
Emilia mengambil spatula dan beberapa piring di dekat wastafel ia tanpa sengaja hampir terjatuh, untung saja Deffri langsung menarik tubuh Emilia ke pelukannya. Keduanya saling pandang, "Maaf, aku … aku tidak sengaja!" ujar Emilia menatap ke mata Deffri. Ia merasa sedikit bingung dengan semua perasaannya yang aneh tiba-tiba.
"Iya … tidak apa-apa!" balas Deffri melonggarkan pelukannya, Deffri merasa debar di jantungnya mulai tidak karuan.
"Um, aku sudah masak. Sebaiknya kita makan, Amara sudah makan tadi aku menyuapinya," balas Emilia tersenyum.
Deffri duduk di salah satu kursi di meja makan, Emilia begitu bahagia melayani Deffri yang hanya memandang Emilia dengan segala rasa, "Em, kamu tidak apa-apakan?" tanya Deffri sedikit khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa!" balas Emilia tersenyum, jauh di relung hatinya ia begitu kosong ia hanya ingin melakukan sesuatu agar seluruh jiwa dan pikirannya tak tercurah pada Keano dan ia menangis lagi. Ia tidak ingin jika Deffri atau siapa pun mengetahui rasa sakit dan dukanya, terluka tapi tak berdarah.
Emilia mengambilkan nasi dan semua lauk-pauk ke piring Deffri, "Ayo, makan! Aku tidak tahu apakah enak atau tidak," balas Emilia jujur dan tersenyum. Ia mulai menyuap sesuap nasi memaksa semuanya masuk ke dalam mulut.
"Em, jika kamu ingin menangis, menangislah! Aku tidak melarangmu," kata Deffri menyentuh salah satu tangan Emilia yang terlipat di atas meja.
"Aku baik-baik saja, Deff! Percayalah," sanggah Emilia berusaha bersikap senormal mungkin. Ia tidak ingin ada lagi yang merasa iba padanya, Emilia merasa jiwa raganya semakin kosong dan air mata ingin tertumpah.
"Baiklah, aku rasa masakanmu sangat enak sekali, Em!" balas Deffri tersenyum.
"Terima kasih," balas Emilia tersenyum.
Keduanya makan dengan diam dan pikiran masing-masing, Emilia melirik bangku di sampingnya di mana Keano biasanya duduk dan selalu saja mengganggunya kala makan, "Semua kenangan itu begitu indah, andaikan waktu bisa diputar kembali. Aku akan menjauh sejauh-jauhnya dari sini bersama dengan putraku, betapa bodohnya aku.
"Aku selalu saja, percaya pada Farel. Sialan, itu benar-benar membuatku muak!" umpat batin Emilia.
"Jika Emilia terlalu diam dan lebih banyak melakukan banyak hal seperti sekarang. Itu sangat mengerikan! Aku tahu ia ingin menangis dan berusaha untuk terlihat tegar," batin Deffri yang masih mencuri pandang kepada Emilia yang hanya diam mengunyah makanannya dan termenung diam,
"andaikan aku bisa mengurangi bebannya, aku pasti akan melakukan hal itu. Farel benar-benar, bedebah!" batin Deffri kesal.
Hujan masih saja turun diiringi badai, keduanya mencuci piring dengan diam, tanpa suara dan berbicara apa pun, "Deff, kamu tidurlah. Ini selimutnya, aku tidur terlebih dulu," ujar Emilia memberikan bed cover hijau kepada Deffri yang menerimanya dengan tersenyum.
"Terima kasih, maaf kami sangat merepotkanmu," balas Deffri.
"Jangan bilang begitu, sesama sahabat tidak boleh mengatakan hal demikian, bukan? Hayo, siapa yang ngomong, ya?" sindir Emilia tersenyum.
"Tidurlah, sudah malam. Titip Amara, dia terkadang sedikit lasak kalau tidur," balas Deffri.
"Jangan khawatir, Keano lebih parah tahu!" balas Emilia tersenyum. Sedetik kemudian senyum itu menghilang, "baiklah, Deff. Selamat malam, semoga mimpi indah," balas Emilia.
"Ya," balas Emilia membalikkan tubuhnya tepat di depan pintu kamarnya.
"Percayalah, kita akan menemukan Keano. Jangan bersedih," jawab Deffri.
