
"Maafkan aku Mas, gara-gara aku segalanya menjadi berantakan," ucap Emilia merasa malu dan marah.
"Aku tidak menyangka kamu bisa sebuas harimau, Sayang!" balas Deffri kagum.
"Aku hanya tidak suka dirimu selalu dikait-kaitkan dengan perceraianku, jika dikaitkan maka Hanalah yang berhak untuk itu, bukan kamu Mas," balas Emilia manyun.
"Sudahlah biar sajalah! Lika-liku menikahi seleb," goda Deffri.
"Seleb dari Hongkong!" balas Emilia kesal.
"Lha, kamu dari SMA saja selalu kok jadi seleb bener, kadang dulu aku berpikir, apa mungkin aku bisa memilikimu? Begitu. Siapa sangka, pada akhirnya aku menjadi suamimu, Sayang.
"Bayangkan, betapa beruntungnya aku mendapatkan dirimu, Cintaku!" balas Deffri merangkul bahu Emilia.
"Entar aku bayangin dulu ya?" ucap Emilia tersenyum.
Acara perkenalan dengan karyawan berlalu begitu saja, "Wah, aku tidak menyangka istri Pak Deffri kali ini luar biasa dan tidak bisa digertak sama sekali," bisik-bisik karyawan.
"Wah, kalian harus hati-hati! Bisa saja besok lusa dia langsung mendepak kalian, jika kalian tidak becus bekerja," balas seorang karyawan cowok yang lain.
Emilia mendengarkan semua bisik-bisik karyawan suaminya yang memiliki berbagai spekulasi akan sikap dan tabiatnya. Emilia hanya menarik napasnya, "Terserahlah, lelah untuk berkoar-koar. Biarkan sajalah, kebenaran akan terlihat suatu saat nanti," batin Emilia.
Ia tidak peduli dengan semua bisik-bisik karyawan suaminya, "Apa kabar, Pa?" sapa Emilia kepada Budi Hardiansyah yang sedari tadi hanya duduk saja memandang segalanya.
"Kabar baik, syukurlah kamu sepertinya telah menikmati peran sebagai seorang Nyonya," sindir Budi Hardiansyah.
"Apa maksud Papa Mertuaku ini?" batin Emilia hanya saja dia tak peduli dan tidak memasukkannya ke dalam hati, sehingga ia diam saja, "um, apakah aku tidak boleh menikmati hidupku sebagai seorang Nyonya, Pa? Apakah ada aturan jika seorang istri tidak boleh menikmati hak suaminya?" tanya Emilia.
Pertanyaannya Emilia membuat Budi terdiam, "Tentu saja kamu boleh, tetapi kamu harus ingat! Kamu tidak ikut membangun usaha ini dari nol, jadi jangan terlalu berharap mendapatkan banyak harta jika Deffri sudah tiada," balas Budi.
Deg!
Jantung Emilia berdetak, "Apakah mertuaku tidak menginginkan putranya hidup?" batin Emilia.
"Jangan khawatir, Pa! Jika itu yang engkau takutkan," balas Emilia tersenyum, "maaf, Pa! Ada yang ingin aku kerjakan dulu," lanjut Emilia meninggalkan Budi Hardiansyah, "apakah ada orang tua yang mengatakan hal demikian?" batin Emilia bingung.
Emilia merasa jika Budi tidak merestui hubungan pernikahan antara dirinya dan Deffri, "mungkin karena aku hanyalah seorang janda, juga hanya janda biasa di mana memiliki ekonomi di bawah garis kemiskinan," batin Emilia, "tapi aku tetap mencari makan sendiri tanpa meminta pada orang lain, juga tidak mengemis pada orang lain. Masa bodohlah!" batin Emilia.
Ia sudah lelah jika ia harus berbicara banyak hal lagi yang membuat harga dirinya akan dicap sebagai wanita yang mengerikan, "Mas, ayo pulang!" ajak Emilia pada Deffri.
"Napa Yank?" tanya Deffri.
"Aku minta Broto untuk menjemputku karena Mas juga banyak pekerjaan. Aku ada janji akan bertemu dengan kolega konveksi, Mas!" ujar Emilia.
Emilia kembali ke toko pakaian ia masih memikirkan perkataan Budi, "Aku harus bertekad untuk lebih maju lagi di dalam kehidupan ini, aku tidak mau lagi mereka memandangku sebelah mata mau menikah dengan Deffri karena hartanya," batin Emilia, "aku malah tidak tahu jika Deffri adalah pengusaha hebat," batin Emilia merasa sangat bodoh.
