
"Kau!" Maya terdiam ia tidak menyangka jika Deffri benar-benar keras kepala dan tidak bisa diatur sesuka hatinya membuat Maya dan Delia tercekat.
"Jadi, aku harap jangan atur hidupku! Hidupku adalah milikku, aku pun tidak pernah mengganggu dan turut campur akan hidup kalian. Aku mohon, urus saja urusan kalian dan tanggung jawab kalian. Hal yang tidak perlu diurus tak perlu diurus," balas Deffri, "permisi! Amara, ayo, Sayang!" balas Deffri membawa Amara naik ke lantai atas.
"Aku juga ingin istirahat, lanjutkanlah obrolan kalian!" balas Rahman turut menaiki tangga.
Surti langsung pergi ke dapur untuk membersihkan semua sisa makanan, "Hei, Kau! Jangan karena Rahman memberimu kekuasaan kamu semena-mena!" ucap Maya ingin melampiaskan kekesalannya.
"Maaf, Nyonya! Aku rasa yang menggajiku bukan dirimu! Maaf aku masih sibuk," balas Surti mengangkat piring kotor ke dapur.
"Sialan! Kau telah berani membangkang, begitu?" ujar Maya ingin menarik hijab Surti.
"Maya! Sekali lagi kamu melakukan kekerasan kepada Surti aku akan mentalakmu. Sudah cukup apa yang kamu lakukan selama ini terhadapnya dan Afiqah. Kamu pikir aku tidak tahu!" hardik Rahman dari puncak tangga.
"Mas!" pekik Maya. Ia tidak menyangka jika pria yang dinikahinya selama 20 tahun ini sudah mulai memperlihatkan taringnya.
"Ingatlah, itu! Jika kalian ingin pulang ke rumah, silakan. Aku tidak akan ikut pulang, besok Broto akan mengantarkan kalian berdua," balas Rahman.
"Oh, jadi kau ingin bermesraan dengan Surti si babu itu? Begitu Mas?" tuduh Maya lantang.
"Andaikan Surti mau menikah denganku, aku rasa sudah dari 30 tahun yang silam aku telah menikahinya sebelum aku menikahimu. Dia wanita yang baik dan mencintai almarhum suaminya. Aku menganggapnya sudah seperti adikku sendiri sekarang, jadi hormatilah adikku!" balas Rahman, "aku pun sudah tidak ingin menikah lagi jika berpisah denganmu.
"Kau tahu mengapa? Hidup denganmu sangat melelahkan, Maya! Kau tidak pernah berubah juga. Segalanya hanya karena harta, harta, dan Harta, saja! Di pikiranmu yang picik itu." Rahman menatap kesal ke arah Maya, yang mulai berkacak pinggang wajah lembutnya berubah mengerikan.
"Jadi, mereka selalu saja bertengkar? Aku akan mengomporin Maya," batin Farel memulai siasatnya.
"Tan, kami pulang dulu, ya? Jika besok ingin pergi jalan-jalan telepon saja, Tan!" ujar Farel.
"Tentu saja, Nak. Kamu baik sekali, Hana sungguh beruntung," balas Maya.
"Aku juga beruntung mendapatkan, Hana!" balas Farel tersenyum riang menatap Hana istrinya yang langsung melingkarkan tangan di pinggang Farel.
Sementara Delia hanya menatap dingin ke arah keduanya, "Heh! Dasar, pria! Baru beberapa jam yang lalu kau mendesah kenikmatan kala bersamaku dan mengatakan, 'Aku lebih puas bersamamu daripada Hana,' buktinya sekarang kamu pintar bermain kata. Lihat saja, nanti.
"Kau akan bertekuk lutut di kakiku Farel! Kasihannya kamu sepupuku Sayang! Dulu kau mengambil kekasihku sekarang aku akan mengambil suami tercinta milikmu!" batin Delia.
"Baiklah, Tante, Delia. Kami pamit dulu," ujar Hana dengan wajah bahagianya, Hana dan Farel meninggalkan rumah Deffri.
***
"Papa! Apa yang Papa lakukan di sini?" tanya Amara menyentuh jemari Deffri.
"Tidak Sayang! Papa hanya mencari angin. Ayo, tidur! Apakah Papa harus membacakan sebuah buku?" tanya Deffri.
"Tentu saja, seperti yang dilakukan oleh tante Emilia," balas Amara girang.
