
Prang!
Serpihan kaca berhamburan di lantai, Maya, Janti, dan kedua istrinya langsung terdiam. Mereka tidak menyangka jika Farel akan melakukan hal itu, "Farel … mengapa kau melakukan hal ini, Nak?" tanya Janti bingung dan terkejut. Selama ini ia tidak pernah mendapati jika Farel sampai melakukan hal itu.
Farel hanya membentak dan mengatakan kata-kata pedas dan sindiran dia tidak pernah membanting barang, "Aku sudah bosan dengan tingkah laku kalian! Dulu, aku sangat bahagia dengan pernikahanku bersama Emilia tapi karena ulah Mama dan Hana aku kehilangan kebahagiaanku.
"Aku begitu bodoh mempercayai kalian! Engkau adalah Mamaku tapi engkau tidak selayaknya bersikap seperti seorang Mama! Setiap orang tua selalu berharap kebahagiaan buat anak-anaknya. Tapi, mengapa Ma? Engkau malah memberikan neraka buatku?" ujar Farel meneteskan air mata.
Ia yang selama ini selalu keras kepala sekarang tak lagi sungkan untuk meneteskan air mata, ia merasa segalanya telah menyiksanya. Jiwa raganya telah lelah, ia ingin pergi menjauh sejauh-jauhnya dari orang-orang yang berada di depannya.
"Dan bagi kalian berdua! Aku akan menceraikan kalian jika kalian tidak bisa bersikap manis! Ingatlah itu!" ujar Farel meninggalkan rumah mengambil kunci mobil dan pergi.
"Mas! Maafkan aku, Mas! Jangan pergi," mohon Hana.
Delia hanya terdiam, ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Farel. Tapi ia tak ingin menahan Farel ia ingin Farel menyadari semua kesalahannya, Delia hanya terdiam dan ingin naik ke lantai atas.
"Semua ini gara-gara kau, Delia! Jika kau tidak ada, Mas Farel tidak pernah sekasar ini," cecar Hana ingin menjambak rambut Hana.
"Apa? Bukankah jelas-jelas Farel mengatakan semua ini adalah kesalahanmu dan Mama Janti? Aku hanyalah korban dari rentetan masalah yang kalian lakukan!
"Jika kalian tidak memisahkan Farel dan Emilia, aku juga tidak akan mungkin berada di sini! Apakah kau tidak ingat, yang memberikan ide tersebut siapa? Farel bukan? Semua itu karena apa?
"Karena dia tidak ingin jika Emilia menikahi Deffri! Ia masih ingin kembali kepada Emilia hingga ia ingin menjebakku dengan Deffri. Kalianlah yang telah membuatku terperangkap di dalam semua ini? Aku akui, saat Farel menggodaku itu aku sambut karena aku ingin membalas dendam dengan apa yang kau lakukan padaku dan Albert.
"Jika kau tidak serakah dan mau harta saja, semua ini tidak terjadi! Aku sudah berbahagia bersama dengan Albert! Aku ingin kau merasakan putus asa kala kau membawa Albert ke tempat tidurmu di saat malam pernikahanku, hingga Albert kecelakaan bukan? Jika bicara soal kekejaman, aku rasa kaulah yang kejam dan patut disalahkan," hardik Delia.
Hana terdiam, "Sudahlah! Bagaimanapun kalian berdua adalah menantuku! Kalian harus akur, jika tidak aku tidak tahu bagaimana lagi. Kemungkinan Farel akan kembali pada Emilia!" ujar Janti berusaha untuk menangani segala macam pertengkaran antara kedua menantunya.
"Ma, semua ini adalah kesalahanmu! Jika kau membiarkan Farel berbahagia dengan Emilia, semua ini tak akan terjadi. Walaupun kami berusaha semanis mungkin, tapi cintanya hanyalah pada Emilia, Ma! Kau harus tahu itu.
"Dan Mama," lanjut Delia menatap ke arah Maya, " jika dari dulu Mama bersikap adil dan sayang pada kak Afiqah, aku rasa papa Rahman tidak akan menceraikanmu! Tapi, semua ini karena apa, Ma? Karena Harta! Kalian gila hanya karena harta," ujar Delia marah ia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.
