I Can Live Without You

I Can Live Without You
Kebahagiaan berubah duka



Semua karyawan terdiam dan memandang ke arah Emilia Tantri, "Baik, Pak!" jawab mereka serentak.


"Rapat telah selesai," ujar Rahman, "Emilia bekerjalah dengan sepenuh hatimu, buatlah Papa bangga, Nak! Demi anak-anakmu, kita berdoa saja agar Deffri selamat," ucap Rahman.


"Ba-baik, Pa!" balas Emilia. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana ia merasa semua roda kehidupannya begitu cepat berputar kebahagiaan yang baru dirasakannya telah sirna berganti dengan  tanggung jawab yang lebih besar.


Semua kolega dari Deffri berbondong-bondong datang ke rumah mereka, "Turut berduka cita, Bu! Yang sabar," ujar semua orang pada Emilia.


"Suami saya belum meninggal!" jawab Emilia, "saya sangat yakin jika suami saya belum meninggal!" papar Emilia. 


Namun, semua orang merasa Emilia sudah gila dan depresi sehingga semua orang menganggap apa yang diucapkannya hanyalah sebuah penolakan seorang istri atas kenyataan yang tidak bisa diterimanya.


Farel memasuki rumah Emilia bersama Hana dan Janti, "Turut berduka cita Emilia!" ujar Farel.


"Suamiku belum meninggal!" balas Emilia. Ia merasa lelah harus menjawab semua belasungkawa semua orang.


"Terimalah kenyataan, kau memang ditakdirkan untuk sendirian selamanya! Aku rasa kamu adalah seorang istri pembawa sial! Beruntunglah Farel telah berpisah denganmu!" ujar Janti dengan senyuman kepuasan yang jelas tergambar di wajahnya.


"Ma! Sopanlah bicara kepada Emilia! Dia sedang berduka, ayo kita pulang!" balas Farel membawa keluarganya pulang. 


Emilia hanya diam ia sudah lelah apalagi terlalu banyak orang berbela sungkawa ke rumah membuat Emilia sedikit merasa kesal. Namun, ia berusaha untuk diam dan menahan diri, ia berjalan dengan gontai ke kamarnya mengambil pakaian yang baru saja dipakai oleh Deffri kala mereka habis berjalan-jalan menikmati keromantisan cinta yang mulai bersemi di hari Emilia. 


"Deff, mengapa kamu pergi begitu cepat? Mengapa kamu tega ninggalin aku dan anak-anak! Salahku apa?" isak tangis Emilia tidak terbendung kala ia memeluk baju Deffri ia menangis sesenggukan di kamarnya.


"Andaikan aku tahu, itu adalah hari terakhir kita bersama, aku taka akan membiarkanmu pergi meninggalkanku!" isak tangis Emilia terbata-bata.


Emilia tak lagi peduli dengan begitu banyaknya orang di lantai bawah, ia hanya ingin mengurung diri bersama dengan kenangan dan baju Deffri.


"Emilia, bangun, Nak! Mbok juga tidak menyangka jika Pak Deffri akan cepat meninggalkan kita!" ujar Mbok Surti.


"Tidak Mbok! Mas Deffri tidak meninggal, ia masih hidup! Aku yakin itu," ujar Emilia berusaha untuk menyangkal semua kenyataan nalurinya sebagai seorang istri mengatakan jika Deffri masih hidup.


"Ayo, naiklah ke tempat tidur, Nak. Cobalah untuk makan!" bujuk Mbok Surti.


"Aku tidak lapar Mbok!" balas Emilia.


"Nak, jika kamu sakit bagaimana dengan Pa Rahman, dan Kedua anakmu? Siapa lagi yang akan merawat mereka? Pak Rahman sudah tua, Mbok juga? Kakek Budi tidak sayang pada Amara, Keano juga lihatlah bagaimana papanya. 


"Memang kamu mau jika kedua anakmu menderita, Nak?" tanya Mbok Surti. 


Emilia menatap Mbok Surti dengan deraian air mata ia mulai menangis lagi, "Nggak Mbok! Aku nggak akan izinkan kedua anakku menderita! Aku akan berjuang untuk itu!" tekad Emilia.


"Kalau begitu makanlah, Nak!" ujar Mbok Surti menyuapkan makanan ke mulut Emilia.


Emilia memakannya dan menangis di pangkuan Mbok surti sembari berusaha untuk mengunyah nasi di mulutnya yang terasa bagaikan duri. Mbok Surti denga  kehangatannya membelai lembut rambut Emilia dan terus memaksanya untuk makan.


