I Can Live Without You

I Can Live Without You
Serupa tapi tak sama



Emilia meninggalkan para lelaki dan pergi menjemput anaknya dari sekolah TK dan SD, Emilia sudah memindahkan Keano di sekolah yang sama dengan Amara sehingga ia dengan mudah menjepit keduanya hanya beda tingkat sekolah saja.


"Mama!" teriak Amara dan Keano.


Emilia memeluk kedua buah hatinya, "Ayo, kita makan siang setelah itu pulang istirahat dan kalian les di rumah saja, Mama akan kembali ke kantor!" balas Emilia.


"Baiklah, Ma!" jawab keduanya.


Emilia melihat jika kedua anaknya adalah anak yang patuh akan tetapi ia merasa dibalik kepatuhan itu mereka sangat merindukan kasih sayang dari ayah mereka Deffri, Emilia pun merindukan Deffri dengan segenap rasa yang entah sejak kapan mulai hadir menemani hari-harinya.


Emilia telah mengantar kedua anaknya ke rumah setiap hari ia selalu melakukan hal yang sama, "Emilia," sapa Farel.


"Ada apa?" balas Emilia sejak meninggalnya Deffri, Farel telah berulang kali berusaha untuk mendekatinya tetapi cinta Emilia kepada Farel telah pupus ditelan waktu.


"Bisakah kita makan malam bersama?" tanya Farel.


"Maaf, aku tidak punya waktu. Ajaklah istrimu, jangan ajak istri orang lain," balas Emilia sedingin kutub pada Emilia.


"Emilia kamu 'kan janda, memang sampai kapan sih kamu akan menanti Deffri? Dia susah meninggal! Kamu cari saja gantinya? Mungkin Allah ingin memberikan suatu jalan untuk kita bersatu lagi, demi Keano!" ujar Farel.


"Maaf, Farel! Bagiku, aku selalu membiarkan orang pergi meninggalkanku, jika ia sudah tak ingin lagi aku berada di sisinya. Tapi setelah aku pergi jangan pernah berharap aku 'kan kembali lagi," ujar Emilia.


"Kamu angkuh sekali! Aku yakin kamu pun masih mencintaiku!" teriak Farel dengan percaya dirinya yang mengalahkan langit ketujuh.


"Maaf, bagiku cintaku padamu sudah tergantikan oleh Deffri. Jika Deffri telah meninggal biarlah … sampai mati pun aku akan menyandang status jandaku! Kau tahu mengapa? Katena hanya dialah pria yang tulus mencintaiku!" balas Emilia meninggalkan Farel dengan tergesa-gesa. 


"Emilia! Emilia! Aku mohon, mengertilah, aku ingin rujuk denganmu?" ucap Farel berusaha untuk mengejar Emilia yang terus berlari meninggalakan mantan suaminya.


"Dasar, sialan! Udah putus kali urat malu si Farel gila itu! Memang kalau Deffri meninggal aku akan menikah lagi? Tidak akan pernah!" gerutu Emilia menabrak seseorang


Bruk! 


Semua belanjaan pria tersebut berhamburan, "Oh, maaf! Maaf! Saya tidak sengaja, Bu! Eh, Pak Dino!" ujar Emilia merasa bersalah ia mengira telah menabrak seorang wanita.


"Besok saya akan ganti rok saja!" balas Dino dengan tersenyum turut mengumpul semua belanjaannya, "Maaf, Pak!" ulang Emilia kembali, "bisa-bisanya, aku menabrak orang! Bodohnya aku," batin Emilia menyesali kebodohannya hanya karena emosi sesaat terhadap Farel.


"Mau beli apa, Bu?" tanya Dino.


"Oh, keperluan anak dan rumah Pak!" jawab Emilia, "mari Pak!" pamit Emilia tak ingin terlalu lama bicara pada Dino, ia merasa suara Dino yang sangat mirip dengan Deffri. Tinggi dan perawakan tubuh juga parfum yang dipakai Dino semuanya mengingatkan Emilia kepada suaminya yang entah di mana kini.


Emilia telah memasuki supermarket sedangkan Dino memasukkan bekanjaannya ke dalam mobil dan kembali masuk ke dalam supermarket mengambil keranjang kecil dan mencoba mencari Emilia, "Hai!" sapa Dino.


