I Am Yours

I Am Yours
69. Pria kepo



Siang itu, langit cerah. Mega melirik jam mungil di tangannya, sudah jam tiga sore. Saatnya ia pulang, masih ada waktu untuk beristirahat di rumahnya beberapa jam sebelum kembali bekerja di klinik.


Setelah membereskan mejanya, Mega langsung pulang dengan mengendarai motornya. Pagi tadi selesai acara syukuran, dilihatnya Fajar langsung disibukkan dengan pekerjaannya jadi Mega berangkat ke puskesmas sendirian. Meski lelaki itu meminta Warno untuk mengantarnya tapi Mega menolaknya.


Sesampainya di rumah, Mega melihat banyak orang yang berkerumun di luar klinik.


“Ayah, siapa mereka?” tanya Mega pada ayahnya, seraya melepas sepatunya dan menaruhnya di tempat biasanya.


Ayah yang sedang duduk santai menikmati kopi di teras rumah, menoleh ke samping mengikuti arah pandangan mata Mega.


“Oh, mereka maksudmu?”


“Iya, Yah. Sepertinya mereka bukan warga desa kita,” ucap Mega penasaran.


“Mereka datang dari desa sebelah, mau berobat di klinikmu. Mereka mendengar dari warga di sini kalau bu dokter puskesmas buka praktik di kliniknya sendiri.”


Mega lalu duduk di samping ayahnya, “Baru saja atau sudah dari tadi mereka datangnya, Yah?” tanyanya kemudian.


“Kira-kira satu jam yang lalu. Ayah sudah jelaskan sama mereka, praktik di klinik ini buka malam hari tepatnya jam tujuh malam. Pagi sampai sore, dokternya bekerja di puskesmas. Tapi mereka bilang mau menunggu saja, dari pada harus pulang kembali karena sudah menyewa angkot untuk datang ke sini.”


“Kasihan, lumayan pegal nunggu satu jam. Ya sudah, Mega mandi dulu, bentar Mega langsung ke klinik temui mereka. Mega masuk dulu, Yah.” Mega lalu beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumahnya.


“Kamu nggak istirahat dulu?”


“Nggak, Yah. Tadi di puskesmas juga nggak terlalu sibuk, kasihan mereka sudah nunggu lama.”


“Ya sudah, jangan lupa makan. Mamamu tadi masak makanan kesukaanmu,” ucap ayah lagi.


“Siip lah, mama memang yang terbaik.” Mega mengangkat jempolnya.


Satu jam kemudian Mega telah siap dengan dirinya, sudah mandi, sudah makan dan siap bertugas kembali.


Kedatangannya disambut hangat warga yang sudah menunggunya, sebagian dari mereka sudah mengenal Mega dan pernah berobat di puskesmas dengannya.


Tanpa menunda waktu lagi Mega langsung mengajak mereka masuk, dan asisten Mega yang sudah berada di sana menyuruh mereka mengisi kartu berobat yang sudah tersedia di atas meja di depan ruang kerjanya.


•••••


Fajar merentangkan tangannya tinggi-tinggi, meregangkan bahunya yang terasa pegal. Diliriknya arloji di tangannya, terlalu fokus dengan pekerjaan dia sampai tidak sadar waktu sudah semakin sore.


Rekannya yang lain sudah pulang terlebih dahulu, sebagian anak buahnya juga sama. Hanya tersisa dua orang saja, dirinya sendiri dan seorang anak muda yang bekerja membantu bersih-bersih di kantornya.


Ramai orang terlihat berkerumun di depan pintu masuk klinik Mega. Fajar yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, merasa heran melihatnya.


Rasa ingin tahunya membuat Fajar beranjak ke sebelah untuk melihat apa sebenarnya yang tengah terjadi di dalam.


“Permisi numpang lewat,” ucap Fajar menyibak kerumunan, lalu membuka pintu masuk ke dalam klinik langsung menuju ruangan Mega.


Dilihatnya beberapa orang sudah duduk menunggu di bangku panjang persis di depan ruangan Mega yang tertutup.


