
"Oh," hanya itu yang terlontar dari bibir Deffri memandang ke arah wajah Emilia yang tepat berada di depannya hanya berjarak sejengkal dari tubuhnya.
Kedekatan mereka benar-benar, sesuatu yang sangat luar biasa terlalu indah untuk dilukiskan, Deffri merasakan sesak di jiwa raganya, "Sialan, kau Emilia! Kau benar-benar mengacaukan jiwa ragaku!" batin Deffri kesal.
Namun, ia tidak berani mengatakan hal itu kepada Emilia, ia sangat takut jika kaca di depannya akan semakin hancur tak berbentuk lagi. Deffri merasa jika Emilia bagaikan sebongkah kaca yang sudah retak, ia tidak ingin menambah segala sesuatunya semakin hancur.
"Aku penasaran, bagaimanakah rumah tangga Emilia bersama dengan Farel?" hati kecil Deffri bertanya, ia tidak menyangka ada pria bodoh yang menyia-nyiakan sebutir berlian hanya untuk sebutir pasir, ia masih termenung.
"Aku rasa sudah tertutup rapi, apakah ada lagi? Maksudku, luka yang aku sebabkan … aku benar-benar menyakitimu?" tanya Emilia sedikit cemas.
"Tidak, Em. Sebenarnya itu tidak sakit, malah … sudahlah, lupakan saja! Anggap saja kamu nggak pernah melakukan itu padaku," ujar Deffri berusaha untuk mencari jalan tengah, ia tidak ingin menambahi beban mental Emilia, "jika kau tahu rasanya, kamu tidak akan pernah mengatakan itu sebagai luka," batin Deffri bingung. Keduanya masih duduk di meja makan, dengan pikiran masing-masing.
Ting! Tong!
"Tunggu, sebentar! Kamu di sini saja," ucap Deffri.
Ia melesat ke arah pintu utama dan kembali dengan paper bag, "nih, gantilah bajumu!" balas Deffri.
"Terima kasih," balas Emilia. Ia kembali ke kamar di mana dirinya bangun tidur, ia langsung mandi dan mengganti pakaian yang dibelikan oleh Deffri, "ya, ampun! Semua dalaman ini benar-benar pas!" batin Emilia menelan ludah. Ia menyilangkan tangan di dadanya melihat selembar pakaian berwarna merah menggoda indah di sana pas dengan setiap detailnya.
"Apakah Deffri benar-benar menyentuhku tadi malam?" batin Wilona sedikit cemas, wajahnya memerah menahan amarah dan malu.
Ingin rasanya ia berlari dan menyembunyikan diri ke mana pun yang bisa menelan tubuhnya bulat-bulat, Emilia memakai kemeja putih dan jeans hitam. Ia sangat modis di dalam balutan pakaian kasual, "aku tidak menyangka, Deffri memiliki selera yang luar biasa soal fashion," batin Emilia mengagumi mode fashion milik Deffri.
"Sudahlah, Em! anggap saja tidak ada yang telah terjadi," batin Emilia berusaha untuk melupakan semua kepahitan yang baru saja dialaminya.
Ia berjalan kembali ke ruang tamu di mana Deffri dan Azmi berada di sana, "Azmi!" ujar Emia berjalan cepat dan mengulurkan tangan.
"Apa kabarmu, Emili?" tanya Azmi.
"Aku baik-baik, saja!" bohong Emilia.
"Duduklah, apakah kamu ingin mengajukan tuntutan pada Hana?" tanya Azmi.
"Tentu, saja!" balas Emilia.
"Aku susah menginterogasi mereka dan Hanalah yang menyuruhnya," balas Azmi.
"Terima kasih, Azmi!" balas Emilia bingung harus berkata apalagi.
"Jangan berterima kasih, padaku. Tapi, pada Deffri, jika tidak ada dirinya, aku tidak tahu. Apa yang akan kamu alami, Emilia," ucap Azmi.
"Ya, kamu benar. Aku bersyukur Deffri lewat dari depan perusahaan Farel. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku alami," balas Emilia.
"Sekarang, apakah kamu ingin pulang Emilia? Aku telah menyuruh Sandi, untuk membantumu menuntut Hana," balas Deffri.
"Sandi?" Emilia menatap kedua sahabatnya.
