
Mega membereskan meja kerjanya, hari sudah menjelang sore. Jam kerjanya pun sudah berakhir sejak tadi, ia sengaja menunggu di ruang kerjanya karena Fajar akan datang terlambat untuk menjemputnya pulang.
“Bu dokter, libur besok mau ke mana?” tanya bidan Yati.
“Libur, memang besok tanggal merah? Kok Saya nggak tau ya,” jawab Mega balik bertanya.
“Astaga, bu dokter! Saking sibuknya kerja sampai lupa sama tanggal,” celetuk bidan Yati lalu berjalan mendekat, tas besar bergambar hello kity miliknya sudah bertengger manis di bahunya.
“Lah, itu masih kalender bulan lalu bu dokter. Coba dibalik,” ucap bidan Yati, menurunkan badannya berdiri di samping Mega.
Mega meringis, “Eh, iya bener. Ini mah masih bulan yang lalu, bisa lupa gini.” Mega menepuk keningnya.
Mega membuka lembar pertama kalender di depannya, melipatnya ke belakang menggantinya dengan bulan yang baru.
Matanya menatap lurus deretan angka-angka yang berjejer rapi, seketika senyumnya mengembang saat melihat ada tanggal merah tertera di sana.
“Nah, benar kan.” Bidan Yati menepuk bahu Mega, “Lumayan Sabtu Minggu, bisa santai di rumah.”
“Libur telah tiba, libur telah tiba, hore! Hatiiku gembira.”
Mega bersenandung kecil sambil menggoyangkan badannya, lalu tertawa bersama bidan Yati.
“Senangnya yang sudah punya pasangan,” goda bidan Yati.
“Iya, dong.” Mega tersenyum senang, bayangan berlibur bersama Fajar membuatnya tidak sabar untuk segera bertemu dengan laki-laki tersayang itu.
Dreett dreett ...
Ponselnya bergetar, kali ini benda pipih itu berada di atas meja. Hehe, panjang umur. Baru juga diingat sebentar sudah langsung nelpon orangnya, gumam Mega dalam hati.
“Hemm, masnya sudah telpon tuh.” Bu bidan tersenyum melihat nama Inug tertera di ponsel Mega. “Ya, sudah. Saya pulang duluan bu dokter, selamat liburan.”
“Bu bidan juga, selamat berlibur bersama keluarga.” Mega melambaikan tangannya.
“Halo,” sahut Mega, “Tunggu bentar aku keluar,” imbuh Mega lagi menjawab telepon Fajar.
“Kenapa, kok dari tadi Aku lihat Kamu senyum-senyum sendiri. Lagi senang ya, cerita dong.” Fajar bertanya setelah mereka berdua berada di dalam mobil.
“Libur telah tiba, libur telah tiba. Hore, hore! Hatiku gembira.” Mega kembali bernyanyi.
“Diih, lagunya.” Fajar menoleh, menatap Mega yang terus bernyanyi mengulang-ulang lagunya.
“Ish, nggak peka banget sih.” Mega melirik sebal. “Libur telah tiba, libur telah tiba. Hore, hatiiiku gembira.”
“Hahaha, apaan sih!” laki-laki itu malah tertawa.
Astaga mas Inug!
“Ya sudah, besok nggak usah jemput Aku kerja!” ucap Mega, lalu berpaling melihat ke luar jendela mobil.
“Hei, ngambek sih. Ayo dong, cerita. Aku kan nggak paham maksud Kamu apa barusan,” sahut Fajar sambil meraih tangan Mega yang berada atas pangkuannya.
“Beneran nggak paham dari tadi Aku nyanyi?”
“Enggak,” sahut Fajar menggelengkan kepalanya.
Mega memijat pelipisnya, melalui ekor matanya ia melihat laki-laki di sampingnya itu masih fokus dengan jalanan di depannya.
“Besok Sabtu itu tanggal merah, hari libur nasional. Aku libur mas,” jelas Mega.
“Ooo, tanggal merah toh.” Fajar meringis.
Mega menggeleng tak percaya, dia pikir hanya dirinya yang lupa melihat kalender. Ternyata lelaki di sampingnya pun sama.
“Orang lapangan seperti Aku mana ada kalender merahnya, hitam semua warnanya.”
