
Farel memasuki kamar nomor 69, akan tetapi baru saja ia masuk Firman dan Seno sudah membekapnya dan membuka seluruh baju dan membaringkannya bersama dengan Delia, "Buat posisi sedang habis bertempur, Bro!" ujar Seno.
"Lha, kamu yang buat deh! Aku masih lajang cuman nonton film doang, tahunya. Kamu yang udah pengalaman No, lagian aku belum ngerasain bagaimana rasanya bercinta. Bisa-bisa gagal paham, nanti!" balas Bripka Firman.
"Hadeh, makanya buruan! Keburu alot tuh burung!" balas Bripka Seno. Firman hanya menggaruk kepalanya bingung harus membalas apa, "nih, juga dah buruan nyari! Blom ketemu yang pas aja, kali!" bela Firman.
"Kalau menunggu yang pas, nggak bakal ada deh, yang pas! Pas itu jika kita berdua sama pasangan bisa saling berkomitmen saling menyayangi, dan menghormati. Itu baru pas," ujar Seno.
"Iya, deh!" balas Firman asal, ia tidak ingjn Seno semakin gencar menyerangnya, "sudah benar belum tuh, posisi?" tanya Firman memperhatikan apa yang dilakukan Seno.
"Udahlah! Akukan sering ngelakuinnya jadi udah hapal benar," sindir Seno.
Firman hanya diam membeku di tempatnya berpijak bingung harus komentar apalagi, "Iyalah yang pengalaman, Bro!" ejek Firman gemas.
Setelah keduanya memposisikan pasangan tersebut seintim mungkin keduanya meninggalkan kamar dan menyalakan lampu kembali.
Firman membawa ponsel Farel dan memberikan kepada Azmi,"Ini ponselnya, Ndan!"
"Kita tunggu saja, siapa saja yang ikut di dalam semua rencana ini! Agar kita mudah membekuknya," ucap Azmi, "tikus akan masuk perangkap secepatnya, bukan?" lanjut Azmi tersenyum.
"Aduh, kepalaku!" ucap Deffri bergerak.
"Untunglah, kamu segera sadar, jika tidak. Aku akan membuangmu dari balik jendela itu!" ucap Azmi berkelekar.
"Azmi! Ngapain kalian? Kenapa aku di sini, sih? jangan-jangan kalian yang membekapku tadi gitu? Buat apa?" cecar Deffri.
"Perasaan, najis, tahu! Memang buat apa sih, aku nyulik kamu? Nggak ada manfaatnya, blas!" rutuk Azmi kesal.
"Mana tahu karena nggak laku, kamu jadi bujang lapuk! Jadi, ya nyulik jeruk juga!" ucap Deffri mengambil botol minuman mineral di atas nakas dan meminumnya hingga habis.
"Sialan, Lo! Memang aku nggak normal, gitu? Lihat aja nih, kamu akan tahu kelanjutannya episode drama kehidupan kamu!" ujar Azmi.
"Apa? Memang ada apa, sih? Jangan main teka-teki dong! Udah puyeng, ini." Deffri melangkah mendekati monitor Di mana Farel dan Delia sedag berpelukan, "hei, apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Deffri.
"Seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih kepada kami, kalau tidak, kaulah yang berbaring di sana bersama gadis itu," balas Azmi sinis.
"Apa? Jadi … mereka berniat menjebakku begitu?" tanya Deffri menepuk jidatnya.
"Hadeh, pinter-pinter tapi oneng!" balas Azmi.
"Namanyanya aku ngak tahu, thanks, ya Bro!" ucap Deffri menepuk punggung Azmi.
Tut! Tut!
Bunyi pesan masuk dari ponsel Farel dan tertera nama Maya di sana, "Balas saja!" ucap Azmi.
"Baik, Ndan!" balas Firman membalas semua pesan dari Maya.
"Pertunjukan dimulai!" ujar Azmi.
"Ya, ampun Deff. Kamu ke mana aja, sih? Pertama : Maya mau kamu menikahi putrinya karena hartamu, kedua : Farel tidak ingin kamu menikahi Emilia. Gitu aja nggak perlu mikir panjang! Anak SD juga tahu!" ujar Azmi.
"Nggak percuma kamu jadi seorang komandan, Bro!" balas Deffri mulai memahami segalanya.
***
Masa sekarang ….
