I Can Live Without You

I Can Live Without You
Sensitifnya menjadi seorang janda



"Selamat siang! maaf Mbak, mau nanya, ini  toko pakaian Mbak Emilia Tantri?" tanya seorang kurir pengantaran expres.


"Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Mas?" tanya Emilia.


"Ini, Mbak! Ada kiriman buket bunga," ujar kurir memberikan buket bunga mawar merah menyala. 


Emilia dan Deffri saling pandang, "Terima kasih," balas Emilia.


"Cuit! Cuit! Diam-diam ada pengagum rahasia kamu, ya?" ujar Deffri. Namun, di relung hatinya ia cemburu, "aku kalah selangkah dengan si pengirim bunga," batin Deffri, "mengapa aku begitu bodohnya? Seharusnya aku sadar jika seorang wanita pasti menyukai hal-hal romantis," batin Deffri mengawasi wajah Emilia yang merona merah karena malu.


"Kamu, ini Deff! Aku juga nggak tahu siapa yang ngirimin ini bunga," balas Emilia bingung, "tidak ada namanya," lanjut Emilia.


"Benar-benar pengagum rahasia itu!" sindir Deffri berusaha untuk lapang dada, walau pun di dadanya terasa sesak.


Emilia hanya meletakkan bunga tersebut begitu saja, "Wah, cantik banget! Dari Mas Deffri ya?" tanya Mira.


"Bukan, Mir! Aku belum kepikiran ngasih Emilia bunga," ujar Deffri jujur.


"Jangan kasih bunga Deff, bunga deposito saja! Jangan nanggung," canda Emilia.


"Serius! Kamu mau?" ujar Deffri serius.


"Ya, Allah! Kamu ini, aku bercanda tahu," balas Emilia. Ia merasa Deffri orang yang selalu serius di dalam banyak hal, "Kamu serius banget, Deff!" Emilia menepuk bahu Deffri, "aku nggak sematre itulah," balas Emilia tersenyum.


"Jika kamu mau, nggak apa-apa lho! Aku malah senang kok," balas Deffri dan itu benar adanya, "jika kamu bahagia apa sih, yang enggak buat kamu?" goda Deffri.


"Huek! Muntah aku dengarnya Deff, semua pria akan mengatakan hal itu jika belum jadi istri. Coba kalau sudah jadi, ampun! 


"Waktu pacaran kesandung dikit langsung bilang, 'Sayang, hati-hati, dong! Kalau jalan,' coba kalau sudah menikah … ke luar belangnya," ujar Emilia.


"Memang kalau sudah menikah ngomong apa coba?" ujar Deffri penasaran.


"Kalau sudah menikah ngomongnya, 'Makanya kalau jalan itu pakai mata!' begitu," ujar Emilia.


"Hahaha, itu mah pengalaman kamu  Em!" balas Deffri tersenyum.


"Ya, karena pengalamanlah makanya aku bisa ngomong," balas Emilia.


"Kamu serius?" tanya Deffri.


"Yaelah, ya iyalah! Masa iya, iya dong!" balas Emilia tersenyum.


"Tragis banget pernikahanmu?" ujar Deffri, "Sayangnya Afiqah sudah tidak ada, kamu bisa tanya dia deh! Aku gimana?" ucal Deffri.


"Jika Afiqah masih ada, aku nggak mau terlalu sering ngobrol dengan kamu!" balas Emilia.


"Memang kenapa?" tanya Deffri bingung.


"Deff, jadi janda itu nggak enak blas! Terlalu sensitif, istri mana yang akan rela jika suaminya akrab dengan wanita lain apakah itu gadis, istri orang, apalagi seorang janda Deff. Orang selalu membuat dan memposisikan janda sebagai tanda kutip yang akan merebut suaminya," papar Emilia menatap ke bola mata Deffri.


"Ya, kan nggak semua janda seperti itu, Em! Banyak kok, istri orang juga main gila dengan suami orang. Aku malah merasa wajar jika seorang janda dekat dengan pria, tapi ya, itu tadi ... kalau bisa sih, jangan yang beristrilah," ucap Deffri.


"Nah, kamu aja tahu, tuh! Janda itu sensitif, udah baik aja belum tentu dilabel baik, apalagi yang nggak baik kacau balau tahu!" balas Emilia.


Krieet!


"Lagi bermain di belakang," balas Emilia.


Deffri dan Farel saling pandang dengan tatapan kesal, Farel melihat buket bunga tergeletak begitu saja di meja, "Emilia, jika kalian menikah Keano akan jatuh ke hak asuhku! Ingatlah perjanjianmu padaku," balas Farel.


