
"Baiklah, bagaimana jika kita masak bersama saja?" usul Keano.
"Hah!" balas Emilia dan Amara menatap ke arah Keano.
"Aku rasa itu sangat bagus, sekalian kita buat kue, Ma?" ujar Keano tersenyum.
"Baiklah," balas Emilia dan Amara saling pandang. akhirnya mereka berempat memasak di dapur dan tertawa bersama.
Keano dan Amara begitu bahagianya mengaduk tepung dan mencetak cookies, "Apakah sudah selesai?" tanya Emilia.
"Sudah Ma!"
"Sudah Bunda!" keduanya menjawab dengan tersenyum riang remahan tepung memenuhi wajah kedua anak yang memakai setelan baju koki.
"Hahaha, lihatlah wajah kalian!" ujar Emilia mengangsurkan dasar panci nikel ke wajah keduanya yabg tertawa riang.
"Wajahmu, lucu sekali, Ka Amara!"
"Kamu juga!" teriak Keano tertawa riang Mbok Surti hanya tersenyum, "Non Amara benar-benar bahagia," batinnya tersenyum.
"Baiklah, sekarang mari kita panggang!" ajak Emilia tersenyum.
Sejam kemudian semua dapur telah kembali bersih dan mereka makan di meja makan bersama dengan Deffri, Surti, Mira, dan Mahroni.
"Mbak, um …," Mahroni bingung harus memulai dari mana, ia melihat Emilia dan kedua anak di depannya begitu bahagia. Mahtoni dan Deffri saling pandang.
"Ada apa?" tanya Emilia menatap Mahtoni dan Deffri, "katakan saja," ujar Emilia menghentikan makannya dan duduk melipat tangan.
"Emilia mulai gusar," batin Deffri yang mengingat setiap detail bahasa tubuh Emilia kala dia gugup dan bingung, "santai saja, tidak ada hal yang terlalu berat," balas Deffri menyentuh tangan Emilia.
"Aku sudah siap jika ini semua mengenai Farel dan Keano," tebak Emilia.
Mahroni menghentikan suapannya, "Mas Farel melayangkan gugatan hak asuh anak, pengacaranya mengirimkan surat panggilan ke pengadilan. Aku menerimanya, karena jatuh ke rumah budhe," balas Mahroni.
"Oh, kapan?" balas Emilia berusaha sedikit tegar dan kuat untuk pertama kali dia harus menginjakkan kaki ke pengadilan.
"Besok, aku dan Mas Sandi sudah mengurusnya begitu juga dengan Mas Deffri," balas Mahroni.
"Terima kasih, kalian benar-benar luar biasa," balas Emilia tersenyum. Jauh di dasar jiwa dan hatinya, "Farel, kamu masih belum melepaskanku dan Keano," batinnya.
"Jangan khawatir kita tidak akan membiarkan Keano bersama dengan Farel," balas Deffri.
"Ma, aku tidak ingin bersama dengan papa, aku ingin bersama dengan Mama!" balas Keano sedikit takut ia menatap Emilia.
"Jangan khawatir, Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu, Nak! Tidak akan pernah lagi," jawab Emilia menatap putranya dengan semangat membara.
"Baiklah, Mbak! Besok, sidangnya," balas Mahroni. Emilia terhenyak diam tak menyangka Farel tidak membuang-buang waktu.
"Baiklah," bala Emilia dingin. Ia tidak tahu harus berkata apalagi, "cepat atau lambat semua ini pasti terjadi," batin Emilia ia berusaha untuk tersenyum menatap semua orang.
Deffri masih menggenggam tangan Emilia, "Aku selalu ikut denganmu, Ma!" balas Keano memeluk Emilia.
"Yang sabar, Bun!" hibur Amara juga memeluk Emilia. Air mata tumpah juga kala kedua anak kecil tersebut memeluknya.
"Jangan menangis, Ma!" Keano menghapus air mata tersebut.
"Mama tidak apa-apa, Nak!" balas Emilia memeluk kedua malaikatnya, "percayalah dengan kalian berdua di sisi Mama, semua ini tidak akan ada apa-apanya," hibur Emilia, "ayo, makan lagi," ajak Emilia menyuapi Keano dan Amara yang tersenyum bahagia.
Deffri dan Mahroni hanya saling pandang dan turun ke bawah bersama Mira.
"Tentu saja, Mas. Aku juga tidak akan membiarkan Keano berada di tangan Farel lagi," balas Mahroni.
"Baiklah, besok kita akan berangkat ke pengadilan," balas Deffri.
***
Emilia, Deffri, dan kedua anak mereka telah duduk di ruang sidang, Emilia melihat Farel di sana dengan angkuhnya menatap ke arah Emilia sejak memasuki ruang sidang selalu bergandengan tangan dengan Deffri dan kedua anak mereka.