“Eyy, kok gitu.”
“Ya memang begitu,” sahut Fajar.
Fajar menoleh ke samping, mengulum senyumnya. Sedari tadi ia mencoba menahan diri untuk tidak tertawa, apalagi melihat tingkah Mega yang menggemaskan saat bernyanyi.
“Ayo nyanyi lagi, nanti Aku kasih permen.”
“Nggak!” Mega melengos, dikira anak kecil kali ya kalau ngambek terus dikasih permen.
“Libur telah tiba, libur telah tiba. Hore! Hatiku gembira,” Fajar menirukan lagu yang Mega nyanyikan, sambil memukulkan tangannya di setir mobilnya.
Mega menoleh, tawanya pecah melihat mimik serius wajah laki-laki di sampingnya itu saat menirukan lagu yang dinyanyikannya tadi.
“Hahaha.” Mega menutup mulutnya, “Dihh, senyum lah. Gembira gitu, loh. Masa datar gitu mukanya.”
Fajar memasang senyumnya, lalu kembali bernyanyi. Mereka pun akhirnya malah duet.
“Makasih ya Mas, Aku turun dulu.” Mega membuka sabuk pengaman ketika mobil berhenti di depan rumahnya.
“Oke, Aku langsung balik lagi ya. Masih ada pekerjaan yang harus Aku selesaikan,” ucap Fajar lalu kembali menyalakan mesin mobil sesaat setelah Mega turun dari mobilnya.
“Iya, hati-hati.”
Mega mencoba bersikap biasa, tersenyum melambaikan tangannya sampai Fajar berlalu dari pandangannya.
Sejak tadi juga laki-laki itu tidak menyinggung lagi tentang hari libur, padahal Mega berharap besok ia bisa berlibur bersama Fajar.
Sabar Ega, masih ada esok lusa. Bila esok tidak bisa mungkin lusa bisa jalan bersama. Atau kamu bisa lakukan hal menyenangkan lainnya, baca novel atau memasak misalnya. Membuat resep olahan baru? Mega sibuk bermonolog dalam hati.
Hingga malam datang, Fajar tidak jua menghubunginya. Biasanya laki-laki itu selalu menelepon atau mengirim pesan singkat meski hanya sekedar mengingatkan waktu tidurnya. Tapi hingga jam sembilan malam ini, tidak ada satu pun pesan masuk darinya.
Mega masih duduk di depan jendela kamarnya. Angin sejuk pegunungan perlahan membuat matanya dihinggapi rasa kantuk. Sambil menyeret kakinya, ia berjalan ke tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhnya.
Dreett dreett ...
Baru saja matanya hendak terpejam, ponselnya berbunyi. Mega sontak terbangun dan langsung meraih ponselnya.
Jika kamu pergi berlibur dengan kekasihmu, tempat apa yang akan kamu datangi?
Jika kamu pergi berkencan dengan kekasihmu, apa yang ingin kamu lakukan dengannya?
Mega tersenyum lebar membaca pesan dari Fajar, jarinya dengan cepat membalasnya.
Pantai, aku suka suasana pantai.
Apa saja asal bersamanya.
Send, pesan terkirim.
Mata Mega terus menatap ponselnya, tidak ada balasan lagi dari Fajar.
“Ish lamaaa,” rutuk Mega dalam hati.
Astaga, gitu doang. Cuman nanya gitu? Mega menendang guling di dekatnya, sebal.
Sementara di tempat lain, Fajar tengah duduk di depan meja dengan laptopnya. Sejenak ia menyandarkan tubuhnya, meregangkan otot lehernya yang kaku.
Bibirnya tersenyum membaca jawaban Mega, ia lalu menutup laptopnya. Berjalan keluar menuju balkon rumahnya.
Dipandanginya gambar Mega di layar depan ponselnya, perlahan tangannya menekan nomor Mega.
“Sudah malam, waktunya kamu tidur. Besok pagi aku jemput.”
Fajar menutup ponselnya, senyumnya semakin lebar saat mendengar suara protes Mega di ujung sana.
“Ngapain jemput segala, besok aku nggak kerja. Libur!”
Yang mau jemput kerja siapa, mau kencan juga. Yang nggak peka di sini siapa coba? Aku atau kamu, yank?
🌹🌹🌹