
Minggu pagi di rumah Mega.
Mega mengerjapkan matanya, terbangun saat mendengar suara riuh orang berkumpul di luar rumahnya. Setelah menjalankan kewajibannya subuh tadi, Mega tertidur kembali.
Wajahnya menengadah menatap jam dinding di tembok, jarum pendek masih berada di angka 6 dan jarum panjang berada di angka 9.
Perlahan ia bangkit dari tidurnya, merapikan rambut panjangnya yang berantakan. Membuka jendela kamarnya, membiarkan hawa sejuk udara pegunungan memasuki ruang kamarnya. Setelah selesai melakukan rutinitas paginya, Mega melangkah keluar dari kamarnya.
Dilihatnya di meja makan telah tersedia menu sarapan pagi, teh panas dalam teko keramik dan nasi goreng dalam wadah kaca yang tertutup rapi beserta lauk pelengkap lainnya.
“Maa mama,” panggil Mega mencari mamanya. Ia menilik ke dapur dan ke dalam kamar orang tuanya, namun mama tidak ada di dalam sana.
Mega lalu berbalik, berjalan keluar menuju pintu utama rumahnya yang masih tertutup. Dari balik korden rumahnya, Mega melihat kesibukan yang terjadi di depannya. Matanya kemudian memindai sekelilingnya.
Di teras rumah terlihat mama dan ayah sedang berdiri membelakanginya. Pandangannya lalu berhenti pada sosok lelaki tegap yang berdiri di depan sebuah mobil bak terbuka.
Fajar terlihat bercakap-cakap dengan seorang lelaki paruh baya yang terlihat mengeluarkan sebuah nota, dengan cepat Fajar langsung menanda tanganinya.
Mega membuka pintu rumahnya, lalu berjalan mendekat ke arah orang tuanya. Mama menoleh dan tersenyum melihat kehadirannya.
“Sudah bangun, sayang. Sarapan dulu sana,” ucap mama padanya.
“Bentar lagi saja, Ma. Mega juga belum mandi,” jawab Mega sembari mengangkat kedua tangannya, menutup kuap yang lolos dari mulutnya.
“Ayah mau lihat mereka dari dekat. Sekalian mau bicara sama Fajar,” ucap ayah pada mama, lalu menoleh pada Mega yang kini sudah duduk santai dengan melipat kaki di atas kursi.
“Mega nanti bantu mamamu belanja di pasar ya, Nak. Sekalian bantu menyiapkan makan siang buat para pekerja nanti,” perintah ayah pada Mega sebelum beranjak pergi mendatangi tempat Fajar berada.
“Ya, Yah. Kalau begitu biar Mega jalan sekarang saja, mumpung masih pagi.” Mega menurunkan kakinya.
“Sarapan dulu,” sela mama melihat Mega yang hendak berjalan masuk kembali ke dalam rumah. “Setelah itu baru pergi belanja ke pasar,” imbuh mama lagi.
“Ya, Ma.”
Tak lama berselang, terdengar bunyi keras benda yang sepertinya sengaja dijatuhkan secara sengaja dan berulang-ulang. Diselingi suara teriakan nyaring seseorang yang memberi perintah pada rekannya yang lain.
“Biar kita cek dan periksa sama-sama semua barang yang dipesan, sudah sesuai dengan nota yang tertera apa tidak. Setelah barang diterima dalam keadaan baik, baru diangkat bareng-bareng. Biar kita sama-sama enak dan tidak ada komplain di belakang nantinya,” suara pemilik mobil bak terbuka pada Fajar.
“Aman, pak. Sudah saya periksa ulang, dan semua sudah sesuai pesanan dan surat jalannya juga.”
“Oke, kalau begitu. Kita bisa lanjut kerja lagi!”
Mega menghentikan langkahnya sesaat, berdiri di ambang pintu menatap lurus ke arah Fajar dan ayahnya berada.
Lelaki itu sibuk mengatur dan mengarahkan para pekerja bangunan yang sengaja didatangkannya khusus dari luar kota. Sementara para pekerja lainnya langsung bekerja memindahkan barang-barang ke dalam tempat yang sudah disiapkan sebelumnya, setelah barang-barang di dalam mobil selesai diturunkan.
Tepat hari Minggu pagi ini sesuai rencana dimulainya pembangunan ruko baru bekas gudang di sebelah rumahnya, setelah dua hari sebelumnya selesai dibongkar.
Mega sudah selesai dengan dirinya dan bersiap berangkat ke pasar. Ia menghidupkan mesin motornya dan tidak berapa lama kemudian memacu kendaraannya keluar dari halaman rumah.
“Mau ke mana pagi-pagi!” Fajar tiba-tiba muncul di hadapannya, berdiri di tengah jalan menghadang motor Mega.