"Sial, mereka benar-benar keluarga yang bahagia!" umpat batin Farel kesal. Ia datang sendiri tanpa Janti maupun Hana.
"Yang Mulia, saudara Farel Setiawan selaku penggugat ingin mengajukan hak asuh putra mereka Keano hasil pernikahan dengan Emilia Tantri," balas Alex. menatap ke arah Emilia dan Keano, "selama perceraian Keano selalu ikut bersama dengan Saudara penggugat, tetapi saudara tergugat telah menculiknya dari Saudara Penggugat, kami sangat menginginkan keadilan," ujar Alex sebagai pengacara Farel.
"Saya keberatan, Yang Mulia Hakim terhormat. Ini surat gugatan perceraian yang dilayangkan Saudara Farel Setiawan dia mengatakan, dengan jelas di sini, 'Jika mereka tidak memiliki anak,' lalu mengapa sekarang tiba-tiba dia mengakui jika Keano adalah anaknya? Terima kasih Yang Mulia!" ucap Sandi sebagai pengacara Farel.
Hakim Maharani langsung membaca selembar kertas yang diberikan oleh Sandi, "Lalu apa maksud semua ini Jaksa penuntut?" tanya Hakim Maharani.
"Maaf, Yang Mulia! Saat itu, kami merasa tidak melakukan hal itu, Yang Mulia. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" tanya Alex berusaha dengan kepura-puraan.
"Apakah kamu merasa kami telah menipu demikian? Yang Mulia Hakim bisa kembali membuka draft perceraian di antara Saudara Farel Setiawan dan Saudari Emilia Tantri," balas Sandi mengangsurkan berkas perdata yang diajukannya kepada Hakim yang langsung membacanya.
"Saudara Farel Setiawan, saya sangat menyayangkan kondisi ini. Kalian benar-benar mempermainkan hukum, dan saya tidak mentolerir hal ini. Hak asuh Keano Setiawan akan jatuh kepada Ibu Emilia Tantri bagaimanapun anak dibawah umur akan mengikuti ibunya.
"Satu hal, jika benar pasangan suami-istri yang memiliki anak, sangat diwajibkan untuk mengakuinya bagaimanapun kondisinya. Saudara Farel, apa alasan Anda tidak mengakui Keano sebagai putra Anda? Di sini tertulis dengan jelas!" tanya Hakim Maharani.
"Saya tidak ingin putra saya diasuh oleh Ibunya, saya sangat menginginkan jika Keano putra kami diasuh oleh saya sehingga saya membuat hal itu," balas Farel.
"Maaf, Yang Mulia! Saya rasa bukan karena hal itu, melainkan Saudara Farel sangat tidak ingin membiayai kebutuhan dan biaya hidup putranya sehingga ia melakukan hak ini," serang Sandi.
"Maaf, Saudara Pembela! Saya sangat keberatan! Yang Mulia Saudara Farel selalu membiayai semua kebutuhan Keano Setiawan!" balas Alex.
"Jika benar demikian, berapakah Saudara Farel memberikan biaya setiap bulannya? Sedangkan saat Saudara Farel mengambil Keano dia malah membiarkan putranya sakit, untung saja Saudari Emilia mengambilnya di Kota Lamno, ini sebagai bukti keterangan dari Dokter Anwar," ujar Sandi tanpa memberikan kesempatan kepada pada Alex untuk melawan.
"Baiklah!" ujar Hakim Maharani. Kericuhan mulai terdengar, semua orang mulai berbisik-bisik.
Tok! Tok!
"Tenang! Tenang! Saya harap tenang! Jika ingin sidang dilanjutkan," ujar Maharani membaca surat keterangan yang diberikan Anwar.
"Menurut hukun dan bukti saya memutuskan untuk memberikan hak asuh anak kepada Emilia Tantri, bagaimanapun seorang anak membutuhkan kasih sayang seorang ibu, hingga ia berusia 17 tahun, maka saat itu Keano Setiawan akan memutuskan sendiri dia akan ikut Ayah atau Ibunya.
"Dan Tuan Farel, saya sangat berharap Anda memberikan tunjangan biaya kepada putra Anda. Jika Anda masih menganggap jika Keano adalah putra Anda. Sekian dan terima kasih," ucap Maharani meninggalkan sidang setelah mengetuk palu.
Emilia tersenyum bahagia memeluk Keano dan Amara, "Mama aku ikut Mama, bukan?" ucap Keano.
"Iya, Sayang!" balas Emilia.
"Kalian bisa senang hari ini, aku akan mengajukan banding lagi!" ucap Farel.
"Papa, aku tidak meminta apa pun padamu. Biarkanlah aku ikut dengan Mama, kelak jika aku besar aku akan mencarimu, bagaimanapun engkau adalah Papaku," ucap Keano.
Jangan lupa baca juga karya terbaruku untuk kalian!