
"Em, ini aku! Percayalah! Untuk apa aku membohongimu, selama ini aku hidup dengan mengandalkan ini," ujar Deffri, membuka dompet pemberian Emilia saat dirinya ulang tahun yang ke-36 tahun. Di sana terselip foto keluarga mereka dan memperlihatkan semua ATM atas nama Emilia, Keano, Deffri, dan Amara.
"Bagaimana kamu bisa memiliki semua ini? Aku sendiri tidak tahu jika Deffri membuat semua ini?" tanya Emilia bingung.
"Awalnya aku berniat membuat semua ini, untuk kalian jika kelak aku meninggal atau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kalian masih bisa bertahan hidup hingga anak-anak besar dan bekerja! Siapa sangka akulah yang memakainya," balas Deffri.
Emilia hanya mampu terduduk di sebuah kursi tanpa tahu harus bagaimana lagi. Ia ingin berlari memeluk Deffri tapi ia masih ragu, "Apakah mungkin dia adalah Deffriku?" batin Emilia bingung, ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia tak mengerti segala bukti yang didapatinya benar-benar sesuai.
Deffri hanya duduk di seberang Emilia, "Maafkan, aku! Selama 6 bukan ini aku bingung bagaimana caraku untuk kembali kepadamu dan anak-anak," lirih Deffri, "apalagi aku melihat papa Budi begitu serakah menguasai semua harta milikku yang aku cari dengan hasil keringatku sendiri, sementara mertuaku sendiri papa Rahman begitu bersahaja melindungi kalian," lanjut Deffri.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Pak Dino, eh Mas …." Emilia bingung, harus bersikap bagaimana, ia tak yakin jika pria di depannya adalah Deffri, "besok aku akan tes DNA saja di rumah sakit, aku sangat yakin tes sidik jari atau apalah yang bisa membuat segalanya menjadi nyata," batin Emilia.
"Begitulah yang aku rasakan!" balas Deffri, "bagaimana jika besok kita mengoperasikan wajahku lagi dan mencari kebenaran itu?" ucap Deffri putus asa.
"Tidak! Aku ingin tahu apa yang direncanakan mereka. Kita akan minta bantuan Azmi dan Sandi juga Mahroni, aku rasa papa Rahman akan menolong kita," balas Emilia, "selain itu aku masih belum yakin jika Dino adalah Deffri, sebelum ada keputusan yang akurat," batin Emilia
Deffri menatap Emilia, "Baiklah, jika begitu maumu! Tapi, apakah kamu sanggup jika dikatakan, kalau kamu dengan mudahnya selingkuh dan melupakan Deffri begitu mudahnya?" balas Deffri, ia tak ingin Emilia semakin terluka.
"Aku rasa aku sanggup! Bukankah sudah terlalu sering aku menderita? Apa salahnya aku terluka sekali lagi," balas Emilia dengan sebuah ketabahan yang luar biasa.
"Apakah kamu yakin, Em?" tanya Deffri.
"Tentu, saja! Demi keutuhan rumah tanggaku dan kebenaran mengenai suamiku, apa pun akan aku lakukan untuk mengungkap semua kebenaran ini," balas Emilia menatap ke arah Deffri.
"Terima kasih, Em! Mandilah, aku akan memesan makanan untuk kita. Dari siang tadi kamu belum makan," tukas Deffri sangat takut jika Emilia sakit, "bagaimana dengan anak-anak dan Papa Rahman jika Emilia sakit?" batin Deffri semakin galau.
Emilia menarik napas, ada rindu akan suaminya tapi ia juga bingung harus bersikap bagaimana, pria di depannya sangat berbeda, ia merasa sedikit ngeri jika pria di depannya menyentuh tubuhnya.
"Baiklah," jawab Emilia beranjak ke kamar, ia merasa asing bersama suaminya sendiri di sana apalagi dengan wajah berbeda tetapi sikap, sifat dan tubuh suaminya, "apa yang harus aku lakukan kedepannya?" batin Emilia.
