I Can Live Without You

I Can Live Without You
Kekacauan rumah tangga Farel



"Baiklah, Sayang!" balas Emilia memeluk Amara rasa cintanya kepada Amaralah yang mampu membuatnya menikahi Deffri. Jauh di relung hati Emilia ia tidak tahu dan masih begitu takutnya terlibat 'kan cinta lagi.


Hingga pada akhirnya pernikahan sederhana Deffri dan Emilia digelar, didampingi oleh semua keluarga Rahman, Emilia, dan keluarga Deffri hanya dihadiri oleh ayahnya Budi Hardiansyah yang langsung pulang setelah acara tanpa basa-basi. 


"Apakah Papa Budi tidak menyukaiku?" batin Emilia semakin bertanya bingung. Ia tidak mengenal keluarga Deffri dan siapa saja yang menjadi adik maupun kakak dari Deffri, "seharusnya aku bertanya bukan diam saja," batin Emilia bingung.


Malam semakin larut Emilia telah menidurkan Keano dan Amara, "Apa yang harus aku lakukan?" batin Emilia bingung, "sebagai seorang istri aku pasti wajib untuk memberikan kewajibanku sebagai seorang istri, rasanya aneh sekali jika aku harus tidur dengan pria lain, "Ya Allah! Bukankah Deffri juga suamiku?" hatinya gelisah.


Emilia pura-pura tidur kala Deffri masuk ke dalam kamar anak-anak, "Ternyata, istri dan anak-anakku tidur di sini!" lirih Deffri tersenyum menyelimuti ketiganya dengan tenang. Deffri mengambil tempat di sisi Emilia memeluk pinggangnya dengan lembut.


Debar jantung Emilia semakin nggak karuan ia takut jika Deffri mendengar detak jantungnya yang begitu kencang, "Apa yang aku katakan, jika Deffri mengetahui kalau aku hanya berpura-pura tidur?" batin Emilia bingung.


"Emilia hanya berpura-pura tidur! Apakah dia masih belum bisa membuka hatinya untukku? Apakah trauma ataukah dirinya masih begitu besar mencintai Farel?" batin Deffri cemburu, "biarlah, aku menunggunya pelan-pelan agar dia mencintaiku," lirih batinnya sendu.


Deffri terdiam ia tidak tahu harus bagaimana, malam pertamanya yang seharusnya begitu indah kering kerontang tanpa ada sesuatu. Namun, Deffri bukanlah pria yang arogan ataupun ingin menyakiti istrinya sehingga ia berusaha untuk sabar menantikan cinta yang akan tumbuh di hati Emilia untuknya.


Malam semakin dingin dan berganti pagi, Emilia dan Deffri masing-masing terdiam di dalam kepura-puraan mereka. Deffri masih melingkarkan tangannya di pinggang Emilia berharap suatu mukjizat akan datang menghampiri mereka. Namun, mukjizat tidak juga turun masing-masing saling diam dan menanti.


Pagi hari, Emilia berpura-pura bangun dan Deffri hanya diam saja, "Mas, ayo kita Sholat Subuh!" ajak Emilia.


"Hm," balas Deffri dengan berpura-pura seakan dia baru saja bangun tidur.


"Ayo," ucapnya keduanya langsung Sholat Subuh. Keduanya hanya diam tanpa bicara seakan ada jurang yang mulai memisahkan keduanya tak sehangat saat mereka masih bersahabat.


Setelah sholat Emilia membuat sarapan membantu Surti dan ART yang lain, Keano dan Amara bangun, "Mama!" teriak keduanya bersemangat memeluk Emilia dan Deffri keduanya berceloteh nyaring dan riang Emilia menyuap kedua buah hatinya.


"Emilia, aku ingin mengajakmu ke kantor mengenalkan kepada semua orang," ujar Deffri. Emilia tercekat.


"Baiklah, kita antar saja anak-anak sekolah dulu!" balas Emilia berusaha untuk tersenyum.


"Sebaiknya, kalian berdua pergilah berbulan madu! Aku membelikan kalian tiket. Pergilah pagi ini," ucap Rahman.


Emilia dan Deffri saling pandang bingung, "tapi, Pa!" ucap keduanya serempak.


"Itu hadiah dariku, untuk pernikahan kalian. Aku telah menganggap Emilia adalah putriku sendiri! Aku harap kalian berdua tidak menolak permintaanku, Nak!" ujar Rahman menatap keduanya.


"Baiklah!" balas Emilia dan Deffri serempak.


