I Am Yours

I Am Yours
9. Pria di mobil hitam



Hujan masih belum reda, dan perjalanan masih cukup jauh untuk sampai ke desanya lagi. Sepanjang perjalanan, sudah banyak tempat yang dilewati mereka namun Pras belum juga menghentikan laju kendaraannya.


   “Kita cari tempat makan yang menunya pasti bikin Kamu nambah terus makannya? Dijamin ketagihan,” ucap Pras lalu menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah pondok makan yang menghadap area persawahan.


   “Di sini?”


   Mega mengedarkan pandangannya, menatap sekelilingnya. Matanya menangkap pemandangan beberapa orang pria dengan memakai topi caping dari anyaman bambu, keluar dari dalam pondok dengan membawa cangkul di bahunya.


   Berjalan keluar dengan bertelanjang kaki, sementara kaki mereka sendiri masih dipenuhi dengan lumpur tanah yang hampir mengering. Terlihat tenang berjalan sambil berbincang, seolah tidak terganggu dengan hujan yang turun.


   “Jangan kaget! Jangan lihat bagaimana penampilan mereka ketika masuk dan keluar dalam pondok makan,” ucap Pras seperti dapat menebak pikiran Mega.


   “Apa susahnya membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memulai makan,” ucapnya pelan sambil terus mengarahkan pandangannya ke depan.


   Mega menelan salivanya susah, perutnya sudah protes keras minta diisi. Sementara pemandangan di depannya membuatnya harus berpikir dua kali untuk makan di sana. Mega mendekap mulutnya sendiri, saat para pria itu berjalan melewatinya. Mereka asik berbincang dengan tusuk gigi masih menempel di bibir. 


   “Apa tidak ada pilihan lain?” tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya ke pondok makan. “Atau hanya ini satu-satunya?”


   “Abaikan saja. Mereka semua itu para petani pekerja yang biasa menggarap sawah milik bu Retno, pemilik pondok makan itu.” Pras menjelaskan.


   “Tenang saja, masakannya enak kok dan tempat di dalamnya juga bersih.” Pras tersenyum meyakinkan, “Aku biasa juga makan di tempat ini, percaya sama Aku. Nanti juga Kamu akan terbiasa melihat pemandangan seperti itu di sini.”


   “Oke lah kalau begitu. Kita makan,” Mega balas tersenyum, tanpa banyak protes lagi ia turun dan berlari kecil mengikuti Pras masuk ke dalam pondok.


   Dan Mega harus mengakui kebenaran ucapan Pras, makanan di tempat itu cocok dengan seleranya dan tempatnya juga bersih dan terawat. Tidak banyak pilihan memang, tapi makanan yang tersaji di atas meja itu terlihat menggiurkan.


   Ayam penyet, goreng tempe tahu dan terong, sayur urap daun singkong kacang panjang dan toge, ditambah sambal terasi, dan nasi panas yang masih mengepul, menu sederhana namun benar-benar menggugah selera.


   “Bagaimana?”


   Mega mengangkat jempolnya, dan Pras terkekeh saat melihat Mega makan dengan menggunakan tangannya. Makan dengan lahap tanpa malu-malu padanya, selalu apa adanya.


   “Kenapa tertawa, lucu ya? Abaikan cara makanku. Aku memang suka lupa diri kalau sudah berhadapan dengan makanan enak,” ucap Mega di sela makannya.


  “Suka saja melihat cara Kamu makan,” sahut Pras masih dengan tawanya. “Habisin makannya, jangan kasih sisa.”


   “Cukup mas,” Mega mengangkat tangannya. “Jangan buat Aku malas bergerak karena kekenyangan.”


  Mega lalu mencuci tangannya dalam wadah kecil yang tersedia di atas meja dan menyeka mulutnya dengan tisu yang ia bawa di dalam tasnya.


   “Masih mau jalan-jalan? Atau Kamu punya pilihan tempat yang mau dikunjungi, Aku siap mengantar.”


   “Nggak, mas. Sudah hampir sore, lebih baik kita pulang saja.” Mega menggelengkan kepalanya, sepertinya hari ini cukup untuk jalan-jalannya. Karena hari sudah menjelang sore dan cuaca sedang tidak mendukung, ia lebih memilih untuk pulang saja.


   “Baiklah.”


