I Can Live Without You

I Can Live Without You
Perih dan duka



Mira dan Mahroni meninggalkan Deffri yang masih mengetuk dan membujuk Emilia, dengan tangan membawa piring lengkap dengan lauk-pauknya.


"Mas, bagaimana dengan Mbak Emilia?" tanya Mira khawatir.


"Mas yakin, Mas Deffri bisa membujuk Mbak Emilia. Ayo, kita melayani pembeli di toko saja," ajak Mahroni menarik lengan Mira menuruni tangga menuju toko pakaian di bawah.


Sayup-sayup suara Deffri masih mengetu pintu, "Em, paling tidak, cobalah untuk makan. Mau sampai kapan kamu begini terus? Memang jika kamu menyiksa diri kamu, Keano akan pulang? Apakah Farel akan memberikan Keano? Jika kamu melakukan hal ini? Tidak, bukan? Kamu butuh memperjuangkan hak kamu, Em!" ucap Deffri.


Emilia yang berada di dalam kamar bergelung di dalam selimut semakin terisak sedih, "Deffri, benar! Farel akan semakin senang menyiksa dan menertawakan diriku," batinnya sedih, "aku harus bangkit! Aku harus melupakan semua hal yang menyiksa ini, demi Keano," batinnya.


Emilia langsung bangkit dan membuka pintu, "Deff hiks, hiks … Aku tidak tahu harus bagaimana lagi? Keano Deff, Keano putraku!" balasnya terisak.


Wajah pucat pasi dan tubuh kurus kering Emilia semakin  bak mayat hidup, "Em, kamu nggak boleh seperti ini terus! Kamu harus kuat, bagaimanapun jalan kamu masih panjang. Jika Farel tahu kamu seperti ini, apa yang akan dia katakan?" ujar Deffri.


"Dia akan bilang, 'Kau tidak bisa hidup tanpaku! Apa kubilang dasar wanita bodoh,' itu yang akan dia katakan, Deff." Emilia menyeka air matanya, ia merasa sangat bodoh sekali.


"Nah, kamu sudah tahu jawabannya. Mengapa harus menyiksa diri yang tak terlalu penting? Bukan berarti Keano nggak penting, Em. Kita akan mencarinya bersama-sama. Aku yakin kita akan menemukannya, percayalah!


"Tidak akan mungkin, Allah memberikan ujian diluar batas kemampuan kita, Em. Percayalah, akan takdir dan jalan cerita hidupmu," papar Deffri, "suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaan hidupmu. Walaupun mungkin hal itu, kamu harus merangkak di pecahan kaca," ucap Deffri membelai lembut kepala Emilia yang masih terisak.


Emilia hanya menyeka air mata yang semakin tertumpah di wajahnya, "Jadi aku harus bagaimana?" lirih Emilia menatap Deffri.


"Pertama, kamu makan dulu, Em. Jika perut kenyang kita bisa berpikir secara logika," balas Deffri menuntun Emilia ke salah satu sofa di ruang tamu di lantai atas.


Deffri dengan telaten menyuapkan sesuap demi sesuap nasi, "Sudah Deff," ujar Emilia hanya makan beberapa suapan.


"Sedikit lagi, memang kamu nggak mau ngejar Kiano ke mana dia pergi? Jika kamu nggak sehat dan kuat berlari bagaimana kamu ngejar dia," nasihat Deffri dengan tersenyum


Emilia kembali membuka mulutnya, bayangan Keano yang berlari dan tertawa membuat Emilia semakin kuat dan ingin segera menemukan belahan jiwanya. Akhirnya seporsi makanan telah masuk ke dalam perut Emilia dengan kepintaran Deffri membujuknya.


"Deff, makasih! Kamu benar-benar sudah menolongku," balas Emilia.


"Sesama teman wajib untuk saling mengingatkan, Em!" sambut Deffri memberikan segelas air minum.


"Mandilah, kamu mengerikan! Terlalu horor, entar pelanggan kamu kabur semua. Mereka tidak bisa membedakan mana kuntilanak dan kamu, Em!" goda Deffri.


Membuat Emilia tertawa dan menepuk punggung Deffri dengan lembut. Selama seminggu ke depan Deffri benar-benar merawat Emilia menemani kala dia menangis dan bersedih, bersama dengan Amara putrinya. Keduanya selalu menemani dan merangkul Emilia, "Pa, hujan deras sekali! Bagaimana kita pulang?" tanya Amara melihat dari jendela toko.


