I Can Live Without You

I Can Live Without You
Mata terbuka bukan mata tertutup



"Mas! Jangan aneh-aneh, ah!" balas Emilia tercekat menatap wajah Dino di sana.


"Maafkan aku!" balas Deffri ia melihat kilatan ketakutan di wajah Emilia. Ia tahu jika Emilia belum sanggup untuk melakukan hal lebih bersama Deffri karena wajahnya. Deffri sedikit menjauh dari tubuh Emilia walaupun ia ingin sekali memeluk istrinya.


"Maafkan aku, Mas! Aku masih belum bisa untuk melakukannya," balas Emilia merasa bersalah.


Deffri menghela napasnya, "Ya, kamu benar! Aku tahu apa yang kamu rasakan. Andaikan aku diposisi kamu pun aku pasti melakukan hal yang sama. Sudahlah," balas Deffri tersenyum.


"Terima kasih, lalu bagaimana cara kita untuk menguak tabir ini? Tidak mungkin selamanya kita akan seperti ini, Mas!" ujar Emilia menatap Defri.


"Aku sudah merencanakan segalanya, kamu tahu aku memiliki akses untuk masuk ke perusahaan melalui semua data perusahaan dan keuangan. Hanya saja mungkin karyawanku akan sedikit kacau, mungkin perusahaan akan bangkrut.


"Jika aku tidak melakukan hal itu maka papa Budi akan semakin semena-mena," papae Deffri.


"Lalu bagaimana caranya?" ucap Emilia.


"Aku akan membuat perusahaan bangkrut. Mereka tidak mengetahui segala hal yang aku rahasiakan mengenai perusahaan, aku akan memindahkan segala hutang fiktif perusahaan Deffri kepada perusahaan Jaya Mandiri atas nama Dino, lihat sajalah!


"Hanya saja aku membutuhkan kerja sama dengan Azmi dan Sandi," ucapnya.


"Aku sudah menghubungi mereka Mas, tapi sebaiknya kita akan pulang ke Karangsari. Jika tidak mereka akan semakin curiga dengan banyak hal, tapi apakah dulunya antara kamu dan papa kamu selalu bertengkar? Masa kamu tidak memahami sifat papa kamu, sih?" tanya Emilia bingung.


"Aku dan Papa sudah sejak lama tidak pernah berhubungan dengan baik, sejak dia menikah lagi," balas Deffri, "tapi Papa tidak pernah turut campur dengan semua usaha dan perusahaan milikku," balas Deffri. Ia pun sedikit curiga dengan keadaan dan sifat papanya.


"Em, apakah kamu menyesal dengan menikahiku?" tanya Deffri.


"Mengapa kamu bertanya demikian, Mas?" balas Emilia bingung.


"Bukan, seharusnya aku memberikan kebahagiaan bukan penderitaan kepadamu. Tapi, aku malah memberikan banyak masalah untukmu," ujarnya.


"Jangan khawatir aku tidak akan menyesali semua apa yang telah aku lakukan. Aku menikah denganmu dengan mata terbuka bukan mata tertutup!"  balas Emilia menatap wajah Deffri.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah mengurus anak-anak dengan baik, aku sangat merindukan mereka berdua aku hanya bisa melihat keduanya dan kamu dari jauh. Selain itu, aku yakin anak-anak pasti sangat takut denganku!" ujar Deffri mengeluh.


"Jangan khawatir, pelan-pelan saja! Nanti aku akan berusaha untuk mendekatkan kalian, tenang saja!" balas Emilia.


"Terima kasih Sayang, boleh nggak kalau aku tidur lagi denganmu, Em?" tanya Deffri penuh harap.


"Um, boleh!" ujar Emilia, "tapi, Mas. Aku ingin pulang besok, sekaligus aku berusaha untuk mencari tahu apa yang mereka rencanakan sebenarnya. Aku penasaran!" ucap Emilia.


"Aku ikut!" ucap Deffri.


"Bagaimana dengan perusahaanmu di sini Mas?" tanya Emilia bingung.


"Tenang saja! Lagian aku sudah ingin melihat kebangkrutan perusahaanku sendiri yang dipegang oleh papa! Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya … mengapa seorang papa begitu tega melakukan semua itu pada anaknya?" tukas Deffri penasaran.


"Aku penasaran siapa sebenarnya Dino? Sebaiknya … kamu bersandiwara untuk mendekati Tina, Mas. Agar kebenaran sedikit demi sedikit terungkap!" balas Emilia.


"Tapi aku risih dengannya. Memang kamu nggak marah dan cemburu jika aku berdekatan berdua dengannya gitu?" tanya Deffri menatap ke arah Emilia bingung.


