintar sekali! Nanti, Kakek akan memakannya," balas Rahman tersenyum bahagia.
"Pria ini, di depan semua orang seakan-akan menjadi orang yang selalu berhati mulia," batin Deffri ia masih saja terus makan bersama dengan Rahman dan Amara.
"Halo, ponakan Aunty! Aku kangen banget sama kamu," ucap Delia memeluk sekilas Amara.
"Terima kasih, Tante!" balas Amara.
"Jangan Tante dong! Nggak keren banget, A-u-n-t-y dong!" ucap Delia mengeja satu demi satu aksara.
"Hehehe, iya Aunty. Tapi, kata kakek Budi, 'Makan pakai sambal terasi saja tidak perlu gaya-gayaan sok kebarat-baratan, Aunty, begitu.
"Belajar Inggris boleh, tapi tetap tidak lupa akan kebudayaan Indonesia begitu Tante," balas Amara dengan dewasanya.
"Hadeh, itu pikiran kuno Sayang! Zaman dekarang modern ya harus berpikir serba modern," sambut Delia langsung mengambil piring dan menyendok nasi.
"Sebaiknya Tante cuci tangan dulu, gih! Ntar kuman-kuman banyak tuh, di tangan!" ucap Amara.
"Kumannya sudah kalah sama Aunty," jawab Delia santai.
"Amara, makanlah, Nak! Setelah itu kita akan belajar, ada PR-kan?" ucap Deffri.
"Iya, Pa!" balas Amara.
"Ayo, kalian makanlah dulu baru pulang!" ucap Maya mempersilakan Hana dan Farel.
"Tidak usah, Tan! Kami pulang saja," balas Farel ia merasa malas makan semeja dengan Deffri apalagi ia tahu jika Deffri akan menjadi suami dan papa sambung putranya.
"Iya, sudah malam sebaiknya pulang saja! Kami juga mau tidur!" usir Deffri, seperti kanak-kanak yang sedang marahan.
Rahman memandang ke arah Deffri dan Farel, "Aku merasa mereka masih saingan untuk mendapatkan cinta wanita bernama Emilia itu! Um, aku akan mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu. Aku melihat dia memang wanita yang baik, tapi aku juga harus mencari tahu kebenarannya," batin Rahman sambil menyuap makannya.
Rahman tidak peduli dengan istri dan putri sambungnya yang sama sekali tidak bisa dinasehati ia tidak ingin bertengkar lagi di depan menantunya. Rahman hanya memandang Farel dan Delia, "Aku merasa jika kedua manusia ini memiliki suatu ketertarikan. Subhanallah, semoga saja tidak benar," batin Rahman terdiam.
"Deff, kamu mengapa begitu, sih? Farel adalah suami Hana, sepupu almarhumah istri kamu! Jadi, dia sepupu kamu juga," ujar Maya tidak senang.
"Baiklah, sebagai Tuan rumah yang baik, mari silakan makan Tuan Farel dan Nyonya Hana," ujar Deffri menjaga sopan santun.
"Tidak perlu, aku bisa makan di rumahku!" balas Farel ketus, "kau pikir hanya kau saja yang bisa memiliki segalanya? Sialan, kamu lihat saja! Kau hanya mendapatkan sisaku," batin Farel.
"Kalau begitu hati-hati mengemudi, aku harap tidak ada wanita cantik yang akan mengalihkan pandanganmu dari balik kemudi," sindir Deffri.
Hana dan Delia menatap ke arah Farel sekelumit hati keduanya merasa sedikit cemburu,"Apa maksudmu?" tanya Farel tidak senang.
"Aku tidak bermaksud apa-apa! Aku hanya berharap tidak ada kuntilanak yang akan menggodamu," balas Deffri.
"Aku tidak butuh kuntilanak, selain itu aku tidak pernah mendapatkan sisa dari orang lain. Aku tidak tertarik akan janda, aku lebih memilih gadis," balas Farel, "tapi, bagaimana denganmu Tuan Deffri? Sepertinya kau akan selalu mendapatkan sisaku," balas Farel tersenyum mengejek.
"Sisa yang tercampakkan secara hukum, lebih mulia daripada gadis tapi sudah dipakai sana-sini. Aku akan lebih memilih janda yang bermartabat daripada gadis yang tidak bisa menjaga harga dirinya," balas Deffri tersenyum.