
Tok tok ...
Terdengar suara ketukan pintu di ruang kerjanya. Mega menarik napas panjang, melirik sekilas ke pintu yang tertutup di depannya. Ia sedang membaca laporan medis salah satu pasiennya.
“Masuk Rim,” ucap Mega tanpa mengalihkan wajahnya dari kertas di tangannya, ia seolah dapat menebak siapa yang masuk ke ruangannya tanpa perlu melihatnya terlebih dahulu.
Rima menyembulkan wajahnya dari balik pintu yang telah terbuka setengahnya, tersenyum melihat Mega yang masih fokus dengan bacaannya. Ia kemudian melangkah masuk sambil memegang gelas minuman di tangannya.
“Minuman spesial dari orang spesial untuk wanita spesial,” ucap Rima lalu meletakkan segelas coklat hangat ke atas meja.
Mega mengangkat wajahnya, senyumnya mengembang seketika. “Paket spesial nih,” sahut Mega terkekeh. “Aku minum ya, Rim.”
“Silah kan bu dokter.”
“Hemm, sedapnya.”
Mega menaruh gelas minumannya kembali ke atas meja. “Terima kasih ya, Rim. Tau aja kalau Aku lagi pengen minum coklat anget,” ucap Mega tersenyum lebar.
“Tau lah, Dok. ‘Kan dikasih tau barusan sama suaminya,” jawab Rima, membuat Mega menautkan alisnya.
“Mas Fajar masih di kantornya?” tanya Mega sambil melirik jam tangannya. Sudah hampir jam sembilan malam, dan lelaki itu masih setia menunggunya.
“Lagi ngobrol sama anak-anak bengkel di sebelah,” sahut Rima.
“Sepuluh menit lagi kalau tidak ada pasien yang datang kita tutup saja,” ucap Mega.
“Kalau begitu Saya beres-beres dulu ya, Dok.”
“Oke.”
Sepuluh menit kemudian Mega keluar dari ruangannya, disusul Rima dari belakang.
“Mbak Mila, Aku duluan ya.” Mega berpamitan pada Mila yang berada di bagian apotek. “Ngga usah nunggu jam sepuluh, kalau sudah sepi langsung tutup saja.” Imbuhnya lagi.
“Siap, Dok.”
Mega tersenyum melambaikan tangannya, sementara Rima berhenti sejenak dan menemani Mila mengobrol sambil menunggu apotek tutup.
Rumah Mega hanya berjarak beberapa meter saja dari klinik tempatnya bekerja, hanya dibatasi pagar tembok setinggi satu meter. Hingga Mega bisa berjalan santai pulang ke rumahnya.
“Bos, bu dokter sudah mau pulang itu.” Salah seorang anak buah bengkel memberi kode pada Fajar dengan tangannya.
Fajar yang duduk membelakangi Mega langsung berbalik, “Ya sudah, Aku ke sebelah dulu.”
“Yank, tunggu bentar.” Fajar memanggil Mega yang langsung menoleh padanya.
“Iya, Aku tungguin kok.” Mega tersenyum, berdiri menunggu di depan pintu kliniknya.
“Putra, istirahat sana. Jangan begadang, bangun subuh belajar lagi. Oke!” ucap Fajar mengingatkan Putra, anak buah bengkel yang masih sekolah di SMA dan sekarang tinggal di bangunan belakang bengkel.
“Siap mas bos!” sahutnya diiringi tepukan ringan Fajar di bahunya.
Mega tersenyum melihatnya, ada semacam perasaan haru setiap melihat kedekatan Fajar dengan anak-anak asuhnya itu.
“Yuk kita pulang,” ajak Fajar lalu meraih tangan Mega.
Mega tertawa kecil mendengar ucapan Fajar, “Pulang? Pulang ke rumah masing-masing kan,” ucap Mega di sela tawanya. “Jadi berasa kayak suami lagi jemput istrinya pulang kerja.”
“Maunya sih pulang ke rumah kita sendiri,” sahut Fajar membuat Mega langsung terdiam. “Lebih cepat lebih baik,” imbuhnya lagi menatap dalam mata Mega.
“Aku ingin secepatnya menikah denganmu,” ucap Fajar lagi.
