
"Bukankah selama ini kau telah menghancurkanku, Farel?" ejek Emilia dengan sinis sembari menggendong putranya, "apakah itu belum cukup juga bagimu?" Emilia terus berjalan menuju ke arah mobil Deffri.
"Sekali lagi, kau melangkah ke luar aku tidak akan mengampunimu, Emilia!" teriak Farel berang.
"Apakah aku butuh pengampunan darimu, Farel? Apakah kau Tuhan? Tidak, Bukan? Kamu juga sama sepertiku, manusia biasa yang butuh cinta dan ketenangan. Tapi, apakah kau merasa telah memberikan semua itu kepadaku dan Keano? Jawab Farel?" teriak Emilia marah.
Air mata tak lagi tertumpah dari mata bening Emilia yang ada hanyalah kilatan amarah dan kebencian di antara kepingan hati dan jiwa raga Emilia.
"Kau! Sejak mengenal Deffri kau mulai berani membangkang!" teriak Farel.
"Dulu, aku begitu bodohnya, Farel. Sehingga tidak peduli berulang kali kau sakiti, tapi aku bukanlah Emilia yang dulu … kau salah jika berpikir kau akan bisa melukaiku dan Keano lagi," balas Emilia. Ia langsung menggendong putranya dan meninggalkan rumah Farel dengan Deffri menggandeng tangannya membuat Farel semakin marah dan murka.
"Kamu lihat saja, Emilia! Aku akan menghancurkanmu! Aku akan membuatmu berlutut di kakiku," ucap Farel. Sementara Emilia dan Deffri meninggalkan kediaman Farel, bertepatan dengan mobil yang membawa Janti dan Hana memasuki rumah Farel.
"Ada apa, Farel?" tanya Janti melihat wajah merah padam Farel dan tangan yang mengepal.
"Emilia … dia datang bersama selingkuhannya untuk mengambil Keano," balas Farel dingin.
"Biarkan sajalah, Mas. Kita bisa membuat anak untuk kita, biarkan saja Keano ikut dengan Emilia," tukas Hana sedikit senang. Ia sudah malas mengasuh putra sambungnya.
"Apa kau bilang? Keano adalah putraku! Jika kau bisa hamil mengapa tidak dari 3 tahun yang lalu kamu hamil?" balas Farel sengit.
"Mas, hiks, hiks! Lihatlah Ma, Mas Farel tidak pernah bisa lupa dengan Emilia. Aku tidak pernah dianggapnya ada," ucap Hana mengadu kepada Janti.
"Farel! Kamu tega, buat Hana menangis. Kamu selalu saja membela, wanita murahan itu! Jangan-jangan kamu diguna-gunai olehnya," balas Jenti marah menatap Farel.
"Aku tidak suka, jika Hana tidak menganggap Keano adalah putraku. Seharusnya sebagai ibu sambung dia juga menyayangi putraku, bukan begini caranya," balas Farel, meninggalkan Hana dan Janti, "enak saja, Deffri dan Emilia akan bahagia. Mereka tidak boleh bahagia, aku pun tidak akan membiarkan Emilia menikah lagi. Dia hanya boleh menikah denganku," umpat batin Farel kesal.
Ia menaiki tangga menuju ke kamarnya, "Aku akan mencari tahu, siapa sebenarnya Deffri," batin Farel, meraih ponsel di sakunya menelepon seseorang.
Farel : "Hardi, aku ingin kamu mencari tahu siapa sebenarnya, Deffri!"
Hardi : "Baiklah, memang apa yang telah dilakukannya kepadamu?"
Farel : "Dia telah mendekati Emilia dan Keano. Aku hanya ingin tahu, apakah Deffri orang yang baik untuk putraku?"
Farel : "Baiklah, aku akan mencari, tahu!"
Farel menutup teleponnya, "Ooo, jadi kamu masih saja mencari tahu dengan siapa saja wanita murahan itu bergaul, begitu? Kamu sungguh terlalu Farel!" ujar Janti berdiri di ambang pintu memperhatikan dan mendengarkan semua pembicaraan Farel dengan Hardi.
"Ma …."
"Aku tidak menyangka, kau masih saja terus-terusan memperhatikan dan mencintai wanita dusun itu! Aku sudah bilang, dia tidak pantas menjadi menantu di rumah kita!" ketus Janti, dengan tatapan marah.
