
Keano hanya terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apalagi, "Cukup sekali ini aku mempercayaimu, Pa. Tidak akan pernah lagi. Sampai kapan pun," ucap Keano duduk diam di kursinya. Memandang lurus ke depan.
"Terserah kepadamu, Keano! Demi kebaikan kamu dan semua orang, aku tidak suka sikap mama kamu," balas Farel dengan angkuhnya, "aku sudah bilang sama Mama kamu agar tidak usah bercerai tapi ia selalu saja ngotot mau cerai. Inilah akibatnya," lanjut Farel.
Keano hanya diam saja, ia tidak mengerti akan banyak hal yang ia tahu Farel begitu jahat kepada mamanya Emilia.
***
Sementara Emilia masih menunggu kedatangan Keano, "Mengapa Keano beli pulang? Padahal ini hari senin dan ia harus sekolah," batinnya ia bolak-balik melihat ke pintu berharap Farel mengantarkannya. Berulang kali ia melihat ke pergelangan tangan, waktu telah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Ia mencoba untuk menelepon Farel namin diluar jangkauan, "Farel ke mana sih? Apa dia sudah mengantar Keano ke sekolah?" batin Emilia mengambil kunci dan tas selempang menuju ke sekolah Farel namun gurunya mengatakan jika Farel belum masuk sekolah.
"Jadi, Keano bekim datang Bu?" tanua Emilia pada Kartika.
"Belum, Bu."
"Baiklah, Bu. Saya akan coba datang ke rumah papa Keano," ujar Emilia kembali mengendarai sepeda motornya ke rumah Farel sesampainya di sana ia tidak melihat satu orang pun malahan di pintu pagar tertulis, "Rumah ini dikontrakkan!"
"Apa maksud semua ini?" batin Emilia langsing menelepon Farel.
~Emilia
[Halo, Farel! Hari ini waktunya Keano sekolah. Mengapa dia belum pulang juga?]
~ Farel
[Keano tidak akan sekolah di Karangsari lagi. Kami sudah pindah dan kamu tidak perlu tahu kami di mana, kecuali jamu mau rujuk denganku,]
~Emilia
[Kamu gila! Keano juga istriku, Farel! Jangan kamu lakukan semua ini. Aku mohon ….]
~Farel.
[Mengapa saat bercerai dulu kamu tidak memikirkan semua itu,, Em? Sekarang nikmatilah kehidupan barumu. Kamu bebas menikah dengan siapa pun tapi … jangan harap kamu bisa menemui Keano lagi!]
Tut! Tut! Tut!
"Farel, sialan!" teriak Emilia bersedih, air mata berderai ia tidak menyangka jika Farel benar-benar menghukum dirinya, "Ya Allah! Engkau memberi cobaan apalagi? Tolong, jangan pisahkan aku dan Keano," rintih Emilia jatuh terduduk di depan pagar rumah impiannya bersama Farel dengan memegang terali pagar.
Ia menangis di sana, "Ada apa Emilia?" tanya salah satu tetangga.
"Tidak apa-apa!" balas Emilia. Ia sudah tidak lagi mempercayai siapa pun, ia tidak ingin semua orang akan berteriak senang atas penderitaannya selama ini.
"Bersabarlah, tidak semua ikut memojokkan kamu. Ibu tahu perasaan kamu, Nak!" ujar Bu Ningrum.
"Makasih, Bu!" balas Emikia dengan derai air mata yang semakin tak terbendung lagi.
Ningrum memapah Emilia untuk berdiri, "Sabarlah, ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi. Apalagi ulah si Farel?" tanya Ningrum.
"Ya Allah, Em! Yang sabarlah Nak, aku tidak menyangka jika Farel mampu melakukan hal itu," balas Ningrum memeluk Emilia yang semangkin menangis sedih.
"Iya, Bu! Farel memang keterlaluan," balas Emilia.
"Sudahlah, Nak. Hidup terus berjalan, percayalah yang namanya anak suatu saat akan mencarimu juga. Yakinlah, apalagi hanya terpisah karena dipaksa itu tak 'kan ada gunanya. Dia pasti akan mencari ibunya di mana pun kamu berada Nak," ujar Ningrum.
