I Can Live Without You

I Can Live Without You
Memiliki tujuan masing-masing



Seorang ART menyuguhkan minuman, Maya langsung meminumnya, "Aduh, panas sekali, sih?" demprat Maya, "apa nggak bisa kamu beri aku air dingin begitu? Babu sekarang nggak ada yang becus!" hina Maya.


"Yem, kamu buat lagi jus dingin untuk Tante!" usul Farel.


"Tan, apa yang membuat Tante sampai kesal begini, sih? Nggak biasanya Tante seperti ini?" tanya Hana penasaran.


"Semua ini karena Emilia!" ucap Maya kesal mengepalkan tangan.


"Memang apa yang dilakukan oleh wanita itu?" tanya Hana bingung.


Maya menceritakan semuanya, "Dia memang terlalu angkuh! Makanya aku menceraikannya. Kalau bisa ya, Tante, jangan pernah kasih Emilia menikahi Deffri, lebih baik dia menikahi Delia saja," balas Farel, "Emilia, dia wanita yang memiliki harga diri terlalu tinggi, kau tidak akan mudah menghancurkannya.


"Entah sejak kapan Emilia berubah sekeras batu, dulu dia tidak begitu? Andaikan dia mau dimadu, segalanya tak serumit ini," batin Farel, "aku harus membuatnya tidak bisa menikah dengan Deffri, paling tidak aku akan mudah menghancurkannya secara perlahan-lahan, hingga dia menyerah dan kembali kepadaku! Emilia hanya pantas menjadi milikku. Bukan pria lain," batin Farel.


"Memang Tante mau jodohin Delia dengan Deffri begitu?" tanya Hana penasaran. Ia merasa apa yang dikatakan oleh Farel sedikit mencurigakan batinnya, "aku sangat yakin, jika Farel tidak ingin seorang pria pun menikahi Emilia. Itu sangat merugikan diriku, sialnya! Mengapa harus Delia, sih? Delia bisa menjadi sombong sampai ke langit ketujuh, jika dia berhasil menikahi pria kaya se-Indonesia," batin Hana tidak senang.


"Iya, aku ingin Amara memiliki ibu sambung yang jelas daripada wanita bernama Emilia itu! Paling tidak, aku tidak mau jika wanita bernama Emilia itu hanya menginginkan harta Amara dan Deffri. Kalian tahu? 


"Rahman telah mewariskan hampir 75 persen semua hartanya untuk Amara. Bayangkan! Aku dan Delia hanya memiliki 25 persen saja," balas Maya tidak senang.


"Oh, jadi semua ini karena harta! Hahaha wanita seperti ini akan mudah untuk diajak bekerja sama dan dimanipulasi," batin Farel tersenyum, "lalu apa rencana Tante?" tanya Farel, "aku juga tidak suka dengan Emilia. Aku ingin menghancurkan dirinya secara perlahan. 


"Aku sudah mengajukan banding untuk hak pengasuhan anak, tapi selalu saja gagal! Dia memiliki Deffri di belakangnya sehingga selalu saja semua pengacara hebat di Indonesia mampu dia suap. Jika tidak! Aku sangat yakin Emilia tidak akan berani untuk melawanku," ucap Farel kesal.


"Oh, jadi kamu hanya ingin hak asuh putramu? Aku kira kau masih mencintainya dan ingin mencampakkan ponakanku yang cantik ini," tukas Maya senang.


"Tentu saja demi putraku, Tante! Aku sudah tidak mengharapkan Emilia, apalagi mencintai wanita itu! Bagiku sepuluh wanita seperti Emilia bisa aku cari dengan sekejap," balas Farel angkuh.


"Bagaimana jika kita bekerja sama untuk menikahkan Deffri dan Delia?" usul Maya senang ia kembali menyesap minumannya, "Hei, Babu! Kemari kau! Apa kau tidak bisa membuat jus jeruk ini manis? Ini sangat asam, seasam wajahmu!" ketus Maya kesal.


"Maaf, Nya! Akan saya buat kembali!" jawab wanita muda tersebut langsung tergopoh-gopoh kembali ke dapur, "dasar nyebelin! Ponakan sama bibi sama saja! Coba dulu, Bu Emilia. Dia tidak pernah berkata kasar!" batin Iyem mengumpat kesal.