"Oh, Pak Dino!" balas Emilia sedikit bingung keduanya kembali memilih apa yang diperlukan di dalam diam, keduanya mengambil barang yang sama, "Lagi-lagi semua yang diambilnya adalah apa yang aku, Deffri, Keano, dan Amara suka!" batin Emilia,


Akhir-akhir ini terlalu banyak pria yang mencoba mendekatinya bukan hanya karena status janda yang disandangnya kembali tapi embel-embel jika dirinya adalah seorang direktur utama perusahaan Cahaya Grup. 


Emilia tidak ingin memberikan kesempatan kepada pria mata duitan bin keranjang juga tidak ingin menjadi korban para lelaki berhidung zebra dan buaya berjalan di darat dengan dua buah kaki.


"Kebetulan itu juga kesukaan saya, istri, dan anak saya! Sayangnya kami sedang terpisah!" balas Deffri.


"Oh, kalau hanya terpisah kejarlah! Jangan sampai dia tak ada lagi di dunia ini, maka semuanya hanya tinggal kenangan," balas Emilia menerawang menggenggam pisau cukur yang dibelinya walaupun ia tahu entah untuk siapa.


Namun, Emilia selalu berpikir jika Deffri akan kembali suatu saat nanti, ia tak la  tak lagi kesulitan. Dino memperhatikan Emilia termenung ingin rasanya ia merengkuh tubuh Emilia ke dalam pelukannya.


"Ini ... juga lagi ngejar istriku yang terlalu jauh berlari!" balas Dino.


"Oh, syukurlah!" balas Emilia tidak memiliki prasangka apa pun.


"Aku juga memakai cukuran jambang yang sama dengan itu!" ujar Dino menatap ke arah wanita cantik di  yang terlihat kurus dan tak terurus, sinar matanya terlalu sendu dan penuh kedukaan walaupun ia berusaha terlihat riang dan kuat menjalani semuanya.


"Oh, iya suamiku Deffri … Ia sangat menyukainya karena-"


"Tajam, langsing, dan tidak mudah tumpul, juga mudah disimpan!" balas Dino.


"Oh, iya Bapak benar! Ia juga mengatakan hal yang sama, hehehe!" balas Emilia dengan binar bahagia di wajahnya seakan ada seseorang yang mengatakan jika Deffri masih hidup di sana.


"Ayo, makan masakan Jepang. Aku rasa sashiminya sangat segar!" ajak Dino langsung menggamit lengan Emilia dan membawa kantongan belanjaan mereka berdua.


"Eh, maaf bisakah Bapak melepas tangan saya?" tucap Emilia sedikit jengah ia tidak ingin gosip semakin melanda lagi.


"Oh, maaf! Ayo," ajak Dino melepas tangan Emilia.


Keduanya berjalan dan memesan makanan duduk dengan diam, "Um, kalau boleh tahu, apakah sudah ada kabar tentang kemajuan masalah pak Deffri, Bu?" tanya Dino tiba-tiba.


"Oh, belum! Aku sudah menunggu selama 6 bulan ini, tapi tidak ada tanda-tandanya ia masih hidup atau sudah tiada lagi. Tapi aku sangat yakin jika suamiku itu masih hidup!" balas Emilia.


"Oh, alangkah beruntungnya suami Ibu. Memiliki istri yang sangat luar biasa," balas Dino tersenyum, ia ingin merangkul wanita di sisinya yang terluka akan cinta dan penantian yang sulit.


"Andaikan aku mudah untuk mengatakannya, bagaimana aku harus mengatakannya?" batin Dino bingung.


"Bagaimana dengan istrimu, Pak? Apakah ada masalah hingga kalian saling berjauhan?" tanya Emilia.


Pelayan datang mengantarkan makanan dan tersenyum keduanya mengucapkan terima kasih dan mulai makan,  lagi-lagi Emilia terperanjat cara makan dan semua yang diperlihatkan Dino persis sama dengan Deffri, "Siapakah pria ini? Mengapa aku begitu nyaman saat bersamanya?" batin Emilia semakin bingung.


Seakan dirinya sedang bersama Deffri, kenangan kembali berputar menghantui benaknya, "Besok aku akan ke Bandung lagi. Siapa tahu aku sudah mendapatkan kabar terbaru?" batin Emilia.