
Keano hanya memandang Farel dan berlalu, "Lihatlah, anakmu masih kecil tidak ada sopan-sopannya!" ujar Hana kesal, ia sama sekali tidak suka akan Keano. Ia merasa Keano adalah beban, "lagian, buat apa sih, Mas? Biarkan saja Keano bersama Emilia," lanjut Hana.
"Bagaimanapun Keano adalah putraku!" balas Farel, ia malas berdebat, *j*ika Keano tidak bersamaku, aku tidak bisa menekan Emilia sesukaku! batinnya.
"Tapi, alangkah lebih baik jika Keano bersama Emilia. Apakah kamu tidak tahu jika dia tersiksa begitu?" lanjut Hana.
"Kamu ingun memberikan Keano kepada wanita yang meminta cerai kepada suaminya sendiri begitu?" tanya Farel.
"Ya, mungkin dia tahu juga kalau kita memang berselingkuh, Mas!" balas Hana duduk di sofa dengan menyalakan televisi.
"Itukan hakku, kalau aku mau berpoligami seharusnya dia juga ya, nurut!" ucal Farel.
"Jadi kamu memang ada niat untuk poligami gitu, Mas?" tanya Hana meradang.
"Ya, pastinya! Jadi, kamu pun bersiap-siap jika suatu saat nanti jika aku meminta untuk berpoligami," balas Farek egois.
"Baiklah," balas Hana santai.
Lihat, saja! Aku atau kau yang akan mendua! batin Hana, aku bukanlah Emilia yang begitu bodoh, lanjut batin Hana membuang wajah dan menatap ke arah televisi.
"Sial! Mengapa aku merindukan Emilia?" batin Farel, "aku ingin keluar sebentar," pamit Farel mengendarai mobilnya mengintai dari balik kaca mobil melihat sang mantan istrinya duduk termenung di toko pakaian.
Farel ke luar dari dalam mobil menuju ke toko Emilia, "Sore Em!" sapa Farel dengan lembut.
Emilia menatap ke arah Farel, "Jika Farel bersikap lembut pasti dia ada maunya," batin Emilia, "ada apa, Farel?" balas Emilia.
"Sejak kapan sopan santunmu hilang!" hardik Farel.
"Sejak kau mengambil putraku," balas Emilia ketus tanpa senyuman.
"Kau tahu, aku kemari ingin baik-baik, tapi itulah jawabanmu! Dasar wanita tidak tahu diuntung!" teriak Farel membuat semua pelanggan menatap ke arah Farel.
"Farel jika kau hanya ingin menghina dan mencaci Maki diriku lebih baik keluar!" teriak Emilia marah ia benci sebenci-bencinya pada mantannya yang rada psikopat.
"Siapa yang ingin menghinamu, aku hanya ingin bicara mengenai Keano!" balas Farel tak kalah akal.
Ucapan Farel mengenai Keano seketika meluluhkan hatinya, "Baiklah, apa yang ingin kau katakan?" tanya Emilia menatap ke arah Farel.
"Apakah kau tidak mempersilakan aku duduk?" tanya Farel tersenyum penuh kemenangan.
"Silakan, duduk!" balas Emilia menatap ke arah Farel.
Farel melangkah dengan riang dan penuh kemenangan duduk di depan meja kerja Emilia, "Duduklah, Em!" ujarnya.
Emilia bagaikan robot langsung duduk di depan Farel, "Katakanlah!"
"Apakah kamu tidak ingin menyuguhkan secangkir teh manis?" tanya Farel tersenyum.
"Tidak! Tidak ada teh dan gula!" balas Emilia. Ia sangat malas jika Farel harus berlama-lama di tokonya.
"Um, kau boleh melihat Keano dengan satu syarat … jika kau mau memenuhinya. Maka, aku akan selalu memberikanmu izin untuk selalu menemui Keano, kapan pun kamu mau," balas Farel.
"Katakanlah …." Emilia menatap Farel dengan tatapan tajam, "Jahanam ini, pasti ada hal gila lain lagi yang akan direncanakannya," batin Emilia.
"Aku akan mengizinkanmu menemui Keano, jika kau mau tidur denganku!" balas Farel.
Bruk!
Seketika harga diri Emilia jatuh ke lantai, "Kita sudah bercerai, haram bagi kita untuk melakukan hal itu. Apakah kau lupa Farel? Dulu saat aku menginginkannya dan mengiba padamu. Apa jawabanmu? Ingatlah itu!" balas Emilia.
