I Can Live Without You

I Can Live Without You
Ratu di hati selir menanti



"Sial!" balas Farel melepaskan cengkraman tangannya, "sehari ini sudah dua orang yang memojokkanku," batinnya. Ia membiarkan Siena kabur dari pandangannya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" balas suara dari dalam.


"Apa aku mengganggumu, Hardi?" tanya Farel melangkah masuk.


"Farel! Oh, tentu saja tidak. Aku malah senang kamu datang. Mengapa kau begitu kusut?" Hardi pria tampan tersenyum menatap Farel dengan tatapan penuh selidik, "aku tidak menyangka sejak perpisahanmu dengan Emilia kau malah semakin kacau balau, aku kira dengan menikahi Hana, kau akan semakin bersinar dan bergairah" sindir Hardi, "seharusnya kau lebih bahagia mendapatkan seorang gadis, cantik, pintar, dan menggairahkan.


"Namun, sepertinya … Hana tidak bisa memuaskanmu, bukan? Apakah istri pertama tetap yang nomor satu?" sindir Hardi blak-blakan.


"Hah! Kau sama saja dengan asistenmu, terlalu banyak omong!" balas Farel sedikit kesal. Namun, ia tidak menampik apa yang dikatakan oleh Hardi, "Emilia benar-benar telah berhasil mengacaukan diriku, aku tidak menyangka jika dia begitu berpengaruh di dalam kehidupanku," lanjut Farel menatap Hardi yang masih saja memperhatikannya.


"Um, terkadang kita tidak menyangka jika sesuatu itu begitu bermakna. Selama ini, kita tidak pernah menghargai kehadirannya bukan? Kita hanya menganggapnya hanya sebagai angin lalu, ternyata dia adalah orang yang sangat luar biasa, bukan?" balas Hardi tersenyum. 


"Aku tidak ingin membahas hal yang tidak perlu. Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu telah mendapatkan apa yang aku inginkan?" Farel menatap ke arah Hardi.


"Nih, apa yang kau butuhkan! Semua ada di sini, tapi … sebelum kau menyentuh Emilia kali ini. Kau harus berpikir seribu kali, Farel. Kali ini, Emilia benar-benar beruntung setelah kau campakkan," balas Hardi.


"Apa maksudmu? Dia hanya beruntung mendapatkanku! Tidak ada pria lain yang bisa membuatnya beruntung selain diriku, kau harus tahu itu!" ketua Farel sedikit marah karena ia terlalu direndahkan dibanding Deffri.


"Lihat, sajalah!" balas Hardi malas. Ia sangat tahu jika sahabatnya ini sangat egois juga keras kepala, "aku harap kau bisa mendinginkan otak batumu," batin Hardi.


"Sialan! Aku tidak menyangka jika Deffri orang terkaya nomor 3 di Riau?" ujar Farel terkesiap. Ia tidak menyangka jika Deffri orang yang luar biasa hebat bukan hanya sebagai pria biasa dan sederhana seperti yang terlihat selama ini. 


"Ya!" balas Hardi  menatap Farel memegang dagunya, "aku juga tidak menyangka awal menyelidiki riwayat hidupnya. Emilia benar-benar mendapatkan lotre keberuntungan," lanjut Hardi.


"Jadi, dia memiliki seorang putri berumur 7 tahun. Ia tamat dari SMA yang sama dengan Emilia, istrinya Afiqah telah meninggal. Berarti duda yang sangat sukses. Apakah Emilia tahu semua ini?" ucap Farel pada dirinya sendiri, ia masih terlalu fokus menatap wajah Deffri yang tampan bersama gadis kecil yang sangat cantik di sana.


"Aku tidak tahu, apakah kau berharap aku akan mencari tahu hal itu juga?" sindir Hardi.


"Tidak, perlu!" balas Farel gemas.


"Andaikan Emilia tahu, aku sangat yakin dia akan bertekuk lutut secepat kilat. Dia lebih dari kamu jauh, Farel!" balas Hardi.


"Emilia bukan wanita matrealistis, jika itu yang kau pikirkan," bela Farel tanpa disadarinya.


"Mengapa kau begitu yakin?" pancing Hardi.


"Aku mengenalnya selama 12 tahun ini, dan menjadi istriku selama 10 tahun terakhir. Jadi, aku tahu sikap dan sifat Emilia," lanjut Farel masih memperhatikan foto-foto keluarga Deffri.


