I Can Live Without You

I Can Live Without You
Bertemu dengan Ibu Dino



"Hahaha, kamu bilang aku tidak punya hak? Aku masih mantan suaminya, sedangkan kamu? Kamu bukan siapa-siapanya!" tukas Farel mengejek Deffri yang dianggap adalah Dino.


"Sialan! Bangga banget wanita ini diperebutkan dua pria sekaligus!" umpat batin Tina kesal. Ia tidak menyangka jika kekasih dan kolega papanya benar-benar bertekuk lutut kepada seorang janda.


"Sayang Sekali! Emilia dan aku telah bertunangan jika itu yang kamu maksud," balas Deffri, "andaikan wajahku ini wajah milikku bukan pria bernama Dino, aku pasti akan sangat mudah membuat Farel tidak berkutik!" batin Deffri kesal.


Namun, Deffri tidak boleh banyak mengeluh. Bagaimanapun ka merasa ada hikmah di balik semua malapetaka yang menimpa dan rumah tangganya bersama Emilia.


"Paling tidak, kami merasakan kedekatan satu dan yang lain. Selain itu, kami benar-benar merasakan cinta yang sebenarnya bukan hanya keterpaksaan saja!" batin Deffri.


"Mas Dino? Kamu kenapa sih? Bukankah kita sudah pacaran cukup lama?" tanya Tina.


"Maaf Tina. Aku tidak ingat kita pernah pacaran. Lagian, aku pun baru mengenalmu dari mana kami bisa berpikir kita pacaran? Aneh! Atau apakah kamu berpikir akan bisa menarik simpati dan berusaha mengambil sesuatu dariku?" balas Deffri kesal.


"Mas kamu tega sekali!" ujar Tina marah.


"Jika benar kita pernah berpacaran, aku ingin tahu apakah kamu tahu siapa dan di mana keluargaku?" tanya Deffri.


"Tentu saja aku tahu!" balas Tina.


"Baiklah, bawa aku ke sana! Jika kamu memang benar-benar kekasihku!" balas Deffri sengaja memancing kemarahan Tina untuk mengikuti semua keinginannya, "aku harap Tina benar-benar terpancing. Jika tidak sia-sia pertengkaran kami," batin Deffri kecut.


"Aku pasti akan membawamu ke sana. Ayo, sekarang juga!" ajak Tina.


"Ayo, siapa takut! Ayo, Em. Aku ingin membuktikan apa benar ucapannya," ujar Deffri, "aku hanya tidak ingin berduaan dengan wanita ini. Mengerikan sekali, bisa-bisa aku yang akan jadi setannya!" batin Deffri memandang tubuh indah Tina hanya berbalut beberapa lembar kain yang tidak pantas disebut kain melainkan pakaian yang kekurangan bahan.


"Em, biarkan mereka merajut cintanya. Ngapain kamu ikut? Memang kamu mau menghancurkan kisah cinta mereka?" sindir Farel.


"Um, aku bercermin dari kehidupan dirimu dan keluargamu! Aku rasa hal itu diperlukan juga. Aku lakukan berdasarkan atas nama cinta!" balas Emilia, "sialan! Jika bukan karena dia Deffri aku pun tidak akan sudi menjadi pelakor," batin Emilia meninggalkan Farel beserta Janti dan Sudibyo.


"Aku ikut!" ujar Farel melesat berjalan sejajar dengan Emilia.


Deffri dan Emilia saling pandang, "Mengapa Bajingan itu ikut?" batin Deffri.


"Mana aku tahu? Jangan-jangan mereka berdua bersekongkol," balas batin Emilia seakan kedua nya bertelepati.


"Ya, sudahlah! Makin rame semakin bagus!" lanjut batin Deffri.


"Ya, kamu benar. Jangan khawatir, aku masih dan selalu mencintaimu Deff," batin Emilia menatap Deffri berwajah Dino dengan sebuah kerinduan.


Mereka berempat memasuki mobil Deffri, "Emilia kamu duduk di depan saja!" ucap Deffri.


"Aku yang di depan! Dia tidak akan tahu rumah keluarga Dino," ujar Tina ketus.


"Biarkan sajalah, Mas Dino! Yang penting hatimu dan hatiku masih terpaut!" balas Emilia berusaha memanasi Farel dan Tina.


"Huek, najis! Dasar pelakor!" balas Tina.


