
"Apa? Kamu serius, Em!" balas Deffri mengulurkan tangannya, "Ya, Tuhan! Keano benar-benar demam. Aku akan mencari dokter di sepanjang jalan ini," ujar Deffri berusaha untuk menepikan mobil dan mencari dengan GPS rumah sakit terdekat, "di depan sana, ada rumah sakit kita akan ke sana," balas Deffri langsung tancap gas menuju ke rumah sakit.
"Mama …," lirih Keano.
"Iya, Sayang. Mama di sini, Nak! Bertahanlah, sebentar lagi, Om Deffri akan membawa kita ke rumah sakit Nak!" balas Emilia.
"Bentar lagi, kita sampai Keano. Bertahanlah, Nak. Kamu ingin bersama dengan kak Amara bukan?" timpal Deffri menyentuh kaki Keano.
"Mengapa kak Amara tidak ikut?" balas Farel berusaha membuka matanya.
"Kak Amara menantikan Keano di rumah. Ayo, semangat! Nanti jika Keano sembuh, kita akan main basket bareng kak Amara. Keano maukan, Nak?" tanya Deffri.
"Tentu saja! Aku senang kalau kita main basket. Ada Mama, Om, kak Amara, dan Keano," balas ya tersenyum.
"Nah, tuh rumah sakitnya. Ayo," ajak Deffri membuka pintu mobil mengambil Keano dari gendongan Emilia dan membawa Keano dan Emilia memasuki rumah sakit.
"Putra Bapak dan Ibu terkena tipes! Semua ini karena ia jarang makan awalnya," balas dokter wanita setelah memeriksa dan memberikan obat dan juga memasang infus di pergelangan tangan.
Ponsel Deffri berbunyi, "Em, aku ke luar sebentar," pamitnya.
Deffri : "Halo, ada apa, Sandi!"
Sandi : "Deff, apakah Emilia bersama denganmu?"
Deffri : "Iya, kami lagi di RS, Keano demam. Ada apa?"
Sandi : "Pengacara Farel melayangkan surat tuntutan hak pengasuhan anak. Mahroni yang menerimanya,"
Deffri : "Kamu atur dulu, usahakan hak asuh Keano jatuh pada Emilia bagaimanapun caranya. Selain itu, buka kembali draf tuntutan Farel saat menceraikan Emilia. Gunakan apa pun bukti untuk kita sangkut pautkan dengan berkas pelecehan yang direncanakan Hana, walaupun kedua pria itu telah meninggal. Jika perlu apa pun cari saja sebagai bukti, aku tidak ingin Emilia terbebani untuk sekarang ini. Kasihan dia,"
Sandi : "Baiklah, aku akan bekerja sama dengan Azmi,"
Keduanya mengakhiri pembicaraan, "Malang sekali nasib Emilia," batin Deffri. Ia termenung mencari resepsionis dan administrasi untuk membayar semua biaya perobatan.
***
Sementara Emilia masih menggenggam tangan putranya, "Sayang, sebentar lagi kita pulang, Nak. Cepatlah sembuh Mama ada di sini," bisik Emilia di telinga putranya.
"Mama … jangan menangis, aku tidak apa-apa ikut papa. Asal Mama tidak menangis," lirih Keano menatap wajah mamanya.
"Tidak, Sayang. Mama akan selalu ada untukmu, Nak! Mama tidak akan memberikanmu pada Farel," balas Emilia, "aku tidak akan lagi mengalah bagaimanapun caranya," batin Emilia.
"Em, makanlah, dulu!" ujar Deffri mengangsurkan kotak nasi pada Emilia.
"Aku tidak lapar, Deff!" balas Emilia.
"Bagaimana kamu bilang tidak lapar? Jika kamu sakit bagaimana dengan Keano?" balas Deffri, "apa kamu mau ikutan sakit, juga? Terus yang mengasuh Keano siapa?" lanjut Deffri.
"Aku tidak menyangka jika Keano sampai sakit begini," ujarnya. Namun, Emilia menerima nasi kotak dan berusaha untuk memakannya.
"Dokter mengatakan, 'Keano akan sembuh di dalam beberapa hari lagi,' bersabarlah," ujar Deffri.
"Deff, bagaimana dengan Amara?" tanya Emilia, "apakah kamu sudah meneleponnya?" Emilia menatap ke arah Deffri.