   Keduanya lalu meninggalkan pondok makan bu Retno dan melanjutkan perjalanan kembali.


   “Aku dengar dari Rizky, Kamu akan kembali menetap di desa kita ini.” Pras bertanya dengan hati-hati.


   “Mungkin. Bisa iya bisa tidak,” jawab Mega gamang. Matanya menatap ke arah samping jendela mobil yang kabur karena tertutup air hujan.


   “Bagaimana dengan pekerjaanmu disana. Aku dengar rumah sakit tempatmu bekerja adalah rumah sakit terbesar dan terbaik, sangat disayangkan jika harus memilih untuk keluar dari sana sementara semua fasilitas yang Kamu dapatkan sangat menggiurkan.”


   Untuk beberapa saat Mega terdiam, ia memang mendapatkan fasilitas yang memuaskan dari tempatnya bekerja selain gaji besar dan rumah dinas serta lainnya. Tapi rutinitas yang dijalaninya selama setahun belakangan ini membuatnya jenuh, ia ingin sesuatu yang lebih menantang.


   Saat ayahnya menelpon beberapa waktu lalu dan sempat bercerita tentang keadaan desanya kini, Mega merasa terpanggil untuk pulang. Meskipun sebagian hatinya masih belum bisa berdamai dengan seseorang di sini.


   “Mungkin juga aku akan benar-benar menetap kembali di sini,” gumamnya pelan.


   “Hei, Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Pras menoleh sesaat pada Mega, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


   Ia tengah mengarahkan seluruh perhatiannya pada mobil berwarna hitam yang melaju dari arah berlawanan. Jalan yang sempit dan berlubang membuat para pengendara harus ekstra hati-hati.


   “Sepertinya Aku kenal dengan pemilik mobil ini,” ucapnya pelan, lalu mencoba mengurangi kecepatan mobilnya.


   Hujan yang turun cukup deras menghalangi jarak pandang mata. Sementara mobil di depannya juga turut mengurangi laju kendaraannya dan membuka kaca mobilnya.


   Tangan lelaki di mobil hitam itu bergerak keluar dan memberi kode pada Pras untuk membiarkan dirinya jalan duluan, sementara Pras berhenti sejenak tanpa mematikan mesin mobilnya. Kedua mobil itu sama-sama saling menjaga jarak agar tidak saling bersenggolan.


   “Teruss, teruuus, bos!”


   Pras menurunkan kaca mobilnya dan berteriak memberi komando tanpa diminta. “Banting kanan ... ya! Luruss, siip.”


   Mega melayangkan pandangannya pada mobil hitam di depannya, dan mendapati seraut wajah tampan dengan kacamata hitam yang bertengger pas di hidung mancungnya.


   Tidak ada sedikitpun senyum mewarnai bibirnya yang berlekuk angkuh itu. Huh, jangankan tersenyum, melihat pada merekapun juga tidak. Padahal Pras sudah bersikap ramah dan membantunya.


   Lelaki itu memiringkan kepalanya melihat spion di depannya untuk melihat jarak antara mobil hitamnya dan mobil Pras.


   “Dikit lagi bos! Lurus terus, terusss, ya! Majuu, dikit lagi. Siipp!” Pras terus melambaikan tangannya dan mengarahkan mobil hitam di depannya.


   Setelah aman dan lolos dari senggolan yang mungkin terjadi, lelaki di mobil hitam itu mengangkat ibu jarinya sebagai tanda ucapan terima kasih tanpa menoleh pada Pras. Matanya tetap saja mengarah ke depan dengan wajah datar.


   “Thank you, Pras!” ucapnya tanpa senyum.


   “Sama-sama, bos!” Pras balas mengacungkan jempolnya.


   “Datar banget, senyum dikit apa susahnya sih. Pepsoden mahal kali ya,” gerutu Mega kesal.


   Pras tertawa mendengar ucapan Mega, ia kembali melajukan mobilnya.


   “Orangnya memang seperti itu, tapi dia baik kok.”


   “Mas Pras kenal cowok tadi?”


   “Ya kenal lah,” katanya masih dengan tawanya.


  Mega melipat tangan di dada, dalam hatinya sedikit kesal dengan sikap dingin lelaki di mobil hitam tadi. Tapi ia mencoba tidak peduli dan melupakan kejadian barusan.


🌹🌹🌹