Astaga! Mega terkejut dan langsung mematikan mesin motornya. Mega menatap tajam lelaki yang kini tengah tersenyum balas menatap padanya itu.
Bukannya tadi dia masih bersama ayah di dekat sana, kenapa sekarang tiba-tiba sudah berdiri di sini. Lalu, sekarang ayah di mana?
Mega celingukan mencari ayahnya, tersenyum lega saat melihat laki-laki kesayangannya itu sedang berbincang dengan pemilik mobil bak terbuka.
“Mau ngapain ke pasar?” tanya Fajar tanpa menghiraukan ucapan Mega padanya.
Eh, dia nanya mau ngapain lagi. Astaga! Ngapain coba, dipikir Mega mau berenang?
“Beli daster!” jawab Mega asal.
Fajar terkekeh mendengarnya, “Masih pagi, nggak usah pake acara ngambek segala. Aku sudah siapkan makanan buat sarapan orang-orang pagi ini. Jadi Kamu nggak perlu repot lagi,” ucap Fajar kalem.
“Ya, itu kan buat paginya. Lagi pula, siapa juga yang ngambek. Ini belanja buat keperluan makan siang nanti!” jawab Mega sambil melengos, siapa suruh ngajak senam urat pagi-pagi.
“Memang mau masak apa buat orang-orang? Memang Kamu bisa masak,” tanya Fajar dengan sinar mata menggoda.
Ish, bisa lah! Apa dia pikir aku hanya bisa makan saja, rutuk Mega dalam hati. Ditanya seperti itu Mega langsung mengeluarkan catatan kecil yang diberikan mama padanya dan memperlihatkannya pada Fajar.
“Nggak tau mama mau masak apa nanti, Aku cuma disuruh belanja bahan di pasar.” Mega keceplosan, lalu menutup mulutnya dengan tangannya.
“Ya sudah, hati-hati. Jangan ngebut,” ucap Fajar tersenyum penuh arti, lalu menyingkir dan memberi jalan pada Mega.
“Cieee, mas bos khawatir. Ambulan lewat, ngengg!” celetuk Warno yang datang sambil membawa termos besar di tangannya.
“Kopi mas bos!” ucapnya lagi sambil menahan senyum melihat raut wajah Fajar yang berubah kemerahan. Mungkin terkena sinar matahari pagi, pikir Warno dalam hati.
“Ish! Kasih sama pekerja sana. Gelasnya Kamu nggak lupa bawa kan, No?”
“Siap mas bos, untuk kali ini Suwarno tidak lupa. Ada Sri yang sudah menyiapkan semuanya,” jawab Warno lalu menganggukkan kepalanya pada Mega.
“Pagi bu dokter,” sapanya kemudian. “Ngopi dulu bu dokter.”
“Pagi juga mas Warno,” jawab Mega sambil tersenyum ramah. “Terima kasih, Saya nggak bisa minum kopi.”
“Wahh, rugi mas bos. Bu dokter nggak bisa ngopi bareng kita,” celetuk Warno.
“Gimana kalau ke pasarnya diantar Warno saja,” sela Fajar kemudian. “No, anter bu dokter ke pasar dulu.”
“Nggak usah deh, Mas. Lagi pula mas Warno banyak kerjaan juga. Biar Aku jalan sendiri aja,” ucap Mega lalu menghidupkan mesin motornya. “Aku pamit dulu,” imbuhnya lagi cepat-cepat melajukan motornya berlalu dari hadapan mereka berdua, hingga menghilang di ujung gang.
“Hati-hati Ega!” teriak Fajar sambil terus menatap punggung Mega dari kejauhan.
Setelah melakukan perjalanan bersama beberapa hari yang lalu, Fajar menjadi lebih protektif terhadap Mega.
Tidak jarang ia muncul tiba-tiba di puskesmas pada saat jam pulang kerja, dan pagi harinya datang lebih awal untuk menjemput Mega. Padahal ia tahu, Mega biasanya berangkat dan pulang kerja dengan mengendarai motornya sendiri.
Alhasil Mega menjadi tidak enak hati untuk menolak, apalagi kedua orang tuanya menerima Fajar dengan baik. Kalau Fajar ditanya alasannya, jawabannya simpel. Kebetulan lewat jadi sekalian mampir!
“Uhuk!” Warno tiba-tiba terbatuk, membuyarkan lamunan Fajar.
Fajar menolehkan wajahnya, menautkan kedua alisnya. “Kenapa No, Kamu keselek?!”
“Ho oh, mas bos. Keselek daster bu dokter,” jawab Warno sambil tertawa lebar, lalu berjalan menjauh.
Fajar terdiam sesaat lamanya, sejurus kemudian ia terkekeh lalu berlari mengejar Warno di belakangnya. “Asemm Kamu, No!”
🌹🌹🌹