I Can Live Without You

I Can Live Without You
Baju untuk Amara



"Mama …." Keano membawa selimutnya menghampiri Emilia memeluk dari belakang punggung, "mengapa Mama menangis? Apakah papa menjahati Mama lagi?" tanya Keano menatap wajah Emilia.


"Tidak, Sayang. Mama hanya … um tadi sedikit terjatuh, kini sudah sembuh!" balas Emilia bingung.


"Oh, mana yang sakit, Ma?" tanya Keano khawatir. Ia berusaha memijat kaki mamanya dengan penuh kasih sayang.


"Andaikan Farel seperti masa pacaran dulu, kami pasti sangat bahagia. Tapi, entah apa yang salah," batin Emilia menatap wajah Keano yang mirip wajah Farel dan dirinya.


"Mama ngapain ke luar? Apakah Mama masih teringat kak Amara?" selidik Keano.


"Tidak, kak Amara baik-baik, saja. Tadi, om Deffri sudah telepon dia sudah pulang. Jadi, kak Amara baik-baik, saja!" balas Emilia tersenyum, "ayo, kita tidur lagi," ucap Emilia. Menggendong putranya dan membaringkan ke tempat tidur, "Geli, Ma!" tawa Keano kala Emilia mulai menggelitik pinggangnya.


"Hahaha kamu pemcemburu!" ketus Emilia. Ia teringat kala baru menikah dengan Farel ia selalu menggelitik Farel tetapi Farel selalu saja marah, "hah!" Emilia menarik dan membuang napasnya, "bagaimana aku bisa move on kalau selalu saja ingat si Kadal Buntung itu!" sungut batin Emilia.


"Ma …,"


"Hm,"


"Kak Amara kasihan ya?"


"Memang napa?" tanya Emilia memiringkan tubuh dan merengkuh putranya di dalam dekapan.


"Dari kecil dia tidak mempunyai seorang mama, kasihan banget. Untung saja om Deffri baik … andaikan papa seperti om Deffri," kenang Keano.


"Sayang … papa kamu juga baik. Mungkin saat ini dia sedang lupa, berdoa saja semoga dia kembali baik dan membiarkan kita bahagia," balas Emilia. Ia sendiri membenarkan apa yang dikatakan oleh putranya.


"Um, kapan-kapan kita ke rumah kak Amara ya, Ma?" ucap Keano mendongak menatap indah bening bola mata Emilia.


"Iya, kapan-kapan kita ke rumah kak Amara," janji Emilia ia sudah mulai mengantuk melirik ke arah jam dinding sudah pukul 12.00 WIB.


Keduanya tertidur dengan saling berangkulan, Keano menatap wajah Emilia yang terlihat lelah, "Kasihan Mama, andaikan kak Amara dan om Deffri tinggal bersama kami dan aku sama Mama pasti akan bahagia," batin Keano membelai wajah Emilia, "tapi, kata Mama, 'Mereka harus menikah,' jadi, mereka harus punya foto pernikahan," batin Keano tersenyum, seakan ia memiliki sebuah ide, hingga akhirnya mereka tertidur.


Burung berkicau nyaring kala Emilia sudah mengantarkan Keano ke sekolah dan menantinya, setelahnya Emilia membawa Keano pulang ke toko, Emilia melihat jika tokonya ramai pengunjung, "Sepertinya kamu sibuk banget ya, Mir? Um, besok kita cari seorang karyawan lagi buat bantuin kita," ucap Emilia.


"Apakah itu tidak memberatkan Mbak? Apakah tidak sebaiknya saat mau dekat bulan Ramadhan saja?" usul Mira.


"Nggak apa-apa, sekalian bisa belajar dari sekarang, Mir!" balas Emilia, "kamu carilah," ucap Emilia.


"Baiklah, sepertinya ada tema  kampusku yang butuh pekerjaan, Mbak. Nanti aku kabari," lanjut Mira.


"Nah, itu juga bagus!" ucap Emilia sekalian menyulang Keano di meja kerjanya yang sedang mengerjakan PR menggambar.


"Permisi!" sapa seorang kakek yang tidak lain adalah Rahman.


"Iya, Kek! Mari masuk, ada yang bisa dibantu," tanya Mira dengan ramah.


"Saya sedang mencari baju untuk cucu saya," ucap Rahman memperhatikan Emilia yang masih menyulang putranya.


"Silakan dipilih Kek," ucap Mira mengajak si kakek berkeliling etalase.


