
"Hahaha, kau hanyalah anak kemarin sore! Kau masih baru di kancah usahawan, tapi kamu sudah belagu. Selain itu, kamu hanya mengejar wanita sisaku!" ujar Farel.
"Kau! Sekali lagi, kamu menghina Emilia kau lihat, saja! Aku akan menghancurkan perusahaanmu, kau lihat siapa yang akan hancur!" ancam Deffri.
"Sudahkah Pak Dino, mari kita pulang!" ajak Emilia.
"Aku tidak suka mereka terlalu memandang remeh pada dirimu, aku bisa saja menghancurkan semua itu!" ujar Deffri dengan angkuh, "aku akan memulai dari usahaku dulu. Aku yang membangun dan aku juga akan mudah menghancurkannya," batin Deffri semakin kesal.
Tina menatap pasangan di depannya ia merasa sedikit heran, "Ada apa dengan mereka berdua? Mengapa Dino bisa berpaling dariku?" batin Tina, "mengapa Dino begitu membela wanita yang bernama Emilia?
"Sepertinya semua pria itu mengenal Emilia dengan begitu dekat. Apakah ada hubungan di antara mereka semua. Apalagi pria bernama Farel mengatakan, 'Jika Emilia adalah sisanya,' aku akan mencari tahu semua kebenaran ini.
"Aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan Dino menjadi milik Emilia. Aku sangat mencintai Dino," batin Tina berusaha untuk memahami apa yang sudah terjadi di sana.
Tina hanya menatap pasangan itu meninggalkan pesta pertunangannya, ia berharap seharusnya pesta pertunangan itu akan menjadi suatu kebahagiaan baginya dan Dino. Akan tetapi, Dino sama sekali tidak menginginkan pertunangan itu terjadi, "Ada apa sebenarnya ini?" batinnya bertanya.
Tina menghampiri Farel yang sedang duduk di salah satu Sopa, "Maaf, Tuan Farel, bolehkah saya duduk di sini?" ucap Tina menatap ke arah Farel, ia berharap jika Farel mengizinkannya untuk duduk ia ingin bertanya banyak hal mengenai Emilia.
"Silakan … Nona Tina," bales Farel.
"Bolehkah saya bertanya satu hal?" tukas Tina.
"Apa yang ingin Nona tanyakan?" tanya Farel menatap Tina yang sudah duduk di sampingnya.
"Sepertinya Tuan Farel mengenal Emilia?" Tina menatap ke arah Farel dengan tatapan tajam.
"Emilia adalah mantan istriku, jika Nona ingin tahu. Dan kami juga memiliki seorang anak lelaki bernama Keano," balas Farel menatap ke arah Tina.
"Apa? Jadi Emilia seorang janda!" Tina terkejut mendapati semua kebenaran tersebut, "aku tidak menyangka jika aku akan dikalahkan oleh seorang wanita berstatus janda," batin Tina.
"Setelah kami bercerai Emilia bertemu dengan Deffri dan mereka menikah, namun baru saja mereka menikah Deffri kecelakaan pesawat. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia bisa berkenalan dengan Dino," balas Farel.
"Oh, begitu!" tukas Tina.
Farel menatap ke arah Tina, "Sebaiknya aku komporin saja, siapa tahu gitu sedikit disiram bensin langsung meledak," batin Farel, "memang beneran, kamu ada hubungan dengan Dino? Lalu mengapa bisa batal acara pertunangan kalian itu? Bagaimana bisa?" tanya Farel penasaran.
"Aku juga tidak tahu," balas Tina, "sebenarnya papalah yang menyuruhku untuk mendekati Dino agar semua perusahaan Dino bisa diambil alih! Selain itu aku juga jatuh cinta padanya," ujar Tina jujur.
"Jika kamu mencintainya, ya ... kamu kejar dong! Jangan kasih kendor! Kamu tahu, Emilia itu adalah wanita murahan dan mudah menjerat pria-pria kaya. Aku takut jika Dino pun akan bertekuk lutut dengannya.
"Sebelum itu terjadi, kamu kejar aja Dino terus! Jangan mau mengalah dengan Emilia," balas Farel memanasi Tina.
"Benarkah?" tanya Tina langsung beringsut mendekat, "sialan, sebelum Emilia yang mendapatkan kekayaan Dino, aku harus maju terlebih dahulu," batin Tina.