"Pelakor itu, jika seorang wanita yang merebut suami orang. Lha, kamu saja belum nikah. Malah pacar yang kamu akui saja nggak ngakuin kalau kamu itu kekasihnya," balas Emilia santai duduk di jok belakang bersama dengan Farel, "dari mana aku bisa disebut pelakor.


"Em, kamu mengapa banyak berubah sih? Ada apa sebenarnya? Kamu seperti bukan dirimu lagi," tukas Farel menatap ke arah Emilia yang menurutnya tak seperti Emilia yang dikenalnya selama 12 tahun.


"Setiap orang berubah seperti rasa cinta yang telah banyak berubah Farel. Kamu saja yang tidak menyadarinya. Kamu malah beranggapan aku selalu mencintaimu. 


"Rasa cintaku kepadamu sudah hilang semenjak kau berselingkuh dengan Hana," balas Emilia, "dan aku tidak akan kehilangan Dino seperti aku kehilangan Deffri lagi," balas Emilia dengan penuh keyakinan.


"Demi seorang pria kamu mengejarnya sampai sejauh ini, Em! Lalu kamu menelantarkan Keano dan putrinya Deffri hanya karena seorang Dino?" tanya Farel tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh seorang Emilia.


"Ya, mengapa tidak? Buktinya kamu saja demi Hana bisa menelantarkan aku dan Keano. Apalagi sekarang aku memiliki papa Rahman yang selalu peduli dengan anak-anak, aku tidak sulit untuk hal itu!" balas Emilia penuh keyakinan.


Ia tak peduli lagi jika semua orang akan mencapnya sebagai wanita murahan atau apa pun ia hanya ingin mengejar kembali cintanya bersama Deffri dan ingin mencari kebenaran dibalik semua musibah yang melanda rumah tangganya.


"Wajarkan, jika aku mengejar dan mempertahankan suami dan keutuhan rumah tanggaku?" batin Emilia.


"Kamu benar-benar gila!" umpat Farel tidak senang, "ada apa sebenarnya dengan Emilia? Mengapa dia begitu mencintai Dino? Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Baru kemarin dia begitu mencintai Deffri hingga tak bergeming


"Lalu mengapa Emilia begitu mudahnya berpaling dari Deffri? Apakah cinta benar-benar telah hilang di hati dan perasaan Emilia?" benak Farel termenung.


Deffri hanya terdiam jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu bahagia dicintai dengan begitu luar biasa oleh seorang Emilia, "Terima kasih, Sayangku! Aku berharap semua ini agar cepat berakhir, aku ingin bersamamu dan memeluk dirimu!" batin Deffri dengan penuh kasih sayang.


Mobil telah meluncur berbelok memasuki sebuah rumah di salah satu sudut Kota Bandung yang terpencil. 


"Ayo, turun ini rumah keluarga kamu!" ajak Tina.


"Deffri dan ketiganya langsung turun dari mobil dan memasuki pekarangan rumah sederhana, "Assalamualaikum!" ujar Deffri.


"Waalaikumsalam!" seorang wanita membuka pintu dan terperanjat melihat wajah Dino di sana, "Di-dino?" teriak ibu tersebut.


"Maaf Bu, saya tidak tahu apakah saya salah atau benar. Saya lupa ingatan jadi saya ingin mengetahui kebenaran tentang diri saya," ujar Deffri berpura-pura, "apakah telah ada yang terjadi?" batin Deffri melihat keterkejutan di mata wanita tersebut.


"Mari masuk, Nak!" ujar ibu tersebut dengan linangan air mata, "bolehkah Ibu memelukmu?" tanya Ibu tersebut.


"Tentu saja, Bu!" ujar Deffri memeluk ibu tersebut.


"Apa yang pengen kamu ketahui, Nak?" tanya sang Ibu dengan mengamati wajah Deffri.


"Saya mau tahu apa benar saya putra Ibu dan Tina ini adalah pacarku, Bu? Dan saya juga mau tahu nama Ibu siapa?" cecar Deffri.


"Nama Ibu adalah Umi, benar kamu adalah putraku, dan Tina adalah teman dekat kamu. Tapi Ibu tidak tahu sejauh apa kalian pacaran," ujar Umi tidak begitu senang dengan kehadiran Tina.


"Lalu mengapa aku tidak bisa mengingat Ibu? Bolehkah aku menginap di sini bersama dengan tunangan saya Emilia?" tanya Deffri.


"What! Lalu bagaimana dengan kami?" teriak Tina dan Farel.


"Kalian pulang naik taksi, gitu aja kok repot!" balas Emilia ketus.