"Benarkah, Bu?" tanya Emilia menatap wajah Ningrum. Emilia merasa hidupnya begitu hampa tanpa kehadiran Keano, baginya Keano adalah satu-satunya hal yang sangat luar biasa yang pernah dimilikinya. Namun, kini harus terpisah darinya. Emilia merasa sebagian jiwanya telah hancur dan hilang.
"Aku masih kuat menjalani kehidupan ini, bila Keano masih ada di sisiku Bu. Tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi, bagaimana aku bisa menghadapi kehidupan ini, Bu?" lirih Emilia menatap Ningrum dengan derai air mata.
"Halah, tangisanmu. Paling tangisan buaya," ujar Monic yang entah sejak kapan berada di sana memperhatikan keduanya saling berangkulan, "bilang saja, kamu senang jadi bisa menikah lagi," ejek Monic.
"Monic, kamu nggak boleh ngomong begitu. Kamu juga nggak tahu masa depan kamu akan seperti apa ke depannya," nasihat Ningrum.
"Halah, aku tidak akan setolol, Emilia! Apa salahnya jika dimadu, yang penting duitkan?" ujarnya.
"Kamu tidak tahu apa pun mengenai kehidupan rumah tanggaku, Monic. Jadi, kamu tidak bisa menghakimiku saja," sanggah Emilia dengan derai air mata.
"Oh, karena kamu bisa cari duit jadi seenaknya saja, begitu? Pria juga butuh kasih sayang, apa kamu memberikan kasih sayang itu kepada Farel? Tidak bukan? Kamu hanya sibuk dengan urusanmu, saja!" balas Monic tak kalah sengit.
"Sudah! Sudah! Jangan bertengkar lagi, Monic pulanglah ke rumahmu. Urus saja Ardhan. Aku takut jika Siska tiba-tiba datang dan mencakarmu!" ujar Ningrum.
"Tentu saja, aku mau pulang! Najis, tahu. Lihat wanita seperti ini," balas Monic berlalu dengan mencibirkan bibir merah bak cenil.
"Jangan terlalu dipikirkan Emilia. Monic memang keterlaluan," hibur Ningrum.
"Iya, Bu! Apakah aku harus rujuk kembali dengan Farel, Bu?" tanya Emilia.
"Apa kamu sanggup Nak? Jika kamu sanggup lakukanlah, tapi … jika tidak itu akan menjadi bumerang dan dosa, Nak. Jika kamu tidak ikhlas menjalaninya bagaimana?" tanya Ningrum memandang ke wajah Emilia yang masih bersimbah dengan air mata.
"Entahlah, Bu. Aku hanya tidak bisa hidup tanpa Keano, Bu. Aku rela melakukan apa saja, demi Keano," balas Emilia.
"Sholatlah, Nak! Meminta kepada-Nya, karena hanya Allah yang mampu memberikan segala-Nya," nasihat Ningrum bijaksana.
"Emilia kembali memeluk Ningrum, "Terima kasih, Bu!" balas Emilia.
Keduanya berpisah, Emilia ke toko dan naik ke lantai atas menangis sejadi-jadinya. Ia merasa separuh jiwanya telah pergi meninggalkannya, "Aku tidak mengapa jika menjadi janda, tapi tolong … jangan ambil putraku! Kau tega sekali Farel," batin Emilia menangis sedih.
Seminggu telah berlalu Emilia benar-benar bagaikan mayat hidup tubuhnya kurus kering, ia tidak tahu lagi harus bagaimana, ia bersembunyi di kamar gelap tidak lagi peduli dengan banyak hal. Urusan toko diserahkannya kepada Mira yang cekatan dan mengerti akan prahara batin Emilia.
Deffri berulang kali mengetuk pintu kamar dan Emilia di toko tetapi Emilia tidak bergeming sama sekali ia tak lagi membuka pintu rumah dan kamarnya. Mahroni dan Deffri telah mencari informasi ke mana Farel membawa Keano. Namun, semuanya buntu, Farel benar-benar menghilang dari dunia tertelan bumi.
"Em, bukalah! Makanlah dulu, jika kamu tidak makan, bagaimana kamu bisa mencari dan mengambil keputusan di mana Keano berada? Lagian mau sampai kapan, Em? Kamu jangan gila!" ucap Deffri di balik pintu kamar.
Mira hanya memandang apa yang dilakukan oleh Deffri, "Ayo, kita tinggalkan mereka berdua," ajak Mahroni.