
"Hati-hati, Kakek!" teriak Keano tersenyum Emilia hanya tersenyum melepas kepergian Rahman.
"Terima kasih, jaga Mama kamu, Cu!" balas Rahman tersenyum dengan tongkatnya berjalan ke dalam mobil beserta supir.
"Kita mau kemana lagi, Pak?" tanya Broto.
"Kita pulang saja! Ingat To, jangan bilang sama Ibu kita ke mana," balas Rahman.
"Baik, Pak!" balas Broto.
"Aku rasa pilihan Deffri sangat baik untuknya dan Amara. Aku bisa meninggal dengan tenang, tapi … bagaimana dengan Maya? Dia sangat berambisi untuk menikahkan Delia dan Deffri. Aku harus berusaha untuk menghalanginya dan sebagian warisanku untuk Afiqah telah aku berikan kepada Amara," batin Rahman termenung.
Mobil membelah Kota Karangsari yang sejuk, Rahman melihat Deffri dan Amara sedang menyiram bunga mawar kesukaan Afiqah, "Deffri masih memelihara dan merawat semua bunga itu," batin Rahman bahagia dan bersedih.
Bayangan Afiqah menari di pelupuk matanya kala ia masih berada di rumah mereka di Riau yang penuh dengan mawar indah begitu juga di sini, "semua bangun sama persis, begitu juga dengan petak mawar ini," batin Rahman.
"Kakek!" teriak Amara berlari menyongsong Rahman ke luar dari mobil, "Cah Ayu! Ini untukmu, Sayang!" balas Rahman mengangsurkan paper bag kepada Amara yang langsung tertawa bahagia dengan wajah polos.
Rahman membelai kepala Amara, "Wah, bagus-bagus sekali, Kakek!" balas Amara bahagia melihat semua baju di sana.
"Apa yang tidak jika untukmu, Cah Ayu!" balas Rahman.
"Maaf, Pa. Tadi malam, saat aku pulang Papa sudah tidur, jadi aku tidak berani membangunkan. Tadi pagi aku harus buru-buru ke kantor, ada urusan sedikit, Pa!" ucap Deffri menyalami dan mencium punggung tangan Rahman.
"Tidak apa-apa, Nak!" balas Rahman memperhatikan Deffri yang sangat kurus, "kamu menikah lagilah, kamu juga butuh wanita untuk merawat kamu, begitu juga dengan Amara," lanjut Rahman menepuk punggung Deffri.
"Doakanlah, yang terbaik, Pa!" balas Deffri.
"Apakah kamu sudah punya calon, Nak?" tanya Rahman.
"Aku tidak tahu, Pa! Aku menyukai seseorang tapi aku merasa ia hanya menganggapku sebagai temannya saja," curhat Deffri tanpa sungkan. Ia lebih dekat dengan Rahman dari pada papanya sendiri, yaitu Budi Hardiansyah.
"Jika menurutmu dia yang terbaik untukmu dan Amara, kejarlah, Nak!" balas Rahman menguatkan Deffri, "Papa akan setuju jika dia yang terbaik untuk kalian berdua," lanjut Rahman.
"Terima kasih, Pa!" balas Deffri.
"Kak Deffri!" teriak Delia, seorang gadis berlari dengan pakaian tanktop dan rok mini yang hanya sejengkal dari pinggulnya berlari ingin memeluk Deffri membuat Deffri menghindar, "Maaf, Delia! Aku tidak bisa memelukmu!" ucap Deffri.
"Akh, Kak Deffri. Bukankah kita akan menikah?" ujar Delia manja.
"Siapa yang mau menikah? Aku Kakak ipar kamu dan aku tidak mencintaimu, Delia. Maaf," balas Deffri.
"Deffri, Delia itu anak yang baik. Selain itu, dia juga adalah Tante Amara, 'kan lebih baik, daripada kamu menikahi wanita yang nggak jelas asal usulnya,? Belum tentu juga dia sayang sama Amara!" celetuk Maya sudah mendekat ke arah mereka.
"Maaf, aku tidak bisa Ma. Aku mencintai wanita lain selain Afiqah," balas Deffri, "lagian aku sudah menganggap Delia sebagai adikku," balas Deffri.
"Kan bukan adik Kandung!" ucap Maya.
"Ma, jangan memaksakan kehendak. Delia, bisakah kamu berpakaian sedikit sopan?" tanya Rahman.
