
"Terima kasih!" balas Emilia.
Deffri akhirnya meninggalkan kediaman Emilia, kini sunyi mencekam yang ada, yang tertinggal hanyalah kenangan almarhumah Asih. Keano sudah tertidur, "Mbak, saya pulang dulu! Hati-hatilah, tutup dan kunci semua pintu Mbak," pesan Mahroni.
"Iya, Dek! Makasih, ya!" balas Emilia. Mahroni adalah sepupu Emilia yang sangat menyayanginya begitu juga sebaliknya.
"Di antara saudara tidak ada ucapan terima kasih, Mbak. Semua ini adalah kewajibanku," balas Mahroni meninggalkan Emilia, yang masih menatap semuanya dengan kebingungan.
Emilia mengangkat Keano memindahkan ke kamar Asih, ia ingin tidur bersama di kamar mamanya. Ia memandang sekeliling ruangan dengan sedih, air mata kembali berderai, "Andaikan aku tahu, mama akan pulang selamanya. Aku tidak akan membiarkan mama pergi ke rumah Farel sialan itu," ujar Emilia geram.
Ia hanya menghela napas, mengecup kening putranya memeluk dengan lembut, Putraku kembali tapi mamaku harus pergi, tak ada yang sempurna di kehidupan ini. Aku mendapatkan sesuatu dan aku juga harus siap kehilangan sesuatu, batin Emilia. Ia tertidur dengan memeluk Keano, ia bermimpi bertemu dengan Asih dan ayahnya Rahman, ia melihat ayah dan mamanya sudah bahagia di sana hanya melambaikan tangan kepadanya.
"Mama, Abah!" lirih Emilia, mengejar bayangan yang menghilang meninggalkan dirinya bersama dengan Keano.
Emilia terbangun dan menangis bahagia, ia mengambil wudhu dan memanjatkan doa untuk kedua orang tua, juga untuknya dan Keano. Pagi hari ia mulai bersiap-siap membereskan semua rumah dan banyak hal, Deffri dan yang lain datang ke rumah Emilia. Termasuk keluarga, "Emilia ada yang ingin aku katakan," ucap Pakde Sutris.
"Ada apa, Pakde?" tanya Emilia penasaran, mulai duduk di depan pakdenya yang sedikit nyentrik.
"Dulu, ibumu Asih sudah menggadaikan rumah ini untuk biaya abahmu sakit. Jadi, ia berpesan jika dia meninggal maka rumah ini akan menjadi milik Pakde," ujar Sutris.
"Tapi, aku yang selalu membayar semua perobatan abah. Bagaimana mungkin?" batin Emilia.
Deg!
Jantung Emilia bertanya bingung, "apa? Mengapa mama tidak pernah bicara mengenai hutang ini?" tanya Emilia bingung.
"Kamu tidak percaya dengan Pakde kamu ini? Apa kamu kira Pakde berbohong begitu?" tanya Sutris.
"Bukan begitu Pakde. Soalnya Mama dan Abah tidak pernah ngomongin masalah ini. Jadi, wajarkan jika aku bertanya," balas Emilia.
"Tentu saja kamu tidak salah, jika kamu mau membayar hutang orang tuamu ya, bayar 10 kali lipat dari yang dipinjam ibu kamu dulu," ketus Sutris.
"Memang abah dan Mama hutang berapa Pakde?" tanya Emilia bingung.
"20 juta, kamu bisa membayarnya 10 kali lipat, jika tidak rumah ini akan menjadi milik Pakde," ucap Sutris tanpa perasaan.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu Pakde!" balas Emilia jujur.
"Jika demikian kamu bisa pindah dari rumah ini, Emilia. Pakde mau jual rumah ini, soalnya Pakde juga lagi butuh duit," balas Sutris.
"Baiklah Pakde. Beri waktu setelah tujuh hari mama, Pakde." Emilia meminta tenggang rasa, "aku kan tinggal di toko, saja!" batin Emilia.
"Tidak bisa, Emilia. Aku ingin besok kamu kosongkan rumah ini," balas Sutris.
"Aku akan membelinya, Pakde!" balas Defri.
"Apa?" semua orang melihat ke arah Defri.
