I Can Live Without You

I Can Live Without You
Pembelaan Amara



Pagi hari sesuai kesepakatan Emilia dan Rahman, keduanya pergi menemui Mujiawan untuk membicarakan kerjasama mereka di bidang konveksi, "Oh, apa kabar Pak Rahman? Aku senang kalian benar-benar datang menemuiku," sapa Mujiawan memeluk Rahman.


"Ya, aku ingin mengajak putriku untuk mengembangkan toko pakaiannya. Tokonya sangat laris, aku berharap kamu mau memberikan koleksi konveksi kamu padanya," balas Rahman dengan tenang. Emilia menyalam Mujiawan dengan takzim.


"Anak ini mengingatkanku akan Afiqah," balas Mujiawan, "kamu beruntung sekali, Rahman," lanjut Mujiawan.


"Ya, aku juga tidak menyangka akan hal itu. Itu adalah suatu anugrah, bukan? Aku pun harus bersyukur untuk hal itu," puji Rahman duduk di salah satu sofa dengan bertumpu pada tongkatnya.


"Tolong, ajarin saya Paman!" ujar Emilia ia merasa sangat kecil dibandingkan dengan dua pria tua di depannya merupakan pebisnis yang luar biasa. Emilia benar-benar ingin mempelajari semua trik dan cara mereka berbisnis.


"Tentu saja, Nak! Putri Rahman adalah anakku juga," balas Mujiawan. Akhirnya mereka saling menandatangani kontrak kemudian Emilia memilih pakaian yang sangat dibutuhkannya.


Tut! Tut! Tut!


Ponsel Emilia berdering.


Emilia : "Ada apa, Bu?"


Riana : "Ini Mama dari siswa kami bernama Amara Angelina Hardiansyah?"


Emilia : "Iya, saya Mamanya. Ada apa dengan putri saya?" 


Riana : " Amara sedang sakit, Bu!"


Emilia : "Apa? Baiklah saya akan ke sekolah!" 


Emilia langsung mematikan ponsel dan berlari meninggalkan Rahman dan Mujiawan.


Kedua pria tua tersebut kebingungan, "Ada apa dengan Emilia?" tanya Rahman melihat menantunya langsung berlari tak peduli dengan semua pakaian yang sedang dipilihnya.


"Seseorang menelpon mengatakan, 'Jika putrinya sakit!' aku tidak tahu ada apa dan sakit apa?" balas Mujiawan.


"Putrinya?"


"Iya putrinya,"


"Ya, Allah … berarti cucuku Amara! Aku ingin kamu meminjamkan supirmu untuk mengantarkanku ke sekolah," pinta Rahman.


"Baiklah," balas Mujiawan.


***


Emilia telah sampai di sekolah Amara ia langsung menuju ke kantor kepala sekolah, "Bagaimana dengan putri saya, Pak?" tanya Emilia. Ia melihat Amara duduk di salah satu bangku di sudut ruangan Kepsek dengan diam Emilia langsung menghampiri Amara, "Mana yang sakit, Sayang?" tanya Emilia cemas.


"Maaf, Bu! Apakah Ibu adalah Mamanya?" tanya kepala sekolah.


"Ya, saya Mamanya. Ada apa ya, Pak?" tanya Emilia bingung ia tidak melihat jika Amara sakit.


"Begini, Pak. Yang terluka itu bukan Amara melainkan Dwi," ujar Kepsek.


"Apa? Lalu hubungan dengan anak saya apa, Pak?" tanya Emilia bingung ia mulai cemas.


"Mereka berdua berkelahi! Amara memukul Dwi, Bu!" ucap Kepala Sekolah.


"Apa! Tidak mungkin anakku melakukan hal itu, Pak. Jika tidak ada masalahnya? Aku mengenalnya, kecuali ia diganggu dan disakiti terlebih dahulu!" cacar Emilia.


"Bu, saya mendidik putri saya semampu dan sebisamu, lagian kita belum tahu alasan apa yang membuat putriku memukul putramu. Apakah kau mengajarkan jika anak pria harus memukul anak wanita? Kita cari dulu masalahnya. Jika putriku yang bersalah, aku akan bertanggung jawab! Tapi jika putramu yang bersalah kamu pun harus bertanggung jawab!" ketus Emilia.


Ia sangat yakin jika Amara tidak bersalah, "pasti ada sesuatu yang telah membuat Emilia marah," batin Emilia.


"Bagaimana Bu, Darmawan?" tanya Kepsek melihat ke arah Ibu Darmawan.