Setelah mengantar Keano dan Amara, Emilia dan Deffri benar-benar berbulan madu ke Bali. Mereka tinggal di sebuah rumah di tepi pantai yang indah dengan debur ombak dan sunset yang sangat luar biasa.


"Sayang, nih, untukmu!" ucap Deffri memberikan setangkai bunga mawar dan kalung indah, "Mas, ini terlalu mahal!" balas Emilia.


"Apa pun yang bisa aku berikan akan aku berikan kepadamu, Sayangku. Aku tahu, kamu masih belum bisa membuka hatimu untukku," tapi aku sangat yakin jika kamu akan mencintaiku lambat laun," balas Deffri. 


"Mas, maafkan aku!" balas Emilia berderai air mata, "aku juga tidak tahu, mengapa aku begini! Seharusnya aku tidak begini," balas Emilia. 


"Ayo, kita nikmati masa bulan madu kita! Apakah kamu nggak ingin berduaan denganku? Apakah kamu nggak pengen merasakan  sebuah sentuhan suami-istri lagi?" tanya Deffri mulai menggoda Emilia yang langsung bersemu merah.


"Ih, kamu genit deh!" balas Emilia tersenyum.


"Genit sama istri sendiri 'kan tidak masalah?" tanya Deffri, "memang kamu mau kalau aku genit dengan wanita lain begitu?" tanya Deffri dengan manis.


"Awas, kalau berani macam-macam di belakangku! Aku sate tuh, burung!" ancam Emilia tersenyum.


"Jangan dong! Ntar kala jadi pendek memang kamu mau, gitu?" tanya Deffri yang semakin gencar menggoda Emilia.


"Ih, kamu ini makin ngeres akh!" ujar Emilia tersenyum manis.


"Hahaha,"


Cup! Sebuah kecupan mendarat di tengkuk Emilia.


Deg! Deg! 


Sentuhan demi sentuhan membuat Emilia kebingungan dan pada akhirnya menyerah menikmati segala rasa yang pernah tercipta di antara dirinya dan Farel terulang lagi. Bedanya saat bersama dengan Deffri segala rasa lebih indah karena sebuah cinta yang tulus di sana. Bukan hanya sekedar kewajiban dan melepas hasrat semata.


***


Sementara di rumah Farel, Kehidupan semangkin parah, Hana ingin pergi ke kantor bersama dengan Farel sementara Delia dan Maya tidak tahu harus bagaimana selain duduk dan menikmati kehidupan di rumah mereka. 


"Mbak Hana dan Mas Farel! Kalian mau ke mana?" tanya Delia, "aku boleh ikut nggak?" tanya Delia manja bergelayut mesra di lengan Farel dengan baju yang super duper menggairahkan dan membuat keimanan runtuh seketika.


Hana hanya mendenguskan wajahnya mencibir dengan jijik akan semua sifat Delia, "Kami mau ke kantor! Jika kami tidak kerja, memang kamu bisa makan enak gitu?" sindir Hana kesal.


"Kamu jangan begitu dong, Hana! Delia juga memiliki hak yang sama dengan kamu!" sanggah Maya.


"Apa yang aku bicarakan adalah fakta Tante! Memang kalau kami tidak kerja kalian bisa makan enak? Ingat, Tante itu sudah diceraikan oleh om Rahman! Siapa lagi yang akan memberi Tante kemerahan!" ketus Hana kesal.


"Kamu jangan lupa Hana, kamu juga pernah merebut Farel dari Emilia, bukan? Jika kamu tidak senang ya kamu minta cerai saja seperti Emilia!" ketus Maya.


"Kalian!" ucap Hana kesal tak lagi mampu berkata apa pun. Ia hanya diam saja tanpa tahu harus berkata apalagi, "Sudah! Sudah! Jangan bertengkar! Bila perlu kalian berdua aku ceraikan,  buat pusing saja!" ketus Farel kesal.


"Mas!" ujar Delia dan Hana serempak.


"Jika kalian ribut terus! Aku akan menceraikan kalian berdua, aku bisa kawin lagi! Sama-sama murahan saja pada ribut!" balas Farel, "kalian berdua tidak ada nilainya dibandingkan dengan Emilia!" ketus Farel.


Ucapan Farel menyakiti Delia dan Hana yang saling pandang, "Makanya kamu diam saja!" ketus Delia.


"Kau juga diam!" teriak Hana saling jambak dengan Delia. Membuat Maya dan Farel harus memisahkan keduanya.