"Iya, aku juga suka rumah ini. 200 juta 'kan Pakde? Besok akan saya bawa uangnya dan surat menyuratnya, Pakde. Saya akan mempersiapkan duitnya, Em kami boleh tinggal di sini. Dan kamu cicil berapa yang bisa kamu bayar setiap bulan," ujar Deffri, "jangan khawatir aku bukan lintah darat," balas Defri membuat Sutris memerah menahan amarah.
"Baiklah, jika demikian. Lagian, jika Pakde mau menjualnya harus ada tanda tangan dari Emilia selaku ahli waris. Apalagi, tidak ada hitam di atas putih. Selain itu, surat menyurat masih berada di tangan Emilia, bukan?" cecar Defri, membuat Sutris sedikit berjengit.
Sutris tidak menyangka jika Defri benar-benar pintar dan lihai, "Baiklah, kamu bisa membayar hutang orang tuamu sebesar 20 juta saja Emilia," balas Sutris meninggalkan rumah.
"Ada apa tuh, rentenir kemari!" tanya Mahroni.
Emilia menceritakan maksud dari Sutris, "Apa? Sejak kapan Pakde Rahman dan Bukde Asih punya hutang? Jangan mau Mbak, paling juga dikibuli kayak Pakde Darma," balas Mahroni.
"Entahlah, Ron! Mbak makin bingung," balas Emilia jujur.
"Pokoknya jangan mau, Mbak!" balas Mahroni.
"Daripada ribut, besok Mbak akan bayarlah, Roni. Mbak malas ribut sama Pakde Sutris," balas Emilia.
"Mbak! Mbak! Sekali-kali itu melawan Mbak, jangan diam terus! Orang seperti Farel dan Pakde Sutris wajib dikerasi," usul Mahroni.
"Kamu ini, jadi adik yang benar, dong! Masa ngasih saran yang aneh, gitu!" ujar Emilia kurang senang.
"Ya, sudah! Kalau Mbak nggak percaya. Begitu itu Mas, Mbak Emilia, kalau dikasih tahu! Ngeyel, alias keras kepala!" Mahroni mulai pintar mengadu kepada Deffri yang hanya tersenyum menanggapi semuanya.
"Dari dulu, Mbak kamu memang seperti itu," balas Deffri tersenyum.
"Memang, Mas Defri susah kenal lama?" tanya Mahroni penasaran.
"Sudah, dari sekolah. Tapi, baru ketemu beberapa minggu yang lalu," balas Deffei menceritakan awal mula mereka bertemu kembali setelah 11 tahun perpisahan.
"Oh, begitu!" balas Mahroni senang.
Keesokan harinya Emilia benar-benar membayar hutangnya pada Sutris ditemani Mahroni, sekalian meminta hitam di atas putih, "Mengapa harus memakai beginian segala, sih? Buat rapot, saja! Apa kalian tidak percaya sama Pakde kalian ini?" tanya Sutris.
"Kalau aku percaya sama Pakde, itu artinya orang di kubur hidup lagi," balas Mahroni ketus, "oh, iya Pakde. Orang tuaku ada hutang nggak? Jangan ntar ayah dan ibuku meninggal, Pakde minta hutang yang nggak jelas! Aku cincang Pakde!" ancam Mahroni.
"Dasar, anak kurang ajar, Sardi pasti tidak becus didik kamu!" teriak Sutris.
"Aku tidak mau terjadi seperti Mbak Emilia dan mas Jaka setelah kematian Paklek Darma, Pakde juga meminta hutang yang nggak jelas," ucap Mahroni, "ingat Pakde, aku tamatan fakultas hukum. Jadi, jangan bodoh-bodohi aku," ujar Mahroni sengit.
"Pulang kalian! Aku muak melihat tingkah kalian. Tidak punya sopan santun, blas sama orang tua!" usir Sutris.
Emilia dan Mahroni pulang ke rumah Emilia, "Kamu ini Roni, kasar banget!" sungut Emilia.
"Orang seperti pakde Sutris wajib digituin Mbak. Kalau tidak yee, ngelunjak!" balas Mahroni dengan aksen Jawanya.
Emilia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, "Mbak, kamu yakin nggak butuh uang untuk modal kamu lagi?" tanya Mahroni sedikit khawatir mengenai kakak sepupunya.
"Aku yakin, Ron!" balas Emilia jauh di jiwamu dia sedikit bingung harus bagaimana, tetapi ia tidak ingin menambahi beban buat orang lain, karena masalahnya. Apalagi, bercerai adalah kenginannya, "Mbak, masih ada tabungan," bohong Emilia.