I Can Live Without You

I Can Live Without You
Konspirasi



Malam hari Deffri dan Emilia pergi berkunjung ke hotel B di mana untuk memenuhi undangan yang diberikan oleh Tina dari ayahnya Sudibyo. Emilia dan Deffri langsung masuk tetapi keduanya langsung terperanjat. Deffri dan Emilia melihat jika di sana sebagian adalah orang-orang yang mereka kenal.


"Mas Dino, bukankah mereka …." Emilia tak lagi bisa berkata apa pun, ia menutup mulutnya, "apakah Dino mengenali mereka?" batin Emilia.


"Ya, Papa, Ardhan, Farel, dan Sudibyo. Apa hubungan mereka?" bisik Deffri.


"Dino benar-benar mengenali mereka!"batin Emilia, "apakah mereka telah merencanakan semua ini? Aku Harus mengikuti semua alur dari cerita ini sampai aku tahu berakhir dimana," batin Emilia.


"Hai, apa kabar, Mas Dino? Akhirnya bintang utama nya datang juga!" sapa Tina tersenyum bahagia berusaha untuk menggamit lengan Deffri. Namun, Deffri langsung menepisnya dengan perlahan dan tak ketara membuat Tina begitu kesal. 


Emilia hanya berjalan perlahan di sisi Deffri, "Emilia?!" sapa Farel, Ardhan, dan Hardiansyah, mereka tak menyangka jika mereka akan melihat Emilia di sana.


"Mengapa Emilia berada di sini? Apa hubungannya dengan pemilik Jaya Mandiri Group tersebut?" batin Farel menatap mantan istrinya.


"Aku tidak menyangka, Deffri baru saja meninggal! Kamu sudah menggandeng pria lain," balas Hardiansyah sinis.


"Jika Deffri masih ada, apakah dirimu masih menganggapku menantumu? Bukankah antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Seperti yang kamu ucapkan dulu, Pak Hardiansyah uang terhormat?" ketus Emilia, "lagian aku ke Bandung karena urusan pekerjaan dan mencari suamiku!" lanjut Emilia.


"Hahaha, Emilia, emilia! Kamu bodoh sekali atau berpura-pura bodoh! Deffri sudah meninggal, semua orang tahu itu. Tapi, kamu masih saja tak mau mengerti," balas Farel dengan tersenyum.


"Bagi kalian, mungkin dia sudah meninggal tapi bagiku tidak. Dia akan selalu hidup di jiwaku," balas Emilia.


"Ehm! Ehm! Maaf siapakah wanita ini?" tanya sudibyo menatap ke arah Emilia, oa merasa jika Emilia mengenali 3 pengusahawan yang berada di ruangan tersebut sebagai kolega dan tamu undangannya.


"Saya adalah janda dari Deffri Hardiansyah," balas Emilia memperkenalkan dirinya tanpa oerlu mengulurkan tangannya karena dia tahu Tina dan Sudibyo tidak jauh berbeda di dalam memandang rendah orang lain.


"Dia adalah CEO dari PT. Cahaya group!" balas Deffri, ia tak ingin semua orang memandang rendah pada Emilia.


"Oh, saya baru tahu wanita hebat dan luar biasa yang telah memajukan perusahaan itu beberapa bulan terakhir ini. Saya berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan Cahaya Grup!" ujar Sudibyo. Tina di samping Sudibyo langsung berubah ketika ia merasa sedikit bersimpati.


"Saya juga sangat senang jika perusahan Tuan berkeinginan untuk bekerja sama dengan saya," balas Emilia tersenyum.


"Saya sangat senang sekali!" ujar Sudibyo, "perhatian-perhatian, saya ingin memperkenalkan calon menantu saya yaitu Dino Rahman pemilik PT. Mandiri Group," ujar Sudibyo dengan percaya diri.


"Maaf, Pak! Saya tidak mengerti dengan semua ini? Sejak kapan saya dan Tina memiliki hubungan?" tanya Deffri dengan bingung.


"Bukankah selama ini kalian berdua pacaran?" tanya Sudibyo merasa sangat malu.


"Maaf, Pak! Saya baru mengenal putri Bapak sejak kita menjalin kerja sama selain itu, saya memiliki pacar," sanggah Deffri bingung.


"Mas Dino, sebelum ini kita sudah menjalin hubungan, sudah 3 tahun, Mas!" balas Tina.


