I Can Live Without You

I Can Live Without You
Rencana perjodohan



Hari-hari yang terlewati selama seminggu sedikit bahagia tanpa gangguan dari Farel, Emilia setiap waktu mengantar dan menjemput Farel dan bermain dengan Amara kala Deffri pergi ke luar kota, "Aku tidak pernah bertanya siapa sebenarnya Deffri? Apa pekerjaannya, ya?" batin Emilia kala ia memeluk kedua anak kecil di sisi kanan-kirinya.


Emilia merasa bersalah, "selama ini Deffri telah banyak membantuku di dalam banyak hal, mengapa aku tidak pernah bertanya mengenai kehidupannya? Bodohnya aku!" batin Emilia membayangkan wajah Deffri kala memeluk Amara, "Amara sangat cantik, apakah Afiqah secantik ini? Atau lebih cantik?" batin Emilia penasaran membelai wajah Amara.


"Mama …," lirih Amara kemudian memeluk Emilia.


"Cup! Cup!" lirih Emilia menepuk punggung Amara perlahan. Keano memeluk Emilia dari kirinya, "alangkah bahagianya aku, jika aku bisa memiliki mereka selamanya," batin Emilia bahagia. Hingga akhirnya ia pun tertidur dengan dipeluk kedua anak kecil tersebut.


Pagi hari Emilia bangun dan mengajak kedua buah hatinya untuk berdoa kepada Sang Khalik, "Nah, sekarang … Kak Amara dan Keano siapin semua buku-buku pelajaran Mama akan membuat sarapan," balas Emilia.


"Baik, Ma! Bunda!" balas keduanya langsung bergerak. Setelah sarapan Emilia langsung memandikan keduanya secara bergantian dan menyuapi mereka makan.


"Bunda, makan juga dong!" ucap Amara.


"Baiklah, Bunda akan makan juga!" balas Emilia tersenyum. Ia langsung menyuapkan nasi ke mulutnya ketiganya tertawa bahagia, setelahnya Emilia mengantar Amara ke sekolah kemudian ke sekolah Keano.


Ia masih menantikan kedua buah hatinya, saat Emilia menjemput Amara, seorang wanita berumur 58 tahun keluar dari mobil berbicara kepada Amara.


"Amara!" ujar Emilia langsung menggandeng tangan Emilia.


"Bunda, ini Nenek Maya, Nenek Amara!" ujar Amara memperkenalkan Maya. Wanita setengah baya itu terlihat modis dan sangat cantik dengan sanggulnya, memperhatikan Emilia dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kamu pengasuh baru Amara, ya?" tanya Maya sedikit mencibir.


"Bukan, Nek. Ini Bunda Emilia, dia teman Papa juga temanku," balas Amara tersenyum dengan gigi depannya yang ompong.


"Maaf, Bu. Saya Emilia selama Deffri pergi, saya akan mengasuh dan menemani Amara. Maaf, saya tidak tahu jika Ibu adalah Ibunya Deffri," balas Emilia sedikit kikuk.


"Tidak apa-apa! Aku ingin menjeput Amara. Ayo, Nak! Kamu kumal sekali!" ujar Maya memperhatikan Amara dan membawanya masuk.


Emilia hanya memandang ke arah mobil yang membawa amara yang masih melambaikan tangan dibalas oleh Keano, "Kak! Nanti kita main lagi, ya?" teriak Keano, "Ma, tadi itu Neneknya kak Amara ya?" tanya Keano.


"Iya, sepertinya! Um, tunggu sebentar kita telpon om Deffri dulu," ucap Emilia merasa seperti tidak tenang melepas kepergian Amara.


Tut! Tut! Tut!


"Aduh, angkat dong! Mengapa nggak diangkat, sih?" batin Emilia. Berulang kali Emilia menelepon Deffri tapi tidak kunjung diangkat. 


"Mbok Surti!" pekik Emilia sedikit girang, ia kemudian menelepon Surti.


Surti : "Iya, Bu! Apakah Amara rewel?"


Emilia : "Bukan, Mbok! Aku mau tanya memang Maya itu neneknya Amara gitu ya? Soalnya dia jemput Amara dari sekolah dan Amara juga ikut dengan senang hati begitu," 


Surti : "Iya, dia nenek tiri Amara. Papa bu Afiqah menikah lagi. Apakah Ibu tahu ke mana mereka membawa Amara begitu? Aduh, Pak Deffri bisa marah nanti. Entah mengapa dia kurang suka jika Amara dibawa oleh Nyonya Maya,"


Emilia : "Ya, ampun! Matilah aku, Mbok. Bagaimana ini?" 


