I Can Live Without You

I Can Live Without You
Dewasa sebelun waktunya



"Apa yang telah kau lakukan kepada Keano, Emilia?" teriak Farel tidak suka dengan permintaan Keano.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengatakan apa pun pada Keano! Aku bukan dirimu, aku harap kamu mau mengerti demi kebaikan Keano, Farel. Jika kamu masih keberatan memberi biaya Keano aku tidak masalah, aku hanya meminta padamu, menjauhlah dari kehidupan kami. 


"Berbahagialah dengan Hana. Kau masih bisa memiliki anak darinya, aku harap kau tidak perlu bersusah payah untuk mengganggu kehidupan kami lagi. Seharusnya kau bahagia," jawab Emilia langsung menggendong putranya dan menggandeng tangan Amara.


"Apakah dia putrimu juga? Mengapa kau mengasihinya? Apakah kau sudah tidur dengan Ayah anak ini?" teriak hinaan Farel mengundang semua orang memandang ke arah Emilia.


"Aku bukan dirimu dan Hana. Jika aku akan menikah lagi dengan Ayah anak ini apa itu masalah buatmu? Kau hanyalah masa laluku yang tak lagi berarti untukku Farel. Dia adalah putriku, kedua anak ini adalah anak-anakku! Menjauhlah dari kehidupan kedua anakku," balas Emilia ketus.


"Dasar, ******! Kau akan menyesal dengan apa yang telah kau lakukan Emilia!" teriak Farel murka. 


Namun Emilia tidak peduli, "Bunda, mengapa Om itu berteriak-teriak? Apa maksudnya dengan tidur bersama?" tanya Amara bingung.


"Jangan pikirkan perkataan orang gila, Nak!" balas Emilia kesal, "apakah kalian ingin makan es krim?" tanya Emilia.


"Tentu, saja!" balas Keano dan Amara tersenyum riang. Deffri menyambut ketiganya di pintu ruang sidang bersama Mahroni dan Sandi tersenyum dengan manis di sana.


"Wah, kalian akan pergi ke mana?" tanya Deffri bahagia.


"Um, kami akan pergi makan es krim, Pa! Papa ikut ya?" ajak Amara menggandeng tangan Deffri.


"Tentu, saja!" balas Deffri bahagia.


Mereka menaiki mobil, Keano dan Amara bernyanyi bahagia di jok belakang sementara Emilia dan Deffri tersenyum di depan, " Deff, terima kasih," balas Emilia.


"Sesama teman-"


"Tidak ada ucapan terima kasih!" sambung Emilia tersenyum bahagia.


"Hahaha!" keduanya tertawa bahagia.


Mobil langsung membelah jalanan dan berhenti di toko es krim keempatnya begitu bahagia di sana kebahagiaan yang mulai Emilia, Deffri, Amara, dan Keano rasakan.


Mereka tidak menyadari jika sepasang mata mengintai dari balik etalase es krim, ia mengurungkan niat untuk memasuki toko mengawasi dengan rasa penasaran, "Sialan, wanita itu benar-benar bahagia! Mengapa sih, Emilia selalu saja berhasil keluar dari masalah ini?" batin Monic menatap kebahagiaan Emilia.


"Apakah Farel tidak berhasil mengambil Keano? Hadeh, nyebelin!" teriak Monic. Ia memukul dinding kaca sekuat tenaga tanpa disadarinya hingga pecah berantakan.


"apa yang aku lakukan?" batin Monic berusaha kabur. 


"Hei, tangkap wanita pencuri itu!" teriak salah seorang satpam. Semua orang mengejar dan menangkap Monic.


"Lepaskan, aku! Lepaskan! Aku tidak melakukan apa pun, aku tidak sengaja," teriak Monic berontak.


"Tenang, Mbak! Kami akan membawa Mbak ke pos satpam. Mbak bisa memberikan kesaksian di sana," balas salah satu satpam memboyong Monic.


Bertepatan dengan Emilia dan Farel ke luar dari dalam toko, "Semua ini gara-gara, kalian! Terutama kamu Emilia! Awas, kamu!" teriak Monic menatap Emilia.


"Kenapa dengan Tante, itu Bunda?" tanya Amara bingung.


"Entahlah," balas Emilia bingung masih menatap Monic diseret ke pos satpam.


"Sudahlah, mari kita pulang. Biarkan saja manusia aneh itu," balas Farel.


Emilia menganggukkan kepala dan menggandeng kedua anak tersebut menuju ke dalam mobil. Namun, Emilia masih saja menoleh ke belakang, "Kasihan Monic, ada apa ya?" batin Emilia menggigit bibirnya.


"Aku … hanya kasihan akan anak-anaknya, Deff." Emilia masuk ke dalam mobil,


"Lalu …?" tanya Deffri memandang ke arah Emilia, "memang kamu akan dapat Nobel dengan menolongnya begitu? Jangankan Nobel nggak dihina saja, syukur, Em!" sindir Deffri.