Setelah semua orang pulang rumah terasa sepi tanpa adanya canda tawa Deffri dan semua orang, "Mama! Keano dan Amara datang ke kamar mamanya, memeluk Mamanya yang masih duduk di lantai sembari memeluk baju papa mereka dengan bertumpu pada tempat tidur.


"Iya, Sayang!" balas Emilia memeluk Amara dan Keano. 


Ketiganya menangis saling berpelukan Emilia berulang kali mengecup kening dan kepala kedua anaknya dengan segenap rasanya, semua rasa yang tak lagi bisa diungkap dengan kata-kata ia tuangkan dengan segenap rasa dan perlakuannya.


"Kami sayang Mama! Jangan tinggalkan  kami Ma," pinta kedua anaknya.


"Tidak akan pernah, Nak! Kecuali ajallah yang menjemput Mama!" ucap Emilia.


Sejak saat itu Emilia selalu tidur dengan kedua anaknya ia selalu merasa nyaman berada di antara dekapan kedua anaknya, "Mas, kamu ninggalin aku karena aku yakin bukan keinginan kamu. Aku akan merawat kedua anak kita Mas!" lirih Emilia memandang kedua anak yang berada di dalam dekapannya.


Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, Emilia masih terus berharap dan meminta kepada pihak berwajib juga biro penerbangan untuk tetap mencari keberadaan Deffri, Budi Hardiansyah tak pernah menjenguk Amara yang merupakan darah dagingnya. Emilia masih pulang pergi perusahaan Cahaya Grup, sekolah, rumah, dan toko pakaiannya. 


Hari-harinya hanya dihabiskan untuk kedua buah hati dan keluarganya, ia masih sering menangis diam-diam kala ia merindukan Deffri dan berusaha untuk tidak terlihat oleh semua orang, "Aku harus terlihat kuat untuk kedua buah hatiku," batin Emilia.


Suatu pagi tepat 7 bulan kepergian Deffri ….


Tok! Tok!


"Masuk!" balas Emilia dari balik laptopnya. 


"Bisa bicara dengan Ibu Emilia? Saya Dino dari Perusahaan Jaya Mandiri Group," ujar seorang pria tepat di depan Emilia.


Deg! 


Jantung Emilia berdetak kencang, "Mas Deff-oh maaf! Silakan duduk!" ujar Emilia sedikit malu, ia mengira pria di depannya adalah suaminya, "mengapa suaranya begitu mirip? Tapi wajahnya bukan," batin Emilia.


"Um, apakah saya mengganggu, Bu? Saya sudah membuat janji untuk kerjasama di bidang konstruksi bangunan dan mebel," ujar pria tersebut.


"Oh, iya maaf!" balas Emilia sedikit canggung, "sekretaris saya, Dini sudah memberitahukan pada saya. Silakan duduk!" balas Emilia beranjak dari mejanya mempersilahkan Dino untuk duduk di salah satu sofa.


Dini masuk dengan memberikan minuman dingin dan cemilan, "silakan diminum Tuan Dino," ujar Emilia memeriksa kembali semua kerjasama mereka yang sudah ditinjaunya kemarin pagi, ia hanya ingin memastikan jika dia tidak menandatangani dokumen yang salah.


Dino memperhatikan wanita di depannya dengan tersenyum, "Apakah ada kesalahan Bu?" tanya Dino.


"Tidak terima kasih, kita akan menandatanganinya!" ukar Emilia sedikit sedih ia merasa suara Dino begitu mengingatkan dirinya akan Deffri.


"Sekali-kali, Ibu harus ke Bandung untuk mengunjungi perusahaan, Bu!" usul Dino.


"Ya, lain kali!" blas Emilia, "kau tidak tahu Tuan Dino hampir setiap bulan aku ke Bandung hanya mencari suamiku," batin Emilia menandatangani semua berkas surat perjanjian didampingi pengacaranya Herman dan Sandi sahabatnya.


Setelah acara selesai, "Bagaimana jika kita makan siang bersama-sama," ajak Dino.


"Maaf, saya tidak bisa, Tuan Dino. Saya akan menjemput dan mengajak makan anak saya!" tolak Emilia. 


"Kami akan menemani Tuan Dino, mari!" ajak Herman dan Sandi yang selalu berbaik hati untuk menemani kolega Emilia.