"Wow! Kau benar-benar masih mencintai Emilia, bukan?" tanya Hardi sedikit bergerak dari tempat duduknya.


"Ya, aku tidak munafik! Aku … aku memang masih mencintainya  dia Ratu di hatiku," balas Farel.


"Sayangnya, di hatimu pun terlalu banyak selirnya, siapa yang sanggup Farel! Seperti yang kamu bilang, seorang wanita yang tidak ingin dimadu karena dia memiliki sesuatu bukan? Apalagi, dia bisa mencukupi kehidupannya, aku rasa … Emilia juga cantik. 


"Pasti banyak pria yang akan mengantri di belakang Emilia, mungkin aku juga!" balas Hardi menatap ke arah Farel.


"Jika kau melakukan, hal itu! Kau lihat saja, apa yang akan aku lakukan kepadamu tanpa pernah kau sadari Har?" ancam Farel tidak senang.


"Kau benar-benar egois, Farel! Seharusnya kau tidak perlu lagi mengurusi mantanmu, seharusnya sebagai mantan kamu juga bahagia jika Emilia menemukan kebahagiaan," balas Hardi.


"Kau terlalu egois, Farel. Keegoisanmulah yang akan menghancurkanmu suatu saat nanti," balas Hardi.


"Aku kemari mencari informasi darimu, bukan mendengarkan nasihatmu," balas Farel sedikit marah.


"Oke, jika itu yang kamu inginkan. Aku hanya tidak ingin kau semakin menyesali segalanya, sebelum terlambat Farel. Saat ini, kau kehilangan  Emilia dan segenap cintanya, takutnya suatu saat nanti, kau juga akan kehilangan cinta dari putramu sendiri," balas Hardi.


"Persetan! Aku tidak akan kehilangan keduanya. Aku akan membawa Emilia kembali ke pelukanku bagaimanapun caranya. Aku hanya ingin kau mengerjakan apa yang aku perintahkan, aku akan membayar mahal untuk itu!" balas Farel.


"Oke, siapa takut! Terpenting, aku telah menasihatimu, sisanya terserah padamu!" balas Hardi.


"Bagus!" balas Farel tersenyum penuh kemenangan.


***


Deffri, Emilia, dan Keano telah sampai di toko pakaian milik Emilia. 


"Papa!" teriak Amara menyongsong kedatangan Deffri dan memeluknya.


"Apakah gadis kecilku, baik-baik, saja?" tanya Deffei memeluk Amara dengan penuh kasih sayang.


"Tentu saja, Pa!" balasnya tersenyum, "apakah Papa dan Bunda Em, berhasil membawa Keano pulang?" tanya Amara penasaran menatap ke arah mobil papanya.


"Tentu, saja! Bukankah kita sudah merencanakannya," balas Deffri tersenyum bahagia.


"Wah, Papa sungguh hebat sekali!" balas Amara tersenyum.


"Papa siapa dulu  dong?" tanya Deffri mengecup seluruh wajah putrinya, Emilia dan Keano ke kuar dari dalam mobil.


"Keano! Kamu kenapa?" tanya Amara dari gendongan papanya langsung beringsut turun mengejar, Keano.


"Aku demam Kak," balas Keano tersenyum menggenggam tangan Amara.


"Amara, kamu tidak apa-apa di rumah, Nak?" tanya Emilia mengecup puncak kepala Emilia, dan menggandengkan Amara memasuki toko pakaiannya.


"Aku baik-baik, saja Bun!" balas Amara tersenyum.


"Mbak, Keano!" ujar Mira dan Surti menyongsong keempatnya.


"Kami baik-baik, saja!" balas Emilia tersenyum.


Mereka duduk di sofa di ruang atas, "Bu, ibu mau dimasakin apa?" tanya Surti wanita setengah tua yang sangat lembut.


"Mbok, terima kasih sudah jagain Amara. Um, terserah saja Mbok. Apa yang disukai Amara saja," balas Emilia.


"Bunda, Amarakan nggak sakit. Yang sakit tuh, Keano, Bun. Jadi, ya Keano mau makan apa?" tanya Amara menatap ke arah Keano.


"Um, apa aja Kak. Yang penting makanlah," balas Keano.


"Kamu mau bubur ayam? Aku akan membantu si Mbok masak. Masakannya enak lho?" ujar Amara mempromosikan inang pengasuhnya dari bayi.