"Kalian bisa menginap di sini, Amara tidur bersama Bunda, dan Papa kamu bisa tidur di kamar sebelah," usul Emilia. 


"Trus Mbak Mira, gimana Bun?" tanya Amara.


"Mbak bisa pulang dengan Om Roni," ujar Mira.


"Memang Roni mau kemari, Mir?" tanya Emilia ia sama sekali tidak menyadari jika Mahroni sepupunya sangat dekat dengan Mira. Emilia terlalu memikirkan Keano sehingga dirinya tidak memperhatikan sekitarnya.


Mira seorang anak yatim yang hanya tinggal bersama dengan ibu dan seorang adik, ia harus bekerja membanting tulang dan mengambil kuliah malam.


"Ya, sudah kalau begitu! Hati-hati, apakah kamu butuh mantel?" tanya Emilia.


"Kata mas Roni, 'Dia akan bawa mobil,' begitu Mbak," balas Mira.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu," balas Emilia tersenyum. 


Berselang beberapa jam kemudian Mahroni benar-benar datang dengan Honda Jass-nya. Segera pamit membawa Mira, "Hati-hati, bawa anak gadis orang, Ron. Pulangkan dengan baik jangan ada lecet sedikit pun!" pesan Emilia.


"Yee, memang aku drakula apa Mbak? Pakai lecet segala!" sambut Mahroni tersenyum.


"Iya, Mbak tahu kamu bukan drakula, makanya jangan sampai jadi drakula. Tanggung jawab, tuh!" balas Emilia.


"Beres, Bos!" balas Mahroni dengan melakukan gerakan hormat ala tentara.


"Mbak, saya pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Mira.


"Iya, hati-hati, Mir! Kalau Roni nakal tepok aja jidatnya!" pesan Emilia membuat Mira tertawa.


Deffri hanya memandang Emilia yang tertawa sambil memangku Amara, "Emilia sangat cantik luar biasa," batin Deffri menatap wajah Emilia, "andaikan dia terus tertawa dan selalu tersenyum bahagia itu sangat luar biasa, aku akan mencari Keano ke mana pun disembunyikan oleh Farel. 


"aku ingin Emilia selalu saja bahagia selamanya, aku tidak ingin dia menderita dan sedih," lanjut batin Deffri.


Amara sudah tertidur di pangkuan Deffri, "Deff, sebaiknya Amara baringkan saja, di kamarku!" ucap Emilia.


"Baiklah," Deffri langsung membawa Amara ke kamar Emilia. Hujan masih saja mengguyur Kota Karangsari, Emilia membuat makan malam dan brownies panggang.


"Wanita yang sangat, luar biasa! Pantas saja Farel menyesali perpisahan mereka, andaikan aku pun pasti akan melakukan banyak hal agar Emilia kembali ke pelukanku," batin Deffri memperhatikan Emilia bersandar di kusen pintu dapur memandang semua gerakan tangan Emilia yang cekatan.


"Ya, Allah, Deff! Kamu ngagetin aku," ucal Emilia memegang dadanya.


"Maafkan, aku! Aku hanya melihatmu, kamu lagi apa?" tanya Deffri berjalan begitu lihainya melangkah melewati meja makan dan gang sempit begitu cekatan bak harimau siap menerkam mangsa. Deffri mendekati Emilia berdiri di sisinya, "kamu masak apa? Wangi banget," ucap Deffri mengintip dari balik kaca microwave.


"Aku lagi memanggang brownies. Kemarin aku melihat Amara dan Keano sangat menyukai kue ini, aku berharap besok pagi saat keduanya bangun, mereka akan bahagia sarapan pagi," balas Emilia tersenyum dengan semangat. 


Deffri terenyuh sebagian jiwa dan hatinya merasakan sakit dan duka yang sangat dalam, "Apakah Kamu akan membaginya denganku juga?" tanya Deffri berusaha untuk tidak mengingatkan Emilia tentang Keano yang tidak bersama mereka.


"Tentu saja, tapi kamu hanya sepotong saja. Soalnya ini khusus buat anak-anak, tepung dan mentega lagi habis, besok-besok aku buatin black forest kesukaan kamu," balas Emilia menoleh ke sisinya dj mana Deffri bersandar pada meja kompor. Memperhatikan binar kebahagiaan di wajah Emilia.


Deffri meraih ponsel di sakunya, "Aku tidak mau tahu, Sandi dan  Azmi harus mencari keberadaan Keano. Jika perlu aku akan meminta tolong pada mafia bawah tanah untuk menemukannya," batin Deffri. Ia langsung mengirimkan pesan pada kedua sahabatnya