"Aku sudah berbaik hati padamu, Emilia! Tapi, itu jawabanmu! Dasar, wanita sialan!" hardik Farel marah.
"Farel, Keano adalah putra kita! Aku rasa terserah padamu, jika hanya untuk itu kau bermaksud untuk merendahkanku, aku ikhlas melepas Keano. Tapi, jika kau menyakitinya aku akan menuntutmu. Ingatlah, itu!
"Bukankah Hana lebih baik melayanimu, daripada aku? Apakah kau kurang puas dengan layanan istrimu?" ejek Emilia.
"Syukurlah, kalau begitu, Farel! Jadi jangan pernah berharap yang tidak-tidak kepadaku," ucap Emilia.
Farel langsung ke luar toko Emilia, di depan toko bertemu dengan Monic, "Dasar, wanita sialan!" umpat Farel marah.
"Hai, Farel! Ngapain lagi sih, kamu melihat mantanmu yang tidak tahu diri itu?" tanya Monic menatap ke arah Emilia dari balik tubuh Farel.
"Aku hanya menyampaikan pesan putra kami, Keano. ia sangat rindu mamanya. Tapi, sayang … Emilia tidak merindukan putra kami. Sangat menyedihkan," ucap Farel dengan tampang sedih di depan Monic.
"Cuih! Dasar wanita tak tahu malu!" ejek Monic berludah ke arah Emilia.
Emilia hanya diam saja menutup pintu kaca toko malas mendengarkan semua ucapan yang tak berguna di depannya, "Terserahlah, apa yang ingin kalian katakan," batin Emilia melayani semua pembeli membantu Mira.
Sore hari ia pulang ke rumah, "Assalamualaikum!" ia tidak mendengar sahutan Asih dari dalam rumah, "mama ke mana?" batinnya. Ia langsung masuk ke rumah mencari Asih, tapi tidak ditemuinya. Ia langsung berlari ke rumah Atun.
"Bibi, apakah mamaku ada di sini?" tanya Emilia khawatir.
"Mamamu di rumah sakit, tiba-tiba jantungnya kambuh!" balas Emilia.
"Oh, terima kasih, Bi!" balas Emilia langsung menuju ke rumah sakit.
"Dasar, gara-gara kamu nasib mamamu jadi kacau. Coba dulu kamu mau menikah dengan Arman, pasti kamu lebih senang!" sungut Atun.
***
Sesampainya di rumah sakit Emilia langsung menemui resepsionis dan berlari ke kamar mawar 23. Di depan pintu dia bertemu dengan Mahroni, "Dek, gimana dengan mama? Apa yang terjadi?" tanya Emilia bingung.
"Budhe ngajak ke rumah Farel …!" balas Mahroni tidak suka langsung menceritakan segalanya.
"Apa?" balas Emilia limbung, untung saja Mahroni langsung menangkap tubuh Emilia agar tak jatuh ke lantai.
"Mbak! Mbak!" ucap Mahroni khawatir.
"Mahroni … hiks hiks, aku benar-benar sedih. Aku tidak tahu, mengapa Farel begitu kejamnya," balas Emilia.
"Emilia!" sapa Defri menatap ke arah Mahroni dan Emilia.
"Defri!" balas Emilia terkesiap ia tidak menyangka jika Defri berada di depan mereka.
"Ada apa? Apakah kamu sakit?" tanya Defri.
"Mbak Emilia tidak sakit, yang sakit budhe Asih. Saya Mahroni," ucap Mahroni mengulurkan tangan.
"Saya Defri, teman sekolah Emilia. Lalu, sekarang bu Asih, di mana?" tanya Defri khawatir.
"Mari, kita masuk!" ajak Mahroni memapah Emilia.
"Mama!" teriak Emilia mendekati brankar Asih.
"Emilia …." Asih menatap ke arah putrinya dan meneteskan air mata.
"Maafkan Amelia, Ma! Jika tahu begini, lebih baik kita tinggalkan kota ini bersama Keano," balas Emilia dengan isak tangis.
"Emilia, Mama mau bertanya." Asih menatap ke arah putrinya dengan selang yang terpasang di hidungnya.
"Mama, jangan banyak pikiran, Ma!"
"Benarkah kamu dan Defri berselingkuh dari Farel selama ini?" tanya Asih menatap putrinya.
--------------------------------------------------------
Jangan lupa dukungannya!