Ia mengirim pesan pada Azmi, Mahroni, dan Sandi menceritakan segalanya. Namun, semua sahabatnya tidak ada yang menjawab pesan. Emilia semakin bingung dan konyol harus bagaimana, "jika aku mengatakan kepada papa, aku takut itu akan membuatnya semakin berpikir banyak hal dan jantungnya akan kambuh," batin Emilia.
Emilia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat dan mengunci kamar mandi saat ia mandi, ia semakin bingung dan takut menghadapi kenyataan.
Setelah mandi dan melakukan sholat, Emelia ke luar dari kamarnya ia melihat Deffri di depan laptop, ia masih memperhatikan pria tampan di depannya jauh lebih tampan dari wajah suaminya.
"Siapa pemilik wajah itu?" batin Emilia. Ia perlahan pergi ke kompor menjerang air ia ingin membuat kopi kesukaan Defri dan memberikan ia memperhatikan cara Dino minum persis sama dengan yang dilakukan Deffri.
"Em, ini kurang manis!" ujar Deffri sambil mengetik di keyboard.
"Beneran Deffri kalau begini!" batin Emilia mengambil sesendok gula dan memasukkan dan mengaduk ke cangkir kopi milik Deffri.
Emilia masih belum yakin, ia mengambil nasi dan membawanya ke dekat Deffri meletakkan saja, tapi Dino tidak menyentuh sama sekali. Kala Emilia menyuapinya Deffri makan dengan lahap dan masih tak bergeming dari depan laptop, hingga selesai Emilia menyuap satu piring nasi.
Emilia menarik napas, "Semua persis Deffri apa benar Deffri?" batinnya.
Emilia memutar otak secepat ia bisa mencari satu kesalahan Dino yang akan membuatnya mencurigai dan menyeret Dino ke kantor polisi, "apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melakukan hal gila? Bagaimana jika Dino bukan Deffri aku bisa kena kutuk dan berdosa telah mengkhianati suami dan Tuhanku," batin Emilia menggigit bibirnya.
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan? Kamu seperti memikirkan suatu beban yang begitu berat di pikiranmu? Sampai-sampai kamu menggigit bibir?" tanya Deffri memperhatikan Emilia dan menyudahi pekerjaannya.
"Um, aku hanya masih tidak percaya jika kamu Deffri!" jujur Emilia.
"Em, aku tidak memintamu untuk percaya secara instan padaku," balas Deffri mengetahui segala kekhawatiran Emilia.
Emilia hanya diam dan masih memutar otak, "Aku ingin nonton TV," ujarnya ia langsung meraih remote dan menonton tapi pikirannya masih kacau menghadapi kenyataan.
Hingga akhirnya Emilia berpura-pura tertidur, Deffri mengangkat Emilia ke kamar dan menyelimuti tubuhnya, mengecup kening Emilia dan membelai rambutnya seperti yang biasa Deffri lakukan.
"Aku rindu padamu! Sangat rindu, tapi jika aku melakukan hal itu, aku takut kamu semakin tak percaya padaku," bisiknya, "tidurlah yang nyenyak Ratu Hatiku," ujar Deffri, "aku ingin tidur di sebelahmu, tapi aku yakin besok kamu akan berteriak karena wajah ini," lanjut Deffri bingung. Ia beranjak dari sisi tempat tidur mematikan lampu dan menutup pintu.
Emilia membuka matanya, "Ya Tuhanku, pria itu beneran Deffri di dalam wajah orang lain," batin Emilia mengingat setiap detail rumah tangga yang pernah dijalaninya kala masih bersama Deffri walaupun hanya seumur jagung.
Emilia menelan ludah ia semakin takut menghadapi kenyataan pahit di depannya, "Kami berumah tangga hanya sebentar, berbeda saat aku bersama dengan Farel tapi … kenangan dan semua tingkah laku Deffri lebih membekas dari 10 tahunku bersama dengan Farel," batin Emilia.
Ia memandang temaram cahaya lampu di kamarnya ia merasakan kegundahan dan keyakinan yang muncul di benaknya jika Dino adalah Deffri, " Bagaimana aku mengatakan hal ini pada anak-anak dan Papa Rahman?" hatinya bingung.