"Iya, Sandi Baskara! Sahabat kita di SMA, kamu ke mana saja, sih?" tanya Azmi.
"Entahlah, aku baru saja pulang dari Pluto sepertinya," balas Emilia berusaha untuk melucu.
"Apa yang terjadi dengan lehermu, Deff?" selidik Azmi.
"Terluka!" balas Deffri santai.
"Syukurlah, jika tidak! Aku akan menikahkan kalian berdua secepatnya," balas Azmi.
"Yee, tahu gitu aku buat aja tadi malam. Jadi, nggak tersiksa aku! Rasanya, ampun DJ! mending aku lembur seminggu tahu," umpat Deffri masih saja kesal dan bahagia ia berhasil melewati malam naas penuh undangan setan.
"Hahaha, kamu ini! Aku malah belum nikah-nikah, kamu sudah mau kedua kali lagi. Rakus amat sih, kalian berdua!" umpat Azmi tertawa.
"Lah, kamu sendiri yang tidak nikah-nikah, tuh!" balas Deffri.
"Jadi, kamu belum nikah juga Azmi?" tanya Emilia bingung.
"Belum nih, tau akh! Jodohku nyangkut di mana? Apakah belum lahir, atau masih jalan-jalan dengan suaminya atau sudah meninggal kali!" balas Azmi anteng tanpa beban.
"Kamu, ini!" balas Emilia.
"Ya, udah! Aku mau nganterin Emilia dulu, kabari aku soal perkembangan kasus ini," balas Deffri.
"Beres! Hati-hati kalian berdua," Azmi mengantar keduanya hingga garasi.
Deffri dan Emilia langsung meninggalkan rumah Azmi, " Em, kamu mau aku antar ke mana?" tanya Deffri.
"Aku … ke toko saja, deh!" ujar Emilia.
"Sekali-kali bawalah putrimu Deff, aku ingin kenal putrimu," balas Emilia.
"Iya, tenang saja!" baas Deffri.
Di depan toko semua orang sudah berbaris seakan mereka ingin menghakimi seseorang di sana, "Lihatlah, itu mereka baru pulang! Aku sangat yakin jika mereka berdua telah berbuat kurang ajar! Kelihatannya saja mereka berdua orang-orang baik, mereka itu munafik" ujar Hana.
"Tutup mulutmu, Hana! Kau akan mendapatkan ganjaran dengan apa yang telah kau lakukan kepadaku, tadi malam. Kau memberikan obat perangsang di jus yang kau berikan.
"Kau wanita, sialan! Mengapa kau lakukan hal itu Hana? Aku salah apa padamu?" balas Emilia.
"Jangan menuduhku sembarangan! Jika kau berbuat jahat jangan seenaknya menuduh orang lain," teriak Hana tidak mau kalah.
"Kau ingin tahu, apa yang barusan kami lakukan? Kami baru dari kantor polisi untuk melaporkan kedua kaki tanganmu yang menggunakan mobil Fortuner dengan plat BK 22** bukan?" ucap Deffri.
"Apa!" ucap Hana, ia tidak menyangka jika kedua pria sewaannya telah gagal menjalankan misi yang diberikan.
"Kau tunggu saja Hana, apa yang akan kau dapati nantinya," balas Emilia.
"Mama," Keano merasakan jika ada sesuatu yang telah terjadi pada mamanya ia langsung memeluk Emilia.
"Keano, ayo, pulang!" teriak Hana.
"Tidak, aku ingin bersama dengan Mama," balas Keano.
"Lihatlah, Hana! Keano lebih memilih ikut aku karena aku adalah ibu kandungnya, jika kau tulus menyayanginya Keano, ia pun akan sayang padamu! Tapi, kau selalu saja menggunakan trik busukmu," teriak Emilia.
Ia sudah tidak ingin mengalah lagi, ia sudah semakin lelah jika ia harus mengalah lagi, "Kau akan berurusan dengan Farel. Bagaimanapun soal anak, yang lebih berhak adalah Farel dan yang paling berhak adalah para suami!" balas Hana.
"Jika begitu aku bersyukur, aku berharap agar mulai bulan depan, kalian juga harus memikirkan mengenai biaya Farel. Jangan hanya ngomong doang! Siapa pun bisa melakukan hal itu!" balas Emilia.