“Sudah malam, Mas pasti capek seharian kerja terus nunggu Aku pulang juga. Lebih baik Mas pulang, istirahat. Kita bicara besok lagi,” kata Mega mengalihkan pembicaraan.
“Aku serius yank.” Fajar menahan tangan Mega. “Aku mau kita menikah secepatnya. Lebih cepat lebih baik, bila perlu minggu depan.”
“Besok, sayang. Kita bicarakan besok lagi. Oke,” sahut Mega, lalu mengaitkan tangannya di lengan Fajar membawanya ke teras rumah.
“Sekarang atau besok sama saja, lebih baik Kamu jawab sekarang!” Fajar lalu duduk di bangku teras dengan kedua tangan saling bertaut.
Apa sih! Kenapa jadi maksa gitu sih, Mega jadi kesal sendiri. Ia paling tidak suka dipaksa-paksa seperti itu.
Mega lalu mengambil tempat duduk di ujung, sedikit menjauh dari pria itu.
“Malah diam,” ucap Fajar melihat Mega hanya diam saja sambil memainkan kakinya, maju mundur menendang tembok di depannya.
“Biarin!” jawab Mega tapi hanya dalam hati. Ia melengos melihat Fajar terus menatap ke arahnya.
“Ish, jawab dong yank. Apa Kamu ngga mau nikah sama Aku?” Fajar manyun. “Aku ngga bakalan pulang sebelum Kamu jawab pertanyaan Aku.”
“Dimana-mana tuh ya, kalau ngajak nikah pasangannya itu yang romantis. Pakai kata rayuan, mesra gitu biar hati senang berbunga-bunga!” Mega mencebikkan bibirnya. “Romantis ngga, manyun iya.”
“Ish!”
“Ash ish ash ish,” gantian Mega yang manyun, membuat Fajar gemas dibuatnya.
Ia berdiri dan berjalan mendekati Mega, “Siapa bilang Aku ngga bisa romantis?” matanya lekat memandang wanita di depannya itu.
“Aku lah, mana ada orang lain di sini selain kita berdua.” Mega balas menatap Fajar.
Di teras rumah Mega, tepat jam sepuluh malam di bawah sinar bulan purnama yang menerangi suasana malam hari itu. Fajar berlutut menekuk satu kakinya di lantai.
“Eh Mas, ngapain pakai berlutut segala?”
“Ega sayang, dengarkan Mas bicara.” Fajar meraih tangan Mega dan menggenggamnya.
“Sejak hari di mana Aku melihatmu kembali ke tempat ini lagi, saat itu Aku sadar. Aku tidak dapat menutupi perasaanku lagi padamu, Aku jatuh cinta padamu sejak lama. Bahkan saat usiamu masih remaja,” ucap Fajar lalu mengeluarkan kotak mungil warna biru dari saku jaketnya.
“Aku tidak dapat menjalani satu hari pun dalam hidupku kini, tanpa Kamu di sisiku. Kamu alasanku tersenyum, membuat hari-hariku lebih berwarna. Maukah Kamu menikah denganku, menjalani hari-hari bersamaku. Seumur hidup kita,” ucap Fajar.
Ya Tuhan, dia melamarku!
Mega menahan napas saat Fajar berdiri dan menarik satu tangannya, memasangkan cincin di jari manisnya.
“Hei Aku belum jawab! Sudah dipasang aja.” Mega menarik tangannya, melihat cincin yang kini terpasang di jarinya.
“Ish, lama jawabnya. Keburu pegal lutut jongkok gitu,” ucap Fajar sambil mengusap lututnya.
Mega tertawa mendengarnya, ia menatap dalam mata Fajar lalu menganggukkan kepalanya.
“Yank?”
“Apa?”
“Ish!”
Mega tersenyum lalu mengangguk kuat, “Iya, Aku mau menikah denganmu.”
Fajar langsung memeluk Mega, “Makasih, sayang.”
Mega tersenyum, “Ngutip dari mana tadi kata-kata rayuannya?” tanya Mega dengan nada menggoda.
“Hahaha dari tetangga,” sahut Fajar akhirnya ikut tertawa, sempat tegang juga takut Mega tidak siap menerima lamarannya.
“Love you Ega,” bisik Fajar di telinga Mega.
🌹🌹🌹