"Saya sangat yakin jika putra saya tidak bersalah! Anak kamu itu yang kurang didikan, apalagi ibu kandungnya sudah meninggal. Wajarlah dididik Ibu sambung seperti ini," ujar Nyonya Darmawan.


"Hei, sudah aku bilang, jangan pernah menghina Mamaku! Aku pun tidak pernah menghina Ibu, tapi Dwi selalu mengata-ngatai Mamaku yang sudah meninggal dan Mama Emilia. Dwi saja tidak terima jika Mamanya aku bilang kurus kering kayak kayu? Kenapa dia marah? 


"Selama ini Dwi bilang, 'Mamaku meninggal karena tidak sayang padaku, dan Mama tiriku adalah wanita murahan!' wajarkan aku pukul?" ujar Emilia.


Semua orang terdiam, "Bapak kepala sekolah, ini adalah pencemaran nama baik! Aku akan menuntut pihak sekolah dan Nyonya Dermawan yang sudah menyebarkan rumor yang tidak pantas. 


"Saya mau bertanya kepadamu, Nyonya? Apa pernah kau melihatku dengan pria lain di sebuah hotel? Saat aku menikah dengan mantan suamiku dan saat aku menjadi seorang janda?" tanya Emilia geram menatap ke arah Nyonya Dermawan.


"Ti-tidak pernah!" balas Nyonya Dermawan.


"Jika tidak pernah, mengapa putramu bisa mengatakan hal itu? Jika bukan di rumah kalian bergosip yang tidak pantas tentangku! Bagaimana mungkin anak berumur 7 tahun pintar bergosip jika bukan karena kedua orang tuanya? Jadi Nyonya aku akan melaporkan hal ini! Putramu telah menyakiti kejiwaan putriku.


"Apakah mama kandungnya Afiqah meninggal itu karena dia tidak sayang pada putrinya? Bagaimana mungkin anak sekecil putramu bisa mengatakan hal itu? Anak tampan, siapa yang mengatakan, 'Jika mama kandung Amara tidak sayang padanya?' jangan takut," tanya Emilia berjongkok di depan Dwi.


"Mama, Tante!" balas Dwi.


"Siapa yang sering mengatakan, jika Mama tiri Amara wanita murahan?" tanya Emilia.


"Mama, Tante!" balas Dwi.


"Nah, kalian sudah mendengar jawabannya sekarang aku ingin kalian mengadili seadil-adilnya antara putriku dan putra Nyonya Darmawan. Jika kalian tidak bisa, aku akan membawa ke komite anak!" ancam Emilia.


"Jangan begitu, Bu! Baiklah, Bu Darmawan, saya harap Ibu meminta maaf kepada Amara dan Mamanya sekaligus Ibu tidak boleh mengajari hal-hal yang tidak penting dan merendahkan martabat orang lain," ucap Kepsek.


"Maafkan kami Bu Hardiansyah, kami tidak akan mengulanginya lagi!" ujar Nyonya Darmawan takut.


"Baiklah saya memaafkanmu, tapi jika saya mendengar sekali lagi tiada maaf lagi. Amara, meminta maaflah kepada Dwi karena kamu sudah memukulnya walaupun kamu membela diri kamu," nasihat Emilia, Amara dan Dwi saling bersalaman dan memaafkan.


Rahman di luar ruangan kepala sekolah, "Betapa beruntungnya Amara mendapatkan Ibu sambung seperti Emilia. Syukurlah, aku berharap segalanya akan menjadi lebih baik lagi kedepannya," batin Rahman, "aku tidak lagi merasa was-was jika meninggalkan Amara kelak di tangan Emilia," lanjut batin Rahman.


Rahman berjalan menunggu di mobil bersama dengan Broto, "Lha, Bu Emilia dan Non Amara mana Pak?" tanya Broto. 


"Sebentar lagi mereka juga menyusul," balas Rahman.


***


Sementara Deffri masih berada di kantornya ingin pulang ke rumah, "Pak Deffri!" teriak Ardhan.


"Ada apa, Pak?" tanya Deffri berusaha untuk seprofesional mungkin, tidak membawa sakit hati maupun apa yang sudah dilakukan oleh Ardhan dan Siska.


"Saya yang ingin bertanya," ucap Ardhan menyeka kepala botak dan napas ngos-ngosannya.


"Ya, silakan!" balas Deffri menatap ke arah Ardhan.


"Memang Bapak tidak bisakah mencari wanita yang lebih baik dari Emilia?" tanya Ardhan.