"Tidak! Jika itu untuk mengetahui banyak rahasia. Kecuali jika kamu memang beneran main gila ya, aku pasti marah Mas!" ujar Emilia.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Kamu tahu jika di hidupku aku hanya berhasil dengan dua wanita yaitu kamu dan Afiqah saja," ujar Deffri bingung.


"Cobalah untuk mengetahui siapa sebenarnya Dino, Mas!" ucap Emilia,


"Bukankah aku sudah bilang jika kamu sedang amnesia? Coba besok kamu dekati Tina," kanjut Emilia.


"Kamu ikut dong! Aku geli liatnya bayangkan bukit kembarnya aja hampir meledak begitu!" ujar Deffri.


"Serem tahu! Bayangkan saja gedenya, tapak tanganku nggak muat tahu! Kayak ngukur kelapa aja," ujar Deffri membayangkan kukuran kelapa.


"Hahaha, dasar kamu ini!" balas Emilia mencubit pinggang Deffri.


"Aku lagi pengen ini. Bokeh, dong! Ntar kalau aku dekat dengan Tina dan aku tergoda karena kurangnya pelayanan kasih sayang dari kamu bagaimana, Em?" ucap Defri.


"Idih, kamu ini genit banget, tahu!" balas Emilia.


"Yee, kali aja!" tukas Deffri.


"Ntarlah, Mas. Aku belum sanggup!" balas Emilia, "pelan-pelanlah dulu Mas. Ada masanya nanti," ujar Emilia.


"Iya, deh! Tapi jangan kelamaan, nggak tahan tahu!" balas Deffri merajuk.


"Iya, sabar Mas!" ujar Emilia tersenyum memeluk Deffri, "ayo, tidurlah," balas Emilia memeluk Deffri.


***


"Mama!" ujar Farel menegur Janti yang keluar dari kamar Sudibyo.


"Fa-farel?!" Janti terperangah tidak menyangka jika putranya akan mendapati dirinya di hotel, "aku harap Farel tidak tahu mengenai Sudibyo," batin Janti menarik putranya menjauh dari kamar tersebut.


"Mama ngapain di sini?" tanya Farel mencoba untuk mengorek kejujuran dari Janti.


"Mama ada urusan bisnis dengan kolega Mama," balas Janti sekenanya, "kalau kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Janti memperhatikan putranya.


"Sama, ada urusan juga, Ma!" balas Farel.


"Oh, kebetulan hari ini Mama ingin mengenalkan kamu pada kolega Mama dan … ya kami akan bekerja sama di dalam usaha yang baru Mama rintis," balas Janti tersenyum, "ayo, makan!" ajak Janti kala pelayan restoran membawa nampan makan.


"Oh, begitu! Kapan Mama pulang ke Karangsari?" tanya Farel menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Um, belum tahulah! Mungkin seminggu lagi atau bukan depan!" ujar Janti sekenanya.


"Oh," hanya itu yang bisa diucapkan Farel, "apa etis ya, jika aku bertanya ada hubungan apa antara Mama dan Sudibyo?" batin Farel bingung.


"Janti kamu pergi meninggalkanku begitu saja, ternyata kamu makan di sini Sayang!" ujar Sudibyo menghampiri meja mereka.


"Eh, a-anu Mas. Ini anakku kenalkan!" ujar Janti sedikit tergagap.


Farel dan Sudibyo saling pandang, "Farel?!" ujar Sudibyo terperanjat.


"Pak Sudibyo?" balas Farel.


"Kalian saling kenal begitu?" tanya Janti bingung.


"Ya, kami saling bekerja sama di dunia bisnis. Kamu nggak ngomong soal putra kamu, Janti?" tanya Sudibyo.


"Eh, kamu nggak nanya!" balas Janti sekenanya, "aduh, gimana ini? Jika Farel tahu apa yang kamu lakukan?" batin Janti bingung. 


"Mama dan Pak Sudibyo sudah cukup lama kenalkah?" tanya Farel penasaran.


"Lama, bangetlah! Sekitar 10 tahunan begitu," ujar Sudibyo jujur.


"Aduh, mati aku!" batin Janti. Ia mulai merasa mati kutu jika Farel  tahu perselingkuhannya bersama dengan Sudibyo, "eh, bukankah itu Emilia?" tukas Janti melihat Emilia dan Farel menuju meja di depan mereka.


Farel dan Sudibyo menoleh ke arah Emilia dan Farel, "Ya, mereka juga datang tadi malam ke acara pertunangan Tina. Tapi, sialan itu telah membuat malu putriku! Dia menolak bertunangan dengan Tina hanya karena wanita itu!" ujar Sudibyo sedikit marah.