"Lalu alasan apalagi yang akan kau berikan Farel? Jika kamu masih mangkir dan menuntut kami, aku juga bisa melakukan hal yang sama!" tukas Rahman memandang ke arah Farel yang masih terdiam membeku.
"Sial, mengapa semua rencana yang sudah kami susun rapi bisa terbongkar? Di mana letak kesalahan semua ini?" batin Farel, "mana lagi aku harus menikahi Delia? Gila! Apa yang akan dikatakan Mama?" batin Farel bingung.
"Lepaskan, aku! Apa yang kalian lakukan kepadaku? Kamu tidak tahu siapa aku?" teriak Maya memasuki ruangan, "Mas! Mereka menyakitiku, kurang ajar sekali mereka!" ucap rengek Maya, "hukum mereka Mas," lanjut Maya duduk di sofa di sebelah Rahman.
Rahman hanya memandangnya sekilas dengan perasaan jijik, "Menjaulah, dariku Maya! Aku tak ingin kau sentuh dengan tangan kotor dan mulut manismu itu," ucap Rahman dingin.
"Mas, apa maksudmu?" tanya Maya menatap Rahman dan semua orang di sana, "aku tidak ada hubungan dengan semua ini, Mas!" lanjutnya, "Delia! Farel apa yang kalian lakukan?" tanya Maya berusaha untuk mengkambinghitamkan Farel dan Delia.
"Sudahlah, mengaku saja! Semua bukti sudah ada, jika tidak. Aku akan memenjarakanmu, Delia, Farel, dan Hana sekaligus! Karena telah menghancurkan ketenangan kehidupan keluargaku," ucap Rahman.
"Bukti apa? Aku merasa mereka hanya menjebakku, Mas!" bela Maya, "kamu harus ingat! Aku telah mendampingimu lebih dari 20 tahun, ingatlah itu Mas."
"Karena selama ini aku terlalu buta akan cinta palsu yang kau berikan," ucap Rahman, "sekarang aku tidak ingin kau berhubungan lagi denganku, Deffri dan Emilia," ujar Rahman.
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Maya cemas.
"Hari ini juga, aku menjatuhkan talaq ke-1 kepadamu, Maya! Saksinya mereka semua yang ada di ruangan ini, apa yang sudah aku wariskan kepadamu tetap menjadi milikmu, pergilah dari kehidupanku dan anak cucuku! Surat cerai akan diurus oleh pengacara," ujar Rahman tegas.
"Mas! Kau tidak bisa menceraikanku begitu, saja! Apa salahku, Mas?" teriak Maya histeris.
"Kau masih bertanya salahmu? Lalu chat yang kau kirim ke ponsel Farel dan apa yang kau katakan di rumah Deffri di kamar? Itu bukan sebuah bukti?" ucap Rahman marah.
Maya jatuh terduduk di depan Rahman, "Dan kau Farel, jika kau tidak menikahi Delia sekarang juga aku akan menyebarkan kejahatanmu, selain itu seluruh orang yang berada di ballroom hotel sudah mengetahui kebobrokanmu!" hardik Rahman.
"Aku akan menikahi Delia!" balas Farel.
"Hiks, hiks," tangis Hana di sudut ruangan yang tak tahu lagu harus berbuat apa, "kalian tega sekali menusukku dari belakang," lirihnya.
"Bukankah kau juga melakukan hal sama, Hana! Hukum sebab-akibat akan terus berlanjut!" ujar Deffri, "kau menorehkan luka di hati Emilia dan sekarang adik sepupumulah yang membalasnya.
"Apa yang kamu lakukan hari ini, begitulah yang diterima oleh Emilia. Apa yang kamu rasakan sekarang, bagaimana sakitnya? Itulah yang pernah dirasakan oleh Emilia akibat ulah kalian," ucap Deffri.
Emilia berjalan memasuki ruangan ia tidak menyangka jika Farel akan melakukan hal buruk dan tidak terpuji itu kepada sepupu Hana, "Emilia dan Deffri besok adalah hari pernikahan kalian! Mari kita pulang, biarkan manusia-manusia bejat ini di sini dan entah ke mana. Kita tidak perlu mengurusnya!" ujar Rahman.
"Tapi, Pa? Apakah tidak kasihan kepada Mama Maya?" tanya Emilia dengan polosnya.
"Apakah mereka pernah berpikir rasa kasihan kepadamu? Saat mereka merecanakan semua ini? Tidak bukan? Jadi tak perlu memikirkan hal itu," balas Rahman dengan tegas.