Delia sudah merasa jika semua balas dendam yang dilakukannya tidak membuahkan hasil malah sebaliknya pertengkaran kerap terjadi dan ia benci akan hal itu, "Aku rasa aku menyesali semua ini! Apa yang harus aku lakukan?" batin Delia mulai galau.
Air mata mengalir, "Albert …, " lirihnya ia mengambil foto mungil dari balik dompet foto pertunangannya bersama dengan Albert yang sangat ia dicintai.
***
Sementara di kamar sebelah, Hana masih menangis pilu, " Mengapa Farel tak pernah bisa mencintaiku? Aku benar-benar mencintainya! Apakah pengorbananku masih kurang dibandingkan dengan Emilia? Apa sih, istimewanya Emilia?" ujarnya di sela isak tangisannya.
Tok! Tok!
"Masuk!" ucapnya sembari menyeka air mata.
"Aku tidak menyangka jika Farel tak pernah bisa mencintaimu, Nak!" ucap Janti.
"Lalu aku harus apa, Ma?" tanya Hana menangis di pangkuan Janti.
"Kita akan memikirkan bagaimana caranya agar menyingkirkan Delia dan Emilia!" ucap Janji.
"Apa?" Hana terperanjat ia tidak menyangka jika Janti sampai berpikir hal sekejam itu.
"Ya, kita harus menyingkirkan mereka. Jika kau memang ingin memiliki Farel seutuhnya, jika Emilia dan Delia lenyap dari muka bumi ini, maka kau akan memiliki Farel karena Farel tidak akan mungkin bisa kembali kepada Emilia jika ia sudah mati," ucap Janti.
"Ma, mengapa kau begitu ingin menyingkirkan Emilia? Apa salah Emilia Ma?" tanya Hana tidak mempercayai dengan apa yang didengarnya.
"Semua ini karena 13 tahun yang lalu …." ujar Janti lirih
***
Dua belas tahun silam ….
"Mama, ingin kamu nikahi Dahlia, Farel! Dia adalah gadis yang sangat baik dan penurut!" ujar Janti saat makan malam bersama putranya, sementara suaminya telah lama berpisah dengannya. Sehingga ia harus membesarkan putranya seorang diri, "Aku akan bertekad untuk menjodohkan Farel dengan Dahlia putri dari Tuan Yahya," batin Janti.
"Ma, ini bukanlah zaman Siti Nurbaya! Masa pakai jodoh-jodohan?" tanya Farel bingung.
"Mama sudah berjanji pada Tuan Yahya untuk menikahkan kamu dengan putrinya, aku berharap jika kamu menikahinya segala kebaikan Tuan Yahya akan terlunaskan, Nak!
"Kamu harus ingat Tuan Yahya dan keluarganyalah yang telah menolong kita dari kamu kecil," ucap Janti.
"Tapi, Ma!" balas Farel enggan untuk menikahi Dahlia yang manja dan tak tidak tahu kerjaan apa pun.
"Farel, Mama tak ingin kamu menjadi anak durhaka!" tatap Janti.
"Baiklah!" jawab Farel dengan berat hati, walaupun ia sangat tidak menyukai Dahlia.
Keesokan harinya Janti dan Farel pergi ke rumah Tuan Yahya, tetapi saat di jalan mereka melihat Dahlia dan Emilia sedang berbicara serius, "Siapa teman Dahlia itu?" batin Farel menatap ke arah Emilia.
Farel masih menatap ke arah Dahlia dan Emilia, kemudian seorang pemuda menghampiri keduanya. Namun, Janti tidak lagi peduli ia merasa itu adalah teman Dahlia kuliah.
Mereka memasuki rumah Tuan Yahya yang kaya raya di Kota Karangsari. Tuan takur yang memiliki ribuan hektar tanah, "Aku ingin menikahkan Farel dengan Dahlia, karena aku akan menjadi orang terpandang dan Farellah yang akan mewarisi semua kekayaan dari Tuan Yahya!" batin Janti sumringah.
"Janti jadi kamu ingin melamar putriku Dahlia, begitu?" tanya Yahya dengan senang.
"Iya, Tuan!" balas Janti sedikit takut jika lamarannya akan ditolak.