"Oh, Emilia! Sejak kamu memasuki hidupku dan Amara. Aku melihat jika putriku lebih bahagia di dalam kehidupannya, aku berharap kamu menerimaku dan Amara menjadi bagian dari kehidupanmu bukan hanya sebagai sahabat," batin Deffri menggendong putrinya dan membawanya ke kamar membaringkan dan menyelimutinya.
Memilih sebuah buku cerita anak dan mulai mendongeng, "Hingga akhirnya Cinderella berbahagia dengan sang pangeran!" ucap Deffri melihat buah hatinya sudah terlelap.
Deffri mengecup kening Amara, "wajahmu mengingatkanku kepada Afiqah, ia akan selalu abadi padamu Sayangku. Aku berharap Afiqah akan selalu bahagia di sisi Allah," batin Deffri menatap wajah putri dan pigura di atas nakas membelai wajah istrinya yang cantik sekilas. Kerinduan dan kasih sayangnya yang tidak pernah lekang tetapi ia juga tahu Afiqah tidak akan pernah lagi bersama mereka.
"aku harap kamu merestui cintaku dengan Emilia, Fiqah ... demi Amara dan aku juga!" lirih Deffri.
Rahman menatap menantunya dari pintu yang terbuka sedikit, ia ingin melihat cucunya ia tidak menyangka jika Deffri berada di kamar Amara sedang mendongeng. Air mata tertumpah di sana di wajah keriputnya yang menyesali banyak hal dan waktu yang tak akan pernah terulang lagi.
"Deffri lebih baik bahkan jauh lebih baik dari diriku di dalam membesarkan Amara. Dibandingkan aku membesarkan Afiqah dulu. Sejak kematian Amirah aku selalu sibuk bekerja untuk menghilangkan kesedihanku hingga aku lupa jika Afiqah butuh cinta kasihku," batin Rahman.
Ia berjalan menyusuri koridor dan kembali ke ruangannya ia melihat Maya sudah berbaring di sana, "Mas, apa maksud kamu berkata demikian? Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan kepada Delia, Deffri, dan Amara.
"Apakah aku salah? Jika seorang Nenek berkeinginan membahagiakan cucu dan menantunya? Lagian Delia juga tante dari Amara!" ujar Maya.
"Maya, aku lelah! Sehari ini sudah berapa kali kamu mengajakku bertengkar? Apakah kamu tidak lelah? Selain itu, apakah kamu tidak melihat jika Deffri sendiri pun tidak menyukai apalagi mencintai Delia?
"Maya, dia sudah punya pilihan, hormatilah itu! Lagian tidak ada hubungan dengan kita? Kita hanyalah mertua di mana putri kita sendiri pun sudah tidak lagi bersama dengannya?" balas Rahman tidak mengerti begitu keukeuhnya Maya menjodohkan Delia dengan Deffri.
"Aku hanya menginginkan kebahagiaan Deffri dan Amara, Mas! Apakah salah?" ujar Maya.
"Salah sih, tidak! Tapi, aku tahu tujuanmu! Kau hanya menginginkan harta, bukan? Harta dari Deffri. Kamu mengira dengan menikahkan Delia dan Deffri maka harta Deffri akan jatuh kepada Delia begitu? Kamu salah Maya. Deffri bukanlah aku ... yang bisa kamu bodohi akan bujuk rayumu!
"Aku harap, kau urungkanlah niat gilamu! Sebelum kau menyesali banyak hal. Dan aku tidak akan mendukung apa yang kamu inginkan itu," balas Rahman menatap Maya.
"Kamu selalu saja berprasangka buruk kepadaku! Aku tidak mengerti, apakah aku begitu jelek di pandangan matamu?" tanya Maya berusaha untuk membujuk Rahman.
"Itu adalah fakta! Sudahlah, aku ingin tidur Maya," ujar Rahman mengakhiri semua obrolan mereka, "semua obrolan ini tidaklah penting!" batin Rahman. Ia langsung masuk ke dalam selimut dan mencoba untuk tertidur, ia malas meladeni istrinya.
"Sial, bagaimana caranya agar aku bisa menikahkan Delia dengan Deffri?" batin Maya tak mau menyerah, "aku sudah membayangkan jika kekayaan Deffri akan jatuh padaku dan Delia. Aku juga sudah enggan melayani Si Tua Bangka ini," umpat batin Maya melirik Rahman.