"Um, apakah ada baju dress yang unik dan lucu-lucu?" tanya Rahman.


Mira memberikan semua contoh pakaian, "Mir, coba layani Ibu yang dari tadi kebingungan memilih pakaian itu. Biar Mbak yang melayani Kakek ini," ucap Emilia tersenyum.


"Terima kasih, Nak!" balas Rahman.


"Ini, model terbaru, Kek. Kalau boleh tahu umur berapa?" tanya Emilia.


"Anak perempuan sekitar 7 tahun," balas Rahman.


"Boleh, Kek!" balas Emilia. Ia lalu menghitung semua belanjaan dan twrsenuim mempwrsilakan si Kakek untuk duduk dan memberika  minuman dingin, begjtu juga kepada semua pelanggan toko.


"Tante Emilia, Mamaku belum pulang juga?" ujar Saska putri Monic.


"Lho, memqng mama kamu ke mana?" tanya Emilia bingung.


"Tidak tahu, Tente. Aku sama Jihan lapar," balas Saska.


"Ya, ampun! Ayo, masuk. Kakek, tunggu sebentar ya," ujar Emilia langsung menbawa Saska dan Jihan ke lantai atas memberikan makanan dan minum.


"Halo, Kakek!" sapa Keano duduk di kursi di deoan Rahman.


"Lha, baju ini 'kan untuk kak Amara?" ucap Keano. 


"Kakek, maaf, aku bisa beli yang ini lagi? Soalnya aku lupa bilang sama Mama aku mau kasih kak Amara," ucap Keano.


"Um, Amara siapa?" tanya Rahman menyelidiki.


"Um, anak om Deffri teman Mama, aku suka sama kak Amara. Kemarin aku melihat bajunya koyak tersangkut, di pagar sekolah. Jadi, kasihan gitu. Tapi, keburu dibawa pulang sama neneknya," ucap Keano polos.


"Tentu saja boleh, nggak apa-apa! Kakek bayarin untuk kamu," balas Rahman terenyuh menatap wajah tampan mungil yang begitu polos di depannya, "anak dan Mamanya sepertinya memiliki rasa kasih sayang yang besar," balas Rahman bahagia.


"Emilia!" teriak Monic memasuki toko.


"Tante Monic! Mama ada di atas bersama Kak Saska dan Jihan," jawab Keano.


"Saska, Jihan! Turun kalian pulang! Sudah aku bilang, tunggu sebentar saja di rumah. Kalian malah ngelayap kemari, ngapain kalian kemari?" hardik Monic kesal.


"Mama! Kami takut di rumah Mama lama sekali pulangnya udah dari semalam pergi kami juga lapar," balas Saska.


Plak!


"Pintar menjawab, kamu! Jadi kalau lapar kamu ke rumah ini? Buat apa? Biar wanita ini bergosip sampai ke mana-mana begitu? Dasar tidak tahu malu kalian!" seret Monic menarik kedua tangan anaknya.


Emilia hanya terdiam ia tidak ingin memancing keributan dan membuat kedua anak Monic akan menjadi korban kemarahan Monic yang memiliki temperamen kasar dan keras.


"Tante Monic selalu saja begitu ya, Ma?" tanya Keano. Memegang elngan Emilia sedikit ketakutan, Rahman hanya memperhatikan keduanya.


"Maaf, Kek. Um, ini belanjaannya," ucap Emilia sedikit malu.


"Yang baju ini, aku berikan kepada putramu yang baik. Dia ingin memberikan kepada temannya," balas Rahman.


"Oh, Sayang. Kamu bisa memberjkan baju yang lain dari toko ini?" tanya Emilia.


"Tidak, Ma. Kemarin kak Amara melihat dan memegang baju ini, aku yakin dia suka. Tapi om Deffri lagi pergi, jadi mungkin dia berpikir akan membelinya setelah om Deffri pulang. Semalamkan bajunya sobek, saat ia mau masuk ke dalam mobil Ma!" ucap Keano.


"Benarkah?" tanya Emilia tidak menyadari hal itu.


"Mama sih, asyik melihat nenek itu saja. Jadi tidak melihat baju kak Amara." 


"Yee, Mama takut jika kak Amara diculik begitu," balas Emilia.


Rahman hanya tersenyum melihat obrolan anak dan mama di depannya yang sangat menyayangi cucu perempuan kesayangannya.


"Baiklah, saya akan pulang dulu!" ucap Rahman.