"Ya, terima kasih!" balas Emilia masuk ke dalam kamarnya bersandar di balik pintu dan merosot ke lantai menangis sedih, air matanya tertumpah jua.
"Hiks, hiks," isak tertahan Emilia memeluk kedua lututnya menangis membenamkan wajah di antara kedua lutut.
"aku harus kuat! Keano pasti kembali lagi bersamaku, aku akan melakukan apa saja untuk itu," batin Emilia menyeka air mata di pipi. Mencoba untuk berdiri dan naik ke tempat tidur, menyelimuti Amara yang tertidur pulas, memeluknya dengan erat berharap jika Amara adalah Keano di dalam dekapannya berharap dia memiliki keduanya.
Air mata semakin berderai membasahi pipi Emilia apalagi saat tangan mungil Amara yang berusia 7 tahun memeluknya dengan erat, "Ya, Allah. Kau berikan Keano dan Engkau memisahkanku, dan gadis mungil ini memelukku, terima kasih. Paling tidak Amara sedikit mengobati rasa rinduku," batin Emilia di antara isak tangisnya.
Emilia menatap wajah Amara, "Putri Deffri dan Almarhumah Afiqah begitu cantik. Aku rasa Afiqah begitu cantik, mengapa aku tidak pernah bertanya mengenai sosok Afiqah? Aku terlalu terlarut di dalam masalahku.
"Ya, Allah! Jagalah putraku di mana pun dia berada," batin Emilia, bayangan Keano yang tertawa dan menangis mulai mengusik Emilia ia tak lagi bisa memejamkan matanya ia semakin erat memeluk Amara mengecup kening dan pipi Amara berharap dia adalah Keanonya.
Semalaman Emilia tidak bisa memejamkan mata, ia hanya menepuk-nepuk pelan punggung Amara dan membayangkan kebahagiaan saat bayi mungil Keano hadir untuk pertama kali di dekapannya, ia begitu tampan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Emilia begitu bahagia untuk seribu tahun di kehidupannya, kala seorang bayi mungil hadir di pelukan. Hidupnya sempurna, ia tidak peduli bagaimana rupa bayinya ia tidak peduli. Apakah putranya tampan atau biasa saja? Ia hanya berharap putranya adalah segala hal kebahagiaan yang pernah diberikan Tuhan kepada-Nya di hidupnya yang tak pernah sempurna sebagai wanita.
Namun, kebahagiaan dan kesempurnaan miliknya di dunia telah terenggut kembali. Emilia bingung apakah ia menyalahkan suratan tangan ataukah takdirnya yang kejam? Diri dan hidupnya hanya berpusat pada Keano, kala Farel tak lagi mampu menemani semua kebahagiaan dan segala malam yang dingin dan hampa terlewatkan begitu saja.
Emilia terhibur dengan tangis dan tawa Keano, Emilia mengingat kala malam panjang saat Keano sedang rewel karena sakit ia harus menggendongnya semalaman tanpa tidur, berusaha untuk menggantikan sakit putranya dengan segala hal yang dimiliki. Namun, seorang Farel hanya tertidur lelap, tetapi Emilia tidak peduli, ia hanya ingin putranya sembuh. Emilia akan memberikan dunia ini kepada putranya walau nyawa pun taruhan yang akan dihadapinya.
"Mengapa? Mengapa Farel melakukan semua ini? Seharusnya dirinya bisa memiliki anak yang lain dengan Hana, mengapa? Mengapa ia harus memisahkanku dengan Keano? Mengapa?
"Apakah salahku jika terlahir tak sempurna? Apakah Farel sempurna? Tidak! Bukan?" batin Emilia menangis dan menangis lagi, marah dan kembali marah. Ia marah karena ia tidak memiliki jawaban untuk semua itu.
***
Sementara Keano meringkuk di balik selimutnya dengan berderai air mata. Suhu tubuhnya panas ia demam, "Mama …." rengek Keano, "Keano, rindu Mama!" batinnya.
Namun, ia tak lagi memiliki keberanian untuk berkata akan hal itu, karena papanya Farel akan menghukum dengan menguncinya di kamar mandi. Belum lagi Hana yang akan memarahinya, Keano kecil tidak tahu mengapa papanya begitu benci kepada mama yang sangat baik hati kepadanya?