"Maaf, saya tidak ingat!" ucap Deffri bingung.


"Mas, ini bukti-bukti jika kita memiliki hubungan!" ujar Tina memberikan beberapa lembar foto di sana terlihat jika Dino dan Tina saling berpelukan.


"Coba aku lihat!" ujar Emilia memperhatikan semua foto tersebut.


"Ya, di sini sangat jelas jika kalian memang memiliki hubungan," balas Emilia.


"Tapi … aku tidak ingat sama sekali!" balas Deffri, "siapakah Dino ini sebenarnya? Dan apa hubungan keduanya dengan semua ini?" batin Deffri semakin bingung.


"Dino sedang terkena amnesia, jadi dia tidak ingat apa pun Tina. Kamu harap maklum saja," balas Emilia menengahinya, "aku harus berbuat hal ini, agar kami tahu apa sebenarnya yang terjadi dan siapakah Dino?" batin Emilia.


Ia hanya diam memperhatikan Ardhan, Budi, Farel begitu ceria dan bahagia di sudut ruangan, "apakah mereka memiliki hubungan akan kecelakaan dan masalah wajah Deffri?" batin Emilia.


"Bolehkah saya bertanya Pak Budi?" taya Emilia menghampiri ketiga pria di sana.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" balas Budi dengan sinis.


"Saat Deffri pergi ke Bandung, bukankah Bapak yang merekomendasikan untuk bekerja sama dengan PT. Sudibyo Cooperation? Setelahnya suamiku mengalami kecelakaan! Apakah PT. Yang dimaksud adalah PT. Sudibyo ini?" tanya Emilia.


"Ya, bisa dibilang begitu! Tapi, apa hubungan dengan semua itu? Karena Deffri sudah tidak ada maka ya, akulah pewaris tunggalnya bukan?" tanya Budi dengan angkuh.


"Aku belum mengurus surat wasiat suamiku, yang mengatasnamakan jika semua hasil harta milik semua suamiku adalah milikku, Amara, dan Keano." Emilia menatap ke arah Budi yang menegang.


"Aku tidak takut dengan semua ancamanmu, itu Emilia!" ujar Budi.


"Aku harap kamu memiliki buktinya, jika semua warisan itu adalah milikmu walaupun mungkin kamu adalah papa dari Deffri. Ada yang janggal di dalam semua ini, apalagi aku melihat jika kalian bertiga ada di sini!" ucap Emilia menatap Ardhan, Farel, dan Budi.


"Jika kamu kekurangan uang untuk biaya kehidupanmu, kamu bisa menjual tubuhmu! Aku akan mengantri untuk yang pertama kalinya," ucap Ardhan.


"Hahaha, pria yang hanya bisa menghabiskan duit istrinya untuk kesenangan, bisa membayarku? Nggak salah, Ardhan! Akulah yang akan membayarmu menjadi tukang sapu di perusahaanku. Bahkan, aku pun tak sudi mempekerjakan kamu menjadi OB di perusahaan milikku," balas Emilia sinis.


"Kau! Jika kau hanya ingin mencari keributan, sebaiknya kau enyahlah dari sini!" balas Budi.


"Emilia daripada engkau menjadi hinaan lebih baik kamu menjadi istriku lagi," tawar Farel.


"Aku tak sudi untuk kembali padamu. Walaupun dunia ini akan hancur detik ini juga!" balas Emilia, "aku akan mencari tahu apa yang telah kalian sembunyikan dan malapetaka yang sudah menimpa suamiku.


"Jika kalian tersangkut dari masalah ini. Aku akan membuat kalian menderita sampai ke tulang sumsum kalian," ucap Emilia.


"Sayang, ayo, mari kita pulang!" ajak Deffri.


Semua orang menatap ke arah Deffri yang mereka sangka adalah Dino, "Wah, dibayar berapa kamu untuk bisa tidur dengan wnaita murahan ini?" tanua Farel.


"Jaga mulutmu, Farel! Aku tahu siapa kau! Jangan sampai semua perusahaan milikmu diakuisisi dan kamu Ardhan urus saja para istrimu. Begitu juga kamu Budi, jika putramu selamat dia akan mendepakmu. Walaupun kamu adalah ayahnya," ucap Deffri kesal. Ia merasa kecelakaan yang menimpanya adalah perbuatan mereka yang melakukan konspirasi.