I Can Live Without You

I Can Live Without You
Bertahan dan melawan



"Baiklah, Bu. Emilia, pamit dulu!" ujar Deffri, ia memahami jika Emilia secara tidak langsung mengusirnya satu hal yang selalu dipahami olehnya, jika Emilia tidak menginginkan sesuatu ia selalu saja mencoba dengan cara halus menolak tanpa menyinggung perasaan orang lain untuk tidak mengeluarkan kata-kata sarkasme. Jika ia telah melakukannya itu artinya hatinya benar-benar hancur dan tersakiti.


"Terima kasih, Nak!" balas Asih. Emilia hanya diam saja, memandang Deffri pergi.


Semua orang memandang kepergian Deffri dengan bisik-bisik tetangga, "Ayo, Ma!" ajak Emilia. Ia sudah malas berlama-lama di serambi rumah, ia tidak ingin memberi kesempatan untuk wartawati lokal tanpa gaji mencari berita bak kumbang berdenging.


Emilia tidak lagi berselera makan, "Emilia, makanlah, Nak!" ujar Asih.


"Iya, Ma!" balas Emilia berusaha untuk tersenyum ia mencoba untuk menyuap nasi dan menemani mamanya walaupun nasi rasanya sudah menjadi duri ia melirik ke bangku di sebelahnya, dimana biasanya Keano berada. Kini, telah kosong melompong seperti hatinya yang tak lagi hidup.


"Besok, kita akan ke rumah Farel!" ujar Asih.


"Biar aku saja, Ma! Mama di rumah saja," balas Emilia, ia tidak ingin mama dan Farel akan bertengkar dan semakin kacau.


Semalaman Emilia tidak bisa memejamkan mata, ia masih terus menangis dengan memeluk baju Keano, "Kamu lagi apa, Nak?" batin Emilia. Bayangan wajah tampan nan  mungil yang selalu tertawa dan cerita itu selalu menari-nari di benak Emilia mengajaknya untuk mengenang segala perih di hati.


Keesokan pagi ….


Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai muslim dan memasak sarapan, ia dan Asih makan dengan diam, Emilia tahu jika Asih pun pastinya terluka, "Ma, aku pergi dulu, sekalian ingin menjemput Kiano," ujar Emilia.


"Hati-hatilah!" balas Asih.


Emilia tidak peduli jika lukanya masih terasa perih, ia mengendarai sepeda motor dengan kencang dan ingin segera tiba di rumah Farel. Ia melihat rumah impiannya bersama Farel kini, telah dihuni mantan suami dengan istri barunya, Emilia memencet bel. Namun, tak ada yang menjawabnya ia tahu Farel di atas balkon sedang mengamatinya dengan seringai kejamnya.


"Farel! Aku ingin bertemu Keano!" teriak Emilia.


"Pergi kau, wanita murahan! Aku tidak sudi, jika kau menginjakkan kaki di rumah ini. Haram bagimu untuk menginjakkan kaki di rumahku, aku lebih menyukai binatang najis yang datang ke rumah ini!" teriak Emilia.


"Farel! Keano adalah putraku juga! Bukankah kau yang mengatakan, 'Jika kita tidak memiliki keturunan?' apakah kau tidak ingat?" ujar Emilia.


"Aku tidak mengingatnya dan kau tidak datang ke persidangan bagaimana mungkin kau bisa tahu!" balas Farel, "kau hanya bersenang-senang dengan selingkuhanmu! Keano sendiri yang tidak ingin bertemu denganmu!" teriak Farel.


"Kau pasti bohong, Farel! Kau pasti mengancam Keano!" teriak Emilia.


"Kalau kau tidak percaya dengar sendiri. Keano!" teriak Farel.


Emilia melihat putranya berjalan dengan gontai menatap ke arah Emilia, "Katakan pada wanita murahan itu, untuk tidak menemuimu lagi!" ancam Farel.


"Mama, pergilah! Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi," ujar Keano berlari ke dalam rumah.


"Keano! Mama tahu Papamu yang telah mengancammu, bukan? Keano! Farel, biarkan aku bertemu dengan putraku!" teriak Emilia, mencengkeram erat pagar dengan perasaan kesal dan marah.


Keributan itu mengundang jiran tetangga berdatangan, "Ada apa, ini? Pagi-pagi sudah ribut!" kasak-kusuk mulai terdengar.


"Kalian lihat, wanita murahan itu! Demi seorang pria dia mencampakkan diriku dan memberikan putranya kepadaku dan sekarang, ia ingin memintanya lagi! Apakah wanita itu pantas disebut seorang Ibu?" ucap Farel.