Deffri hanya menggelengkan kepala ngeri membayangkan Delia menjadi ibu sambung amara, "bisa-bisa Amara nggak bakal diurus, deh!" batin Deffri.
"Ayo, kita masuk! Kapan kamu datang Del?" tanya Rahman mencoba mengalihkan pembicaraan, "jika tidak dialihkan bisa-bisa Maya dan Delia berusaha terus membuat Deffri kesal," batin Rahman, "aku juga tidak setuju jika Delia jadi ibu sambung Amara. Itu bakal mengerikan," batin Rahman.
"Mari, Pa!" ujar Deffri.
"Um, sepertinya Hana akan kemari Pa? Aku ingin sekali bertemu dengan ponakanku itu. Apalagi sekarang dia sudah menikah dengan pengusaha kaya di Kota Karangsari ini," ucap Maya.
Deffri hanya diam saja, mengambil nasi untuk Amara dan Rahman juga dirinya sementara Maya sibuk membicarakan ponakan cantiknya sedangkan Delia sibuk bermain ponsel, "Semoga dia bukan jodohku. Ya, Allah! Kasihanilah aku dan putriku dan bebaskan dari wanita seperti ini," batin Deffri.
Ting! Tong!
Surti berlari tergopoh-gopoh membuka pintu, "Wah, rumahnya bagus banget ya, Mas?" ujar sebuah suara yang tak asing di telinga Deffri.
"Iya, sangat bagus! Nanti kita buat begini," balas seorang pria dengan lembut dan tak asing juga.
Kedua tamu digiring ke ruang makan oleh Surti, "Kau!" ucap Deffri dan Farel serempak, masing-masing saling mengepalkan tangan.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Maya senang, "tentu saja kalian saling kenal! Dunia bisnis bukankah begitu sempit?" balas Maya senang.
"Tentu saja kami saling kenal!" balas Farel sinis.
"Ya, mantan istrinya adalah pacarku!" balas Deffri dingin, ia ingin memanas-manasi Farel, Deffri masih kesal akan ulah Farel yang menyakiti Emilia.
"Aku tidak menyangka, kau akan menikahi wanita murahan itu!" balas Farel ketus mengepalkan tangan, seketika darahnya mendidih kala Deffri mengatakan jika Emilia adalah pacarnya.
"Aku rasa … Emilia wanita yang sangat mulia dan baik, tidak pernah mengumbar aurat juga tidak gampangan diajak tidur. Aku tahu, kamu pun masih mencintainya bukan?" sindir Deffri.
"Pa, aku dan Amara ingin ke rumah Emilia," ucap Deffri, "kalian nikmatilah kedamaian di rumahku. Asal jangan kalian gadaikan," balas Deffri ketus, menatap pasangan di depannya. Ia merasa muak melihat pasangan di depannya.
"Pa, kita akan bertemu tante Emilia dan Keano?" tanya Amara senang.
"Tentu saja!" balas Deffri.Ia langsung meninggalkan makanan di piring beranjak mengulurkan tangan ke arah Amara yang langsung menyambutnya. Deffri ingin mengajak Amara meninggalkan rumah.
"Deffri! Ada tamu kamu kok pergi, sih? Tidak sopan!" balas Maya ketus.
"Jangan ajari aku sopan santun! Ajari saja putri dan ponakanmu!" balas Deffri ketus, meninggalkan semua orang, "Mbok!" panggil Deffri.
"Ya, Pak!" balas Surti.
"Kamu jangan lupa makan, satu hal lagi, beri mereka makan yang banyak terutama pasangan ini," balas Deffri entah mengapa ia begitu marah dan jijik melihat Farel memasuki rumahnya.
"Ba-baik, Pak!" balas Surti sedikit kecut ia tidak pernah melihat Deffri begiru marah.
Semua irang melihat Deffri meninggalkan rumah beserta Amara, "Ayo! Ayo, makan! Jangan hiraukan Deffri " balas Maya.
Rahman hanya diam memperhatikan Farel, "Jadi, ini mantan suami dari wanita yang bernama Emilia?" batin Rahman melihat ke arah Hana dan Farel, "hah! Ponakan, bibi, sama saja! Aku juga menyesal bisa menikahi Maya. Hanya saja sudah terlanjur, tidak mungkin bolak-balik menikah dan bercerai," batin Rahman, "apa benar wanita yang dipacari Deffri adalah wanita Murahan?" tanya Rahman menatal ke arah Farel.