"Di antara aku dan Emilia, ada anak Ma! Jangan lupakan itu?" balas Farel.
"Ma! Kau tahu kisahku dan Emilia tak perlu lagi Mama mengungkit hal itu?" teriak Farel.
"Hallah, sampai mati pun aku tidak akan mengakui jika Keano adalah putra kalian, hasil bayi tabung apaan? Najis tahu!" balas Janti sengit. Farel terdiam, ia tak tahu lagi apa yang akan dikatakan kepada Janti.
Mulai detik ini, aku tidak mau tahu. Kamu harus jauhi, Emilia. Jika tidak aku yang akan membuatnya menderita, dulu aku tidak melakukannya karena aku masih menghormatimu. Tapi, sekarang … dia bukanlah siapa-siapa bagiku," balas Janti murka.
"Jangan coba-coba menyentuh Emilia dan Keano, Ma! Aku akan meninggalkanmu dan Hana, lihat saja!" balas Farel dingin.
"Terserah, aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah menginginkan Emilia menjadi menantuku lagi, gadis dusun itu memuakkan! Tidak sebanding dengan Hana," balas Janti kesal.
Farel hanya diam mendengar semua omelan mamanya, ia hanya diam ia merasakan suatu kesedihan dan kesakitan dengan semua yang telah dirasakannya, "Maafkan, Papa Keano …." Farel merasakan dunianya menjadi buram, ia tidak menyangka kepergian Emilia dan Keano dari hidupnya membuat sebagian jiwanya menjadi hampa, "mengapa aku begitu bodohnya melakukan semua ini?" batin Farel.
Ia terduduk di sisi tempat tidur ia tak menyangka begitu berartinya Emilia dan Keano di dalam kehidupannya, "Emilia … kau sangat bodoh sekali! Andaikan kamu tidak minta cerai denganku, semua ini tidak akan pernah terjadi," batin Farel. Ia selalu saja menyalahkan Emilia akan semua hal buruk yang terjadi, ia tidak pernah merasakan dan menyadari kesalahannyalah maka segalanya semakin mengerikan dan membuat Emilia meninggalkan dirinya.
"Mas, kamu kenapa sih?" suara Hana tiba-tiba berada di sampingnya.
"Aku tidak suka jika kau selalu mengadu yang tidak-tidak pada Mama. Seharusnya kamu menyayangi Keano seperti putramu sendiri, tapi … kamu tidak pernah becus menjadi seorang istri. Jika kamu menyayangi Keano, Emilia tidak akan mudah membawanya pergi begitu saja.
"Andaikan aku tahu jadi begini, aku tidak akan pernah meninggalkan Emilia dan Keano. Aku masih mencintainya, kau harus tahu itu!" balas Farel dingin dengan kilatan kemarahan di matanya.
"Jadi, Mas nyalahin aku, gitu? Bukankah kamu yang ngejar-ngejar aku? Dulu, kamu yang bilang, 'Kalau kamu tidak bahagia bersama dengan Emilia!' tapi, mengapa sekarang kamu mengatakan akulah penyebab segalanya?" sengit Hana marah.
"Aaa! Diamlah, aku sudah muak!" balas Farel meninggalkan Hana yang duduk di sisinya.
"Mas! Mas! Kamu mau ke mana?" teriak Hana.
"Bukan urusanmu!" balas Farel marah.
"Aku istrimu, Mas! Wajarkan aku mau tahu," balas Hana.
"Lalu … jika kamu istriku, kamu harus tahu aku ke mana saja, begitu? Cih! Saat aku dan kamu selingkuh dulu, Emilia tidak pernah bertanya ke mana saja aku pergi," balas Farel dengan egonya.
"Mas!" teriak Hana berusaha untuk mengejarnya.
Namun Farel sudah meninggalkan rumah mengendarai mobilnya berusaha untuk mencari Emilia dan Keano.
***
Sementara Emilia masih memangku putranya Keano, ia tak henti-hentinya mengecup puncak kepala dan pipi Keano, "Deff, terima kasih! Telah membawa Keano pulang," balas Emilia.
"Semua ini berkat Azmi dan Sandi, aku tidak melakukan apa pun, Em!" balas Deffri melirik ke samping kirinya, secerca kebahagiaan tergambar di wajah Deffri melihat kebahagiaan Emilia.
"Deff, sepertinya Keano demam!" ujar Emilia merasakan suhu tubuh putranya panas.