"Farel! Bisa-bisanya kau selalu saja memutar balikkan fakta?" teriak Emilia mengepalkan tangan.


Ingin rasanya Emilia mencakar-cakar wajah mereka namun, itu semakin membuat Farel senang, "Usir saja, wanita murahan itu!" teriak seorang ibu lain lagi.


"Apa mungkin aku membuang darah daging yang kukandung?" teriak Emilia.


"Buktinya, kau berselingkuh! Kurang apa Farel! Syukurlah sekarang istrinya sangat baik sekali!" balas seseorang di sana. Emilia melihat Farel tersenyum puas melihat Emilia tersudut di sana.


"Pak Satpam! Jika wanita murahan itu muncul lagi, usir saja!" teriak Farel.


"Baik, Pak!" balas satpam, "maaf, Bu! Kami tidak bisa tidak melakukan tugas kami. Ibu tahu bagaimana sifat Bapak!" bisik mang Karjo dari balik teralis pagar stenlis. 


"Pulang saja, sana! Buat malu kaum perempuan saja," teriak Hana.


Emilia tak lagi sanggup ia langsung berjalan gontai mengendarai sepeda motor, meninggalkan kediaman Farel.


Sepasang mata memandang dari balik kaca mobil menatap ke arah Emilia, "Malangnya nasibmu, Em!" batin Deffri.


Ia mengendarai mobil mengikuti ke mana Emilia pergi, ia melihat jika Emilia pergi ke toko bajunya.


Ibu-ibu mulai bergunjing di sana, "Dasar wanita tak tahu malu! Bisa-bisanya dia mencampak  anaknya hanya demi seorang pria!" ujar Monic.


Emilia hanya menatap ke arah Monic, ingin rasanya ia mengadukan kelakuan bejat Monic, yang menjadi istri simpanan Ardhan kepada istri sahnya Azzahra. Namun, ia mengurungkannya, ia meninggalkan Monic dan beberapa ibu-ibu di situ.


Akan tetapi, mereka masih saja terus bergosip, "Dasar, wanita murahan! Ayo  jangan mau beli pakaian di tokonya, buat apa kita harus membuatnya memiliki duit, biar tahu rasa wanita murahan itu!" teriak Monic. Seketika hati dan amarah menyulut di sana, Emilia lelah terus-terusan dihina. Ia keluar dari toko menghampiri Monic dan ibu-ibu di sana, "Monic, aku tidak pernah mengurusi urusanmu! Aku harap kau tidak perlu mengurusi urusanku," balas Emilia.


"Dasar, wanita murahan!" teriak Monic.


"Sekali lagi, kau mengatakan hal itu Monic. Aku akan mengatakan kepada Azzahra mengenai siapa istri simpanan suaminya Ardhan dan kau! Akan menjadi gembel sekarang juga! Jangan pancing amarahku Monic!" teriak Emilia.


Membuat Monic terkesiap, "Coba saja kalau kau berani!" jawab Monic.


"Lihat, saja! Ada masanya kau akan menangis darah," balas Emilia.


"Hei, wanita murahan! Jangan sok mengancam orang lain! Urus saja dirimu!" teriak Miska.


"Urus saja, perselingkuhanmu dengan Amir! Aku harap suamimu dan istri Amir tidak tahu, Miska. Hotel mana saja yang kalian singgahi!" teriak Emilia.


Perkataan Emilia langsung membungkam mulut Miska semua orang menatap ke arahnya. Emilia masuk ke dalam tokonya, "Jangan kalian kira, aku diam aku tidak mengetahui semua sifat buruk kalian! Dasar, munafik!" umpat Emilia.


Jauh di relung hati Emilia sedikit pun  ia tidak ingin melakukan semua ancamannya, ia hanya membela diri. Walaupun ia tak lagi tahu, mana yang benar dan mana yang salah di dalam pembelaan dirinya kali ini.


Seminggu telah berlalu ….


Keano masih saja tidak bisa ditemui, ia selalu saja dihina dan dimaki bahkan pak satpam pun mulai marah padanya karena bolak-balik ke rumah Farel. Emilia semakin bersedih dan terpuruk kembali.


Asih melihat perubahan putrinya yang lebih banyak diam dan termenung, "Anak ini selalu saja pandai berpura-pura, ia selalu saja menyimpan sesuatu dengan sendirian. Selama 10 tahun, ini ia selalu terlihat bahagia di dalam rumah tangganya nyatanya semua itu hanyalah kebohongan semata," batin Asih bersedih, "besok aku akan menemui Farel."