"Kamu terlalu Egois Farel!" ujar Emilia, "kamu aja nggak pernah ngasih belanjaan kepada putramu, aku masih mengizinkan kamu datang menemuinya, seharusnya kamu malu," balas Emilia.


Farel hanya diam saja, "Aku akan memberikan uang tunjangan kepada Keano jika dia tinggal bersamaku," balas Farel tanpa tahu malu.


Emilia hanya diam ia malas berdebat dengan Farel, "Percuma, berdebat dengan orang gila yang nggak punya perasaan," batin Emilia.


Ia membiarkan Farel menemui putranya di dalam, mereka mendengar Farel dan Keano saling tertawa bahagia di sana, "Em, sampai kapan kamu akan membiarkan semua ini terus berlanjut? Apakah kamu tidak mau menikah lagi?" tanya Deffri.


"Aku tidak tahu, Deff! Aku takut, bayangan pernikahan saat bersamanya akan terulang lagi," ucap Emilia, "lagian aku tidak ingin Keano jatuh pada Farel," balas Emilia.


"Tidak semua lelaki seperti dia, Em! Jika kamu berpikir demikian maka selamanya kamu akan tetap ketakutan yang tidak beralasan," nasihat Deffri.


Emilia terdiam memandang ke arah Deffri, "Entahlah, Deff!" ujar Emilia.


Farel ke luar dari ruang tengah di dalam ruko di toko pakaian Emilia, "Em, aku akan membawa Emilia malam ini untuk bersamaku," ucap Farel.


"Baiklah," balas Emilia, "jangan nakal ya, Sayang!" pesan Emilia pada Keano.


"Iya, Ma! Om Deff, tolong titip Mama Keano ya? Jangan biarkan Mama telat makan," balas Keano tersenyum, "salam sama Mbak Amara," ujarnya.


"Iya, Sayang! Hati-hatilah," pesan Deffri.


Emilia dan Deffri memandang ke arah Keano dan Farel yang memasuki mobil.


Emilia tidak menyangka itulah terakhir dirinya bertemu dengan putranya. Farel membawa Keano ke rumahnya, tetapi ia mengurus kepindahannya bersama dengan Hana menjauh dari Karangsari dengan membawa Keano, "lihat saja, Emilia! Kau tidak akan bisa hidup tanpa Keano, aku sangat yakin itu. Kau akan merangkak di kakiku memohon agar aku menikahimu lagi! Hahaha," batin Farel.


"Papa, kita mau ke mana?" tanya Keano saat mereka menaiki pesawat di Kualanamu.


"Kita akan pergi meninggalkan Medan dan Karangsari," ucap Farel.


"Lalu, bagaimana dengan Mama?" tanya Keano bingung, "aku ingin bersama dengan Mama!" ujar Keano.


"Jika kamu ingin bersama Mama, kamu. aku akan meninggalkan kamu di sini, pulanglah sendiri. Ingat kamu tidak memiliki uang dan kenalan siapa pun. Kamu mau diculik begitu?" Farel menakut-nakuti Keano.


Keano terdiam, "Papa jahat! Aku benci Papa!" ujar Keano berderai air mata.


"Jangan menangis dan cengeng, percuma kamu laki-laki kalau cengeng seperti itu!" hardik Farel, "ingat, mulailah hidupmu yang keras bersamaku jika kau ingin Mamamu kembali padamu," lanjut Farel.


Keano hanya terdiam, ia tak tahu lagi harus berbuat apa pun. Ia hanya memandang dari tangga pesawat kala Farel menyeretnya, "Mama aku rindu kepadamu," batin Keano.


"Diam Keano! Jika kau terus meronta aku tidak ingin mereka mengatakan jika aku menculikmu! Aku tidak peduli jika aku akan membuangmu dari atas pesawat ini," balas Farel.


Keano tercekat, "Kalau Papa tidak menyayangiku, lalu mengapa Papa berusaha untuk membawaku dari Mama?" lirih Keano tidak mengerti akan perilaku Farel yang aneh.


"Aku tidak suka melihat Mamamu menikah dengan Deffri atau siapa pun. Aku tidak suka jika dia pergi dari kehidupanku, jika ia merasa bisa hidup tanpaku dia pun harus bisa hidup tanpamu, Keano!" teriak Farel. 


Semua mata menatap ke arah Farel,


"urus saja, urusan kalian! Jangan urusi urusanku dengan putraku," ketus Farel.