"Oh, syukurlah. Aku rasa besok kita akan pulang, kasihan Amara. Aku ingin Keano dirawat di Karangsari saja," balas Emilia. Ia merasa tidak enak dan takut terjadi sesuatu kepada Amara.
"Jangan khawatir, Em. Amara adalah anak yang kuat, dia titip salam sama kamu," balas Deffri. Ia juga sudah rindu akan putrinya, tapi untuk saat ini Keano sedang sakit.
"Ma, Om! Aku ingin pulang kasihan kak Amara," bujar Keano tiba-tiba.
"Kamu tidak tidur Keano? Tidurlah, Nak! Besok kalau kamu cepat sembuh kita akan segera pulang," hibur Deffri.
"Baik, Om!" balas Keano. Ia segera memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
Malam semakin larut Emilia tertidur dengan bertumpu lengannya duduk di bangku di sebelah brankar Keano dengan menggenggam tangan Keano.
Deffri hanya memandang ke arah Emilia dan Keano dengan sejuta rasa yang sulit diungkapkan.
"Aku berharap aku dan Amara bisa memberikan kebahagiaan kepada kalian berdua," batin Deffri mengangkat tubuh Emilia dan membaringkannya di sofa di kamar inap rumah sakit. Deffrilah yang menggenggam tangan Keano kemudian.
"Ma …," lirih Keano.
"Iya, Sayang! Ini Om, Mama sedang tidur, ada apa?" tanya Deffri selembut mungkin.
"Tidak ada apa-apa, Om!" balas Keano menatap ke arah Emilia, "Om, apakah sejak kepergian Keano Mama bahagia?" tanya Keano menatap ke arah Deffri.
"Tidak, Sayang! Mama setiap hari bersedih dan menangis, Keano maukan tinggal bersama Mama selamanya?" tanya Deffri.
"Tentu saja, Om! Aku sangat menyayangi Mama, tapi … bagaimana dengan Papa? Apakah dia tidak menyakiti Mama?" tanya Keano khawatir. Ia takut dengan ancaman Farel, "bagaimana jika Papa kembali datang dan membawaku pergi dari sisi Mama?" tanya Keano.
"Jangan khawatir, kita akan berusaha untuk membuat Mama dan Keano tetap tinggal bersama selamanya," balas Deffri.
"Benarkah?" tanya Keano penuh binar kebahagiaan.
"Tentu saja! Um, lalu apakah sejak tinggal dengan Papa Farel Keano jarang makan?" tanya Deffri berhati-hati.
"Setiap Papa pergi Tante Hana jarang memberi Keano makan, malahan dia sering memarahi dan menghina Mama juga menghukum Keano dengan mengunci di kamar mandi," balas Keano.
"Ya, Allah! Benarkah?" tanya Deffri tersentuh perih. Ia tidak menyangka jika ada manusia yang mengerikan, "seharusnya jika ia menyukai dan mencintai seorang duda atau janda dia pun harus menerima anak yang dibawanya karena itu adalah satu paket komplit yang tidak bisa dibeda-bedakan atau dipisah," batin Deffri, "apakah Tante Hana pernah memukul Keano?" tanya Deffri.
"Kadang-kadang, dia juga mengancam untuk tidak mengadu kepada Papa," balas Keano.
"Oh," balas Deffri. Ia dengan diam merekam semua pertanyaan dan jawaban yang diberikan Keano kemudian mengirimkan kepada Sandi, Mahroni, dan Azmi.
"Om, apakah Kak Amara sendirian di rumah?" tanya Keano sedikit khawatir.
"Iya, tenang saja, Om Rony dan Mbak Mira juga Mbok Surti yang menemaninya, makanya Keano cepat sembuh biar kita segera kembali pulang," balas Deffri.
"Baiklah, Om!" balas Keano tersenyum dengan lembut.
Keduanya tidak menyangka jika Emilia mendengarkan semua pembicaraan keduanya, "Ya, Allah! Hana benar-benar seorang wanita yang telah mencoreng nama seorang ibu tiri di dunia ini. Apakah seorang ibu tiri atau ibu sambung tidak bisa menyayangi anak tirinya seperti anaknya sendiri?" batin Emilia meneteskan air mata.
Ia tidak menyangka jika Keano mampu menahan segala kesedihan yang dialaminya untuk bertahan, "aku tidak akan membiarkan Keano bersama pasangan itu lagi. Bagaimanapun Keano adalah putraku, aku harus mempertahankan dan memperjuangkan Keano untuk menjadi milikku selamanya bagaimanapun caranya," batin Emilia.