"orang-orang mengira jika diriku adalah seekor tikus yang jatuh ke lumbung padi," batin Emilia. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi, "jika aku tidak menikah mungkin hal ini tidak akan terjadi, tapi … setiap kehidupan selalu memiliki masalah, namanya orang hidup jika tidak mau ada masalah ya jadi orang mati saja!" batin Emilia tegas.
"Yaelah, yang pengantin baru tengah hari udah menghayal?" ujar Mira, "ada apa, Mbak?" lanjut Mira kala ia melihat Emilia hanya tersenyum simpul.
"Nggak ada apa-apa, Mir! Gimana penjualan akhir-akhir ini? Mbak berniat ingin bekerja sama dengan salah satu konveksi yang direkomendasikan oleh Papa Rahman. Bagaimana menurut kamu?" tanya Emilia.
"Apakah Mbak sudah meninjau pabrik konveksinya Mbak?" tanya Mira.
"Rencananya besok, Mbak sama papa Rahman menemui pak Mujiawan. Makanya Mbak mau nanya kamu, kira-kira menurutmu kerjasama kita ini pastinya membuahkan hasil, bukan?" tanya Emilia.
"Aku rasa sangat bagus, Mbak. Kita bisa memenuhi permintaan konsumen dengan berbagai level harga dan kualitas yang berbeda," jawab Mira.
"Mbak juga niatnya gitu tapi ya nggak murahan gitulah, yang bagus tapi harganya masih bisa terjangkau oleh kelas ekonomi menengah ke bawah," ucap Emilia tersenyum.
"Apa pun keputusanmu, Mbak. Aku akan selalu mendukungmu," balas Mira.
"Terima kasih," balas Emilia, "sebenarnya aku juga ingin membuktikan kepada papa Budi jika aku menikahi Deffri bukan karena hartanya tapi karena Amara dan Keano yang membutuhkan sosok ibu dan ayah di dalam kehidupan mereka," batin Emilia termenung.
"Mbak, kamu kenapa sih? Apakah Kak Defri tidak membahagiakan kamu, gitu?" tanya Mira penasaran.
"Bukan Mas Deffri menyayangiku, begitu juga dengan Amara juga papa Rahman. Aku hanya … entahlah," balas Emilia ia ingin berbicara mengenai Budi tetapi ia tidak ingin orang tahu mengenai keadaan rumah tangganya. Sehingga Emilia hanya diam saja, berusaha untuk memendam segalanya dengan diam dan hanya dia saja sendiri yang tahu masalah yang sedang dihadapinya.
"Aku juga tidak ingin jika Deffri tahu mengenai sikap papanya, aku tidak ingin antara ayah dan anak akan bertengkar hanya karena aku. Cukup saja masalah dengan mama Janti dulu yang membuat Farrel menentang kedua orang tuanya sehingga kami menikah tanpa restu pada akhirnya pernikahan tidak berjalan lancar.
"Restu orang tua lebih dibutuhkan daripada melawan biarlah aku tahan saja. Aku hanya ingin menunjukkan kepada papa Budi jika aku bukanlah seperti wanita yang dipikirkannya," batin Emilia bertekad untuk terus maju di dalam bisnisnya dan menyayangi Amara bagaikan putrinya sendiri.
Emilia menghabiskan setengah harinya di toko kemudian ia pulang bersama Broto untuk memenuhi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai seorang mama kepada kedua anaknya.
Emilia memasak dan menghidangkan makan malam, ia juga selalu membuat puding kesukaan anak-anak dan Rahman yang sangat bahagia.
Deffri melarang Rahman untuk pulang ke Kota Medan lagi, karena tidak ada yang akan mengurusnya.
"Besok kita akan menemui Mujiawan," ucap Rahman kepada Emilia.
"Baiklah, Pa! Um, Deff, aku ingin mengajak Emilia menemui Mujiawan. Aku ingin mereka bekerja sama, selain itu aku rasa Emilia memiliki talenta untuk mengurus bisnis," ucap Rahman.
"Aku sangat percaya kepada Papa, yang lebih senior di dalam urusan bisnis," balas Deffri mengagumi dan memuji kinerja mertuanya. Ia selalu meng-handle semua pekerjaannya dari balik layar dan semua usahanya sukses.