
Beberapa hari kemudian di kediaman Mega diadakan syukuran pembukaan klinik baru, sekaligus acara pertunangan dirinya dan Fajar. Hampir semua warga desa hadir, menyampaikan doa dan ucapan selamat untuk kelancaran usaha klinik barunya dan juga kelanggengan hubungan mereka berdua.
Rona bahagia terlihat jelas di wajah keduanya, terutama Fajar yang tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari Mega.
Sempat kehilangan jejak karena harus menjawab pertanyaan beberapa warga tentang cara pengolahan sampah tanaman, Fajar menarik napas lega ketika melihat Mega berjalan keluar rumah bersama beberapa remaja putri sambil berbincang akrab.
“Yank!” Fajar berjalan mendekat.
Mega menoleh, tersenyum melihat Fajar. “Ya,” sahut Mega, lalu memperkenalkan mereka pada Fajar.
“Mas, anak-anak muda ini perwakilan dari sekolah menengah atas di desa ini. Mereka mengundang Aku untuk hadir sebagai salah satu pembicara di acara ulang tahun sekolah mereka.” Mega menjelaskan.
“Memberikan ceramah tentang kesehatan maksudnya?” tanya Fajar.
“Ya, semacam itu. Dan ada sesi tanya jawab juga nantinya,” jawab Mega.
“Ya, nggak apa-apa. Kapan acaranya?” tanya Fajar lagi.
“Besok Selasa pagi jam sepuluh, di aula sekolah mereka.”
“Besok lusa?”
Mega mengangguk, anak-anak muda di depannya itu masih diam memperhatikan mereka berdua. Setelah Mega menepuk bahu Fajar dan memberinya kode untuk menyapa anak-anak muda itu, mereka pun langsung menyalami Fajar dan balas tersenyum ramah.
“Iya, Om. Kami senang sekali bu dokter mau dan bersedia hadir di acara sekolah kami, memberikan kami penerangan tentang pentingnya kesehatan. Bagaimana cara mencegah dan menanggulangi penyakit,” ucap salah satu remaja putri yang sepertinya wakil dari teman-temannya, karena sedari tadi hanya ia yang lebih banyak bicara dan menjawab pertanyaan Mega.
“Maaf sebelumnya kalau undangan kami terkesan mendadak, mengingat kesibukan bu dokter yang padat. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak atas kesediaan bu dokter mau hadir di acara sekolah kami,” imbuhnya lagi sambil membungkukkan badannya. “Kami mohon pamit.”
“Sama-sama, Niken.” Mega tersenyum sambil mengusap bahu Niken.
Mega mengantar mereka sampai di pagar rumahnya, tersenyum melambaikan tangannya.
“Jam sepuluh pagi itu bukannya jadwal kerjamu di puskesmas, yank?”
“Bisa diatur, pagi Aku ke puskesmas dulu. Kurang setengah jam baru Aku ke sekolah mereka,” jawab Mega menepuk tangan Fajar yang berada di bahunya.
“Biar Aku yang antar,” sahut Fajar.
“Mas nggak sibuk, Aku bisa kok berangkat sendiri.”
“Nggak, Selasa besok kita mulai beres-beres pindah kantor. Bisa Aku tinggal bentar, ada Pras sama Rizky yang bantu atur.”
“Oh, bagus lah kalau begitu.”
“Senang ya bisa jalan bareng Aku lagi,” ucap Fajar.
Mega terkekeh, lalu menggamit lengan Fajar. “Senang, dong. Kita masuk, yuk.”
•••••
Di aula sekolah Niken.
Mega menyudahi pembicaraannya mengenai pentingnya pencegahan dan penanganan kesehatan sedini mungkin di tengah maraknya wabah penyakit yang terjadi pada musim penghujan seperti saat ini.
Mega tersenyum lebar melihat antusiasnya para pelajar di depannya itu ketika tiba pada sesi tanya jawab. Ia meminta waktu satu jam saja, untuk menjawab pertanyaan.
Waktu tiba giliran Niken untuk bertanya, ia yang duduk di barisan depan bersama para guru langsung berdiri dan mengangkat tangannya. Ia mengambil mik dari tangan moderator dan mulai mengajukan pertanyaan pada Mega.
“Tindakan atau pertolongan pertama yang bisa kita lakukan pada orang yang mengalami luka bakar, sebelum korban kita bawa ke rumah sakit. Korban seorang anak berusia kurang lebih sepuluh tahun, posisi korban saat itu sedang berada di halaman rumah saat kejadian. Terkena sambaran api dari bensin yang menyala kena percikan rokok. Itu pertanyaan saya bu dokter, terima kasih sebelumnya.”