"Bagaimana kalau Pak Farel bekerja sama denganku untuk menyingkirkan Emilia dan aku akan mengambil Dino menjadi milikku?" usul Tina.
"Um," Farel menoleh ke kanan-kirinya beringsut mendekati Tina.
"Boleh, saja! Kamu bisa mendapatkan Dino dan aku akan membalas dendam pada Emilia, ya … hitung-hitung kita mendapatkan apa yang kita inginkan," balas Farel tersenyum.
"Usul yang bagus sekali! Kapan kita jalankan rencana kita ini, Pak?" tanya Tina.
Jakun Farel kembang-kempis menahan hasratnya yang terlalu liar, "Gila benar! Gedenya hampir segede semangka, Bro!" batin Farel.
"Mas, kamu ini malah ngayal lagi! Gimana rencana kita?" ujar Tina merengek manja.
"Kemarilah," ajak Farel berbisik di telinga Tina.
"Sip! Aku setuju, besok kita jalankan rencana kita ini," balas Tina sumringah.
***
Emilia dan Deffri pulang ke apartemen, Emilia merasa kemarahan Deffri memuncak, "Deff, sudahlah … jangan dipikirkan! Kita akan mencari jalan keluarnya, apa sebenarnya yang telah terjadi?" ujar Emilia menepuk punggung Deffri, wajahnya sudah merah padam menahan amarah.
"Aku tidak tahu mengapa Papa juga ikut di dalam semua ini. Aku tidak menyangka! Mengapa papa sampai tega melakukan hal itu. aku memang tak pernah saling mengerti dan berbaikan dengan papa, tapi selama ini papa tidak pernah mencampuri urusan dan perusahaanku," ujar Deffri bingung.
"Bagaimana jika kita pulang ke Karangsari atau ke Riau? Untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan papa Budi. Jika kita tidak menyelidikinya kita tidak tahu ada apa? Selain itu aku curiga mengapa mereka bisa di satu ruangan dan mereka terlihat begitu akrab," jawab Emilia curiga.
"Kamu benar, Em! Rasanya aku sudah tak sanggup lagi." Deffri menarik napas panjangnya, ia benar-benar lelah.
Sesampainya mereka di apartemen, Deffri langsung meraih air mineral di kulkas dan meminumnya sampai habis. Emilia hanya memperhatikannya saja, "Dino benar-benar adalah Deffri," Emilia sudah mulai yakin.
Emilia mendekati Deffri langsung menyentuh punggung Deffri memeluknya dengan lembut, "Sabarlah, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu! Aku yakin ada hikmah dibalik semua malapetaka ini, Deff!" balas Emilia.
"Em, tolong biarkan aku menyentuhmu kali ini," ujar Deffri memegang kedua bahu Emilia.
"Ya," balas Emilia parau.
"Terima kasih," ujar Deffri langsung meraih tubuh Emilia merengkuh di dalam pelukannya.
Keduanya saling berpelukan lama, "Sudahlah, ayo istirahat!" ajak Emilia ia tahu jika Deffri begitu lelah.
"Bolehkah aku tidur denganmu?" tanya Deffri penuh pengharapan.
"Ayo!" balas Emilia.
Deffri langsung membopong Emilia menaiki tangga menuju ke kamarnya Emilia terperanjat, ia mendapati jika di kamar Deffri penuh dengan fotonya dan anak-anak terpampang di setiap dinding.
Deffri membaringkan Emilia di tempat tidurnya ia hanya memeluk Emilia hingga keduanya tertidur dengan pulas.
***
Sementara Ardhan, Farel, dan Budi masih berada di lobi hotel setelah acara pesta usai, "Mengapa Dino bersama dengan Emilia? Wanita ini selalu menjadi sandungan saja!" balas Budi kesal.
"Kau tahu ia berani sekali mengancamku! Aku akan membuat perhitungan dengannya," ucap Ardhan.
"Kalian, jangan berani menyentuh Emilia! Aku menginginkannya menjadi istriku kembali, ingat perjanjian kita. Jika kalian berani menyentuhnya, maka aku tak segan-segan membongkar aib kalian!" ancam Farel.
"Kalian benar-benar telah melenyapkan Deffri, bukan? Aku merasa jika Deffri masih hidup! Jika Deffri masih hidup habislah kita semua terutama diriku!" ujar Budi.