Surti : "Oh, sepertinya mereka sudah sampai rumah Bu. Mobilnya sudah datang itu,"


Surti : " Tentu, Bu!" 


Emilia sedikit merasa lega dan takut, entah mengapa ia merasa sesuatu akan terjadi, "Ada apa, Ma?" tanya Keano menyentuh bahu mamanya.


"Tidak apa-apa, Nak! Ayo, kita pulang!" ajak Emilia. 


Ia langsung mengendarai sepeda motor menuju tokonya, "Aduh, mengapa aku tidak bertanya di mana rumah Deffri? Ya Allah, aku benar-benar pikun! Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Amara?" batin Emilia semakin bingung.


Sesampainya di toko ia kembali menelepon Deffri tetapi tidak diangkat juga, "Sebaiknya, aku mengirim pesan saja," batin Emilia menulis pesan pada Deffri ia sedikit kikuk karena selama ini mereka tidak pernah berkirim pesan maupun berteleponan mereka hanya berbicara secara langsung.


Emilia menyulang Keano dan mengerjakan PR Keano bersama-sama, tetapi bayangan Maya yang sedikit aneh memandang ke arah Amara membuatnya tak tenang, "Jika ada apa-apa, tidak mungkin Surti akan diam saja," batin Emilia sedikit tenang. Ia kembali ke lantai bawah membantu Mira.


***


Sementara Amara di rumahnya bersama dengan kakek Rahman dan nenek sambungnya Maya, "Aku sudah bilang, Pa. Bujuk Deffri untuk menikahi Delia tapi dia tidak juga mau menikahinya. Afiqah sudah 7 tahun meninggal, mau sampai kapan? Dia terus menduda!" ucap Maya.


"Biarkan saja, Ma. Deffri menantu kita, bukan anak kita yang bisa kita atur sesuka hati kita," balas Rahman masih bermain dengan Amara.


"Kamu lihat, Amara begitu kurusnya! Hadeh, Surti!" teriak Maya.


"Iya, Nyonya!" balas Surti tergopoh-gopoh.


"Siapa wanita yang mengasuh Amara tadi itu?" tanya Maya tidak suka.


"Oh, Bu Emilia. Dia teman Bapak Deffri, Nya."


"Ada hubungan apa mereka?" selidik Maya menatap ke arah Surti.


"Kalau soal itu saya tidak tahu, Nyonya," balas Surti, "andaikan aku tahu pun aku nggak akan buka mulut sama Nenek Sihir ini," batin Surti.


"Um, apakah mereka pacaran?" tanya Maya kurang suka.


"Saya tidak tahu, Nya! Itu urusan pribadi Bapak, saya tidak berani turut campur, Nya!" sindir Surti.


"Seharusnya kamu tahu! Deffri harus menikahi Delia," ujar Maya.


"Ya, Gusti! Mana mungkin Pak Deffri mau? Wanita yang kerap berpakaian  mengerikan, begitu? Bisa-bisa Tuan Besar Budi Hardiansyah marah," batin Surti mengenang ayah Deffri.


"Kamu harus.mencari tahu apakah Deffri dengan Em … Em siapa, sih? Namanya saja sudah udik begitu," balas Maya kesal, "aku harus menikahkan Delia dengan Deffri bagaimanapun harta Deffri sangat banyak, aku harus mendapatkan semuanya sudah susah payah aku menyingkirkan Afiqah," batin Maya.


"Ma, aku sudah bilang, biarkan saja Deffri dengan keinginannya. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan Deffri dan cucu kita," balas Rahman.


"Tidak bisa, Pa! Aku tidak mau warisan hanya satu-satunya yang berharga yang ditinggalkan oleh Afiqah akan terlantar! Bila ia menikahi wanita lain. Sedangkan Delia, putri kita yang tidak lain saudara Afiqah, kurang apa coba? Cantik, berpendidikan, dan tante dari Amara sendiri, Pa!" balas Maya tak mau kalah.


"Aku tahu, tapi urusan perasaan tidak bisa dipaksakan, Ma! Kamu mengerti dong! Lagian kamu kayak nggak tahu, kelakukan putri kita yang satu itu. Bagaimana di luaran sana?" balas Rahman, mengingat anak tirinya yang ia sendiri pun sudah tidak bisa untuk menasihatinya lagi.