“Ada apa rame-rame di depan, kayak mau demo gitu?” tanya Fajar pada wanita muda yang duduk di samping ruangan Mega, sibuk mencatat kartu di tangannya ke dalam buku besar yang ada di depannya.


“Demo?” Rima nama wanita muda itu. Perawat baru yang bekerja di puskesmas dan menjadi asisten Mega di klinik mengangkat wajahnya menoleh ke luar, melihat ke arah yang ditunjuk Fajar.


“Oh, itu. Mereka semua keluarga pasien yang datang berobat kemari, rombongan. Mereka datang dari desa sebelah,” jelasnya kemudian.


“Bu dokternya ada?” tanya Fajar lagi.


“Ada. Lagi sama pasien di dalam,” jawab Rima lagi sambil mengarahkan telunjuknya ke pintu, lalu kembali meneruskan catatannya.


“Oh, sudah datang rupanya. Tadi pagi kan langsung balik puskesmas abis selesai acara,” ucap Fajar terlihat seolah sedang berpikir. “Kapan datangnya ya?” tanya Fajar lagi.


Ish, ini orang kenapa kepo banget ya!


“Kira-kira satu jam yang lalu.” Rima menjawab singkat tanpa melihat pada Fajar.


“Oh, barusan ya. Dari puskesmas langsung berarti, sendirian apa diantar tadi ke sininya?” tanya Fajar lagi.


Astaga! Ini orang ya.


“Maksudnya?” Rima balik bertanya, melirik sebal pada Fajar yang berdiri menunggu di depan pintu. ia merasa aneh saja karena lelaki itu terus saja bertanya tentang dokter Mega padanya.


“Orang baru ya, pantes nggak kenal Saya.” Fajar menatap Rima sekilas.


Ish, apaan sih! Rima melengos dan kembali meneruskan pekerjaannya.


Tidak lama kemudian pintu ruangan Mega terbuka, dan Sri keluar sambil membawa plastik sampah di tangannya.


“Mas bos?” sapa Sri yang terkejut melihat Fajar di depan pintu. “Mas bos ngapain di sini?”


“Sri,” sahut Fajar. “Lah Kamu sendiri ngapain masih di sini?” Fajar balik bertanya.


“Bantuin bu dokter dulu, bentar balik.”


“Ya sudah, biar pulang bareng sama Aku saja. Bentar lagi, mau lihat Ega dulu.”


“Oke mas bos, tuh orangnya di dalam lagi sama pasien. Sibuk,” sahut Sri lalu pergi dari sana.


“Yank!” panggil Fajar sambil melambaikan tangannya pada Mega.


Hatinya senang saat melihat Mega sudah kembali dari puskesmas dan kini tengah menangani pasiennya. Seorang ibu tua yang didampingi anaknya, terlihat lemah dan terus-terusan memijat ujung jarinya yang kebas.


Mega mendongak memandang Fajar yang berdiri di samping pintu masuk, lalu melemparkan senyum manisnya.


“Semangat!” ucap Fajar tanpa bersuara, mengepalkan tangannya di udara.


Mega tersenyum menganggukkan kepala. Detik berikutnya, kedua pipinya bersemu merah saat tangan Fajar membentuk tanda hati dan menaruhnya di depan dada.


“Suaminya bu dokter?” tanya si ibu menoleh pada Fajar. “Romantis banget, pengantin baru ya bu dokter?”


“Hehehe.” Fajar terkekeh senang mendengarnya, “Gimana bu lihatnya, kami pasangan yang serasi kan?” ucap Fajar lagi berjalan masuk dan berdiri di samping Mega, membuat Mega semakin tersipu malu dibuatnya.


Sementara Rima yang mendengar perbincangan di dalam ruangan Mega, tertegun di tempatnya. Wajahnya langsung pucat mengetahui kalau Fajar adalah suami Mega.


Ya Tuhan, ternyata pria kepo itu ternyata suami bu dokter!


🌹🌹🌹