
Mega merentangkan tangannya ke depan, memutar kepala lalu pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Sejenak meregangkan otot tubuhnya yang kaku setelah ikut membantu mengangkat pasiennya yang terjatuh dari ketinggian.
Jubahnya yang terkena noda darah dari luka pasiennya itu dilepasnya, dilipat lalu dimasukkannya ke dalam tas ranselnya.
“Benar-benar hari yang sangat melelahkan,” ucapnya kemudian, setelah selesai menangani pasien terakhir hari ini.
“Besok kan libur bu dokter, refresing biar bugar lagi. Ajak mas nya jalan-jalan, jangan sibuk kerja melulu. Saya lihat bu dokter tidak pernah sekali pun libur bekerja selama berada di puskesmas ini,” ucap bidan Yati kemudian.
Mega tersenyum mendengarnya, sambil bertopang dagu di atas meja Mega menatap bidan Yati yang tengah membereskan mejanya.
“Pengennya sih kayak gitu, Bu bidan. Tapi namanya tugas, gimana. Masa mau di tinggalin?”
“Ya nggak gitu juga kali, Bu dokter.” Bidan Yati terkekeh.
“Enaknya jalan-jalan ke mana ya, Bu. Masa piknik ke kebun lagi,” tanya Mega.
“Di tempat kita memang tidak banyak pilihan untuk bersantai, tidak seperti di kota besar. Banyak fasilitas yang memanjakan mata, mau kulineran, nonton bioskop, ke mall, bisa pergi ke mana saja dan kapan saja. Tapi jangan lupa, di tempat kita juga ada pantai indah dengan pasirnya yang putih.”
“Pantai!”
Astaga! Mega melupakan tempat indah yang satu itu. Senyumnya mengembang, matanya terpejam sesaat membayangkan dirinya berlarian di pinggir pantai.
“Bu dokter, ponselnya bunyi terus dari tadi.” Bidan Yati menunjuk ke arah laci meja di bawahnya.
“Eh, Saya lupa. Dari tadi pagi di taruh di dalam laci,” jawab Mega lalu bergegas mengambil ponselnya.
Mega menggigit kukunya saat melihat banyaknya panggilan masuk dari Fajar dan pesan singkat lelaki itu di ponselnya.
Dengan segera Mega menghubunginya, berharap Fajar tidak marah padanya.
“Maaf, nggak dengar ada telpon masuk. Ponselnya Aku taruh di laci,” ucap Mega langsung bicara duluan setelah tersambung.
“Iya, nggak apa-apa. Aku tunggu, nggak lama ‘kan?” ucapnya lagi membalas ucapan Fajar di ujung telpon.
“Oke bos!” Mega tersenyum menutup telponnya, sementara bidan Yati yang telah selesai dengan pekerjaannya bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
Tinggal Mega, dokter Rendra dan dua orang perawat di puskesmas itu.
Setengah jam kemudian, saat ponselnya kembali berbunyi Mega langsung mengangkatnya.
“Aku sudah di depan,” suara Fajar di telpon.
“Iya, Aku ke sana sekarang.”
Mega berjalan keluar dari ruangannya, bergegas menemui Fajar yang telah menunggu di depan puskesmas.
Lelaki itu tersenyum menyambut Mega, wajah tampan itu terlihat kelelahan.
“Capek?”
“Lumayan,” jawab Fajar singkat. “Yank, kalau jalannya besok saja gimana. Kamu nggak marah kan? Hari ini Aku beneran capek.”
Mega menggeleng, tersenyum maklum. “Iya, besok saja. Istirahat ya, jangan begadang.”
☆☆☆☆☆☆☆
Byurrrr!
Mega tersenyum lebar saat merasakan ombak pantai menyentuh kakinya yang terbuka tanpa alas kaki.
“Mba Megaa!”
“Heii!” Mega melambaikan tangannya.
Yola berlari ke arahnya saat melihat Mega berjalan di pinggir pantai, Ia datang bersama dengan Rendra, Warno, dan Sri setelah mendengar dari Fajar kalau dirinya dan keluarganya sedang berada di pantai.
“Mba Mega bareng keluarga juga, di mana mereka semua?” tanya Yola saat sudah bersama dengan Mega.
“Itu mereka di sana!” tunjuk Mega ke arah keluarganya yang berada di salah satu tenda pinggir pantai, sedang duduk santai sambil menikmati makanan ringan yang mereka bawa dari rumah.
Sementara Rendra tengah mengobrol dengan Fajar di bangku panjang tidak jauh dari tenda tempat keluarga Mega berada.
Sri dibantu Warno menggelar terpal lebar, lalu mulai sibuk mengeluarkan kotak makanan dan menyusunnya di atas terpal.
“Mba Mega suka pantai?” tanya Yola sambil merangkul tangan Mega, berjalan beriringan sambil sesekali menendang ombak air yang datang ke arah mereka.
“Suka, suka banget. Ini tempat favorit Aku dari dulu,” jawab Mega sambil tersenyum lebar.
“Sama seperti mas Rendra, suka sekali dengan pantai.”
“Ada apa?” Mega menghentikan langkahnya saat melihat sudut mata Yola berair.
Yola menggeleng cepat, mencoba mengulas senyum meski terlihat dipaksakan.
“Sepertinya Kamu sedang butuh teman bicara, mau cerita sama Aku? Kita duduk di bangku sana,” ajak Mega sambil menghela lengan Yola.
“Mungkin karena kondisiku sedang tidak stabil, mudah lelah, gelisah, Aku jadi gampang sekali emosi. Aku pikir kedatanganku ke desa ini sedikit banyak bisa membantuku mengatasi masalah ini, suasana alam desa yang tenang akan banyak berpengaruh dan buat Aku jadi lebih tenang juga. Dengan semua pertimbangan itu, Aku mau mengikuti saran dari mas Rendra untuk datang ke desa ini. Ya, perubahan suasana mungkin bisa membuatku jadi lebih baik.”
“Tapi nyatanya, nggak sama sekali. Aku masih saja suka gelisah, mudah emosi. Dan Aku hampir down memikirkannya semuanya,” ucap Yola lagi.
Mega memegang tangan Yola yang berada di pangkuannya, wanita itu menoleh padanya.
“Kamu harus tetap berpikiran positif, jangan biarkan rasa sakit mengalahkan semangat hidupmu. Namanya juga hidup, maju mundur, miring, jungkir balik, semua berdasarkan pertimbangan dan pilihan.”
“Hari ini kita bisa yakin, besok keyakinan itu memudar saat kita down. Belum tentu dengan lusa, lalu bagaimana jadinya keyakinan itu?”
“Down itu kadang datang tiba-tiba, entah karena berasal dari pikiran yang mengingat sesuatu atau menginginkan sesuatu. Entah mendengar atau melihat sesuatu yang tidak mengenakkan lalu tiba-tiba down, putus asa, pengen marah, kesal, akhirnya pikiran kemana-mana saling tuduh-menuduh.”
“Tapi, kalau kita cepat eling, menyadari apa yang bikin kita down, lalu sadar bahwa ya hidup memang begitu serba tidak mengenakkan. Kesal, marah, kecewa, itu semua ada di dalam diri manusia bukan di luar. Menyembuhkannya ya ke dalam, kalau keluar itu namanya hiburan, pengalihan pikiran hanya sesaat. Selalu berpikiran positif.”
“Makasih bu dokter Mega, senang mengobrol denganmu.” Yola tersenyum tulus.
“Semangat!”
🌹🌹🌹