"Ish, nyebelin! Kamu ini jago banget kalau nyinyir," balas Emilia.


"Em, berbuat baik boleh! Hanya saja, jangan terlalu kepo. Kadang, orang lebih senang menyelesaikan masalahnya tanpa dicampuri orang lain," balas Deffri menyalakan mobil meninggalkan toko es krim.


Emilia hanya diam, "Ya, kamu benar! Aku harap saja, Monic tidak kenapa-napa, kasihan anak-anaknya," balas Emilia.


Deffri hanya tersenyum, "aku akan menolong Monic kasihan dia!" batin Emilia.


"Apakah ada yang akan kalian kunjungi lagi?" ucap Deffri.


"Tidak ada!" balas semuanya serempak.


"Em, aku dan Amara akan pulang ke rumah kami, sebaiknya kami mengantar kalian dulu. Aku rasa Farel tidak mungkin berani untuk mengganggu kalian lagi," ucap Deffri.


"Kamu tidak mengenalnya Deff, Farel … sudahlah. Sebaiknya kita berpikir positif, saja!" balas Emilia tersenyum, "aku tidak yakin jika Farel akan menyerah," batinnya, "terserahlah, mulai detik ini aku akan mengawasi Keano mengantar dan menunggunya di sekolah dan ke mana pun. Aku tidak akan membiarkan Keano sendirian," batin Emilia.


Sesampainya di toko pakaian Emilia Deffri dan Amara langsung pulang ke rumah mereka, "Mama, mengapa kak Amara dan om Deffri harus pulang? Mengapa mereka tidak bisa tinggal bersama kita?" tanya Keano polos jiwanya merasa kehilangan.


"Sayang, um … antara orang dewasa … tidak boleh tinggal serumah jika tidak ada ikatan pernikahan itu dilarang oleh agama dan negara juga adat istiadat, Nak!" balas Emilia berjongkok di depan putranya.


"Maksudnya, harus menikah itu ... harus ada foto pernikahan seperti foto pengantin Mama dan papa ya?" tanya Keano mengingat foto besar mama dan papanya di ruang tengah rumah mereka dulu sebelum segalanya telah habis terbakar.


"Ya, Sayang!" balas Emilia tersenyum.


"Um, mengapa Mama dan om Deffri tidak menikah saja? Aku akan mendapatkan papa dan kak Amara akan mendapatkan Mama," ucap Keano.


"Sayang, menikah itu tidak mudah! Um, harus ada cinta di antara dua orang dewasa, laki-laki dan perempuan, Nak!" balas Emilia berusaha memberikan  jawaban sebaik mungkin.


"Apakah Mama dan papa saling mencintai dulunya?" tanya Keano tidak mengerti mengapa pada akhirnya keduanya harus saling menjauh dan bermusuhan?


"Tentu, saja! Dulu, Mama dan papa sangat mencintai, jika tidak mana mungkin kamu ada," ujar Emilia.


"Tapi, mengapa dua orang dewasa yang saling jatuh cinta bisa berpisah?" tanya Keano mengerutkan dahi.


"Um, karena cinta bisa datang dan pergi sesuka hati. Bukan, karena cinta terkadang … bisa membuat kebahagiaan dan tante Hana lebih bisa membahagiakan papa sehingga Mama harus pergi meninggalkan papa.


"Karena papa akan lebih bahagia bersama dengan tante Hana, Nak!" balas Emilia sedikit bingung. Ia bingung  mengatakan secara gamblang apa itu cinta? Emilia sendiri sudah gamang mengenai cinta, ia sendiri tidak tahu definisi cinta antara suami-istri yang semestinya.


"Aku tidak ingin jatuh cinta jika menyakiti. Aku tidak ingin menikah!" balas Keano.


Duar! 


Jantung Emilia hampir copot menanggapi komentar putranya, "Apakah perpisahan ini begitu menyakiti Keano? Ya Tuhanku," batin Emilia sedih, "Sayang, jika kelak kamu tidak menikah, lalu Mama tidak bisa memiliki cucu. Betapa malangnya nasibku, aku sudah tidak memiliki suami dan cucu karena anakku begitu takutnya jatuh cinta, hiks, hiks!" ujar Emilia berpura menangis.


"Sudah! Sudah! Jangan menangis, aku akan menikah dan jatuh cinta suatu saat nanti, tapi aku tidak mau seperti Mama dan papa," keluh Keano.


"Ya, Allah! Anak seumuran ini sudah mengerti dan berusaha untuk dewasa sebelum waktunya," batin Emilia, "terima kasih, Sayang!" balas Emilia memeluk Keano. Sebagian jiwa Emilia menangis pilu, ia dan Farel benar-benar melukai buah cinta mereka tanpa mereka sadari dan karena keegoisan mereka.