Iyem kembali memotong buah jeruk dan memerasnya, "Oh, aku akan buat Nenek Sihir itu sakit perut!" batin Iyem senang ia langsung memasukkan garam inggris ke dalam minuman dan membawanya ke depan mengangsurkan kepada Maya dengan sopan.


"Nah, aku harap kali ini jusmu ini sangat manis! Satu hal lagi, kamu nggak perlu dandan jika menjadi babu. Apa kamu mau memikat majikanmu, begitu?" umpat Maya.


"Maaf Nya, saya tidak pernah punya cita-cita jadi pelakor. Suami saya walaupun kuli bangunan tapi saya cinta mati padanya," balas Iyem tegas.


"Saya tidak tahu, Nya. Apakah saya boleh mencobanya?" tanya Iyem


"Enak saja, najis tahu! berkasku kamu minum!" ejek Maya ketus.


"Habisin aja tuh jus, biar nyaho kamu!" batin Iyem kesal.


"Hana, kamu jangan cari babu yang muda-muda begitu? Carilah yang sudah tua!" lanjut Maya kembali menyesap jusnya.


"Tante, jika sudah tua dia nggak akan sanggup bekerja. Lagian Iyem cinta mati dengan Ahmad," balas Hana.


"Halah, lihat saja itu si Surti! Rahman dari dulu sayang nggak ketulungan, sama tuh, Babu! Alasan adik, segala! Hm, lelaki dasar hidung belang semua!" tukas Maya.


"Jika belang, zebra dong, Tan!" balas Farel tersenyum simpul.


"Hei, Babu! Kamu pergi sana! Buat kesal saja," ujar Maya, "ingat jangan  sampai kamu dekati Farel!" ancam Maya.


"Nyonya, sudah saya katakan saya cinta mati dengan suami saya. Lagian saya bukan pelakor. Biasanya orang yang berpikiran demikian pada wanita lain karena dia sendiri seorang pelakor! Selain itu, saya sudah lama bekerja di sini, tanya saja dengan Tuan Farel sebelum dia menikahi Nyonya Hana," balas Iyem kesal langsung pergi begitu saja.


"Dasar, babu sekarang tidak memiliki sopan santun!" hardik Maya.


"Sudahlah Tan! Aku cinta mati dengan Hana. Tidak mungkin aku tergoda dengan Iyem, sekarang mari kita pikirkan bagaimana cara menikahkan Delia dengan Deffri. Itu yang penting, Tan!" balas Farel.


"Hah! Kamu benar, sebaiknya kita mulai memikirkan hal itu! Um, dua hari lagi Rahman ulang tahun, aku ingin merayakannya di sebuah hotel di Kota Karangsari ini.


"Bagaimana jika kita menjebak Deffri dan Delia agar keduanya menikah. Sehingga Deffri tidak lagi menolak dan mengelak untuk tidak menikahi Delia," ujar Maya.


"Tentu saja, usul yang sangat bagus!" ucap Farel senang, "aku akan mengatakan kepada Delia!" batin Farel, "aku akan membuat sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh Deffri. Mampus kau Deffri, rasakan pembalasanku berani-beraninya kau mencintai Emiliaku!" batin Farel senang.


"Aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini?" batin Hana tidak suka. 


"Baiklah jika begitu! Mendekatlah," ucap Farel berbisik-bisik kepada kedua wanita di depannya.


"Wah, usul kamu bagus sekali Farel. Tidak salah aku datang kemari, baiklah. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya," balas Maya senang, "aku akan pulang dulu! Ingat, kalian harus menyelesaikan setiap bagian kalian!" pesan Maya kepada pasangan di depannya.


"Tentu saja, Tante!" balas keduanya, "aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" batin Hana, "aku sangat yakin jika Delia menikahi Deffri ia akan semena-mena kepadaku. Apalagi aku pernah mengambil kekasihnya Albert. Selain itu, Farel pasti akan kembali menemui Emilia. Dan di dalam kasus semua ini, akulah yang paling dirugikan," batin Hana tetapi bibirnya masih berusaha untuk tersenyum dengan manis menutupi segala kecurigaannya.