Mega tersenyum sebelum mulai menjawab pertanyaan Niken. “Pertanyaan yang bagus sekali, Niken. Kasus yang sering terjadi di masyarakat kita, pentingnya mengawasi anak-anak kita saat bermain di luar rumah atau dalam area rumah sekalipun.”
“Luka bakar serius, tentunya langsung dibawa ke UGD atau telpon ambulan. Selagi menunggu bisa lakukan langkah berikut,
- Pastikan korban dapat bernapas dengan lancar.
- Bila perlu dan jika memungkinkan, berikan bantuan pernapasan.
- Lepaskan perhiasan, ikat pinggang, ataupun aksesoris yang melingkar di sekitar area yang terbakar.
- Untuk mencegah terjadinya hipotermia, jangan berikan air dingin pada luka bakar yang luas. Hal ini juga untuk mencegah turunnya tekanan darah dan aliran darah secara drastis.
- Tutup luka bakar dengan kain bersih atau plester yang dingin dan lembut. Hindari mengoleskan obat atau salep pada area yang terbakar di luar dari anjuran dokter. Selain itu, menempelkan es atau mengoleskan mentega justru dapat membahayakan jaringan kulit yang terbakar.
- Baringkan pasien dengan kaki terangkat setidaknya 40 cm.
- Gunakan selimut atau mantel pada tubuh pasien.
- Sediakan tabung pemadam kebakaran atau alarm tanda kebakaran di rumah.”
“Luka bakar perlu didinginkan untuk meredakan rasa perih, bisa letakkan handuk yang sudah dibasahi air dingin pada luka. Hindari memecahkan luka yang melepuh, karena berisiko menyebabkan infeksi.”
“Cuci dengan air bersih mengalir jika ada luka lepuh yang pecah dengan sendirinya.”
“Jika rasa sakit terasa tidak tertahankan, pasien bisa mengonsumsi obat pereda rasa sakit. Seperti paracetamol, atau obat anti nyeri lainnya sesuai anjuran dokter.”
Mega mengakhiri jawabannya, “Bagaimana Niken, paham ya penjelasan saya tadi. Itu semua tindakan yang bisa kita lakukan sebagai pertolongan pertama pada pasien yang mengalami luka bakar. Ada pertanyaan lain, masih ada waktu lima belas menit.”
“Satu pertanyaan lagi bu dokter!” Niken tersenyum malu, “Ini masih ada hubungannya dengan luka bakar tadi.”
“Silah kan Niken pertanyaannya,” sahut Mega balas tersenyum.
“Sekarang bagian lengan anak tadi ada daging yang menonjol keluar, persis di bagian bekas luka bakarnya.”
“Di area sebelah mana luka bakarnya?”
“Siku lengan sebelah kanan, dan pinggang bagian kanan, bu dokter.”
“Itu namanya keloid, tidak masalah selama itu tidak mengganggu karena keloid tidak bisa dihilangkan secara permanen.”
“Luka bakar, luka bekas tindik, luka bekas operasi termasuk operasi lesung pipi, operasi caesar, operasi lainnya, luka tergores atau luka tercakar, bekas cacar air, itu semua penyebab timbulnya keloid.”
“Keloid tidak bisa hilang sendiri atau tidak ada cara alamiah untuk hilangkan keloid. Ada berbagai jenis pilihan untuk mengobati keloid, tapi untuk cara alamiah belum ada. Harus dioperasi atau suntikan kortikosteroid. Dan setiap jenis pengobatan keloid mengandung efek samping dan tidak menjamin seratus persen kulit kembali normal.”
“Itu jawaban saya untuk pertanyaan Niken, semoga bermanfaat. Karena waktunya sudah habis saya mohon pamit undur diri. Terima kasih,” ucap Mega yang langsung mendapat tepukan tangan dari semua orang.
Mega langsung duduk di samping Fajar, sebelum keduanya berpamitan dan bersalaman pada semua guru yang ada di sana.
Niken mendatangi tempat Mega. Ia meraih tangannya dan mencium punggung tangan Mega.
“Saya semakin yakin untuk melanjutkan sekolah di kedokteran, terima kasih semua penjelasannya tadi bu dokter. Saya akan belajar lebih giat lagi,” ucapnya sambil terus menatap kagum pada Mega.
“Sukses buat Kamu, Niken. Semoga tercapai cita-citamu, menjadi dokter.” Mega mengusap rambut Niken, dan anak itu langsung memeluk Mega.
“Aku diabaikan!” ucap Fajar yang sedari tadi hanya menonton yang terjadi di depannya.
“Om!” Niken tertawa dan langsung melepas pelukannya pada Mega.
“Kami pamit ya, terima kasih semuanya.” Mega berpamitan lalu meraih lengan Fajar, berjalan beriringan meninggalkan sekolah Niken.
🌹🌹🌹
Baca novel baruku juga ya all, makasih buat dukungan kalian semua. lopeyu 🤗🤗🤗